MasukSisca sontak mendongakkan kepalanya ke atas dan tertawa terbahak-bahak tanpa canggung. Wanita bergaun merah marun itu menggeser posisi duduknya menempel sangat rapat ke paha berotot Arya.
"Ya ampun, Arya! Kita ini lagi asyik baca komentar netijen-netijen di internet tentang kamu. Coba deh kamu lihat medsos sekarang juga, biar kamu liat sendiri. Video pas kamu berantem sama preman-preman tadi udah ditonton dua juta orang se-Indonesia, kamu viral banget loh!"
Bola mata Arya terbelalak hingga nyaris keluar tepat ketika dia melihat layar ponsel tersebut. Jantung sang kepala suku berdegup super kencang berdebar-debar merasakan ketakutan luar biasa.
"Sihir!" Arya refleks melompat jauh ke belakang menabrak dinding marmer dengan bantingan keras.
"Gila, kalian semua, betina kota emang suka main ilmu hitam, ya! Benda sihir mematikan apa yang kalian pegang? Kenapa wajah dan seluruh tubuhku bisa ditarik masuk ke dalam kotak kecil bercahaya itu dengan gampang? Cepetan hancurin batunya! Keluarin jiwaku dari sana sekarang juga sebelum aku ngamuk lagi!"
Melihat wajah Arya pucat pasi ketakutan, Sonya malah memegangi perutnya karena tertawa terpingkal-pingkal di atas sofa. Aktris terkenal itu sama sekali tidak menyangka pria sekuat monster liar ini bisa mati kutu di depan layar HP.
"Ya elah, Arya! Masa badan segede gajah berotot begini mendadak ciut takut sama layar sentuh sih? Ini tuh namanya handphone, alat modern sejuta umat buat komunikasi jarak jauh dan merekam video santai. Jangan kamu samain sama benda sihir penyedot jiwa dari zaman purba!"
Napas Arya terus naik turun dengan tempo cepat menahan amarah bercampur rasa ngeri tingkat tinggi.
"Kalian pasti bohong sama aku! Kalian nyembunyiin rencana jahat itu, kan?! Aku tadi lihat jelas pakai mata kepalaku sendiri kalau jiwa kecilku terkurung di dalam sana. Dia dipaksa ngulangin pertarungan mematikan tadi terus-menerus tanpa ada waktu istirahat sama sekali! Mending serahin batu sihir itu ke aku sekarang biar kuinjak sampai hancur!"
"Eh!" Sisca buru-buru menyembunyikan ponsel pintar itu masuk ke balik belahan dadanya yang montok.
"Sembarangan banget mau main injak barang mahal orang seenak jidatmu sendiri. Ini HP keluaran terbaru, harganya puluhan juta tahu! Ini murni teknologi masa depan, alat canggih buat ngerekam kejadian sehari-hari tanpa ada unsur mistis. Singkirin jauh-jauh pikiran aneh soal ilmu hitam dari otak primitif kamu itu!"
Arya tetap keras kepala mempertahankan kuda-kuda waspadanya dari sudut ruangan yang remang-remang. Pria liar bersumbu pendek itu sangat yakin dunia masa depan ini diisi penuh dukun jahat tak kasat mata.
Tepat pada detik berikutnya, pintu tebal ruang VIP mendadak terbuka sangat lebar tanpa ada ketukan sama sekali. Bunyi irama langkah sepatu hak tinggi beradu tajam memecah keheningan suasana tegang ruangan. Sesosok wanita muda bertubuh jenjang melangkah masuk memancarkan aura es yang amat membekukan sekelilingnya.
Wanita berwajah super dingin tanpa senyum manis itu adalah Karina yang tersohor. Dia adalah sutradara andal sekaligus produser film paling tajir di industri hiburan tanah air saat ini. Persis mengekor di belakang punggungnya, dua orang pria bule berbadan raksasa berjas hitam berjalan layaknya tembok berjalan.
"Malam," Karina menyapa ke arah seisi ruangan dengan nada suara datar tanpa ekspresi sedikit pun.
