ANMELDEN"Pesta amal?"Jaka menyipitkan kedua matanya. Postur tubuhnya yang semula santai kini sedikit mencondong ke depan. Dia menopang dagu dengan punggung tangan di atas meja kerja. Ekspresi ragu terlukis jelas dari kerutan di dahinya."Normal jika kamu tidak mengetahuinya," jelas Andini, nada suaranya mengalun bagai air yang tenang di danau. "Karena bahkan tidak semua orang kaya di negeri ini tahu soal acara tersebut. Setiap beberapa tahun sekali, pesta amal bergengsi ini akan diadakan secara tertutup di salah satu wilayah elit di Indonesia."Jaka mengangguk pelan. Otaknya yang tajam memproses informasi tersebut dengan cepat."Ternyata begitu. Tapi, kenapa disebut pesta amal? Istilah yang kurang selaras, karena kegiatan pesta sering kali tidak bisa disandingkan dengan kegiatan amal."Sebuah senyum tipis, elegan dan penuh daya tarik terukir di bibir Andini. Gadis itu menatap Jaka dengan pandangan yang jauh lebih lembut."Meski disebut sebagai pesta amal, itu hanyalah bungkus luar. Kenyataan
Cahaya matahari menerobos masuk secara paksa melalui celah tirai vertikal ruang kerja sang CEO, melukis garis-garis keemasan yang presisi di atas permukaan karpet tebal. Ruangan itu begitu tenang dan terisolasi dari hiruk-pikuk kota. Satu-satunya suara yang mendominasi hanyalah ketukan konstan jarum jam dinding dan deru halus mesin pendingin ruangan yang menyemburkan udara sejuk.Jaka bersandar dengan postur teramat nyaman di kursi yang dilapisi kulit impor berkualitas tinggi. Beban hangat dan beraroma wangi terasa mengisi pangkuannya. Andini duduk manis di sana, menyandarkan punggung rampingnya pada dada bidang Jaka dalam keheningan yang luar biasa memabukkan bagi sepasang kekasih baru.Aroma manis perpaduan lili dan vanilla menguar dari helai rambut Andini, menggelitik indera penciuman Jaka. Pemuda itu tidak tahan. Dia menundukkan kepala, mengendus lembut di perpotongan leher kekasihnya dengan rakus. Helaan napasnya menerpa kulit putih Andini.Gadis itu tersentak pelan. Bahunya s
Kejutan di wajah Andini semakin tak terkendali. Matanya membelalak lebar, seolah bola matanya bisa melompat keluar kapan saja melihat aksi nekat tersebut.Pertahanan wanita itu runtuh sepenuhnya saat merasakan invasi asing. Lidah Jaka, dengan pergerakan lincah tanpa keraguan, menyelinap masuk melewati belahan bibirnya. Ia memaksa celah di antara deretan gigi putihnya terbuka dan mengklaim ruang di dalamnya secara absolut tanpa perlawanan berarti.'Ukh... ini...'Otak Andini memberi peringatan darurat. Secara logis, ia seharusnya meronta. Ia harus melawan balik, atau setidaknya mendorong dada pemuda itu menjauh darinya.Namun, realita berkata lain. Tubuh Andini seolah mengkhianati tuannya. Alih-alih memberontak, seluruh persendiannya mendadak kehilangan tenaga. Lututnya melemas bagai jeli yang meleleh.Tubuhnya merosot perlahan ke lantai, dan hanya tertahan oleh dekapan erat lengan berotot Jaka yang mengurungnya.Jaka membuang sisa-sisa kesopanannya. Pemuda itu mengabaikan segalanya, m
Lampu ruangan yang temaram memantulkan pendar oranye di atas meja kaca. Udara dingin dari pendingin berembus pelan, menerbangkan beberapa helai rambut perak Andini. Aroma lavender bercampur wangi kertas khas kantor menguar tipis, mengisi keheningan yang terasa begitu mencekam.Bagi semua orang, Andini adalah personifikasi dari keanggunan. Ketenangan selalu menjadi perisai utamanya dalam menghadapi berbagai krisis. Namun malam ini, perisai itu hancur berantakan."A-Apa yang kamu lakukan?"Suara wanita itu bergetar hebat. Rasa malu dan gugup beradu, mengubah nada bicaranya menjadi cicitan pelan. Tangannya meremas ujung roknya hingga buku-buku jarinya memutih.'Reaksinya manis sekali,' batin Jaka.Melihat figur dingin di hadapannya kehilangan kendali benar-benar sebuah tontonan langka. Rona merah jambu yang menghiasi pipi Andini seolah menjadi magnet tak kasat mata, menarik akal sehat Jaka untuk terus menggodanya tanpa ampun.Jaka bergerak maju. Sepatunya mengetuk lantai, menghasilkan b
Keluarga Duan. Bahkan orang awam yang tidak peduli urusan politik pun pasti tahu seberapa besar bobot nama itu.Selama mereka pernah menyalakan televisi setidaknya sekali seumur hidup, kata itu pasti pernah melintas di layar kaca bagaikan bayangan raksasa.Keluarga Duan bukanlah orang kaya biasa. Mereka adalah monster raksasa, konglomerat absolut terkaya yang memegang kendali besar di Indonesia.'Kekayaan mereka menyentuh lima belas kuadriliun rupiah,' batin Jaka mengalkulasi angka gila itu di kepalanya. 'Sebuah nominal absurd yang melampaui harta orang terkaya di dunia saat ini.'Dengan aset sebesar itu, Keluarga Duan telah lama menjadi pusat perhatian nasional. Jangankan pejabat daerah, sekelas presiden sekalipun tidak berani berbuat seenaknya di hadapan mereka.Dulu, sejarah mencatat seorang presiden pernah diturunkan paksa oleh amukan warga. Permukaannya terlihat seperti revolusi murni, namun pemimpin itu sebenarnya ditumbangkan karena berani berlawanan dengan Keluarga Duan.Tentu
Bunyi klik tajam memecah keheningan ruangan. Gagang pintu logam diputar dari luar, membiarkan cahaya terang dari lorong menyusup masuk dan memotong bayangan di lantai layaknya bilah pedang.Seorang pria melangkah masuk dengan penuh percaya diri. Sepatu kulitnya beradu dengan lantai marmer, menciptakan ritme langkah arogan yang bergema memantul di setiap sudut dinding.Pria itu mengenakan setelan jas abu-abu berpotongan sempurna yang mencetak postur tubuhnya. Di lengannya, bertengger sebuket bunga mawar warna-warni yang memancarkan aroma wangi menusuk, namun terlihat terlalu berlebihan dan malah merusak estetika."Andini sayang," suara pria itu mengalun lambat. Nadanya sengaja dibuat selembut mungkin demi memproyeksikan citra romantis, yang sayangnya justru terdengar menggelikan di telinga. "Bagaimana kalau kita makan malam bersama hari ini?"Suhu di dalam ruangan itu seolah turun drastis menyentuh titik beku.Wajah Andini mengeras layaknya patung es. Sudut bibirnya menukik turun denga







