Share

Ziarah duka

Penulis: Eljanes Crocus
last update Tanggal publikasi: 2021-10-30 06:04:25

Kediaman keluarga Pratama terasa tenang. Meski tak semegah rumah keluarga Sidney, perabotan di sini tertata rapi. Areta, yang kini menghuni tubuh Arana, teringat bahwa keluarga ini terpaksa memecat pelayan demi membiayai pengobatannya.

"Biar Leo saja yang mengantar Ana ke atas," tawar Leo sigap.

Citra tersenyum, mengusap lembut kepala putrinya. "Ya sudah, Mama siapkan makan malam dulu untuk kita semua."

Arana melangkah di samping pria yang kini menjadi kakaknya. Mereka menaiki tangga menuju sebuah kamar yang pintunya sudah terbuka lebar. Ruangan itu didominasi warna nude yang menyejukkan mata. Meski tak seluas kamar lamanya, atmosfer di sini terasa jauh lebih hangat. Setidaknya, semua ini disiapkan dengan ketulusan, bukan kepalsuan.

"Bagaimana? Suka, kan?" tanya Leo, menatap adiknya dengan penuh harap. "Dari dulu kamu selalu mengeluh ingin punya kamar yang tidak bau obat."

Arana mengangguk pasti, lalu berlari kecil menjelajahi setiap sudut. Leo tertegun, matanya berkaca-kaca melihat adiknya yang dulu layu kini bisa bergerak lincah.

"Istirahatlah dulu. Nanti Kakak jemput untuk makan malam di bawah," ujar Leo lembut sembari mengacak rambut Arana sebelum beranjak pergi.

Begitu langkah kaki Leo menjauh, Arana segera mengunci pintu. Ia bergegas ke depan cermin besar, menatap pantulan dirinya dengan lekat. Kulit seputih porselen, rambut hitam legam yang jatuh dengan sempurna, dan lesung pipi yang menawan.

"Luar biasa... wajah ini benar-benar anugerah," gumamnya takjub. Namun, saat tatapannya turun ke bagian dada, ia mendesah kecewa melihat tubuhnya yang terlalu kurus. "Ck, sayang sekali. Aku harus menaikkan berat badan agar lekuk tubuh ini lebih terlihat."

Setelah puas mengamati diri, Arana keluar kamar karena merasa haus. Di koridor, ia berpapasan dengan Leo yang sudah rapi mengenakan kemeja hitam.

"Kakak mau ke mana?" tanya Arana.

"Mau ke pemakaman... Areta."

"Ikut!" celetuk Arana antusias. Ia menghadang langkah Leo dengan tangan terentang. "Boleh ya? Please..."

Leo mengernyit, menatap adiknya dengan teliti. Ia merasakan perubahan drastis, Arana yang biasanya kalem dan pendiam kini tampak begitu ekspresif. "Kamu yakin kuat?"

"Yakin!"

Tiga puluh menit kemudian, mereka sampai di depan gerbang pemakaman yang basah oleh sisa hujan.

"Hei!" teriak seorang gadis dari kejauhan.

"Lia..." batin Arana bergetar. Sahabatnya itu berdiri di sana, mengenakan kacamata hitam untuk menyembunyikan mata sembabnya.

"Maaf telat, tadi agak macet," dusta Leo.

Lia menyodorkan keranjang penuh kelopak bunga, lalu melirik gadis di samping Leo. "Siapa dia?"

"Arana, adikku. Dia baru saja sembuh," jelas Leo bangga.

DUK! Lia memukul kepala Leo dengan kepalan tangannya. "Dasar bego! Adikmu masih pucat begini malah diajak ke kuburan. Tololnya nggak hilang-hilang!"

Arana terkekeh spontan. Interaksi ini mengingatkannya pada masa-masa SMA mereka. Tawa Arana membuat Leo dan Lia terpaku sejenak, mengagumi keceriaan yang jarang terlihat dari gadis itu.

"Ya sudah, cepat masuk. Biar adikmu di sini saja denganku," tegas Lia, merangkul bahu Arana.

Keheningan menyergap saat Leo berjalan menjauh. Arana melirik Lia yang tampak melamun dalam kesedihan yang dalam. Padahal, Lia biasanya adalah sosok yang paling cerewet.

"Kak Lia... pasti sangat sedih, ya?" tanya Arana hati-hati.