"Sori banget aku langsung nerobos masuk ke klabmu ini tanpa bikin janji temu dulu sebelumnya, Sisca. Tadi aku kebetulan lewat jalanan depan dan lihat langsung aksi barbar anak buahmu ini. Lumayan juga tenaga pria itu bisa mukulin puluhan preman cuma pakai tiang besi antrean sampai lumpuh total."
Sisca yang sangat mengenali tamu besar itu langsung terlonjak berdiri saking kagetnya.
"Eh, Mbak Karina! Tumben banget nih produser papan atas sudi mampir malam-malam ke klab malam kecilku ini? Mari silakan duduk santai dulu di sofa pojok sana, Mbak. Kira-kira mau aku pesenin minum racikan mahal apa malam ini buat nemenin ngobrol?"
Sama sekali tidak sudi menggubris tawaran basa-basi Sisca, sepasang mata elang Karina terus menatap lekat tubuh Arya. Ratu es berbibir merah menyala itu menilai lekuk otot dada Arya dari atas ke bawah seolah menawar barang lelang di pasar loak.
"Nggak usah repot-repot nawarin minum yang nggak akan aku minum, aku ke sini murni cuma mau ngurusin bisnis sebentar.”
“Jadi ini toh pria barbar tanpa baju yang barusan viral masuk berita jadi omongan orang se-Indonesia raya? Badannya bagus sih kalau untuk ukuran orang sini, ototnya juga keliatan hmmm… wow banget, padat, asli tanpa tambahan suplemen murah. Seenggaknya dia ini jauh lebih mendingan ketimbang aktor-aktor letoy yang biasa aku audisi."
Lantas Karina menjentikkan jari telunjuk kanannya tinggi-tinggi ke atas udara.
Salah satu bodyguard bule bertato itu langsung meletakkan koper perak mahal ke atas meja kaca dengan gerakan mantap. Kotak besar berpelindung baja itu sengaja dibuka lebar-lebar memamerkan tumpukan uang kertas pecahan seratus ribuan yang masih mulus bercahaya.
"Coba pasang telinga kamu baik-baik, pria liar. Aku sekarang lagi pusing nyari pemeran utama buat film action terbaruku yang isinya seratus persen adegan fisik berbahaya. Buruan kamu tanda tangani kertas kontrak di dalam map itu sekarang juga. Kalau udah, uang tunai dua miliar di dalam koper itu bisa langsung kamu bawa pulang malam ini sebagai uang muka. Aku rasa jumlah ini sangat besar untuk ukuran gigolo jalanan seperti kamu."
Jarak Arya sebenarnya sangat dekat dari koper perak terbuka itu. Akan tetapi, pria purba zaman batu itu sama sekali tidak melirik tumpukan lembaran uang bernilai fantastis tersebut. Otak kecilnya jelas tidak pernah diajarkan apa fungsi dari kertas bergambar yang ditumpuk sangat rapi di dalam sana.
Fokus utama sang kepala suku justru seratus persen tersedot pada sosok menawan Karina.
Insting liar Arya dengan cepat menganggap sikap dingin tersebut sebagai tantangan terbuka terhadap otoritasnya. Apalagi, hidung tajam milik Arya baru saja menangkap aroma parfum mahal bercampur feromon wangi dari tubuh wanita tersebut.
"Bisu?" Karina sengaja mengangkat sebelah alis matanya dengan tatapan meremehkan total.
"Kenapa cuma diam melongo dari tadi tanpa berkedip sedikit pun ke arah uang ini? Kamu jangan-jangan buta huruf parah dan nggak bisa baca tulisan bahasa manusia di kertas ini, ya? Atau uang tunai sebanyak dua miliar ini ternyata masih kurang buat bayar tenaga murahan gigolo klab malam kayak kamu? Sebutin saja berapa nominal angka maumu ke telingaku, aku bisa bayar dua kali lipat detik ini juga asal kamu mau tanda tangan kontrak ini sekarang."
Mendapat hinaan telak beruntun tanpa ampun, Arya malah tersenyum menyeringai lebar memperlihatkan giginya. Pria telanjang dada itu melangkah sangat pelan mendekati Karina dengan santai seolah tanpa beban.
