Home / Pendekar / Petani Terkuat / 045 Aturan Busuk!

Share

045 Aturan Busuk!

Author: AgamYupi02
last update publish date: 2026-06-22 10:03:27

“Bocah!”

Bentakan itu memecah udara pagi.

Seorang pria kekar maju paling depan. Tubuhnya besar, bahunya lebar, dan hampir seluruh lengan serta sebagian wajahnya dipenuhi tato hitam yang tampak kasar. Bekas luka tipis melintang di dekat rahangnya, membuat senyum miring di bibirnya terlihat semakin mengganggu.

Matanya menatap Jaka seolah sedang menatap mangsa.

“Kemarin kau memperlakukan kawan kami dengan sangat baik,” katanya dengan suara berat. “Sekarang, izinkan kami membalas!”

Di belakang pri
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Petani Terkuat   062 Pasukan Elit dan Undangan ke Ladang

    Pintu baja tebal di ujung koridor zona keamanan tingkat tinggi terbuka setelah pemindai retina mengenali struktur mata Andini. Ruangan di baliknya memiliki atmosfer yang berbanding terbalik dari laboratorium steril sebelumnya. Tempat ini menguapkan aroma mesiu samar, pelumas senjata, dan residu keringat yang menempel di matras karet. Di dalamnya, tiga wanita yang menjadi garda terdepan pelindungnya sedang membunuh kebosanan dengan cara masing-masing.Ketiganya bukan sekadar pengawal biasa. Mereka adalah unit khusus, aset mematikan yang disiapkan secara rahasia oleh ayahnya. Tidak hanya unggul dalam pertempuran fisik berdarah dingin, ketiga wanita ini dipilih karena kepekaan indera mereka yang terkalibrasi khusus untuk berinteraksi dengan anomali dari dunia spiritual.Di sudut ruangan, Jeanne duduk dengan tulang punggung tegak lurus. Rambut pirangnya diikat tinggi, rapi tanpa helaian yang mengganggu wajahnya. Jemarinya yang panjang dan lentur sedang merakit ulang komponen pistol semi-o

  • Petani Terkuat   061 Keajaiban di Bawah Mikroskop

    Lorong laboratorium bawah tanah itu memancarkan aura dingin yang mengintimidasi, didominasi oleh panel dinding berwarna putih steril dan cahaya lampu neon yang memendar menyilaukan.Suara langkah sepatu Andini bergema beraturan, memantul keras dari permukaan logam kedap suara. Begitu pintu geser otomatis terbuka dengan desis pelan, aroma tajam campuran cairan antiseptik, alkohol, dan ozon langsung menyengat rongga hidungnya.Seorang pria berjas putih dengan kantung mata menghitam tebal sudah mondar-mandir di tengah ruangan. Di atas meja kerjanya yang memanjang, berbagai tabung reaksi, cawan petri, dan layar monitor yang menampilkan grafik fluktuatif berserakan tak beraturan. Pria itu menoleh dengan gerakan kaku, nyaris menjatuhkan pena elektroniknya saat melihat Andini melangkah masuk menembus garis batas steril."Nona, Anda harus melihat ini dengan mata kepala Anda sendiri," ucapnya tanpa repot-repot memberikan salam formal. Ujung jari telunjuknya bergetar hebat saat mengarah ke laya

  • Petani Terkuat   060 Panggilan Fajar dan Sutra Putih

    Dering tajam membelah keheningan kamar utama yang masih terbungkus remang fajar. Di atas ranjang berukuran ekstra besar, sebuah siluet ramping bergerak pelan di balik selimut tebal. Tangan Andini meraba permukaan nakas, menelusuri kayu dingin untuk mencari sumber suara yang mengusik lelapnya. Permukaan kaca ponsel menyentuh telapak tangannya. Matanya masih setengah terpejam, menolak datangnya pagi, saat ibu jarinya secara refleks menggeser ikon hijau di layar yang menyala terang."Di sini Andini," suaranya serak, seperti bisikan yang digerus sisa-sisa kantuk."Nona Andini? Sekarang Anda ada di mana?!"Suara serak dari seberang panggilan meluncur tergesa-gesa. Ada derau statis tipis yang menyertai, diiringi pantulan suara khas dari sebuah ruangan tertutup.Kening Andini berkerut tipis, membentuk lipatan samar di antara kedua alisnya. "Tentu saja di rumah. Memangnya kenapa?""Ini soal cairan yang Nona berikan kepadaku semalam. Aku sudah selesai mengujinya!"Kalimat tunggal itu bekerja l

