Home / Urban / Pesona Sang Penakluk / Bab 11: Naik Pitam

Share

Bab 11: Naik Pitam

Author: GUMIHO
last update publish date: 2026-05-30 11:33:25

"Iya, tapi satu keluarga hanya boleh beli satu ekor, dan harus untuk dimakan. Nggak boleh dijual kembali, apalagi ke pasar. Kalau ketahuan melanggar, ketika besok-besok aku dapat hasil buruan, aku nggak akan jual ke kalian lagi."

Selain niat berbagi, dengan cara ini Rama ingin mulai memperbaiki reputasinya yang sudah terlanjur buruk di mata penduduk desa.

"Kalau begitu aku mau ayam hutan, tunggu sebentar, aku pulang ambil uangnya," kata Pandu, dan langsung berbalik pergi.

"Tolong sekalian seba
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pesona Sang Penakluk   Bab 34: Bahaya Datang

    Rama menerima busur itu dengan tubuh membungkuk sebagai tanda tanda hormat.Begitu telapak tangannya menyentuh permukaan kayu yang dingin, ia langsung merasakan sesuatu yang berbeda.Busur itu jauh lebih berat daripada yang terlihat. Bahkan, ketika mengangkatnya saja, ia bisa merasakan kepadatan luar biasa yang tersembunyi di balik bentuknya yang sederhana.Para pemburu di sekitar tanpa sadar menahan napas, mereka semua penasaran.Apakah Rama akan bernasib sama seperti orang-orang sebelumnya?Ataukah...Rama mengamati busur itu sejenak.Pandangannya menyusuri setiap lekukan, setiap serat kayu keemasan yang membentang di sepanjang badannya.Lalu, tanpa terburu-buru, Rama memasang satu anak panah ke talinya.Wiguna berkata dengan maksud membesarkan hati Rama. "Rama, kau hanya perlu mencoba, tidak perlu memaksakan diri. Kalau tidak sanggup—...."Kalimatnya terputus, sebab pada saat itu, Rama mulai menarik tali busur.Krekk...Tali busur bergerak.Sedikit.Lalu sedikit lagi.Mata Wiguna p

  • Pesona Sang Penakluk   Bab 33: Pusaka Keluarga

    "Apa kamu ingin mengusirku dari sini?"Sarah yang tidak mengerti arah pertanyaan Rama, langsung terlihat agak muram.Melihat Sarah malah berpikir sembarangan, Rama buru-buru melambaikan tangan. "Bukan, bukan! Kamu salah paham.""Lalu apa maksudnya?" tanya Sarah lagi.Rama tersenyum agak jahil. "Nanti kamu renungin aja pas lagi sendirian. Yang jelas, maksudnya bukan mau mengusirmu, aku justru ingin kamu di sini selamanya."Kemudian, Rama berdiri, lalu mengambil bekal yang disiapkan Sarah.Selesai itu, Rama langsung keluar rumah, meninggalkan Sarah yang menatap punggungnya dengan terheran-heran.Setibanya di rumah Wiguna, Rama melihat beberapa pemburu desa sudah berkumpul di halaman.Mereka sedang memeriksa tombak, anak panah, dan berbagai perlengkapan berburu."Rama!" Wiguna melambaikan tangan, "Kau benar-benar datang."Rama tersenyum. "Iya, Paman."Wiguna mengangguk puas, kemudian ia mengernyit. "Sepertinya kamu belum punya busur, ya?"Rama menggeleng. "Iya, Paman. Aku memang nggak pu

  • Pesona Sang Penakluk   Bab 32: Mau Sampai Kapan

    Detik berikutnya, Rama langsung meloncat turun dari tempat tidur, berlari keluar kamar menuju sumber suara.Braakk!Dia mendobrak pintu kamar Sarah.Namun, dia tidak melihat ada orang lain di sana, hanya ada Sarah seorang diri.Kakak iparnya itu terbaring di tempat tidur dengan mata terpejam, tapi tubuhnya bergerak gelisah bahkan sudah berkeringat dingin, sementara mulutnya terus mengeluarkan teriakan ketakutan."Dia mimpi buruk?" gumam Rama sambil berusaha menstabilkan tarikan napasnya yang sempat memburu.Rama mempercepat langkah untuk mendekati tempat tidur, kemudian menangkap kedua bahu Sarah."Kak Sarah, bangun! Kamu mimpi buruk!"Rama mengguncang tubuh Sarah dengan lembut.Butuh beberapa saat sebelum kelopak mata wanita itu akhirnya terbuka."Ngh..."Namun, sebelum kesadarannya terkumpul, Sarah yang dilanda kepanikan langsung memukuli dengan membabi-buta."Jangan! Jangan sentuh aku!" teriaknya histeris.Rama tidak tinggal diam, dia menangkap tangan Sarah, lalu mendekapnya erat-e

