MasukBagas pikir jika Maudy tidak akan merealisasikan pernikahan siri dengannya secepat ini. Dan dengan segala perencanaan yang menurutnya sangat matang. Semua serba diatur oleh perempuan itu.
Mulai dari tempat, penghulu dan para saksi. Oh, jangan lupa mas kawin yang berupa cincin berlian, yang pastinya dipersiapkan oleh Maudy. Bagas pun berinisiatif menambahkan sejumlah uang tunai untuk mas kawin agar terlihat lebih meyakinkan jika dia juga sangat antusias dengan pernikahan ini. Entah bagaimana caranya Maudy bisa merencanakan semuanya dalam waktu sesingkat ini. Bagas hampir tak percaya jika perempuan itu sungguh-sungguh bertekad ingin menjadi istrinya. Apalagi semua ini benar-benar mirip pernikahan sungguhan. Pernikahan dilangsungkan secara tertutup tentunya. Hanya orang-orang terdekat Maudy yang diperkenankan hadir. Sedangkan dari pihak Bagas hanya Nathan yang hadir. Bagas terlihat sangat tampan dan gagah dengan balutan jas warna hitam, dan peci warna senada, yang sebelumnya sudah dipersiapkan oleh Maudy untuknya. Sementara perempuan itu mengenakan kebaya bahan lace warna putih, yang terbilang tidak sederhana. Pastinya dari merk desainer terkenal. Perasaan Bagas pastinya campur aduk detik ini. Bisa menjebak jalang sialan yang menghancurkan keluarganya dengan pernikahan, sesuatu yang sudah sangat lama dia nantikan. Tak ada cinta maupun kasih, yang ada hanya keinginan balas dendam, yang menjadi tujuan utama pernikahan ini. Pelan-pelan Bagas akan membuat Maudy merasakan hal serupa. Bangkrut hingga memutuskan untuk mengakhiri hidup. Semoga setelah ini semua bisa berjalan sesuai rencananya. Mungkin dari luar mereka berdua terlihat mirip pasangan pengantin sungguhan yang saling mencintai. Duduk berhadapan dengan penghulu dan saksi, membuat Bagas merasa agak gugup. Biar bagaimanapun ini adalah pengalaman pertamanya. Walaupun hanya sekadar sandiwara. Dan yang pasti tak ada yang akan mengira jika pernikahan ini merupakan sebatas kesepakatan kontrak antara Bagas dan Maudy. Selanjutnya penghulu memberi arahan, dan membimbing Bagas agar berjabat tangan, seraya mengucapkan ijab kabul. "Saya terima nikah dan kawinnya Maudy binti Himawan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!" "Bagaimana para saksi? Sah?" "Sah!" Bagas menghela panjang, ketegangan di rautnya perlahan sirna berganti dengan seringai tipis, yang tidak disadari oleh siapapun termasuk Maudy di sampingnya. Selanjutnya penghulu meminta pengantin wanita mencium punggung tangan suaminya, lalu suaminya mencium kening istrinya. "Tante cantik banget," puji Bagas setelah mengecup kening Maudy, yang sore itu mengenakan selendang tipis di kepala. Maudy tersipu. "Kamu juga ganteng banget, Lingga." *** "Nat," panggil Bagas, yang tahu-tahu sudah duduk di samping Nathan. "ngelamun lo?" Dia melepas jas, lalu meletakkannya di pangkuan. Selesai dengan ijab kabul, Bagas memilih menemui Nathan, sedangkan Maudy menemui teman-temannya. Nathan menoleh, menatap Bagas dengan tatapan berbeda, dan berkata, "Selamat, ya, Bro!" sambil menepuk-nepuk pundak Bagas. Walau sempat heran dengan sikap Nathan, Bagas tetap menghargai ucapan 'selamat' itu. "Makasih," ucapnya, tersenyum tipis. "Habis dari sini lo