LOGINTut... Tut... Tut...
Suara monoton alat medis itu adalah hal pertama yang menyambut kesadaran Reta. Aroma antiseptik yang tajam menusuk indra penciumannya, kontras dengan hawa sejuk pendingin ruangan yang membelai kulit. Reta mengerang pelan. Matanya mengerjap, beradaptasi dengan cahaya lampu putih yang menyilaukan. "Rumah sakit?" Reta terbelalak. Memori terakhirnya adalah rasa sakit yang menghancurkan tulang dan kobaran api yang melahap tubuhnya di dasar jurang. Harusnya ia sudah mati. Namun sekarang, ia justru terbaring di atas ranjang empuk dengan pakaian pasien yang bersih. Ceklek. Pintu kaca terbuka. Seorang perawat masuk sambil mencatat di papan klip. Begitu ia mendongak dan melihat Reta sadar, matanya membelalak horor seolah melihat hantu. "Dokter! Dokter!" teriak suster itu panik, berlari keluar ruangan tanpa penjelasan. Reta meraba wajahnya dengan bingung. "Apa mukaku hancur?" batinnya cemas. Namun, alih-alih merasakan bekas luka bakar atau jahitan, jarinya justru menyentuh kulit yang luar biasa kenyal, halus, dan kencang. Tak lama kemudian, seorang dokter pria masuk dengan napas terengah. Ia memeriksa detak jantung Reta dengan stetoskop, lalu wajahnya berubah cerah. "Ini keajaiban! Dia sudah melewati masa kritisnya. Cepat hubungi keluarganya!" seru Dokter itu riang. Ia mengusap kepala Reta dengan lembut. "Gadis hebat, terima kasih sudah berjuang." Reta tertegun. "Keluarga? Keluarga yang mana?" Tak berselang lama, pintu kembali terbuka lebar. Seorang pria muda menyerbu masuk membawa keranjang buah, diikuti sepasang suami istri paruh baya di belakangnya. "Leo?" bisik Reta. Pria itu adalah teman sekolahnya. Reta menduga mungkin Lia, sahabat setianya, yang menghubungi Leo untuk menolongnya. Namun, reaksi Leo jauh di luar dugaan. Pria itu menghambur ke arahnya, mendekapnya dalam pelukan yang sangat erat, bahkan mendaratkan kecupan di pipinya. "Akhirnya kamu sadar... Kakak takut sekali," isak Leo. Reta mematung. "Kakak? Babi ini baru saja menciumku dan memanggil dirinya Kakak?" Reta mencoba mendorong dada Leo. Ia hendak memprotes, namun saat ia membuka mulut, suara yang keluar bukanlah suara melengking miliknya yang biasa. "S-sebenarnya---" Reta terkesiap. Suaranya terdengar begitu lembut dan merdu, seperti denting dawai. Panik, Reta menoleh ke arah cermin besar di seberang ranjang. Jantungnya nyaris berhenti berdetak. Rambut hitam legam terurai panjang, padahal Reta selalu berambut pendek cokelat. Wajah di cermin itu bukan miliknya. Mata sebulat almond, hidung mancung yang mungil, dan bibir merah ranum dengan tahi lalat kecil di atasnya. Itu wajah seorang gadis berusia sekitar 20 tahun yang sangat cantik. "Aaaaa!!!" Reta memekik, membuat semua orang di ruangan itu tersentak. "Ada apa sayang? Apa ada yang sakit?" Citra, ibu Leo, langsung memeluk Reta dengan penuh kasih sayang. Dalam dekapan hangat itu, otak Reta bekerja cepat. "Kalau dilihat dari reaksi mereka... aku masuk ke tubuh adik Leo?" Ia ingat Leo pernah bercerita punya adik yang sakit jantung kronis. Reta mencoba menenangkan diri. Ia harus memastikan sesuatu. "Kak..." panggil Reta kaku. Leo mendongak, matanya yang sembab menatap penuh perhatian. "Kak R-reta... apa kabar?" Senyum di wajah Leo seketika luruh. Ia menunduk lesu, bahunya gemetar menahan tangis yang kembali pecah. "Satu minggu yang lalu... Reta kecelakaan," suara Leo parau. "Mobilnya jatuh ke jurang. Dia... tidak bisa diselamatkan." Deg. Benar. Reta yang asli sudah mati. Dan kini, ia terjebak di tubuh orang lain. Reta mengepalkan tangannya di balik selimut. Sorot matanya yang lembut