Beranda / Romansa / Pijat Yuk, Mas! / Bab 3 Rekaman Video Syur Mirah

Share

Bab 3 Rekaman Video Syur Mirah

Penulis: Irbapiko
last update Tanggal publikasi: 2026-02-19 17:00:04

"Mir, dodolnya... beneran masih anget, baru nyampe tadi sore ." Suara Jaya terdengar serak. Mirah masih mematung di teras, jemarinya meremas pinggiran ponsel yang layarnya baru saja meredup setelah menampilkan rentetan pesan provokatif dari Nani.

Bayangan kejadian di rumah Fandi—sentuhan kasar yang merayap di balik kancing kemejanya. "Mir? Kok malah bengong? Bapak ada di dalem? " Jaya melangkah mendekat, menenteng kantong plastik berisi dodol Garut.

"Eh, iya, Jay. Masuk saja ." Mirah buru-buru menyelipkan ponselnya ke balik bantal kursi rotan di teras. Mirah bisa merasakan panas yang memancar dari tubuh Jaya.

"Ini, cobain dulu ." Jaya menyodorkan sepotong dodol yang masih terbungkus kertas minyak,  Jari mereka bersentuhan saat Mirah mengambil dodol itu, memicu kilatan listrik kecil yang merambat naik ke lengannya.

Detak jantung Mirah mendadak tak beraturan, dibayangi rasa bersalah yang mulai menggerogoti nuraninya. Bayangan cerita Nani tentang "tangan cowok yang gerilya di balik baju" mendadak terputar otomatis di kepala Mirah seperti kaset rusak. "Enak, Jay. Manis ," bisik Mirah.

Tiba-tiba, suara batuk yang berat dan kering terdengar dari dalam kamar, memecah kesunyian teras. Jaya menggeser duduknya, lebih dekat hingga lutut mereka bersenggolan, menatap wajah Mirah yang separuh gelap di bawah temaram. "Bapak lagi sering pusing dan napasnya sesak, Jay ," bisik Mirah dengan mata yang mulai berkaca-kaca menatap pintu rumahnya yang kusam.

"Mir, kamu... kamu beda banget malem ini ." Jaya menatap leher putih Mirah yang masih sedikit lembap, lalu turun ke arah kancing kemeja Mirah yang tampak sedikit tegang. "Jay, aku... aku cuma lagi mikir soal ijazah itu ." Mirah berdusta cepat.

"Dunia luar itu liar, Jay. Dan kita... kita kayak nggak tahu apa-apa ." Suara Mirah merendah. Jaya menggenggam jemari Mirah dengan tangan kasarnya yang terbiasa mengangkat beban berat.

"Kamu nggak perlu tahu hal-hal yang nggak perlu, Mir. Selama ada aku, aku bakal jagain kamu." "Jagain gimana, Jay? Kayak pacaran anak SD yang cuma pegangan tangan? " Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Mirah; ia sendiri terkejut mendengar suaranya yang terdengar begitu menantang.

Jaya tampak tersentak, genggamannya mengerat mendengar provokasi yang persis seperti ucapan Nani sore tadi. "Maksud kamu apa, Mir? Kamu mau aku... aku kayak Fandi yang pamer motor sport? " "Bukan gitu, Jay... cuma... sembilan belas tahun, Jay. Bodi udah mateng begini kalau nggak dinikmatin ya mubazir."

Jaya menelan ludah dengan keras, matanya menatap kancing kedua kemeja Mirah yang tampak sedikit tegang. "Mir... jangan ngomong gitu. Aku... aku sayang sama kamu. Aku menghargai kamu ," suara Jaya parau. "Sayang atau... atau emang nggak berani? " Mirah mendekatkan wajahnya, menantang mata Jaya.

Napas Jaya menjadi berat, ia bisa mencium aroma sabun mandi melati yang lembut dari tubuh Mirah. Perlahan, tangan Jaya naik menyentuh pipi Mirah dengan ujung jarinya yang gemetar. "Aku berani, Mir. Tapi aku takut ngerusak kamu ," bisik Jaya tepat di depan bibir Mirah.

"Kalau aku yang minta dirusak? " Jaya tidak bisa menahan diri lagi; ia menarik tengkuk Mirah, menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang awalnya ragu namun menjadi tuntutan yang liar. Mirah memejamkan mata rapat-rapat, tangannya meremas kaos pudar yang dikenakan Jaya.

Tangan Jaya mulai "gerilya", persis seperti yang digambarkan Nani, memicu sensasi menggelitik yang dahsyat ke seluruh tubuh Mirah. "Jay... ntar Bapak denger ," desah Mirah di sela ciuman mereka. "Bapak udah tidur, Mir... suaranya aja sampe sini ," bisik Jaya, jemarinya kini merayap naik menyentuh pinggiran tali pakaian dalam Mirah yang sudah longgar.