ikut, ya, Nat?" tanya Bagas yang lebih mirip seperti sebuah permintaan khusus. "Ikut ke mana?" tanya Nathan sambil melirik sekilas ke arah Maudy, yang sedang berbincang dengan teman-teman kalangannya. "Ke rumahnya tante Maudy," jawab Bagas. "dia mau ngadain pesta." Bagas melirik ke arah Maudy. "gue sekarang udah jadi suaminya, Nat," ucapnya, dengan raut datar tanpa ekspresi sama sekali. Tatapan Nathan seketika beralih pada Bagas. "Pesta apa, Gas?" Bagas menoleh, dan menjawab, "Pesta kayak waktu di labuan Bajo, Nat. Tapi … kali ini kayaknya lebih ganas." "Seriusan, lo?" Belum apa-apa sekujur tubuh Nathan bergidik. Bagas mengangguk. "Dia ngundang beberapa temen-temen kita, Nat. Pesta kolam renang." Kedua alisnya naik turun. "Tau 'kan, lo, gimana cara mainnya?" Nathan menelan ludah, padahal baru membayangkannya saja. "Taulah!" "Bayarannya juga gede, Nat," kata Bagas. "elo ikutan, ya? Itung-itung buat healing, daripada lo mikirin tante Bela yang gak jelas itu." Bagas menepuk-nepuk dada Nathan. "entar gue temenin." Dari cara Nathan merespon, Bagas yakin jika temannya ini ragu. "Gue …." "Lingga, kenalin tante sama temen kamu, dong." Tahu-tahu seorang perempuan mendekat ke tempat duduk Bagas dan Nathan. Keduanya menoleh secara bersamaan pada perempuan yang usianya lebih tua dari mereka, tetapi masih terlihat awet muda karena rajin perawatan. "Boleh-boleh, Tan." Bagas mengangguk dan menatap Nathan. "Namanya …" "Nabas," ucap Nathan, dan Bagas berdecak karena temannya itu menggunakan nama samarannya. Kalau Nathan sudah mode serius begitu, Bagas bisa memastikan jika temannya ini pasti tidak akan main-main. Bagas melirik tante di sampingnya, yang menyeringai lebar. "Wow, namanya sebagus orangnya." Ck! Di mana-mana Tante-tante yang ditemui Bagas rata-rata terlalu nunjukin minat di awal perkenalan.. "Kenalin, aku Karin," ucap tante bernama Karin itu sambil mengulurkan tangan. Sementara mulut Bagas mencebik sambil menatap Nathan, yang bersemangat membalas uluran tangan tante bernama Karin itu, dan tanpa basa-basi menciumnya. 'Jiah, si Nathan. Lagaknya kegantengan banget. Tapi emang ganteng, sih. Tapi, masih gantengan gue dikit.' Bagas memuji-muji dirinya sendiri dalam hati, ketika melihat sikap Nathan yang langsung terang-terangan. ***Teman-teman, bab ini sudah saya revisi yaa. Saya minta maaf atas kelalaian saya sebelumnya. Saya sungguh tidak ada niat untuk menghina. Ke depannya saya akan lebih berhati-hati lagi. Terima kasih sudah mengingatkan yaa 🙏🙏🏻
Rachel membuka pintu rumah perlahan. Sementara Marco, Sandi, dan Firman mengikutinya dari belakang.Begitu satu langkah memasuki ruang tamu, lampu yang semula redup mendadak menyala lebih terang.Pandangan Rachel langsung tertuju ke meja makan. Di sana Vanila berdiri sambil membawa strawberry cheesecake yang dihiasi lilin angka dua puluh. Nyala api kecil itu bergoyang pelan diterpa embusan pendingin ruangan.Di belakang Vanila tergantung beberapa balon putih dan merah muda. Sederhana..Namun cukup membuat suasana rumah terasa hangat.Vanila tersenyum lembut dan menyeru, "Selamat ulang tahun, Rachel."Langkah Rachel langsung terhenti. Matanya membulat. Tatapannya bergantian memandang Vanila, kue ulang tahun, lalu Bagas yang berdiri tak jauh darinya."Kalian..." gumamnya lirih. "... ini semua..."Bagas menyeru, "Surprise!"Hanya satu kata. Namun cukup membuat pertahanan Rachel runtuh. Kedua tangannya perlahan menutup mulut. Air mata yang sejak tadi ditahannya kembali mengalir."Bukannya
