分享

Rumah curian

last update publish date: 2026-06-19 08:02:30

Udara di dalam mobil mendadak terasa menyesakkan. Kalimat Ana tentang rasa penasaran pada rumah keluarga terkaya sepertinya menyulut sesuatu yang jauh lebih gelap dalam diri Maxime.

CKIIIIITT!

Max menginjak rem dengan paksa di tengah jalan sepi. Tubuh Ana terdorong ke depan, tertahan oleh sabuk pengaman yang menyentak dadanya. Dalam keheningan yang mencekam itu, hanya terdengar deru napas Max. Pria itu mencengkram erat kemudi hingga ujung jemarinya memutih.

"Penasar
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • Pria milik 'ARANA'   Adu argumen

    Atmosfir ruang rapat utama Sidney Group mendadak mencekam. Aroma kecurigaan menguar pekat dari para tetua keluarga Sidney yang duduk kaku dengan setelan jas kuno mereka. Tatapan mereka merendahkan, tertuju lurus pada satu pria di ujung meja."Kami memang mendepak Ryan," ujar seorang tetua berambut putih tipis. Suaranya parau, sarat akan penghinaan. "Tapi bukan berarti kami sudi menyerahkan kemusi padamu, Max. Kau dan ibumu sudah terlalu lama menjadi orang luar. Kau pikir mengurus perusahaan ini semudah membalikkan telapak tangan? Sidney kini sedang sekarat!""Investor sedang mengincar leher kita!" tetua lain menimpali sambil bersedekap, mendengus sinis. "Saham kita tercecer di pasar. Kau hanya pemuda ingusan yang kebetulan punya nama belakang Sidney. Jangan seret kami ke lubang yang lebih dalam!"Max tidak terpancing. Tanpa sepatah kata pun, ia menarik kursi pimpinan, duduk dengan gestur santai yang dominan, lalu menghempaskan sebuah map kulit biru tua ke

  • Pria milik 'ARANA'   Jerat sang pengkhianat

    Berita penyerahan diri Syla ke kepolisian meledak seperti bom waktu di seluruh media massa. Di sebuah kos yang sempit dan bau, Ryan menatap layar televisi dengan mata merah dan rambut berantakan. Botol-botol minuman keras berserakan di kakinya."Syla... jalang sialan!" geram Ryan, melemparkan gelas kacanya ke arah televisi hingga layar itu retak. "Dia mengkhianatiku!"Ryan segera meraup paspor dan sisa uang tunai yang ia simpan di dalam dompet. Ia harus pergi malam ini juga sebelum polisi melacak keberadaannya. Namun, saat ia membuka pintu, langkahnya terhenti.Dua orang pria tegap berpakaian hitam sudah berdiri di sana. Di tengah-tengah mereka, Max Sidney berdiri dengan ekspresi sedatar es."Mau ke mana, Ryan? Pesta baru saja dimulai," ujar Max dingin.Ryan mundur selangkah, wajahnya pucat pasi. "Max... dengar, ini semua salah paham. Syla berbohong! Dia yang merencanakan semuanya, aku hanya---"BUGH!Belum sempat Ryan m

  • Pria milik 'ARANA'   Hangusnya seluruh kekayaan

    Satu Bulan Kemudian...Gedung pusat Sidney Group yang dulu megah kini terasa seperti bangunan sekarat. Di dalam ruang rapat utama, suasana sangat panas. Ryan duduk di kursi pimpinan dengan keringat dingin yang membasahi kemeja mahalnya. Di sampingnya, Syla berdiri dengan wajah pucat, tak lagi memiliki keangkuhan yang biasa ia pamerkan."Cukup, Ryan!" bentak salah satu tetua keluarga Sidney sambil menggebrak meja. "Lihat apa yang kau lakukan! Saham kita anjlok, investor lari, dan kita di ambang kebangkrutan karena keputusan-keputusan bodohmu!""Paman, ini semua karena serangan fajar dari pihak asing, saya bisa menjelaskannya---""Tidak ada lagi penjelasan!" potong tetua lainnya dengan nada muak. "Kamu itu cuma orang luar! Kamu hanya beruntung menikahi Areta. Sekarang setelah dia tidak ada, kamu cuma membawa sial bagi keluarga ini!"Syla mencoba maju. "Tuan-tuan, tolong dengarkan, kita masih bisa---""Diam kau, Syla!" bentak mereka