Lia menoleh, tersenyum getir. "Nggak kok. Aku justru senang karena sekarang sudah tidak ada saingan cinta lagi."

Arana tersentak. "Jangan bilang Lia juga mengkhianatiku?"

"Aku, kakakmu, dan Areta berteman sejak SMP. Aku dan Leo sempat pacaran, tapi aku yang minta putus," Lia bercerita dengan tatapan kosong. "Sebab aku tahu, wanita yang sebenarnya dicintai kakakmu adalah Areta."

"Apa? Leo mencintaiku?" Arana membeku.

"Sejak saat itu, aku justru membantu Leo mendapatkan Areta. Tapi Areta tidak peka dan malah menikahi pria bajingan itu," lanjut Lia. "Sekarang Areta sudah tidak ada. Artinya, aku bisa kembali dengan kakakmu, kan?"

Tiba-tiba, setetes air mata jatuh membasahi punggung tangan Arana. Lia menangis sesenggukan meski bibirnya mencoba tersenyum. "Entahlah... kenapa aku menangis? Padahal aku senang... karena..."

Kalimat Lia terputus saat Arana menariknya ke dalam pelukan hangat. Lia akhirnya menyerah, tangisnya pecah menggelegar di sunyinya pemakaman.

Arana sadar, semua ucapan Lia tentang senang hanyalah tameng. Sahabatnya itu hancur. Bagi Lia, Areta jauh lebih berharga daripada cintanya pada Leo.

"Maafkan aku, Lia. Aku masih di sini... Tapi aku belum bisa cerita sebelum balas dendamku berhasil," batin Arana sembari mengeratkan pelukannya.

Setengah jam kemudian...

Hembusan angin menerpa dedaunan, mengiringi langkah kaki yang bersahutan di jalanan setapak pemakaman.

Leo baru saja selesai memanjatkan doa terakhir di pusara Reta. Begitu berbalik, ia terkejut mendapati dua gadis di hadapannya memiliki hidung yang memerah serupa tomat.

"Ana! Kamu diapakan oleh Lia?" pekiknya cemas.

Leo menghambur, membelai lembut pipi Ana dan memaksa wajah mungil itu mendongak.

"Aku tidak apa-apa, Kak. Hanya kedinginan, sepertinya mau flu," dusta Ana sembari mengusap ujung hidungnya yang berair.

"Ya sudah, ayo pulang! Kalau Mama tahu kamu kedinginan begini, bisa gawat," ujar Leo sembari menggandeng tangan adiknya.

Baru beberapa langkah, Ana menahan lengan Leo. Ia menoleh ke arah Lia. "Ayo, pulang bareng kami saja," ajaknya dengan wajah polos.

Leo mengerutkan dahi. Ia tak menyangka kedua gadis ini bisa akrab dalam waktu sesingkat itu.

"Tidak usah. Kalian duluan saja, aku masih menunggu seseorang," jawab Lia sembari mengedarkan pandangan ke sekeliling. "Ah, itu dia! Aku pergi dulu!"

Lia berlari kecil menuju sisi lain gerbang. Ana mengamati dengan tajam. Di seberang jalan, seorang pria bersetelan jas mahal berdiri di samping mobil mewah yang sangat ia kenali.

"Tuan Maxime? Untuk apa Lia menemuinya di tempat seperti ini?" batin Ana.

Ia mengenali sosok itu,  Neil Maxime, paman tirinya. Neil adalah pebisnis sukses yang jarang menginjakkan kaki di tanah air karena seleranya yang terlalu tinggi. Namanya hanya dikenal oleh segelintir elit bisnis.

"Tuan Maxime itu... siapa, Kak?" tanya Ana berbasa-basi.

"Dia pengusaha besar," jawab Leo singkat sembari membukakan pintu mobil untuk adiknya.

Sepanjang perjalanan, Ana terus termenung. "Kenapa Leo bisa tahu wajah om Neil?"

"Apa Kakak mengenalnya?" tanya Ana lagi, memancing.

"Hanya sekadar tahu, belum akrab. Kebetulan nanti malam Kakak ada janji temu dengannya di Hotel Value."

"Hotel Value?" Jantung Ana berdegup kencang. Ia lupa bahwa Leo juga seorang pengusaha muda yang ambisius. Berhasil mendapatkan waktu luang dari seorang Neil Maxime yang angkuh dan perfeksionis adalah prestasi besar.