Begitu keluar dari toko perlengkapan bayi, Rachel masih beberapa kali menoleh ke belakang. Tatapannya seolah belum rela meninggalkan deretan pakaian mungil yang tadi sempat mereka lihat. Bagas yang berjalan di sampingnya tersenyum dan bertanya, "Kepikiran?" Rachel mengangguk kecil. "Iya." Bagas melirik sekilas ke arah Rachel. "Pengen beli?" Rachel langsung menggeleng cepat. "Enggak." "Kenapa?" Rachel mengusap pelan perutnya. "Masih lama, Mas. Baru empat bulan. Lagian... " Dia tersenyum malu. "...jenis kelaminnya aja belum pasti." Bagas mengangguk setuju."Iya juga." Mereka lantas kembali berjalan menyusuri lorong pusat perbelanjaan. Suasana sore itu mulai semakin ramai. Beberapa toko sudah menyalakan lampu-lampu etalase. Musik instrumental terdengar mengalun pelan dari pengeras suara. Rachel tiba-tiba menghentikan langkahnya di depan sebuah toko aksesoris. "Mas." "Hm?" Lihat deh." Bagas menoleh. Di balik kaca etalase tampak deretan gantungan kunci berbentuk berbagai macam
Mobil Bagas akhirnya berhenti di pelataran sebuah pusat perbelanjaan. Begitu mesin dimatikan, Rachel langsung menoleh heran."Mas...""Hm?""Kita gak salah belok?" Bagas membuka sabuk pengamannya.."Enggak. "Katanya mau makan.""Iya."Rachel kembali melihat bangunan besar di depannya. "Terus kenapa ke sini?"Bagas hanya tersenyum kecil. "Ikut aja. Ayo."Rachel mengembuskan napas pelan. "Bikin penasaran aja."Bagas terkekeh pelan. "Sabar. Sekali-kali boleh 'kan?"Rachel akhirnya mengangguk pasrah. "Yaudah."---Begitu memasuki pusat perbelanjaan, hawa sejuk dari pendingin ruangan langsung menyambut mereka.Suasana siang itu cukup ramai. Beberapa keluarga tampak berjalan santai. Anak-anak kecil berlarian sambil menggenggam balon. Sesekali terdengar suara tawa memenuhi lorong. Rachel tanpa sadar memperhatikan sepasang suami istri yang sedang mendorong stroller bayi. Dia ersenyum kecil lalu refleks mengusap perutnya.Bagas yang melihat itu ikut tersenyum. "Ada apa?" Rachel menggeleng.
Bagas masih menatap lembar hasil USG yang berada di tangannya. Sudah hampir lima menit sejak mereka keluar dari ruang praktik dr. Yoshi.Namun, tatapannya tak juga beralih dari foto hitam putih berukuran kecil itu.Sesekali dia tersenyum sendiri, lalu menggeleng pelan. Kemudian kembali melihatnya lagi.Rachel yang berjalan di sampingnya hanya bisa menahan tawa. "Mas ….""Hm?""Itu fotonya nanti juga dibawa pulang.""Iya.""Terus kenapa dilihatin terus?"Bagas tersenyum kecil. "Soalnya lucu."Rachel mengangkat sebelah alis. "Lucu?""Iya. Padahal masih kecil begini." Bagas menunjuk gambar di foto itu. "Ini hidungnya."Rachel langsung melongok. "Yang mana?""Nah... ini."Rachel menyipitkan mata. "Mas, itu kayaknya tangan."Bagas terdiam beberapa detik. "Hah?"Rachel tak lagi mampu menahan tawanya. "Kmu juga sebenernya gak tau, kan?"Bagas langsung ikut tertawa. "Sedikit.""Sedikit apanya?""Sedikit bingung."Rachel menggeleng geli. "Papa baru.""Iya." Bagas mengakui tanpa malu. "Belajar.