  • Pria milik 'ARANA'   Bunga mawar di ranjang sempit

    Citra dan Dirga berhenti di depan pintu kamar Ana dengan senyum yang tidak bisa disembunyikan. Citra menyenggol lengan suaminya, lalu menatap Ana dan Max bergantian dengan mata berbinar."Mama dan Papa sudah sedikit menghias kamar kalian. Ya, tidak semewah hotel tadi, tapi kami harap kalian nyaman. Selamat menikmati malam pengantin baru, ya!"Wajah Ana seketika memerah padam hingga ke telinga. Sebelum ia sempat memprotes, Citra sudah tersipu malu sendiri, lalu dengan cepat menarik lengan Dirga menuju kamar mereka. "Ayo, Pa! Jangan mengganggu mereka terus!"Pintu kamar orang tua Ana tertutup rapat, meninggalkan Ana dan Max dalam keheningan yang canggung di depan pintu kamar yang kini berhias pita sederhana. Begitu pintu dibuka, aroma terapi lavender dan taburan kelopak bunga mawar di atas ranjang menyambut mereka.Cahaya lampu tidur yang memberikan semburat kuning, memantul di mata Max yang tampak lebih rileks dari biasanya.Max melepaskan

  • Pria milik 'ARANA'   Gengsi sang kakak

    Ana melirik kakaknya, Leo, yang duduk tepat di seberang meja. Sejak tadi, pria yang biasanya menjadi orang paling vokal menentang hubungannya dengan Max, tampak jauh lebih tenang.Leo menikmati hidangannya dengan saksama, memotong daging steak dengan gerakan presisi seolah ia mulai menerima kenyataan pahit bahwa adiknya kini bukan lagi tanggung jawabnya.Namun, ketenangan itu terusik saat rasa mual tiba-tiba naik ke kerongkongan Ana. Aroma truffle dan rempah masakan yang tadinya menggugah selera, mendadak berubah menjadi bau yang menusuk dan memuakkan. Perutnya bergejolak hebat.Ana membekap mulutnya dengan serbet, wajahnya memucat seketika dalam hitungan detik.Tanpa suara, sebuah tangan besar mendarat di punggung Ana. Max, dengan kepekaan yang tajam, mengelus punggung istrinya dengan gerakan memutar yang menenangkan. Sorot matanya yang dingin berubah menjadi penuh perhatian."Ada apa?" tanya Citra, ibu Ana, dengan raut cemas yang kentar

  • Pria milik 'ARANA'   Makan malam keluarga

    Malam itu, kemacetan Jakarta seolah tak berani menyentuh iring-iringan mobil hitam mengilap yang dikirimkan Max. Tidak tanggung-tanggung, Max mengirimkan satu unit Rolls-Royce untuk orang tua Ana, dan masing-masing satu unit Mercedes-Benz untuk keluarga paman dan sepupu-sepupunya.Sarah dan Mia duduk di dalam kabin mobil yang kedap suara, jemari mereka meraba jok kulit yang terasa begitu mahal. Alih-alih merasa senang, wajah mereka justru masam, mencari celah untuk mencela namun hanya bisa terpana saat mobil-mobil itu berhenti di lobi sebuah hotel bintang lima yang telah dipesan secara privat."Ini berlebihan," gumam Sarah saat mereka melangkah menuju penthouse dining room yang menyajikan pemandangan 360 derajat kota Jakarta. "Pasti ini semua hasil dari hutang."Namun, ucapan Sarah tertelan saat ia melihat Max berdiri di ujung meja panjang. Pria itu tampak sangat berkuasa dalam setelan bespoke suit yang membalut tubuh tegapnya."Tunggu..." Sarah m

  • Pria milik 'ARANA'   Serangan balik

    Ana terdiam sejenak. Ingatan tentang Arana yang asli mulai berputar, sosok gadis lemah, naif, dan rela melakukan apa saja demi pengakuan orang lain. Sarah adalah anak dari istri kedua pamannya, sementara Mia adalah anak dari istri pertama. Keduanya bersahabat, membentuk aliansi yang rumit dalam kel

  • Pria milik 'ARANA'   Salah orang

    Pukul 19.00 Hamparan lantai yang begitu luas, cahaya terang serta hentak kaki yang saling bersahutan. Di depan rak kaca, terlihat bayangan gadis tengah berjalan bersama kakak laki-lakinya. Kedua tangan mereka sibuk menenteng beberapa kantong plastik, "Mau beli apa lagi?" gumam Leo, Melirik ujung

  • Pria milik 'ARANA'   Berpindah tubuh

    Tut... Tut... Tut... Suara monoton alat medis itu adalah hal pertama yang menyambut kesadaran Reta. Aroma antiseptik yang tajam menusuk indra penciumannya, kontras dengan hawa sejuk pendingin ruangan yang membelai kulit. Reta mengerang pelan. Matanya mengerjap, beradaptasi dengan cahaya lampu pu

  • Pria milik 'ARANA'   Pengkhianatan

    "S-sakit... Kenapa gelap sekali?" batin Reta. Hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang menyentak kesadaran Reta. Namun, rasa nyeri yang hebat di sekujur tubuh memaksanya tetap terpejam. "Argh!" Reta mengerang, merintih dalam sesak. Saat kelopak matanya perlahan terbuka, ia tertegun. Dunianya jun

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status