"Aku harus ke sana. Neil adalah satu-satunya orang yang bisa membantuku," tegas Ana dalam hati.

Pukul 19.00

Di meja makan, makan malam baru saja usai. Arana melirik tangga dengan gelisah.

"Kak Leo belum turun juga," batinnya. "Masih ada waktu!"

"Ma, Pa, Ana sudah kenyang dan sangat mengantuk. Ana tidur duluan, ya?" Tanpa menunggu jawaban, ia segera berlari menaiki tangga.

Begitu masuk kamar, ia menjalankan rencana nekatnya. Ana menata bantal dan guling di bawah selimut agar terlihat seperti seseorang yang sedang tertidur lelap.

Setelah itu, ia segera berdandan. Ia menggunakan riasan milik mamanya secara berlebihan,  ia butuh wajah yang tampak jauh lebih dewasa agar tidak dicegat petugas keamanan hotel. Dengan pakaian yang tertutup rapat, ia menyelinap keluar rumah dan merayap masuk ke kursi belakang mobil Leo yang tidak terkunci.

BRAK!

Pintu pengemudi tertutup. Leo masuk tanpa menyadari ada penyusup yang meringkuk di sela kursi belakang.

Selama perjalanan, Ana harus menahan mual. Guncangan mobil dan udara pengap di bawah sana membuatnya nyaris muntah. "Sial! Kalau aku sudah punya uang nanti, aku akan membelikanmu mobil yang lebih nyaman, Kak!" gerutunya dalam hati.

Begitu mobil terparkir di basement Hotel Value, Ana menunggu saat yang tepat. Saat Leo sibuk melepas sabuk pengaman dan membuka pintu, Ana bergerak secepat kilat. Ia membuka pintu sisi lain dan berlari keluar sebelum Leo sempat menoleh sepenuhnya.

"Ng...?" Leo mematung sejenak. Ia merasa ada bayangan yang melesat keluar dari mobilnya. "Apa perasaanku saja? Tadi seperti ada suara pintu terbuka..."

Karena terburu-buru untuk pertemuan penting, Leo mengabaikan kecurigaannya dan segera masuk ke dalam gedung.

Ana melangkah masuk ke lobi hotel dengan kepercayaan diri yang dipaksakan. Ia tahu kebiasaan pamannya yang selalu menyewa private suite untuk pertemuan bisnis. Ia segera menghampiri meja resepsionis.

"Selamat malam, ada yang bisa saya bantu?" sapa resepsionis itu dengan senyum ramah yang dibuat-buat.

"Saya ingin bertemu Tuan Maxime. Di kamar mana beliau menginap?"

Resepsionis itu mengamati penampilan Ana yang mencolok, riasannya terlalu tebal untuk gadis seusianya. "Maaf, Anda siapa?"

"Reta. Saya keponakannya," jawab Ana, berusaha tetap tenang meski jantungnya berdebar. Ia baru sadar, mengaku sebagai keponakan dengan dandanan menor seperti ini adalah ide yang buruk.

"Pfft... keponakan?" Resepsionis itu tertawa remeh.

"Iya! Apa kamu tidak percaya?" Ana melotot, mengeluarkan aura dominan yang dulu ia miliki sebagai bos Sidney Group. "Apa perlu aku meneleponnya agar dia memecatmu sekarang juga?"

Gebrakan itu berhasil. Resepsionis itu tersentak. "Ti-tidak, Nona. Maafkan saya. Beliau ada di kamar 450."

"Berikan kuncinya."

"Maaf, Nona, itu melanggar prosedur hotel---"

"Tuan Maxime sendiri yang menyuruhku ke sini. Dia pasti lupa mencantumkan namaku di reservasi karena jadwalnya yang padat. Apa kamu mau menanggung risiko jika aku dibiarkan menunggu di lorong?" potong Ana sinis.

Melihat tatapan tajam Ana yang tidak seperti gadis biasa, resepsionis itu akhirnya goyah. Dengan tangan gemetar, ia menyerahkan kartu akses tambahan. "I-ini, Nona. Kamar 450."