mendadak berubah menjadi dingin dan tajam. Jika Tuhan memberinya kesempatan kedua dalam tubuh baru ini, maka ia akan memastikan Ryan dan Syla membayar setiap tetes air matanya dengan nyawa mereka. "Aku mengerti," bisik Reta, sebuah senyum tipis yang mengerikan terukir di wajah cantiknya. "Permainan baru saja dimulai, Ryan." Reta Sidney seharusnya sudah membusuk di dasar jurang. Di usia 26 tahun, ia adalah ratu bisnis, pemilik saham terbesar Sidney Group, sebelum dikhianati oleh suami dan sahabatnya sendiri di malam ulang tahun pernikahan mereka. Namun, maut ternyata tidak menginginkannya. Jiwa Reta tersentak bangun dalam raga Arana Pratama, gadis 20 tahun yang ringkih. Arana adalah anugerah sekaligus kutukan bagi keluarganya, menderita kelainan jantung sejak lahir yang nyaris membangkrutkan keluarga Pratama demi biaya pengobatan yang tak kunjung usai. Dua jam setelah Reta menghuni tubuh Arana, sebuah keajaiban medis terjadi. "Silakan ikut saya ke ruangan dokter," ujar seorang perawat kepada orang tua Arana dengan nada serius. Dirga dan Citra, orang tua yang wajahnya telah digerogoti kecemasan bertahun-tahun, melangkah dengan bahu lesu. Di hadapan mereka, Dokter Spesialis Jantung menatap laporan medis dengan dahi berkerut dalam. "Dok, bagaimana keadaan putri saya?" suara Citra bergetar. "Ini... mustahil secara medis," gumam dokter itu sembari menggelengkan kepala. "Laporan sebelumnya menyatakan detak jantung Arana sempat berhenti total. Ia koma seminggu. Tapi hasil pemeriksaan pagi ini..." Dokter itu menatap mereka dengan tatapan takjub. "Detak jantungnya normal. Paru-parunya bersih. Penyakit jantung kronis yang ia derita sejak bayi... lenyap tanpa bekas. Arana sembuh total." Tangis Citra pecah. Kali ini bukan karena duka, melainkan rasa syukur yang menyesakkan dada. Di koridor, Dirga memeluk istrinya erat. Mereka tidak tahu bahwa keajaiban itu datang karena pemilik aslinya telah menyerah, dan digantikan oleh jiwa yang menyimpan api dendam. ---------------- Sore itu, di tengah guyuran hujan badai, Arana, yang kini dihuni Reta, dibawa pulang. Di dalam mobil yang melaju membelah jalanan basah, Arana terlelap di pangkuan Citra. Tiba-tiba, kepalanya berdenyut hebat. Sebuah serangan memori asing menghantam kesadarannya seperti air bah. "Hah!" Arana tersentak bangun dengan napas memburu. Keringat dingin mengucur di pelipisnya. "Sial! Apa-apaan itu tadi? Apakah semua itu adalah memori tubuh ini?" batin Ana. "Ada apa sayang? Mimpi buruk?" Citra mengusap kening putrinya dengan lembut. Arana terengah, matanya menatap kosong ke jendela. Bukan hanya kenangan hidupnya sebagai Reta yang ia bawa, tapi seluruh penderitaan Arana yang asli kini terpatri di otaknya. "Kasihan sekali kamu, Arana..." batinnya getir. Ia melihat memori di mana Arana asli sengaja menelan obat melebihi dosis karena lelah menjadi beban. Ia melihat bagaimana gadis ini dihina sebagai mayat hidup dan parasit yang menghisap harta orang tuanya. Arana menoleh, menatap rumah asri keluarga Pratama yang kini tampak di depan mata. Ia merasakan kehangatan tangan Citra dan ketulusan Dirga. Mereka tidak pernah menganggap Arana beban, meski mereka harus berhutang demi nyawanya. Reta mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga kukunya memutih. Amarahnya kini berlipat ganda. Satu untuk pengkhianatan suaminya, satu lagi untuk penderitaan gadis malang ini. "Maafkan aku, Arana," gumamnya nyaris tak terdengar saat menyambut uluran tangan Citra untuk turun dari mobil. Matanya yang dulu sayu kini berkilat tajam dan dingin. "Tenanglah di sana. Biar aku yang