Mobil Bagas melaju membelah jalanan Kota Jakarta yang mulai dipenuhi kendaraan. Sesekali Rachel menoleh ke luar jendela. Sudah cukup lama dia tidak benar-benar menikmati suasana kota.Selama beberapa bulan terakhir, hidupnya seolah berhenti. Kesedihan karena kehilangan Roy. Kasus hukum Maudy. Kehamilan yang datang di saat tak pernah diduga.Semua itu membuat dunianya hanya berkisar antara rumah, rumah sakit, dan kantor polisi.Hari ini... Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Rachel merasa sedikit lebih ringan.Entah karena mualnya mulai berkurang. Atau... Karena sejak tadi Bagas tak berhenti membuatnya tersenyum."Mas." Rachel menoleh ke arah Bagas. "Hm?""Kamu beneran lupa jadwal kontrol?"Bagas menggaruk tengkuknya. "Iya."Rachel terkekeh. "Parah.""Sorry." "Kalau aku gak nelepon?"Bagas melirik sekilas ke arah Rachel, dan. menyahut, "Mungkin baru inget malam."Rachel tertawa sampai memegangi perutnya. "Untung anak kita belum bisa ngomong," celetuknya. "Loh?""Nanti dia nga
Tiga hari telah berlalu sejak Bagas memenuhi panggilan penyidik. Selama tiga hari itu pula, dia berusaha menjalani rutinitas seperti biasa—mengurus beberapa pekerjaan yang sempat tertunda, dan menyempatkan diri ke kelab untuk berpamitan kepada Mami Kumala. Biar bagaimanapun perempuan itu sudah sangat baik padanya selama ini. Mami Kumala sudah sangat banyak membantunya. Beliau juga turut senang karena akhirnya Maudy mendapat ganjaran. Bagas juga sesekali menemui Marco untuk membahas perkembangan kasus Maudy.Namun, sesibuk apa pun dirinya, pikirannya tetap saja kembali pada surat milik Roy Darmawan yang kini tersimpan sebagai barang bukti di ruang penyimpanan Polres.Kalimat pembukanya terus terngiang di kepalanya. "Untuk Rachel, putri kecil Papi yang paling Papi sayangi..."Bagas mengembuskan napas pelan. Dia menatap secangkir kopi yang sejak tadi mulai mendingin di atas meja. Semalam dia bahkan sulit memejamkan mata. Bukan karena memikirkan persidangan. Melainkan memikirkan bagaim
Orang itu memarkir mobilnya beberapa meter dari mobil Bagas. Lantas, langsung turun dan membuntuti Bagas masuk dengan jarak yang tentunya aman. Sementara Bagas yang tidak sadar jika sedang diikuti, terus berjalan melewati lorong demi lorong tanpa merasa curiga sedikit pun. Langkahnya agak cepat
Dapat mangsa baru, temen sendiri langsung dilupakan. "Mana katanya yang tadi lagi gak mood pergi? Buktinya, dideketin mangsa baru langsung kecantol." Bagas berdecak melihat kelakuan Nathan, yang sudah terlihat akrab dengan Tante Karin. Temannya itu bahkan sepertinya sudah lupa dengan permasalaha
Tawaran mengantar pulang Bagas, rupanya disambut baik oleh Rachel. Padahal dia tadi cuma iseng nawarin. Tak disangka, dia pikir Rachel akan menolak tawarannya. Namun, karena sudah terlanjur nawarin pulang, dan Bagas tidak ingin mengecewakan, dia pun terpaksa izin sama Mami Kumala. Dan saat ini
Gila! Katakan jika saat ini seorang Bagaskara sedang mengambil kesempatan. Oh … tidak! Bagas hanya mengikuti permintaan gadis ABG cantik ini. Kalo kata Bagas "Rejeki gak boleh ditolak." Anggap saja ini rejeki nomplok! Bagas tak hanya mengajari caranya ciuman yang benar. Dia juga sudah m