Ana mengambil kartu itu dengan angkuh. "Pilihan cerdas."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pria milik 'ARANA'   Jerat sang pengkhianat

    Berita penyerahan diri Syla ke kepolisian meledak seperti bom waktu di seluruh media massa. Di sebuah kos yang sempit dan bau, Ryan menatap layar televisi dengan mata merah dan rambut berantakan. Botol-botol minuman keras berserakan di kakinya."Syla... jalang sialan!" geram Ryan, melemparkan gelas kacanya ke arah televisi hingga layar itu retak. "Dia mengkhianatiku!"Ryan segera meraup paspor dan sisa uang tunai yang ia simpan di dalam dompet. Ia harus pergi malam ini juga sebelum polisi melacak keberadaannya. Namun, saat ia membuka pintu, langkahnya terhenti.Dua orang pria tegap berpakaian hitam sudah berdiri di sana. Di tengah-tengah mereka, Max Sidney berdiri dengan ekspresi sedatar es."Mau ke mana, Ryan? Pesta baru saja dimulai," ujar Max dingin.Ryan mundur selangkah, wajahnya pucat pasi. "Max... dengar, ini semua salah paham. Syla berbohong! Dia yang merencanakan semuanya, aku hanya---"BUGH!Belum sempat Ryan m

  • Pria milik 'ARANA'   Hangusnya seluruh kekayaan

    Satu Bulan Kemudian...Gedung pusat Sidney Group yang dulu megah kini terasa seperti bangunan sekarat. Di dalam ruang rapat utama, suasana sangat panas. Ryan duduk di kursi pimpinan dengan keringat dingin yang membasahi kemeja mahalnya. Di sampingnya, Syla berdiri dengan wajah pucat, tak lagi memiliki keangkuhan yang biasa ia pamerkan."Cukup, Ryan!" bentak salah satu tetua keluarga Sidney sambil menggebrak meja. "Lihat apa yang kau lakukan! Saham kita anjlok, investor lari, dan kita di ambang kebangkrutan karena keputusan-keputusan bodohmu!""Paman, ini semua karena serangan fajar dari pihak asing, saya bisa menjelaskannya---""Tidak ada lagi penjelasan!" potong tetua lainnya dengan nada muak. "Kamu itu cuma orang luar! Kamu hanya beruntung menikahi Areta. Sekarang setelah dia tidak ada, kamu cuma membawa sial bagi keluarga ini!"Syla mencoba maju. "Tuan-tuan, tolong dengarkan, kita masih bisa---""Diam kau, Syla!" bentak mereka

  • Pria milik 'ARANA'   Bunga mawar di ranjang sempit

    Citra dan Dirga berhenti di depan pintu kamar Ana dengan senyum yang tidak bisa disembunyikan. Citra menyenggol lengan suaminya, lalu menatap Ana dan Max bergantian dengan mata berbinar."Mama dan Papa sudah sedikit menghias kamar kalian. Ya, tidak semewah hotel tadi, tapi kami harap kalian nyaman. Selamat menikmati malam pengantin baru, ya!"Wajah Ana seketika memerah padam hingga ke telinga. Sebelum ia sempat memprotes, Citra sudah tersipu malu sendiri, lalu dengan cepat menarik lengan Dirga menuju kamar mereka. "Ayo, Pa! Jangan mengganggu mereka terus!"Pintu kamar orang tua Ana tertutup rapat, meninggalkan Ana dan Max dalam keheningan yang canggung di depan pintu kamar yang kini berhias pita sederhana. Begitu pintu dibuka, aroma terapi lavender dan taburan kelopak bunga mawar di atas ranjang menyambut mereka.Cahaya lampu tidur yang memberikan semburat kuning, memantul di mata Max yang tampak lebih rileks dari biasanya.Max melepaskan

  • Pria milik 'ARANA'   Gengsi sang kakak

    Ana melirik kakaknya, Leo, yang duduk tepat di seberang meja. Sejak tadi, pria yang biasanya menjadi orang paling vokal menentang hubungannya dengan Max, tampak jauh lebih tenang.Leo menikmati hidangannya dengan saksama, memotong daging steak dengan gerakan presisi seolah ia mulai menerima kenyataan pahit bahwa adiknya kini bukan lagi tanggung jawabnya.Namun, ketenangan itu terusik saat rasa mual tiba-tiba naik ke kerongkongan Ana. Aroma truffle dan rempah masakan yang tadinya menggugah selera, mendadak berubah menjadi bau yang menusuk dan memuakkan. Perutnya bergejolak hebat.Ana membekap mulutnya dengan serbet, wajahnya memucat seketika dalam hitungan detik.Tanpa suara, sebuah tangan besar mendarat di punggung Ana. Max, dengan kepekaan yang tajam, mengelus punggung istrinya dengan gerakan memutar yang menenangkan. Sorot matanya yang dingin berubah menjadi penuh perhatian."Ada apa?" tanya Citra, ibu Ana, dengan raut cemas yang kentar

