Share

56. Suara Raka

Penulis: D'Rose
last update Tanggal publikasi: 2026-03-14 22:40:18

Setelah meeting yang panjang dan memakan waktu sekitar dua jam. Mereka menemukan kesepakatan yang di setujui semua pihak. Saatnya jam pulang kerja, di lobi sudah ada Rafli, Raka dan Genta.

"Huh, orang bisu juga mau ikut?" Semuanya terlihat heran, beberapa orang mungkin tidak tahu tujuan mereka kali ini.

"Sepertinya kita akan mulai lagi dari awal." Genta menimpali.

"Let's go!" Evan langsung mengacungkan kunci mobil.

Mereka pergi dengan satu mobil ke club malam yang berada di pusat ibu kota. Kali
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pewaris Tunggal Berdarah Dingin   67. Tidak Ada Habisnya

    Tidak bisa tidur, Zee putuskan untuk memantau pekerjaan yang di ibu kota secara online. Sebagian besar adalah laporan kerja daily.Georgio masih tinggal di rumah sakit yang dipercaya Zee untuk mengurus kakeknya. Sebagaimana dulu Aya dan juga Thea yakini bahwa disanalah beliau menjalani proses pengobatan.Tidak terasa ternyata matahari sudah mengintip dibalik tirai jendela. Tadinya setelah semuanya beres. Zee hendak pergi ke kamar, tapi harum masakan menguar. Terlebih lagi ini harum masakan rumah dulu."Wah, kamu yang nyiapin semuanya?" Tentu saja hanya Aya yang bisa membuat ini. Zee cepat kedapur dan itu Thea.Rupanya Zee melupakan bahwa gadis kecil yang lama tidak ditemuinya ini sudah bertumbuh dengan sangat cepat untuk jadi wanita, seorang istri dan juga seorang ibu."Tentu siapa lagi yang tahu sarapan favorite Zee yang aneh? Telor kocok dengan tambahan kecap manis sebelum di goreng.""Masakan telur terenak itu ya.. begini!" Langsung ditariknya kursi serta dan sendokan pertama telur

  • Pewaris Tunggal Berdarah Dingin   66. Hal Yang Tidak Perlu

    "Aku dengar Thea pulang bersama Kak Zee. Syukurlah, dia sudah kembali bersama keluarganya. Bisakah aku bertemu dengannya, hanya untuk memastikan dia baik-baik saja.""Tentu saja Nona Thea lebih baik tinggal bersama keluarganya sendiri. Hari sudah larut sepertinya akan mengecewakan Tuan Muda Carson, karena Nona Thea harusnya sudah beristirahat saat ini." Lagi-lagi Evan yang menjawab. Zee hanya duduk memandang Revan dengan tatapan tajam. "Ah, maaf aku melupakan hal ini. kalau begitu aku pamit. Tolong sampaikan salamku untuk Thea."Sepeninggalan Revan, Zee pergi ke ruang makan. piring kasih yang bersih masih berada di hadapan Thea. "Kenapa masih belum makan? menunggu?" Thea mengangguk sebagai jawabannya. tidak mau memperkeruh suasana. Tanpa berkata lagi, Zee duduk mengisi piring dengan nasi dan lau pauk. Suasana ruang makan sangat sepi, tapi Thea diam-diam terus menyuap makan sambil mencuri pandang pada Zee. "Revan. Orang seperti apa di mata Zee?" Zee terlihat termenung, rupanya Th

  • Pewaris Tunggal Berdarah Dingin   65. Tamu Tak Diundang

    "Maafkan Zee enggak bisa membantu pada saat itu." Lagi-lagi karena Zee tidak bisa melindunginya dengan baik sebagai seorang kakak. "Bukannya Arun Bagaskara sangat mencintaimu, Thea... Aku bisa lihat dari cara dia memandangi mu sejak dulu. Kamu cinta pertamanya--""Aku dan dia sudah selesai, Zee jangan bahas lagi." Thea langsung memotong perkataan Zee. Hening sesaat terjadi, diantara mereka berdua. Canggung lebih tepatnya."Baiklah, aku enggak akan singgung soal orang itu lagi. Tapi kami harus tahu, ketika kamu pergi setelah bercerai dengan Arun dalam keadaan hamil. Mama dan Papa menyesali perbuatan mereka untuk memaksakan perjodohan ini." Bahkan perkataan Araya terakhir adalah ingin membawa Thea kembali pulang.Semua pembicaraan harus diselesaikan di hari ini juga. Zee yang terbiasa kalah dengan sifat keras kepalanya Thea, namu kali ini harus benar-benar menahan egonya sementara waktu. "Kemudian mereka mulai khawatir dengan kamu yang berada di luar sana, kamu bisa menjadi target dari

