LOGIN"Kapan nikah?" Pertanyaan sama yang selalu membuat Aleena muak saat mendengarnya. Usianya yang menginjak 25 tahun, membuatnya terlalu sering mendengarkan pertanyaan serupa. Bukan hanya dari orang lain, tetapi juga Ibunya. Wanita baya itu sudah sering kali bertanya dan menasehati Aleena untuk segera menikah karena teman sebaya nya yang rata-rata telah menikah bahkan memiliki momongan. Namun yang tidak banyak orang tahu, ada alasan kuat mengapa Aleena belum mau terikat dengan hubungan pernikahan. Trust issue juga pengalaman beberapa kawannya yang gagal dalam berumah tangga jadi salah satu contoh kecil kekhawatiran yang membuat Aleena enggan untuk segera menikah. Namun di sisi yang lain ia juga tidak sanggup untuk terus mendiamkan pertanyaan soal pernikahan yang dilontarkan padanya setiap ada kesempatan. Sampai kemudian Aleena tanpa sengaja dipertemukan dengan Aksa. Seorang lelaki yang mengaku mempunyai problem yang sama dengan dirinya. Keduanya saling bercerita sampai kemudian tercetus ide gila yang berasal dari Aleena. Pernikahan pura-pura. Aleena mengusulkan kerja sama gila pada Aksa demi menyelesaikan masalah mereka yang terus saja didesak untuk segera menikah. Semuanya terdengar biasa. Pernikahan pura-pura juga genre romansa layaknya novel pada umumnya. Tapi bagaimana jika ada satu kenyataan yang tidak terduga menyertai di belakangnya? Rahasia besar yang selama ini Aksa sembunyikan dari keluarganya dan membuat Aleena seperti merasa dijebak oleh keadaan dan pria itu. Apa yang akan terjadi setelahnya? Akankah pernikahan keduanya berakhir pada perceraian atau justru mereka memilih untuk saling terbuka dan coba menerima satu sama lain?
View More"Di mana aku?"
Suara itu lirih, tapi cukup untuk menyalakan kembali kesadaran yang nyaris padam. Kabut hitam mengepul dari celah-celah batu, melingkupi langit-langit ruangan gelap yang dikelilingi tembok batu merah. Bau daging terbakar dan besi tua menguar dari lantai yang dipenuhi bercak darah.
Pemuda itu tergolek tak berdaya. Tubuhnya terkulai, setengah tenggelam dalam genangan cairan hitam kental. Setiap helaan napasnya berat, seolah paru-parunya menolak udara beracun yang menyelimuti ruangan itu.
Tangan kirinya terangkat, tapi berhenti setengah jalan. Borgol hitam menyala api membelenggu pergelangan tangannya, menancap ke tiang besi yang menguarkan panas iblis. Rantai itu bukan sekadar pengikat, melainkan kutukan hidup yang menyegel seluruh kekuatan batin dan energi spiritualnya.
“Aaaaaargh!”
Jeritannya meledak, menggema di antara dinding batu, tapi tak ada jawaban. Tak ada suara selain gemuruh api dan desis hawa jahat yang meresap ke dalam tulang.
Lalu suara langkah terdengar. Pelan. Berat. Penuh ancaman.
Dari balik jeruji yang dipenuhi bara merah, muncul siluet seorang lelaki bertubuh tinggi besar, membawa pedang lebar di bahunya. Matanya memerah, kulitnya kasar seperti sisik naga. Wajahnya menampakkan senyum tipis yang lebih menyerupai ancaman.
“Masih hidup, rupanya,” ujarnya, nada suaranya seperti geraman binatang lapar. “Bagus. Tapi jangan berpikir kau akan keluar dari sini hidup-hidup, Mahesa.”
Mahesa menggertakkan gigi. Seluruh tubuhnya bergetar, bukan karena takut, tapi karena amarah yang tertahan di balik tubuh yang lumpuh.
“Di mana aku?! Apa yang kalian lakukan pada rakyat Nusantara?!”
“Pertanyaan yang bodoh,” sahut lelaki itu. “Kau sudah tahu jawabannya.”
Ia melambaikan tangan. Dua sosok berjubah gelap masuk ke ruangan. Mata mereka menyala merah. Tubuh mereka dibalut bulu kasar seperti binatang hutan. Tiga iblis penjaga menyeret Mahesa dari selnya, mencabik-cabik lantai dengan langkah kasar.
Mahesa melawan. Namun, kekuatannya seolah tenggelam. Tubuhnya seperti tak lagi mengenal jurus. Bahkan aliran napasnya tak sanggup mengalirkan tenaga dalam.
Brak!