  • Pesona Sang Penakluk   Bab 31: Jeritan Tengah Malam

    "Kalau masakannya seenak ini, mungkin bisa laku."Sekilas jawaban Sarah terdengar setengah hati.Namun, Rama bisa melihat dengan jelas bahwa perhatian Sarah sama sekali tidak tertuju pada percakapan mereka.Kakak iparnya itu bahkan tidak menunggu reaksinya. Begitu selesai berbicara, ia langsung mengambil suapan berikutnya.Lagi, lagi, dan lagi.Pipi Sarah sedikit menggembung saat mengunyah. Matanya terus tertuju pada mangkuk semur, seolah takut isinya akan menghilang jika lengah sesaat saja.Melihat pemandangan itu, Rama mengangkat sebelah alis matanya. "Mungkin?"Sarah hanya mengangguk cepat tanpa benar-benar mendengarkan.Hal itu membuat Rama hampir tertawa.Jelas sekali wanita itu sedang menikmati makanannya sampai lupa memikirkan hal lain.Namun, justru reaksi itulah yang membuat keyakinan Rama semakin kuat.Semur buatannya berhasil menaklukkan Sarah yang sejak awal bersikeras bahwa cabai adalah buah beracun.Kalau begitu, bagaimana reaksi orang-orang lain nanti?Rama menyandarkan

  • Pesona Sang Penakluk   Bab 30: Sensasional

    "Rama, kamu harus dengarkan aku. Kalau buah beracun itu dicampurkan ke dalam masakan, nanti semuanya jadi nggak bisa dimakan lagi."Sarah menatap Rama dengan wajah tidak rela.Bagaimana tidak?Sejak tadi, aroma daging dan rempah yang memenuhi dapur terasa begitu menggugah selera hingga ia diam-diam menantikan masakan itu matang, kemudian mencicipinya.Namun, Rama malah berniat memasukkan buah beracun ke dalamnya.Bukankah itu sama saja merusak semuanya?Rama sempat terdiam sesaat sebelum terkekeh pelan."Kak, tenang saja. Aku sudah bilang, cabai ini nggak beracun."Sebelum Sarah sempat menghentikannya lagi, Rama langsung memasukkan potongan cabai ke dalam belanga.Sarah hanya bisa menatap isi belanga dengan tatapan kecewa.Dalam benaknya, masakan yang tadi terlihat begitu menjanjikan kini telah berubah menjadi sesuatu yang mustahil untuk dimakan."Rama, apa kamu lupa?" Sarah berkata dengan nada penuh penyesalan, "Dulu waktu musim paceklik, semua orang kekurangan makanan. Wardi yang te

  • Pesona Sang Penakluk   Bab 29: Apa Kamu Yakin?

    "Y-ya?"Sarah sontak menghentikan langkah, lalu perlahan berbalik menghadap Rama.Kedua tangannya saling menggenggam erat di depan perut. Kepalanya tertunduk, tidak berani menatap wajah Rama.Melihat Sarah yang langsung gemetar ketakutan setiap kali merasa berbuat salah atau membuatnya marah, Rama pun menggeleng perlahan dan merasa sangat kasihan.Rama sadar, reaksi Sarah bukanlah rasa takut biasa, melainkan trauma yang memang telah mengakar di dalam diri wanita itu setelah bertahun-tahun mendapat perlakuan buruk dari pemilik tubuh sebelumnya."Jangan takut, aku nggak marah, juga nggak menyalahkanmu. Aku yang lupa memberitahu padamu, kalau buah itu sengaja aku bawa dari gunung," kata Rama pelan.Karena menurut pemahaman Sarah cabai itu adalah buah beracun, wajar jika wanita itu berpikir untuk menyingkirkannya, dan sejak awal Rama memang tidak berpikir untuk menyalahkannya."Kak Sarah...."Rama mendekat, meski bukan ulahnya, Rama bersedia mengambil alih tanggung jawab untuk menyembuhka

  • Pesona Sang Penakluk   Bab 6: Pilih-Pilih Tempat Menggigit

    Di zaman ini, praktik perbudakan dan perdagangan manusia masih sangat umum, dan hukum selalu berpihak pada mereka yang punya uang. Bermodal surat jual beli yang sudah terdapat cap sidik jari Rama, ditambah memberi sedikit uang suap pada orang pengadilan, Barata memang bisa memenangkan perkara deng

  • Pesona Sang Penakluk   Bab 5: Melampaui Batas

    "Dasar! Sejak kapan kamu jadi pandai menggoda orang?"Sarah mendesis, lalu memberikan cubitan kecil di perut Rama.Namun, ia tetap bertindak sesuai permintaan, dan kini telah berjongkok tepat di hadapan Rama.Tangannya langsung bergerak cekatan membuka apa yang harus dibuka, sementara matanya tidak

  • Pesona Sang Penakluk   Bab 4: Sama-Sama Butuh!

    "Iya, aku akan berusaha!" Sarah berjanji.Selanjutnya, untuk kali kedua Sarah merasakan hangatnya jemari Rama menyusup ke dalam celah pribadinya.Dua jari Rama yang bergerak di dalam memang untuk mencapit patahan mentimun. Namun, yang dirasakan Sarah adalah sentuhan pemberi kenikmatan.Lalu tak ber

  • Pesona Sang Penakluk   Bab 3: Sensasi Luar Biasa

    Setelah mendapat persetujuan Sarah, Rama pun memberanikan diri untuk menyentuh area terlarang kakak iparnya itu."Aaahh ...."Saat jari-jari Rama yang besar dan hangat mendarat di bagian pribadinya, Sarah langsung mengeluarkan desahan dan tubuhnya ikut menggeliat seperti cacing kepanasan.Reaksinya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status