  • Pewaris Tunggal Berdarah Dingin   64. Tidak Semuanya Baik

    Sekembalinya mereka dari pemakaman, Thea hanya duduk terdiam diatas tempat tidur dengan tatapan kosong. Hari yang mulai gelap dan angin dingin berhembus masuk ke dalam kamar dibiarkan saja dengan jendela kamar yang terbuka.Setelah mengamati cukup lama kondisinya, Zee memutuskan masuk kedalam kamar Thea. Hal yang pertama Zee adalah menyalakan lampu, menutup jendela dan gordennya. Eva datang menyusul membawakan nampan berisikan bubur dan susu. Zee yang menerimanya dan menyuruh Eva kembali beristirahat. "Mau aku suapi atau makan sendiri?"Perasaan Thea saat ini sangat Zee pahami, karena pernah berada di posisi yang sama. Terlebih lagi Thea merupakan anak kandung Tedi dan Araya. Perasaan kehilangannya jauh lebih dalam tentunya. Tapi kondisi Thea sedang hamil, dia tidak boleh mengabaikan bayi dalam perutnya."Kamu dan aku disini. Kita saling memiliki Thea. Enggak usah khawatirkan masa depan atau pun masa lalu."---Seminggu sudah Thea berada di pulau Paradise, tapi tidak ada niatan diri

  • Pewaris Tunggal Berdarah Dingin   63. Kebohongan Dan Kejujuran

    "Udah bangun?" Thea terlihat kebingungan karena selama perjalanan dia tertidur dengan lelap. Bahkan ketika Zee memindahkannya ke dalam kamar."Pulau Paradise." Tambah Zee sambil duduk di sampingnya dan juga dengan satu napan sarapan yang sudah dibuatkan Eva yang awalnya dibuatkan untuk Zee."Hey!" Thea mencomot piring sarapan Zee. Kelakuannya ternyata tidak berubah. Banyak kekhawatiran yang bertebaran di kepala Zee, namun melihat sikap Thea yang tidak berubah banyak membuatnya lega dan tidak bingung dengan apa yang harus dilakukan Zee dalam menghadapi Thea. "Lapar. Lagian jahat banget sarapannya sendirian aja.""Iya paham, tapi enggak nyomot makanan ku juga." Andai Araya masih ada dan bersama dengan mereka berdua pasti lengkap sudah kejadian manis ini bisa berlangsung lama."Cepat habiskan, udah gitu mandi sana." Zee hanya bisa tersenyum walau di hatinya masih ada yang mengganjal dan juga harus merelakan sarapannya berpindah ke perut Thea."Ngapain mandi? Kek Mau pergi aja.""Ih, jor

  • Pewaris Tunggal Berdarah Dingin   62. Di Luar Prediksi

    "Bisa bawa aku pergi dari sini? Sebelum orang itu menemukanku?""Thea mau pergi kemana?" Ditanya seperti itu, ekspresi di wajah Thea terlihat sangat kebingungan. Sepertinya Thea sendiri belum sempat memutuskan untuk pergi kemana, ditambah hamil besar itu akan menyulitkan dirinya bergerak apalagi harus menghindari seseorang yang masih belum jelas bagi Zee siapa orang yang dimaksud."Thea, mau pulang bareng aku."Zee mundur sedikit sambil mengulurkan tangan kanannya pada Thea. Seolah pengucapan janji akan selalu menjaga Thea. Tanpa di duga, Thea menggenggam tangan Zee dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Zee mengangguk, senyum terkembang diwajahnya. "Ayo kita pulang." Zee berjalan, rupanya Eva dan Evan tetap mengawasi keduanya, Zee sudah tahu dan membuat kode supaya mereka mempercepat penerbangan. Sekali pun belum bisa lepas landas, mereka bisa menunggu di dalam pesawat sembari menyembunyikan Thea dari bandara. "Thea gendutan ya..." Ejek Zee guna mencairkan suasana atas keheningan

  • Pewaris Tunggal Berdarah Dingin   54. Diluar Prediksi

    Beberapa deret angka sudah tersimpan dalam kontak smartphone Zee sebagai pemilik rumah.Sekarang mari kita lihat kedalam. Ada dua kamar yang bisa digunakan. Dapur dan ruang tamu yang seperti ini bisa dibilang rumah ideal untuk keluarga kecil beranak satu.---Malam hari, entah kenapa setelah selesa

  • Pewaris Tunggal Berdarah Dingin   53. Georgi Atau Anthea

    Ditengah kebingungan Zee, Araya terlihat buru-buru berjalan sambil merapikan rambutnya."Ibu mau kemana?""Thea sudah ditemukan, Ibu harus pergi menemuinya." Melewati Zee dan berjalan kearah keluar."Ibu aku--""Ibu akan segera kembali setelah semuanya selesai, hm?" Ucapnya sambil mengelus puncak k

  • Pewaris Tunggal Berdarah Dingin   52. Semuanya Menghilang

    "Sudahlah Ibu, aku juga yang bersalah meninggalkan kalian dengan manusia penipu seperti Ayah. Menangislah dulu dengan puas, aku tahu Ibu sudah memendam semua ini sendirian." Zee menepuk-nepuk punggung Araya halus.Seperti menina bobokan anak kecil. Itu berhasil, Araya mungkin lelah karena perjalana

  • Pewaris Tunggal Berdarah Dingin   50. Kekurangan Sekutu

    Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Zee, dengan menekan tombol di remot kontrol, kaca pintu langsung berubah menjadi bening yang sebelumnya sengaja Zee buat buram selama berbicara dengan Eva. Zara langsung membuka pintu saat Zee menganggukan kepala, mempersilahkannya masuk. "Bibi tahu kamu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status