Gara-gara rentetan pertanyaan tajam itu, si polisi penjaga mengusap keringat dingin di leher belakangnya. Pria berseragam itu menunjuk ke arah lorong tahanan dengan jari yang bergetar."Ibu berdua nggak tahu seberapa gilanya pria raksasa yang Ibu bawa itu! Tadi sore pas baru masuk sel nomor tiga, dia langsung diajak ribut sama kawanan preman tatoan di dalam sana.""Terus klien saya diapain sama preman sel itu, Pak?!" potong Sisca memekik cemas teringat wajah tampan Arya."Bukan klien Ibu yang diapain, Bu! Tahanan satu sel yang isinya enam preman terminal itu sekarang teler semua nggak sadarkan diri! Klien Ibu cuma butuh waktu tiga detik buat bikin mereka pingsan numpuk di pojokan kayak ikan mati!"Menelan ludah dengan susah payah, Viona hanya bisa memijat pangkal hidungnya meratapi kelakuan bar-bar andalannya. "Habis ngebantai preman satu sel, klien saya ngapain lagi di dalam sana, Pak?""Itu dia masalah utamanya, Bu! Habis bikin orang pingsan muntah darah, dia malah senyum-senyum nge
"Gigolo purba itu beneran nggak bisa dikasih napas tenang sehari aja buat nggak bikin onar, ya?!" rutuk Viona memijat pelipisnya.Gara-gara stres mendadak, urat kepala sang pengacara kondang itu terasa mau pecah. Dihempaskannya kembali tubuh montok itu ke atas sofa beludru dengan gerakan kasar. Dia mulai membayangkan seberapa hancurnya reputasi klab jika rahasia identitas Arya sebagai pemuas ranjang terbongkar oleh pihak kepolisian."Terus gimana ceritanya dia bisa ngebantai anak orang di gang sempit? Dia itu buta hukum, kalau sampai videonya viral terekam CCTV, repot urusannya!" cerca Viona menuntut penjelasan.Masih mengatur napasnya, Sisca ikut duduk menghempaskan diri di sebelah Viona. "Gue juga belum tahu detail kejadiannya, Vi. Makanya gue langsung nekat lari ke sini buat ngajak lo nyamperin dia ke polsek sekarang juga."Tiba-tiba saja, Sonya mengangkat sebelah tangannya memberi isyarat agar mereka berdua tenang sejenak. Rambut aktris cantik itu masih sedikit basah terkena rinti
"Mampus lu, Bangsat! Badan doang gede kayak gajah, dipukul kayu sekali aja langsung modyar lu kan!" ejek pria bertopi itu sambil meludah ludah penuh kepuasan.Tawa histeris bernada kebanggaan palsu itu bergema nyaring menandakan kemenangan prematur seorang pengecut jalanan. Sekitar sepuluh detik berlalu menembus kesunyian, Arya masih menolak tumbang mencium aspal kotor seperti harapan sang musuh. Perlahan namun pasti, kepala sang Kepala Suku mulai berputar menoleh ke arah belakang membelah udara dingin.Darah segar berwarna merah pekat tampak menetes perlahan dari pelipis kirinya yang sedikit robek. Cairan anyir itu mengalir turun melewati lekuk hidung mancungnya hingga menetes menodai kerah kemeja flanel kucelnya.Sorot mata pemuda pedalaman itu tidak lagi memancarkan kebingungan komikal akibat mainan getar. Tatapannya kini sepenuhnya berubah menjadi insting iblis absolut yang menuntut pencabutan nyawa mangsa.Seketika itu juga, tawa si pencuri terhenti paksa tergantikan oleh raut wa
Melihat empat tongkat kayu diacungkan ke arahnya, Arya justru memiringkan kepalanya dengan tatapan kelewat datar.Sama sekali tidak ada kilatan ketakutan dari bola matanya yang semerah darah segar. Otaknya justru merasa sangat terhina melihat senjata tumpul yang dibawa oleh para manusia modern jalanan ini. Sepertinya, kera-kera kurus ini belum paham bahwa mereka sedang berhadapan dengan predator puncak pelahap daging dari zaman prasejarah."Kalian mencoba merampok Kepala Suku hanya bermodalkan ranting kayu patah yang bahkan tidak memiliki ujung tajam?"Tertawa meremehkan, preman bertato itu meludah kasar ke tanah. "Bacot lu kegedean, Bang! Sikat aja langsung kakinya biar dia nyungsep cium tanah!"Mendapat aba-aba serangan, dua preman terdepan langsung mengayunkan tongkat baseball mereka mengincar lutut Arya.Menghadapi serangan lambat tersebut, Arya sama sekali tidak repot-repot menghindar apalagi memundurkan langkahnya. Dibiarkannya kayu keras itu membentur tulang keringnya dengan su