Satu pukulan keras menghantam wajahnya. Dua giginya rontok. Darah menyembur dari bibir dan hidungnya. Tubuhnya dibanting ke depan singgasana besar yang menjulang di ujung aula batu.
Di sana, duduk seorang lelaki berikat kepala hitam, bersenjatakan tombak bercahaya kelam. Sorot matanya tajam, dingin, dan penuh kebencian.
“Ki Seno Aji pasti menyesal telah memilihmu sebagai pewaris,” katanya, sinis. “Penerus yang bahkan tak mampu menjaga rakyatnya sendiri.”
Mahesa meludah. “Kau pengkhianat, Wusasena. Kau bukan lagi pendekar, kau... iblis.”
Wusasena bangkit dari singgasananya. Langkahnya tenang, tapi menggetarkan lantai batu. “Kami menawarkan perdamaian. Tapi kalian memilih perang. Dan lihatlah... semua pendekar Nusantara telah tumbang. Kau... yang terakhir.”
Seperti petir menyambar, Mahesa dipukul lagi. Kali ini, dengan tinju berbalut energi kegelapan. Tubuhnya terpental, menghantam tiang logam hingga darahnya menyiprat ke segala arah.
“Beraninya kau menolak serikat pendekar!”
Mahesa mengerang. Di sela rasa sakit, pikirannya membuncah. Kenangan demi kenangan muncul: wajah Ratih, senyum gurunya, darah para pendekar yang gugur demi mempertahankan bumi Nusantara.
Semuanya... hilang.
Langit berubah gelap sejak serikat pendekar bersekutu dengan iblis. Elang Hitam menjadi simbol baru penjajahan. Tiap desa dibakar, tiap anak diburu, tiap pendekar disiksa sampai ajal.
Dan Mahesa... menjadi simbol terakhir perlawanan yang kini nyaris padam.
Jeritan itu berhenti seketika saat sebuah sosok perempuan ditarik masuk ke aula.
Tubuh Ratih kurus dan penuh luka. Bajunya compang-camping, dan matanya sembab.
“Jangan...!” Mahesa meronta, tapi borgol iblis menahan tubuhnya.
Wusasena mencengkeram leher Ratih, lalu mendekatkan wajahnya ke Mahesa.
“Masih mencintainya? Sayang sekali. Karena hari ini, kau akan melihatnya mati di depan matamu.”
Mahesa meronta, memanggil kekuatan yang terkunci dalam tubuhnya. Tapi tak ada yang bangkit. Gatra... mustika merah... tetap diam.
Wusasena mengangkat tangannya.
“Jangan sentuh dia!” Mahesa berteriak, nadanya lebih seperti auman binatang terluka.
“Lawan, kalau bisa,” ejek Wusasena.
Dan detik itu juga, Ratih menatap Mahesa dengan mata berkaca. “Maafkan aku... Hesa.”
Crat!
Darah mengalir. Ratih jatuh ke pelukan Mahesa dengan tubuh tertusuk logam panas.
“Tidak... Ratih... RATIH!!!”
Amarahnya meledak. Jeritan dari dasar hati itu mengguncang istana batu. Tubuh Mahesa mendidih, api hitam meledak dari dalam pori-porinya. Dalam satu gerakan gila, ia mengangkat tangan kirinya—dan menghantamkan kepalan ke dasar tiang hingga tulangnya patah.
Suara retak bergema.
Tangan kirinya... terputus.
Segel iblis hancur. Energi membuncah dari tubuhnya seperti badai. Mata Mahesa menyala. Napasnya terbakar.
“Kau... akan kubakar hidup-hidup, Wusasena!”
Dalam sekejap, pedang api muncul di tangannya. Ia melompat. Tiga iblis penjaga menyerbu dari kiri dan kanan.
Blarr! Blarr! Blarr!
Semua terbakar. Tubuh mereka meleleh menjadi abu.
Wusasena memanggil pasukan tambahan. Tapi Mahesa sudah membentuk pusaran api hitam di sekelilingnya. Ilmu Ajian Angin Tandus bangkit. Setiap langkahnya membawa badai. Setiap tebasan pedangnya menghanguskan.
Ratih tak bergerak di pelukannya. Tapi tubuh Mahesa terus menyala.
“Matilah kalian semua!”
Dan tepat ketika Mahesa hendak menebas Wusasena...
Brak!
Sebuah tangan iblis menghantam tubuhnya dari belakang. Mahesa terbang menabrak tiang istana, darah mengalir dari mulutnya. Sebilah pedang berkilau merah menembus punggungnya.
Semuanya... gelap.