Tiba-tiba, suara deru motor sport terdengar dari kejauhan, membelah kesunyian desa dan berhenti tepat di depan pagar. Mirah dan Jaya tersentak, buru-buru melepaskan kaitan tubuh mereka dengan panik. Jaya yang merasa tak enak karena hampir ketahuan sedang bercumbu, segera berpamitan dengan terburu-buru.

"Akuuu... aku pulang dulu ya, Mir. Jaga diri ," bisik Jaya sambil menyalakan motor bebeknya dengan gerakan kikuk sebelum meluncur pergi. Tak lama kemudian, Nani berlari masuk ke teras dengan napas terengah-engah dan maskara yang luntur parah.

"Mir, masuk! Kita harus ngomong di dalem! " ajak Nani sambil menarik tangan Mirah masuk ke rumah. "Mir... kita hancur! Fandi brengsek! " jerit Nani di dalam ruangan sambil menyodorkan ponselnya dengan tangan yang gemetar hebat.

"Liat apa sih, Nan? Lu kenapa? " tanya Mirah bingung, mencoba menenangkan debar jantungnya yang masih tersisa dari interaksinya dengan Jaya tadi. "Fandi, Mir... si brengsek itu! " Nani nyaris menjerit. "Dia punya pacar di Jakarta namanya Clarissa, dan dia bilang kita cuma 'mainan lokal'!"

Jantung Mirah seolah berhenti berdetak saat kembali menatap layar ponsel Nani dan melihat potongan video tangan Fandi yang menarik paksa kancing kemejanya tadi sore. Melihat kulit dadanya terekspos dalam rekaman itu bagi Mirah adalah kiamat nyata. "Dia ngerekam... semuanya? " suara Mirah nyaris tak terdengar.

"Fandi bilang kalau kita nggak mau 'melayani' temen-temennya di Jakarta, video elu bakal dikirim ke grup W******p warga desa! " tangis Nani histeris. "Semua orang di Sukamaju bakal liat ini! Pak RT pun tahu! " Kalimat Nani pun menekan saraf ketakutan Mirah. Mirah terduduk lemas, membayangkan kehinaan yang akan menimpa keluarganya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pijat Yuk, Mas!   Bab 150 Bahagia di Tanah Kelahiran (Tamat)

    Raungan peluit masinis kereta api senja perlahan meredup di kejauhan, mengantarkan keheningan fajar yang melingkari lereng gunung Jawa Tengah.Mirah turun dari tangga gerbong besi terakhir, menghirup dalam-dalam udara perdesaan yang bersih tanpa sekat polusi semen metropolitan.Kini, keindahan alam desa terbentang sangat nyata di depan pelupuk matanya, membawa kedamaian jiwa yang teramat sangat murni.Mirah dan Jaya resmi meninggalkan gemerlap palsu Jakarta, menanggalkan seluruh kotak pandora dunia lendir yang mengurung batin mereka.Keterangan Tempat: Di sebuah gubuk bambu sederhana di tepi ladang jagung, hamparan kabut pagi nampak merayap lembut di atas pucuk daun hijau.Mirah melepas seluruh topeng estetika kota dan kebayanya, menggantinya dengan kain daster lurik longgar yang sangat luwes di kulit.Dia hidup damai bertani dan mengurus rumah tangga bersama Jaya yang mencintainya secara utuh apa adanya tanpa menuntut draf fisik.Taw

  • Pijat Yuk, Mas!   Bab 149 Fajar Baru Setelah Badai

    Deru mesin motor matic tua milik Jaya perlahan melambat, lalu berhenti tepat di seberang pelataran stasiun kereta api yang mulai disorot mentari pagi.Mirah turun dari boncengan sambil merapikan tas pakaiannya, memandang ke arah langit Jakarta yang nampak jauh lebih cerah tanpa kepulan duka.Kini, suasana pagi yang bersih beneran menyelimuti seluruh sudut jalanan kota, membawa hilangnya beban hitam kota yang selama ini menghimpit dada.Ruko lendir Selatan resmi ditutup selamanya oleh segel aparat, digantikan dengan proyek pembangunan legal berupa draf kompleks perkantoran baru.Menariknya, sesosok pria tegap dengan seragam dinas PDL kepolisian yang sangat necis nampak sudah berdiri menunggu di dekat pintu masuk peron.Elang yang ternyata seorang perwira intelijen melangkah gagah mendekati mereka, menyunggingkan senyuman maskulin yang dipenuhi rasa hormat.Dia memberikan penghormatan terakhir kepada Jaya dan Mirah atas keberanian mereka memba