Mendengar panggilan udik tersebut, dahi ibu warung itu berkerut dalam penuh keheranan."Beli rokok maksudnya, Bang? Sebungkus tiga puluh ribu, mana duitnya sini?" tagih si ibu warung sembari menengadahkan telapak tangannya tanpa rasa takut.Karena permintaan itu, Arya terdiam kaku memikirkan konsep pertukaran barang di dunia modern. Dia sama sekali tidak membawa sepeser pun lembaran kertas bergambar yang sering dipuja-puja oleh manusia zaman ini. Tiba-tiba saja, otaknya teringat pada pesan Viona tentang fungsi serbaguna dari sebuah batu pipih ajaib.Dikeluarkannya ponsel pintar keluaran terbaru seharga belasan juta itu dari saku celana jinsnya."Aku tidak punya kertas gambar, tapi betina hukumku bilang batu sihir ini bisa menelan dan menukar barang apa saja. Cepat tukar batuku ini dengan kotak herbalmu!" ujar Arya menyodorkan hapenya dengan gaya mendominasi.Melihat layar ponsel mahal yang menyala terang itu, ibu warung malah memutar bola matanya dengan raut wajah malas."Oh, abangnya
Berdiri di depan mereka, seorang wanita matang dengan setelan blazer abu-abu yang membungkus tubuh sintalnya dengan sempurna.Wajahnya cantik dengan garis rahang yang tegas, dipermanis oleh kacamata bingkai tipis yang memberikan kesan cerdas sekaligus dingin. Dialah Bu Amara, dosen psikologi perkembangan yang terkenal paling disegani sekaligus menjadi dambaan rahasia banyak mahasiswa pria. Rambut hitam panjangnya diikat rapi ke belakang, memperlihatkan leher jenjangnya yang putih mulus tanpa cacat sedikit pun."Sore, Sarah, Clarissa. Tampaknya kalian sedang asyik membicarakan sesuatu yang sangat menarik sampai tidak sadar saya berdiri di sini," tegur Bu Amara dengan suara bariton yang lembut namun berwibawa.Merespons teguran tersebut, Sarah buru-buru merapikan kemeja BEM miliknya dengan gerakan yang sangat kikuk. Jantungnya berdebar kencang karena takut jika dosen cerdas ini sempat menangkap sepatah kata tentang obrolan vulgar mereka tadi."S-sore, Bu Amara. Ini... kami cuma lagi bah
Tanpa menunggu balasan Arya, Sonya segera menarik kencang tangan pria yang masih menjilati sisa saus di jarinya itu. Mereka berdua bergegas lari kabur menuju mobil dan meninggalkan restoran sebelum polisi datang.Sesampainya di area depan klab milik Sisca, suasana mendadak riuh menyambut kedatangan
Melihat kelakuan barbar itu, Sonya langsung menjerit histeris. Aktris itu buru-buru merentangkan kedua tangannya untuk menghalangi laju tubuh besar Arya."Berhenti, Arya! Ini tuh mobil buat jalan-jalan di kota, benda ini aman dan nggak bakal gigit kamu sama sekali!" omel Sonya sambil memelototi waja
Dua bodyguard bule raksasa itu sontak maju selangkah memasang badan tegap menghalangi jalur jalannya."Minggir!" Arya mendesis tajam memberikan peringatan mematikan untuk kedua pria asing tersebut."Kalian berdua pejantan bule kelebihan lemak mending minggir dari hadapanku sekarang juga sebelum terl
"Gila, betinanya mulus banget, beda banget sama betina zamanku dulu!" gumam pria itu dengan rahang menganga.Mengingat pria itu berasal dari masa lalu dan terbangun di masa depan, sesuatu yang hampir mustahil terjadi.Selama ini, dia hanya melihat betina dari sukunya yang berkulit kusam dan penuh de