Aksa membanting laporan yang ada di tangannya. Seorang karyawan laki-laki yang berdiri di hadapannya hanya bisa menunduk takut.Sudah dua minggu lamanya mencari, namun keberadaan juga bukti soal siapa yang menyebarkan rumor skandal Aksa belum juga ditemukan.Akun yang menjadi sumber utama tersebarnya berita hanyalah akun palsu yang digunakan oleh seseorang. Aksa mendesah frustasi, ia menatap galak ke arah karyawan tersebut dan berkata.“Laporan begini saja kau tidak becus mengurusnya?! Apa saja yang kamu pelajari selama ini?!” Dilemparnya laporan tersebut ke arah seorang karyawan yang hanya bisa meminta maaf. “Ada apa ini?” Arya masuk ke dalam ruangan.Melihat beberapa kertas berserakan, sepertinya Arya paham. Ia kemudian meminta sang karyawan untuk kembali ke ruangannya sementara ia akan berbicara dengan Aksa.Sepeninggalannya sang karyawan, Arya memilih mengambil tempat duduk di depa Aksa. Melihat dengan seksama bagaimana kacaunya pria itu sekarang.Penampilannya berantakan denga
Pagi datang menjelang. Aksa membuka mata dengan perlahan, menyipitkan matanya saat cahaya menyilaukan berlomba masuk melalui celah gorden. Dihembuskannya napas dengan pelan. Ia mengerjap beberapa kali, berusaha untuk mengumpulkan nyawanya sendiri. Pria itu kemudian terduduk dengan menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang. Coba menggeliat, namun kemudian sadar akan sesuatu. Tubuh bagian atasnya polos. Ia tidak memakai baju. Iya, Aksa memang memiliki kebiasaan untuk melepas pakaian atasnya saat tidur. Hanya saja dirinya tidak pernah melepas seluruh pakaiannya saat tertidur. Dan hal itulah yang saat ini terjadi. Lebih buruk dari itu, ia baru saja menyadari dimana dirinya terbangun dari tidur. Ruangan itu adalah kamarnya, bukan kamar tamu. Yang mana kamar pribadinya saat ini tengah menjadi kamar tidur yang ditempati Aleena. Omong-omong soal gadis itu. Di mana dia sekarang?? “Aishhh, sial! Apa yang sudah ku lakukan?” gerutu Aksa sembari mengacak rambutnya sendiri. Ia ha
Ponsel milik Aleena sudah berdering sejak tadi. Gadis yang sejak tadi sibuk dengan laptop di hadapannya mendesah kesal. Ia bukannya tidak mendengar ponsel miliknya terus saja berbunyi sejak tadi. Hanya saja pop up pesan yang muncul sebelum panggilan membuatnya merasa ragu untuk mengangkat telepon tersebut.Panggilan tersebut berasal dari sang Ibu. Sudah jelas alasan wanita baya itu meneleponnya karena berita yang baru saja tersebar.Sang Ibu pasti ingin mengkonfirmasi soal kebenaran rumor tersebut. Dan Aleena terlalu malas untuk mengatakannya.Lagipun, ia merasa heran. Darimana dan siapa yang sudah menyebarkan rumor tersebut. Seingatnya ia tidak pernah mengatakan soal kecurigaannya terhadap Aksa pada siapapun.Dan lagi, jika dilihat dari gelagat orang-orang terdekat Aksa sepertinya tidak ada yang menyadari soal kelainan pria itu. Jadi siapa yang tahu dan menyebarkan semuanya?Setelah panggilan ke lima berakhir, sebuah notifikasi pop up pesan kembali muncul.-Sore ini datanglah ke rum
Sebuah kamar dengan campuran warna emas dan merah itu tampak mewah. Ranjang berukuran king dengan sprei berwarna merah itu tampak memiliki sebuah gundukan di tengah.Selimut tebal menggulung tubuh mungil seorang wanita dengan gaun tidur berwarna hitam. Rambutnya yang hitam legam dengan sedikit bergelombang tampak cocok berpadu dengan kulitnya yang seputih susu.Dirinya menggeliat, membuka mata perlahan dan tersenyum cerah. Didudukannya diri dengan bersandar pada kepala ranjang, diambilnya sebuah ponsel pintar yang ada di nakas dan jari-jari lentiknya mulai beraksi, berselancar di atas layar benda pipih tersebut.Sudut bibirnya terangkat, merasa puas dengan apa yang baru saja dirinya lihat.Sebuah headline yang terpampang jelas sebagai berita utama pada protal berita terkini. Topic paling hot yang dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam menjadi trending nomor satu dalam mesin pencarian online.Skandal yang menjerat cucu salah satu pengusaha ternama sekaligus pewaris tunggal sebuah


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews