MasukBus menderu pelan sebelum akhirnya memuntahkan asap hitam di Terminal Rambutan yang riuh. Mirah turun dengan kaki gemetar, ransel kumalnya terasa seberat beban dosa yang ia seret dari Sukamaju. Di belakangnya, pria ber-hoodie itu tetap mengawal tanpa suara.
"Jalan terus, jangan celingukan kayak orang ilang," bisik pria itu tajam saat melihat Mirah ragu menatap barisan taksi. Mirah hanya bisa menelan ludah yang terasa berpasir; bau knalpot dan sampah pasar menyergap indra penciumannya dengan kasar. Bau matahari desa yang biasanya menempel di kulit kini perlahan terhapus oleh pengapnya Jakarta.
Sebuah sedan hitam dengan kaca gelap sudah menunggu di sudut terminal yang agak tersembunyi. Pria ber-hoodie itu membukakan pintu belakang, memberi kode agar Mirah segera masuk ke dalam kabin yang dingin menusuk. Sosok pria paruh baya berkacamata hitam duduk di balik kemudi, menatap Mirah melalui spion tengah dengan senyum predator.
"Barang antiknya sudah sampai," gumam pria ber-hoodie itu sebelum menutup pintu dengan suara blam yang berat. Sedan itu meluncur membelah kemacetan, meninggalkan terminal yang bising menuju labirin beton yang kian menjulang. Mirah merapatkan lututnya, merasa seperti kendi tanah liat yang sedang dikirim ke toko gelas kristal di pusat kota.
"Nama saya Pak Broto, Dian itu anak didik saya yang paling pintar," ucap pria di depan tanpa menoleh sedikit pun."Dian bilang kamu masih 'segel', di Jakarta itu harganya bisa selangit kalau dilelang ke orang yang tepat," lanjutnya.
Lidah Mirah kelu, ia hanya bisa menatap gedung-gedung pencakar langit yang tampak angkuh dari balik jendela mobil. "Bapak saya... apa Kak Dian beneran udah bayar biaya operasinya?" tanya Mirah dengan suara yang hampir tersapu deru AC. "Sudah, Mirah. Seratus juta. Nyawa bapakmu itu mahal harganya bagi orang seperti kami," jawab Pak Broto dingin.
Mobil melambat dan berhenti di depan sebuah ruko tiga lantai kusam dengan papan nama mentereng: GADING RESTO. Begitu pintu terbuka, Mirah langsung disergap kombinasi aroma asap rokok pekat dan dentum musik pelan yang menggetarkan ulu hati. "Ayo turun, jangan bikin Mas Doni nunggu lama," perintah Pak Broto tegas.
"Mirah! Akhirnya sampai juga kamu!" teriakan itu memecah kebisingan saat Mirah melangkah masuk ke dalam ruko remang-remang. Nani berlari mendekat, namun Mirah hampir tidak mengenali sahabatnya itu karena perubahan fisik yang ekstrem. Rambutnya terurai modis, wajahnya tertutup polesan make-up dramatis, dan tubuhnya dibalut gaun merah menyala yang sangat berani.
"Nan... kamu... kamu beda banget," gumam Mirah, matanya membelalak tak percaya melihat belahan dada Nani yang terekspos jelas. "Ini Jakarta, Mir! Jangan norak kenapa sih, bodi udah mateng begini harus dipamerin," sahut Nani sambil menarik kasar tangan Mirah. Nani membawanya menuju pojok ruangan tempat seorang pria bertubuh tambun sedang duduk santai.
Pria itu adalah Mas Doni; leher dan jemarinya dipenuhi perhiasan emas yang mencolok di bawah lampu kristal. Ia menatap Mirah dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan lapar yang membuat Mirah merasa benar-benar telanjang. "Gila... Dian nggak bohong. Bau keringat desanya masih kenceng banget, bening," ucap Mas Doni sambil mengembuskan asap cerutu.
"Tapi Kak Dian bilang saya jadi pelayan restoran biasa," sanggah Mirah dengan sisa keberanian yang ia kumpulkan. Mas Doni tertawa terbahak-bahak hingga perut buncitnya berguncang hebat, suara yang terdengar menjijikkan di telinga Mirah. "Memang pelayan, Mirah. Tapi pelayan khusus. Menu utamanya adalah kalian, bukan makanan di piring itu," bisiknya provokatif.
Malam harinya, di sebuah kamar ganti sempit yang berbau parfum murah, Mirah dipaksa mengenakan seragam pertamanya. Sebuah rok mini dari kulit sintetis yang sangat ketat hingga ia sulit bernapas, dipadukan dengan atasan transparan. Mirah menatap pantulan dirinya di cermin tua yang retak, air matanya jatuh tanpa suara membasahi pipi yang kini tebal oleh bedak.
"Hapus itu air mata, maskara mahal jangan dibuang cuma buat drama cengeng," tegur Dian dengan nada dingin di ambang pintu. Dian melangkah mendekat, merapikan kancing atas Mirah yang sengaja dibuat rendah agar menonjolkan bagian sensitifnya. "Tamu bayar buat senyummu, Mir, bukan buat liat muka mendung kayak mau tahlilan, ingat biaya Bapak!" serunya tajam.