  • Petani Terkuat   059 Firasat di Tengah Malam

    Melihat reaksi Jaka yang salah tingkah di luar jendela mobilnya, perasaan malu yang sempat membakar wajah Andini perlahan menyurut. Rasa terhibur justru muncul, menghangatkan rongga dadanya. Ujung bibir gadis itu tertarik perlahan, melukiskan senyum lega yang terasa jauh lebih natural dari sebelumnya."Sampai jumpa besok," ucap Andini memecah keheningan yang menekan telinga. "Aku akan segera menghubungimu begitu hasil ujinya keluar."Jaka menghentikan usapan di belakang kepalanya dan mengangguk pelan. "Baiklah. Akan aku tunggu."Jari Andini menekan tombol penyala mesin. Deru halus kendaraan Eropa itu langsung menggema rendah, menciptakan getaran yang merambat lambat ke jalanan aspal di bawahnya. Tepat sebelum tangannya meraih tuas persneling, ia teringat sesuatu."Oh ya, besok pagi aku akan mengirimkan ponsel baru untuk mempermudah komunikasi kita," Andini kembali menatap Jaka menembus bingkai jendela. "Aku juga akan membelikan satu untuk Dina. Pastikan ia menerimanya."Jaka mengerutk

  • Petani Terkuat   058 Perjuangan Batin Andini

    Udara malam yang sejuk mendadak terasa terisolasi begitu Andini duduk di kursi kemudi. Aroma pengharum ruangan beraroma lavender di dalam kabin mobil mewahnya menabrak aroma khas tanah basah yang terbawa dari luar. Jari telunjuk Andini baru saja melayang di atas tombol penyala mesin. Namun, pergerakan tangannya tiba-tiba membeku di udara. Jemarinya melengkung pelan. Ia menarik napas panjang, membiarkan dadanya naik-turun dalam keheningan.Di luar jendela mobil yang kacanya sengaja dibiarkan terbuka setengah, Jaka menyadari jeda yang tidak wajar tersebut. Alis pemuda itu bertaut ringan. Ia mengambil satu langkah mendekat ke sisi pintu pengemudi."Ada apa?" Suara Jaka memotong desingan pelan angin malam yang berembus di sekitar mobil.Andini ragu sejenak. Ia menunduk menatap setir berlapis kulit di pangkuannya. Jari-jarinya mencengkeram lingkar setir itu erat, sebelum akhirnya ia mendongak dan menatap lurus ke wajah Jaka. Ada kilat keputusasaan yang merayap naik, mencoba menjebol pert

  • Petani Terkuat   057 Kehangatan di Balik Meja Makan

    Aroma tumis bawang putih dan sisa uap nasi yang pulen masih mengambang di udara ruang makan berukuran sempit itu. Cahaya lampu pijar kekuningan dari langit-langit jatuh menerangi piring-piring keramik yang kini telah bersih tak bersisa. Andini meletakkan sendoknya secara perlahan di atas piring, mengambil selembar tisu, lalu menyeka sudut bibirnya dengan gerakan elegan. Ia mengangkat wajah, menatap wanita paruh baya di seberang meja yang tengah merapikan mangkuk lauk."Masakan Ibu sangat enak," puji Andini. Nada suaranya bergetar pelan, membawa ketulusan murni yang jarang ia tunjukkan di luar. "Bahkan, rasanya jauh lebih baik dari masakan koki bintang lima pribadiku di rumah."Mendengar pujian itu, pergerakan tangan Susi terhenti. Ia mengusap kedua telapak tangannya ke celemek pudar bermotif kotak-kotak yang membalut tubuhnya. Gurat kelelahan di sudut mata wanita itu melunak seketika."Ara ara~" Susi tertawa pelan. Rona merah muda menjalar halus di kedua tulang pipinya, mencetak rasa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status