تسجيل الدخول*Sret!*Tangan wanita bernama Cera itu tersentak mundur seolah baru tersengat listrik bertegangan tinggi.Dengan gerakan kaku layaknya robot, ia berputar perlahan ke arah sumber suara.Matanya membelalak ngeri, persis karyawan magang yang tertangkap basah bermain *game* oleh direktur.Di ujung lorong, berdiri sosok Andini.Gadis itu memancarkan karisma absolut. Ia menatap mereka tajam, menciptakan tekanan tak kasat mata di udara."N-Nona Andini?!" Cera memekik pelan. Suaranya bergetar hebat. "K-Kenapa Nona ada di sini?"Dalam sekejap, pesona menggairahkan yang Cera pancarkan menguap tak berbekas, digantikan postur menyusut ketakutan.Andini memiringkan wajahnya sedikit. Sudut bibirnya tertarik, membentuk sebuah senyuman yang sangat lebar dan menawan.Namun, tak ada setetes pun kebaikan maupun kehangatan di balik lengkungan bibir tersebut. Senyum itu murni sebuah ancaman visual."Cera," panggil Andini. Nadanya ringan, namun seberat palu godam. "Bukannya kamu punya pekerjaan menumpuk ya
Deru mesin motor menggema kencang, memantul di dinding beton area parkir bawah tanah, sebelum akhirnya mati bertepatan dengan tarikan kunci kontak.Suasana perbatasan Semarang dan Temanggung hari ini terasa cukup terik, namun udara sejuk langsung menyergap kulit Jaka begitu ia memasuki lobi gedung perkantoran tersebut.Langkah kakinya bergema pelan namun berirama di atas lantai marmer yang mengkilap, memantulkan bayangan siluet tubuhnya yang jangkung.Di sudut ruangan, pintu lift baja tahan karat terbuka. Jaka melangkah masuk, menekan tombol sepuluh, lalu bersandar tenang.Matanya menyapu interior. Desainnya elegan, berlapis cermin dengan ornamen emas.'Mewah... Butuh berapa miliar untuk mendirikan gedung dengan material sebagus ini?'Jaka melipat tangan. Otaknya mulai menghitung secara serampangan harga tanah hingga biaya konstruksi.'Apa uang di rekeningku sudah cukup untuk menyewa satu lantainya? Atau aku masih terlalu miskin?'Selayaknya pria pada umumnya, rasa penasaran terhadap
Langkah kaki Dina yang tadinya seirama dengan Jaka mendadak terhenti. Angin senja menyibak rambutnya saat gadis itu berputar seratus delapan puluh derajat, menghalangi jalan sang kakak.Matanya memicing tajam. "Kakak tidak jatuh cinta pada wanita itu, kan?"Jaka yang nyaris menabrak adiknya terpaksa mengerem langkah. "Hmm? Wanita itu siapa? Kenapa tiba-tiba kamu bertanya seperti itu?""Jangan mengalihkan pembicaraan!" Dina menudingkan jari telunjuknya tepat ke dada Jaka, menuntut jawaban layaknya seorang detektif yang menyudutkan tersangka utama. "Jawab dulu pertanyaan Dina!"Jaka menghela napas panjang. 'Dasar anak ini...' batinnya lelah.Ia menatap langit sore yang mulai memunculkan semburat jingga, mencari kata-kata yang tepat. "...Entahlah. Aku sungguh tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Tapi untuk saat ini, aku tidak berniat mengejar Hina.""Hmm..." Dina menurunkan tangannya, bibirnya melengkung ke bawah membentuk gurat tidak puas.Gadis itu kemudian membalikkan badan
"Reuni sekolah?"Jaka mengulang dua kata itu dengan nada sedatar permukaan danau yang tenang. Suaranya nyaris tenggelam oleh alunan lagu klasik yang diputar di butik ini. Hina mengangguk pelan dari balik meja konter. Ujung jari telunjuknya mengetuk permukaan meja secara ritmis."Berbeda dari reuni kelas biasa," jeda Hina, mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. "Ini reuni akbar. Semua angkatan yang berminat boleh datang. Dan dengar-dengar... Nona Karina juga akan hadir kali ini.""Karina?"Alis Jaka bertaut tipis. Murni kebingungan.Gerakan tangan Hina mendadak terhenti di udara. Mata gadis itu melebar seketika, seolah waktu di sekitarnya baru saja dibekukan oleh sihir. Ia menatap Jaka seakan pria di hadapannya ini baru saja turun dari piringan terbang alien."Hah?" Mulut Hina terbuka setengah. Hening turun menyelimuti mereka selama tiga detik penuh. "Jangan bilang kamu sungguh tidak tahu tentang Nona Karina?"Sebagai jawaban, Jaka hanya mengangkat sebelah bahu dengan gestur kelewat
"Ufufu~."Tawa Hina mengalun jernih, mengisi ruang kosong di antara deretan manekin berbalut gaun malam. Suara itu membawa getaran aneh, memicu letupan kecil di dada Jaka. Serpihan memori masa remaja seolah meronta ingin diakui. Namun, sebelum dorongan itu sempat menjalar lebih jauh, Jaka buru-buru menguncinya rapat-rapat di dasar hati."Ehem!" Jaka berdeham keras, mencoba membersihkan kerongkongannya yang mendadak kering. "Kamu sendiri bagaimana? Bekerja di tempat eksklusif seperti ini pasti memberimu gaji yang sangat layak."Hina terkekeh pelan. Tangannya mulai bergerak cekatan melipat pakaian Jaka, memasukkannya satu per satu ke dalam tas kertas tebal bercetak logo emas."Memang lumayan," jawab Hina santai. "Tapi jika dibandingkan dengan kekayaanmu sekarang, perbedaannya seperti langit dan dasar bumi.""Heh, jangan melebih-lebihkan. Memangnya berapa pendapatanmu per bulan di sini?""Sekitar lima belas juta rupiah." Hina merapikan pita di gagang tas. "Itu sudah lebih dari cukup unt
Aroma lavender yang menguar dari pengharum ruangan berpadu dengan sejuknya pendingin udara di butik kelas atas itu. Jaka berdiri mematung di depan meja kasir berlapis marmer hitam, menatap sosok wanita berseragam elegan di baliknya. Papan nama kecil berwarna keemasan di dada kiri wanita itu memantulkan cahaya dari lampu gantung kristal di atas mereka. Hina Yulia.Bagi Jaka, Hina hanyalah seorang kenalan dari masa seragam putih abu-abu. Ia tidak bisa menyematkan label 'teman' pada hubungan mereka. Interaksi keduanya di masa lalu bisa dihitung dengan jari sebelah tangan, sebatas sapaan formalitas atau saat kebetulan mendapat kelompok tugas yang sama. Di masa itu, Hina merupakan salah satu primadona sekolah. Sebuah eksistensi yang dikelilingi orbit para siswa yang terus berebut perhatiannya. Semua orang menginginkannya. Tentu saja, terkecuali Jaka.Bukan berarti Jaka buta terhadap daya tarik wanita di hadapannya ini. Ia hanya seorang realistis yang kejam pada dirinya sendiri. Memik