Mantra itu kembali terucap; demi biaya rumah sakit Bapak, Mirah memejamkan mata erat-erat untuk membunuh nuraninya sendiri. Ia melangkah turun ke ruang utama dengan kaki lemas seperti jeli, menembus kabut asap rokok dan tawa pria-pria hidung belang. Di sebuah pojok yang paling gelap, Pak Broto sudah menunggu dengan sebotol wiski mahal di depannya.
"Sini, Mirah. Duduk dekat saya," panggil Pak Broto sambil menepuk kursi di sampingnya dengan gerakan posesif. Begitu Mirah duduk, Pak Broto langsung menarik pinggangnya hingga tubuh mereka menempel erat tanpa jarak. Mirah bisa merasakan tangan pria itu mulai meraba paha polosnya yang terekspos jelas oleh rok mini sialan itu.
"Kamu wangi sekali malam ini... wangi kuncup desa yang baru mekar," bisik Pak Broto tepat di telinga Mirah. Aroma wiski basi bercampur bau mulut pria itu menyengat hidung, memicu rasa mual yang tertahan di kerongkongan. Mirah menoleh ke meja seberang, melihat Nani tertawa renyah saat seorang tamu mencium lehernya dengan kasar.
Air mata Mirah kembali jatuh tanpa bisa ia bendung ketika merasakan tangan Pak Broto mulai merambat naik ke arah kancing seragamnya. Di dalam kepalanya, ia hanya memanggil wajah ayahnya yang sedang sekarat di dipan rumah sakit kota. "Satu sentuhan lagi, dan aku bisa membeli obat Bapak," bisiknya dalam hati, sebuah pembenaran pahit atas kehinaan.
Tepat saat Pak Broto memajukan wajahnya hendak mencium bibir Mirah secara paksa, suara dentuman keras terdengar dari pintu depan. "Semua diam! Jangan ada yang bergerak! Ini razia!" teriak suara bariton yang menggema di seluruh ruangan. Lampu utama mendadak dinyalakan terang-benderang, memperlihatkan kekacauan dan kepanikan para tamu yang mencoba menyembunyikan wajah.
Dian tiba-tiba muncul dari kegelapan dan menyambar tangan Mirah serta Nani dengan gerakan sangat cepat. "Ikut gue! Jangan sampe ketangkep!" perintah Dian sambil menyeret mereka menuju pintu rahasia di balik dapur. Mereka berlari menembus labirin gang-gang sempit Jakarta yang gelap, basah oleh air hujan, dan berbau sampah busuk.
Napas Mirah tersengal-sengal saat mereka akhirnya berhasil bersembunyi di balik tumpukan kardus bekas di ujung gang buntu. Ia menatap Nani dan Dian yang terlihat tenang, seolah dikejar polisi adalah rutinitas harian yang biasa.
"Kita... kita harus ke mana sekarang? Aku takut," tanya Mirah dengan suara yang bergetar hebat karena kedinginan dan syok. "Diem dulu, Mir. Jangan berisik kalau lu masih mau liat Bapak lu napas besok pagi," desis Dian sambil terus mengintip. Di kejauhan, sirine polisi masih meraung-raung, menandakan bahwa malam pertama Mirah di Jakarta baru saja dimulai dengan horor yang nyata.
Raungan peluit masinis kereta api senja perlahan meredup di kejauhan, mengantarkan keheningan fajar yang melingkari lereng gunung Jawa Tengah.Mirah turun dari tangga gerbong besi terakhir, menghirup dalam-dalam udara perdesaan yang bersih tanpa sekat polusi semen metropolitan.Kini, keindahan alam desa terbentang sangat nyata di depan pelupuk matanya, membawa kedamaian jiwa yang teramat sangat murni.Mirah dan Jaya resmi meninggalkan gemerlap palsu Jakarta, menanggalkan seluruh kotak pandora dunia lendir yang mengurung batin mereka.Keterangan Tempat: Di sebuah gubuk bambu sederhana di tepi ladang jagung, hamparan kabut pagi nampak merayap lembut di atas pucuk daun hijau.Mirah melepas seluruh topeng estetika kota dan kebayanya, menggantinya dengan kain daster lurik longgar yang sangat luwes di kulit.Dia hidup damai bertani dan mengurus rumah tangga bersama Jaya yang mencintainya secara utuh apa adanya tanpa menuntut draf fisik.Taw
Deru mesin motor matic tua milik Jaya perlahan melambat, lalu berhenti tepat di seberang pelataran stasiun kereta api yang mulai disorot mentari pagi.Mirah turun dari boncengan sambil merapikan tas pakaiannya, memandang ke arah langit Jakarta yang nampak jauh lebih cerah tanpa kepulan duka.Kini, suasana pagi yang bersih beneran menyelimuti seluruh sudut jalanan kota, membawa hilangnya beban hitam kota yang selama ini menghimpit dada.Ruko lendir Selatan resmi ditutup selamanya oleh segel aparat, digantikan dengan proyek pembangunan legal berupa draf kompleks perkantoran baru.Menariknya, sesosok pria tegap dengan seragam dinas PDL kepolisian yang sangat necis nampak sudah berdiri menunggu di dekat pintu masuk peron.Elang yang ternyata seorang perwira intelijen melangkah gagah mendekati mereka, menyunggingkan senyuman maskulin yang dipenuhi rasa hormat.Dia memberikan penghormatan terakhir kepada Jaya dan Mirah atas keberanian mereka memba