membalas budi pada orang tuamu, dan biarkan aku yang menghancurkan mereka yang pernah mengusik hidup kita." Hari ini, Arana Pratama yang lemah telah mati. Yang tersisa hanyalah Reta Sidney, pembalas dendam yang siap membakar siapa pun yang menghalangi jalannya.Satu Bulan Kemudian...Gedung pusat Sidney Group yang dulu megah kini terasa seperti bangunan sekarat. Di dalam ruang rapat utama, suasana sangat panas. Ryan duduk di kursi pimpinan dengan keringat dingin yang membasahi kemeja mahalnya. Di sampingnya, Syla berdiri dengan wajah pucat, tak lagi memiliki keangkuhan yang biasa ia pamerkan."Cukup, Ryan!" bentak salah satu tetua keluarga Sidney sambil menggebrak meja. "Lihat apa yang kau lakukan! Saham kita anjlok, investor lari, dan kita di ambang kebangkrutan karena keputusan-keputusan bodohmu!""Paman, ini semua karena serangan fajar dari pihak asing, saya bisa menjelaskannya---""Tidak ada lagi penjelasan!" potong tetua lainnya dengan nada muak. "Kamu itu cuma orang luar! Kamu hanya beruntung menikahi Areta. Sekarang setelah dia tidak ada, kamu cuma membawa sial bagi keluarga ini!"Syla mencoba maju. "Tuan-tuan, tolong dengarkan, kita masih bisa---""Diam kau, Syla!" bentak mereka
Citra dan Dirga berhenti di depan pintu kamar Ana dengan senyum yang tidak bisa disembunyikan. Citra menyenggol lengan suaminya, lalu menatap Ana dan Max bergantian dengan mata berbinar."Mama dan Papa sudah sedikit menghias kamar kalian. Ya, tidak semewah hotel tadi, tapi kami harap kalian nyaman. Selamat menikmati malam pengantin baru, ya!"Wajah Ana seketika memerah padam hingga ke telinga. Sebelum ia sempat memprotes, Citra sudah tersipu malu sendiri, lalu dengan cepat menarik lengan Dirga menuju kamar mereka. "Ayo, Pa! Jangan mengganggu mereka terus!"Pintu kamar orang tua Ana tertutup rapat, meninggalkan Ana dan Max dalam keheningan yang canggung di depan pintu kamar yang kini berhias pita sederhana. Begitu pintu dibuka, aroma terapi lavender dan taburan kelopak bunga mawar di atas ranjang menyambut mereka.Cahaya lampu tidur yang memberikan semburat kuning, memantul di mata Max yang tampak lebih rileks dari biasanya.Max melepaskan
Ana melirik kakaknya, Leo, yang duduk tepat di seberang meja. Sejak tadi, pria yang biasanya menjadi orang paling vokal menentang hubungannya dengan Max, tampak jauh lebih tenang.Leo menikmati hidangannya dengan saksama, memotong daging steak dengan gerakan presisi seolah ia mulai menerima kenyataan pahit bahwa adiknya kini bukan lagi tanggung jawabnya.Namun, ketenangan itu terusik saat rasa mual tiba-tiba naik ke kerongkongan Ana. Aroma truffle dan rempah masakan yang tadinya menggugah selera, mendadak berubah menjadi bau yang menusuk dan memuakkan. Perutnya bergejolak hebat.Ana membekap mulutnya dengan serbet, wajahnya memucat seketika dalam hitungan detik.Tanpa suara, sebuah tangan besar mendarat di punggung Ana. Max, dengan kepekaan yang tajam, mengelus punggung istrinya dengan gerakan memutar yang menenangkan. Sorot matanya yang dingin berubah menjadi penuh perhatian."Ada apa?" tanya Citra, ibu Ana, dengan raut cemas yang kentar
Malam itu, kemacetan Jakarta seolah tak berani menyentuh iring-iringan mobil hitam mengilap yang dikirimkan Max. Tidak tanggung-tanggung, Max mengirimkan satu unit Rolls-Royce untuk orang tua Ana, dan masing-masing satu unit Mercedes-Benz untuk keluarga paman dan sepupu-sepupunya.Sarah dan Mia duduk di dalam kabin mobil yang kedap suara, jemari mereka meraba jok kulit yang terasa begitu mahal. Alih-alih merasa senang, wajah mereka justru masam, mencari celah untuk mencela namun hanya bisa terpana saat mobil-mobil itu berhenti di lobi sebuah hotel bintang lima yang telah dipesan secara privat."Ini berlebihan," gumam Sarah saat mereka melangkah menuju penthouse dining room yang menyajikan pemandangan 360 derajat kota Jakarta. "Pasti ini semua hasil dari hutang."Namun, ucapan Sarah tertelan saat ia melihat Max berdiri di ujung meja panjang. Pria itu tampak sangat berkuasa dalam setelan bespoke suit yang membalut tubuh tegapnya."Tunggu..." Sarah m
Di lantai bawah, Helena menatap Max dengan tatapan memohon. "Lalu bagaimana, Max? Meski terlambat... aku ingin membujuknya. Aku ingin Syla kembali."Max terdiam sejenak, menatap kosong ke arah taman luar yang mulai gelap. "Tidak ada cara lain, Bu. Syla sudah dibutakan oleh kebencian. Kita harus menghancurkan Sidney dulu lalu mengambil alih seluruh asetnya. Biarkan mereka jatuh hingga ke titik terendah."Suara Max terdengar dingin tanpa ampun. "Setelah mereka tidak punya apa-apa lagi, selanjutnya terserah Ibu. Ibu bisa datang sebagai penyelamat dan mengajak putri Ibu pulang. Saat itulah dia tidak punya pilihan selain bersandar pada Ibu.""Tapi..." Max menjeda kalimatnya, "jika aku tahu dia melakukan kejahatan yang lebih parah di luar pemalsuan wasiat ini, Ibu tidak boleh melindunginya. Hukum tetap harus berjalan."Helena mengangguk pelan dengan wajah lesu. "Baiklah."Max berbalik, meninggalkan ibunya yang masih meratapi nasib di sofa. Ia
Di lantai bawah, suasana mendadak hening. Max berdiri mematung di dekat jendela besar, sementara Helena memperhatikan putranya dari sofa. Sebagai ibu, ia sadar ada sesuatu yang mengusik ketenangan Max. Wajah kaku putranya itu seakan sedang menahan badai besar yang siap meledak kapan saja."Ada apa, Max?" tanya Helena lembut.Max tidak langsung menjawab. Ia membalikkan tubuh, menatap ibunya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Syla kemarin datang menemuiku."Tring!Gelas teh yang dipegang Helena berdenting halus saat bersentuhan dengan tatakannya. Tangan wanita itu bergetar. Ia terdiam, raut wajahnya berubah tegang, namun ia memilih bungkam, seolah sedang menimbang-nimbang rahasia yang harus ia simpan selamanya."Dia bilang, dia adik kandungku," lanjut Max dengan suara rendah. "Aku tidak memiliki ingatan apa pun tentangnya. Karena itu, aku menganggapnya gila dan mengusirnya."Helena membuang muka, menatap hampa ke arah lantai. Ia
Pukul 19.00 Hamparan lantai yang begitu luas, cahaya terang serta hentak kaki yang saling bersahutan. Di depan rak kaca, terlihat bayangan gadis tengah berjalan bersama kakak laki-lakinya. Kedua tangan mereka sibuk menenteng beberapa kantong plastik, "Mau beli apa lagi?" gumam Leo, Melirik ujung
Ana terdiam sejenak. Ingatan tentang Arana yang asli mulai berputar, sosok gadis lemah, naif, dan rela melakukan apa saja demi pengakuan orang lain. Sarah adalah anak dari istri kedua pamannya, sementara Mia adalah anak dari istri pertama. Keduanya bersahabat, membentuk aliansi yang rumit dalam kel
Hening mencekam menyelimuti kamar yang dipenuhi hawa dingin pendingin ruangan. Di atas ranjang luas yang berantakan, dua insan baru saja melewati malam yang penuh gejolak. "Ng..." Arana mengerang, membalikkan tubuhnya yang terasa remuk. Matanya mengerjap, menatap langit-langit kamar mewah yang asi
WARNING!! 21+ ADULT CONTENT. HARAP BIJAK DALAM MEMBACA. Senyum kemenangan terukir di bibir Ana. Jiwa Reta Sidney dalam raga Alana ini rupanya masih memiliki taring yang mematikan. Begitu kartu akses tipis itu berpindah tangan, Ana segera melangkah menuju elevator. Tujuannya hanya satu, lantai terti