  • Pria milik 'ARANA'   Makan malam keluarga

    Malam itu, kemacetan Jakarta seolah tak berani menyentuh iring-iringan mobil hitam mengilap yang dikirimkan Max. Tidak tanggung-tanggung, Max mengirimkan satu unit Rolls-Royce untuk orang tua Ana, dan masing-masing satu unit Mercedes-Benz untuk keluarga paman dan sepupu-sepupunya.Sarah dan Mia duduk di dalam kabin mobil yang kedap suara, jemari mereka meraba jok kulit yang terasa begitu mahal. Alih-alih merasa senang, wajah mereka justru masam, mencari celah untuk mencela namun hanya bisa terpana saat mobil-mobil itu berhenti di lobi sebuah hotel bintang lima yang telah dipesan secara privat."Ini berlebihan," gumam Sarah saat mereka melangkah menuju penthouse dining room yang menyajikan pemandangan 360 derajat kota Jakarta. "Pasti ini semua hasil dari hutang."Namun, ucapan Sarah tertelan saat ia melihat Max berdiri di ujung meja panjang. Pria itu tampak sangat berkuasa dalam setelan bespoke suit yang membalut tubuh tegapnya."Tunggu..." Sarah m

  • Pria milik 'ARANA'   Anak angkat

    Di lantai bawah, Helena menatap Max dengan tatapan memohon. "Lalu bagaimana, Max? Meski terlambat... aku ingin membujuknya. Aku ingin Syla kembali."Max terdiam sejenak, menatap kosong ke arah taman luar yang mulai gelap. "Tidak ada cara lain, Bu. Syla sudah dibutakan oleh kebencian. Kita harus menghancurkan Sidney dulu lalu mengambil alih seluruh asetnya. Biarkan mereka jatuh hingga ke titik terendah."Suara Max terdengar dingin tanpa ampun. "Setelah mereka tidak punya apa-apa lagi, selanjutnya terserah Ibu. Ibu bisa datang sebagai penyelamat dan mengajak putri Ibu pulang. Saat itulah dia tidak punya pilihan selain bersandar pada Ibu.""Tapi..." Max menjeda kalimatnya, "jika aku tahu dia melakukan kejahatan yang lebih parah di luar pemalsuan wasiat ini, Ibu tidak boleh melindunginya. Hukum tetap harus berjalan."Helena mengangguk pelan dengan wajah lesu. "Baiklah."​Max berbalik, meninggalkan ibunya yang masih meratapi nasib di sofa. Ia

  • Pria milik 'ARANA'   Salah orang

    Pukul 19.00 Hamparan lantai yang begitu luas, cahaya terang serta hentak kaki yang saling bersahutan. Di depan rak kaca, terlihat bayangan gadis tengah berjalan bersama kakak laki-lakinya. Kedua tangan mereka sibuk menenteng beberapa kantong plastik, "Mau beli apa lagi?" gumam Leo, Melirik ujung

  • Pria milik 'ARANA'   Serangan balik

    Ana terdiam sejenak. Ingatan tentang Arana yang asli mulai berputar, sosok gadis lemah, naif, dan rela melakukan apa saja demi pengakuan orang lain. Sarah adalah anak dari istri kedua pamannya, sementara Mia adalah anak dari istri pertama. Keduanya bersahabat, membentuk aliansi yang rumit dalam kel

  • Pria milik 'ARANA'   Berpindah tubuh

    Tut... Tut... Tut... Suara monoton alat medis itu adalah hal pertama yang menyambut kesadaran Reta. Aroma antiseptik yang tajam menusuk indra penciumannya, kontras dengan hawa sejuk pendingin ruangan yang membelai kulit. Reta mengerang pelan. Matanya mengerjap, beradaptasi dengan cahaya lampu pu

  • Pria milik 'ARANA'   Pengkhianatan

    "S-sakit... Kenapa gelap sekali?" batin Reta. Hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang menyentak kesadaran Reta. Namun, rasa nyeri yang hebat di sekujur tubuh memaksanya tetap terpejam. "Argh!" Reta mengerang, merintih dalam sesak. Saat kelopak matanya perlahan terbuka, ia tertegun. Dunianya jun

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status