  • Pijat Yuk, Mas!   Bab 148 Airmata dan Pertobatan Nani

    Rombongan terpidana ruko Barat baru saja digiring masuk ke dalam bus jeruji besi milik kejaksaan, menyisakan langkah gontai Mirah yang menembus lorong bawah tanah pengadilan.Ditariknya napas panjang oleh Mirah untuk menata sisa debaran dadanya, saat seorang petugas sipir wanita paruh baya menyodorkan secarik draf memo duka kusam.Kini, hawa dingin ruang kunjungan lembaga pemasyarakatan sementara mulai terasa menusuk pori-pori, membawa atmosfer ketulusan psikologis yang teramat mentah.Sebelum dipindahkan ke lapas wanita tingkat provinsi, Nani meminta pertemuan terakhir dengan Mirah di ruang kunjungan utama.Mirah melangkah perlahan mendekati deretan kursi besi, matanya langsung tertuju pada sesosok wanita yang duduk lemas di balik sekat kaca tebal.Deggg...Dengan baju tahanan oranye dan wajah polos tanpa riasan menor, Nani menangis tersedu-sedu meratapi kebodohan batin mudanya yang kini hancur lebur.Alasannya simpel, ketak

  • Pijat Yuk, Mas!   Bab 147 Kejatuhan di Balik Jeruji Besi

    Barisan mobil polisi bergerak menjauh dari pelataran perbatasan, menyisakan kesunyian fajar yang perlahan berganti menjadi proses persidangan kilat metropolitan.Dinding ruang sidang utama pengadilan negeri nampak sangat putih bersih, memancarkan atmosfer hawa dingin yang menusuk tulang kering para pesakitan.Kini, nasib dinasti haram ruko Selatan berada sepenuhnya di bawah ketukan palu hakim ketua yang bermata tajam tanpa ekspresi belas kasihan.Agam duduk membungkuk di kursi pesakitan tengah dengan pakaian tahanan jingga, rahang kejamnya nampak bergetar kaku menahan kecemasan batin.Seluruh aset kekayaan haram milik Agam disita negara tanpa sisa, termasuk draf tabungan gelap hasil pemerasan berdarah masa lalu.Ruko Taman Suci Selatan disegel total menggunakan garis polisi hitam kuning, memadamkan riuh gemerlap paket pelayanan "pijat yuk mas".Menariknya, Fandi duduk di sebelah Agam dengan seluruh dahi yang dibanjiri keringat dingin, terus

  • Pijat Yuk, Mas!   Bab 146 Kehancuran Para Penguasa Lendir

    Raungan sirine polisi mendadak memekakkan telinga, bergema beringas membelah sisa kabut subuh di sepanjang koridor jalur perbatasan Barat-Tangerang.Sorot lampu rotator berwarna biru merah berkelebat cepat menghantam dinding seng, memantulkan bayangan lari ratusan tikus got yang ketakutan.Kini, kepanduan hukum dari kepolisian pusat resmi mengunci seluruh akses pelarian, mengepung rapat setiap jengkal pelataran gudang tua tanpa celah.Tepat saat Agam dan Fandi mencoba kabur membawa koper uang saham, barisan mobil Brimob dan kepolisian pusat bentukan jaringan Elang mengepung seluruh area gudang.Gara-gara panik melihat barisan laras panjang mencuat dari balik pintu truk barak, Fandi nekat menyeret koper kulitnya ke sela batako basah.Ditariknya gagang koper itu dengan sisa tenaga maskulinnya yang kian melemah, mencoba menyelamatkan modal investasi ruko Selatan.Namun, seorang perwira Brimob bertubuh tegap langsung melompat taktis dari atas bu

  • Pijat Yuk, Mas!   Bab 145 Konfrontasi Segitiga Berdarah

    Moncong pistol revolver kecil berlapis krom di tangan Fandi berkilat kejam, membidik lurus ke arah kaki Jaya yang masih berdiri kokoh di atas tanah berlumpur pelataran gudang perbatasan.Fandi bersiap menembak kaki Jaya, jemari necisnya mulai menekan picu baja dengan seringai kepuasan kotor yang teramat sangat binal.Kini, fajar pertama mulai memecah langit kelabu, membawa hawa dingin mencekam yang langsung menguap bersama kepulan debu material bangunan.Gara-gara panik melihat ancaman maut di depan mata, Mirah berguling pasrah ke samping ban mobil Mercedes, mencoba memutuskan lilitan tali di pergelangan tangannya.Namun, Elang yang berhasil meloloskan diri dari ikatan berkat bantuan kode sandi Jaya, langsung menerjang barisan pengawal pusat tanpa rasa takut.Pipa besi silinder di tangan Elang berayun secepat kilat, menghantam pergelangan tangan Fandi sebelum pelatuk revolver itu sempat ditarik penuh.Brakkkk!Bunyi letupan s

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status