Rombongan terpidana ruko Barat baru saja digiring masuk ke dalam bus jeruji besi milik kejaksaan, menyisakan langkah gontai Mirah yang menembus lorong bawah tanah pengadilan.Ditariknya napas panjang oleh Mirah untuk menata sisa debaran dadanya, saat seorang petugas sipir wanita paruh baya menyodorkan secarik draf memo duka kusam.Kini, hawa dingin ruang kunjungan lembaga pemasyarakatan sementara mulai terasa menusuk pori-pori, membawa atmosfer ketulusan psikologis yang teramat mentah.Sebelum dipindahkan ke lapas wanita tingkat provinsi, Nani meminta pertemuan terakhir dengan Mirah di ruang kunjungan utama.Mirah melangkah perlahan mendekati deretan kursi besi, matanya langsung tertuju pada sesosok wanita yang duduk lemas di balik sekat kaca tebal.Deggg...Dengan baju tahanan oranye dan wajah polos tanpa riasan menor, Nani menangis tersedu-sedu meratapi kebodohan batin mudanya yang kini hancur lebur.Alasannya simpel, ketak
Barisan mobil polisi bergerak menjauh dari pelataran perbatasan, menyisakan kesunyian fajar yang perlahan berganti menjadi proses persidangan kilat metropolitan.Dinding ruang sidang utama pengadilan negeri nampak sangat putih bersih, memancarkan atmosfer hawa dingin yang menusuk tulang kering para pesakitan.Kini, nasib dinasti haram ruko Selatan berada sepenuhnya di bawah ketukan palu hakim ketua yang bermata tajam tanpa ekspresi belas kasihan.Agam duduk membungkuk di kursi pesakitan tengah dengan pakaian tahanan jingga, rahang kejamnya nampak bergetar kaku menahan kecemasan batin.Seluruh aset kekayaan haram milik Agam disita negara tanpa sisa, termasuk draf tabungan gelap hasil pemerasan berdarah masa lalu.Ruko Taman Suci Selatan disegel total menggunakan garis polisi hitam kuning, memadamkan riuh gemerlap paket pelayanan "pijat yuk mas".Menariknya, Fandi duduk di sebelah Agam dengan seluruh dahi yang dibanjiri keringat dingin, terus
Raungan sirine polisi mendadak memekakkan telinga, bergema beringas membelah sisa kabut subuh di sepanjang koridor jalur perbatasan Barat-Tangerang.Sorot lampu rotator berwarna biru merah berkelebat cepat menghantam dinding seng, memantulkan bayangan lari ratusan tikus got yang ketakutan.Kini, kepanduan hukum dari kepolisian pusat resmi mengunci seluruh akses pelarian, mengepung rapat setiap jengkal pelataran gudang tua tanpa celah.Tepat saat Agam dan Fandi mencoba kabur membawa koper uang saham, barisan mobil Brimob dan kepolisian pusat bentukan jaringan Elang mengepung seluruh area gudang.Gara-gara panik melihat barisan laras panjang mencuat dari balik pintu truk barak, Fandi nekat menyeret koper kulitnya ke sela batako basah.Ditariknya gagang koper itu dengan sisa tenaga maskulinnya yang kian melemah, mencoba menyelamatkan modal investasi ruko Selatan.Namun, seorang perwira Brimob bertubuh tegap langsung melompat taktis dari atas bu
Moncong pistol revolver kecil berlapis krom di tangan Fandi berkilat kejam, membidik lurus ke arah kaki Jaya yang masih berdiri kokoh di atas tanah berlumpur pelataran gudang perbatasan.Fandi bersiap menembak kaki Jaya, jemari necisnya mulai menekan picu baja dengan seringai kepuasan kotor yang teramat sangat binal.Kini, fajar pertama mulai memecah langit kelabu, membawa hawa dingin mencekam yang langsung menguap bersama kepulan debu material bangunan.Gara-gara panik melihat ancaman maut di depan mata, Mirah berguling pasrah ke samping ban mobil Mercedes, mencoba memutuskan lilitan tali di pergelangan tangannya.Namun, Elang yang berhasil meloloskan diri dari ikatan berkat bantuan kode sandi Jaya, langsung menerjang barisan pengawal pusat tanpa rasa takut.Pipa besi silinder di tangan Elang berayun secepat kilat, menghantam pergelangan tangan Fandi sebelum pelatuk revolver itu sempat ditarik penuh.Brakkkk!Bunyi letupan s







