Home / Male Adult / Purba Sang Pemuas / Bab 5 Kuda Raksasa Bermesin

Share

Bab 5 Kuda Raksasa Bermesin

Author: Allina
last update Petsa ng paglalathala: 2026-03-30 15:54:02

Melihat kelakuan barbar itu, Sonya langsung menjerit histeris. Aktris itu buru-buru merentangkan kedua tangannya untuk menghalangi laju tubuh besar Arya.

"Berhenti, Arya! Ini tuh mobil buat jalan-jalan di kota, benda ini aman dan nggak bakal gigit kamu sama sekali!" omel Sonya sambil memelototi wajah Arya kesal. "Kalau kamu pukul mobil ini, kepalamu yang ganti aku pukul pakai hak sepatu!"

"Mobil itu fungsinya mirip kuda raksasa yang bisa lari cepat. Emang ya, dasar orang Purba! Kamu duduk tenang aja di kursi, nanti monster ini bakal bawa kita ke tempat makanan. Udah, jangan banyak tingkah, atau kamu ga jadi makan daging!"

Setelah mendengar omelan panjang itu, perlahan Arya menurunkan kepalan tangannya dengan ragu-ragu. Pria itu masih menyempatkan diri mengendus-endus bagian pintu mobil untuk mencari tahu apakah ada bahaya.

"Kuda raksasa apaan ini? Badannya keras banget dan dingin pas aku pegang," ucap Arya sambil duduk pelan-pelan di kursi penumpang. "Oke, aku naik ke perut monster ini demi daging tebal yang kamu janjikan tadi."

Hanya bisa menghela napas panjang, Sonya segera menginjak pedal gas memacu mobilnya membelah jalanan.

Sepanjang jalan, Arya terus menempelkan wajahnya ke kaca jendela karena takjub melihat deretan lampu kota. Sekitar dua puluh menit kemudian, mereka tiba di sebuah restoran mewah yang buka dua puluh empat jam penuh.

Sonya meminjamkan jaket kulit kebesaran miliknya kepada Arya agar dada bidang pria itu tidak telanjang bulat. Mereka langsung duduk di meja sudut yang paling sepi dan aman dari tatapan tamu lain. Seorang pelayan berseragam rapi datang membawa dua piring besar berisi daging sapi panggang.

Asap masih mengepul dari atas piring tersebut. Aroma harum bumbu panggang langsung menusuk hidung Arya dengan sangat kuat.

Sonya sengaja memesankan tingkat kematangan setengah matang agar dagingnya masih empuk dan berair. Tentu, daging dengan kematangan rare adalah tekstur kematangan yang cocok untuk Arya yang memiliki insting purba dan suka daging mentah.

"Nah, daging sapinya udah datang. Kamu makan, jangan banyak tingkah! Aku mau ke toilet bentar buat benerin make-up yang luntur."

"Kamu nggak usah ngajarin kepala suku cara makan daging! Kepalaku udah pusing banget lihat benda-benda aneh dari tadi," usir Arya tanpa menatap wajah Sonya sama sekali. "Sana pergi aja cuci mukamu yang pucat itu!"

Pria purba itu segera memusatkan seluruh matanya pada potongan daging sapi di atas piring. Cairan merah darah masih merembes keluar dari sela-sela serat daging panggang tersebut.

"Hebat juga suku di kota ini! Mereka nyediain daging berdarah segar tanpa harus capek berburu ke hutan, mana rasanya lebih enak. Darahnya kerasa gurih-gurih nyoo!"

Sama sekali tidak menyentuh garpu, Arya langsung meraup potongan daging besar itu pakai kedua tangan kosongnya. Pria itu menggigit daging setengah matang tersebut dengan buas layaknya harimau kelaparan.

Suara kunyahan Arya terdengar sangat berisik dan berantakan, sampai-sampai semua orang yang ada di restoran terus memandanginya.

Yang lebih parah, ketika Arya berdiri untuk meminta daging lagi. "Woy, bawain lagi lima porsi daging berdarah ini, kasih potongan yang gede-gede! Kepala suku belum kenyang kalau cuma makan secuil daging ini!"

Beberapa pengunjung restoran langsung menoleh dan menatap Arya dengan pandangan super jijik.

Bersamaan dengan itu, seorang pria berjas mahal berjalan angkuh mendekati meja tersebut. Pria bernama Toni itu adalah pengusaha sombong yang sudah lama terobsesi mengejar-ngejar Sonya.

Sambil menyeringai sinis, Toni melihat penampilan Arya yang acak-acakan dan cara makannya yang sangat kampungan. Pengusaha itu langsung berdiri menyilangkan dada tepat di sebelah kursi Arya.

"Ya ampun, aku kira ada hewan liar lepas dari kebun binatang masuk ke sini. Sonya bener-bener udah turun selera ya sampai mau bawa gembel kelaparan ke restoran bintang lima," ejek Toni dengan suara lantang yang sengaja dikeraskan.

"Elu ini pasti gigolo murahan baru yang disewa Sonya pakai harga miring, kan? Lihat aja cara makanmu yang jorok itu, pakai tangan kosong terus teriak-teriak kayak orang gila. Orang kelas bawah kayak kamu tuh harusnya makan sisa tulang di tong sampah belakang. Kamu cuma bikin malu Sonya dan bikin udara di sini jadi bau gembel!"

Tepat setelah ucapan merendahkan itu keluar, kunyahan di mulut Arya berhenti total. Pria purba itu sama sekali tidak paham arti kata gigolo atau gembel yang baru saja dilontarkan. Walaupun begitu, insting liarnya dengan cepat mendeteksi nada tantangan langsung dari pejantan lemah yang berani mengganggunya.

Tanpa banyak omong, tangan berlumur saus milik Arya muncrat ke depan, mengenai muka Toni, lalu disusul tangan Arya yang bergerak kilat.

Cengkeraman sekokoh rahang buaya purba langsung mengunci kerah jas mahal milik Toni, lalu pria purba itu berdiri di atas kursi.

Sontak saja tubuh pengusaha sombong itu terangkat tinggi ke udara dengan sangat gampang.

Toni membelalakkan mata sambil meronta-ronta panik di atas sana. Kakinya menendang-nendang ruang kosong mencari pijakan ke lantai restoran. "Lepasin aku, dasar gembel sinting! Kamu nggak tahu siapa aku di kota ini? Aku bisa bayar orang buat habisin nyawamu sekarang juga!"

Tanpa sedikitpun rasa kasihan, Arya memutar pinggulnya dan melempar tubuh Toni sekuat tenaga. Arah lemparan itu ditujukan lurus ke kaca jendela besar di samping meja mereka. Suara pecahan kaca yang sangat memekakkan telinga langsung merobek keheningan malam tersebut.

Tubuh Toni meluncur deras menembus jendela hingga terjerembab keras ke aspal trotoar luar. Serpihan kaca tajam berserakan menimpa badan pengusaha yang kini mengerang kesakitan parah itu.

Para pengunjung restoran seketika menjerit histeris melihat aksi sangat brutal barusan.

"Astaga naga, Arya! Kamu habis ngapain pria hidung belang itu sampai nembus kaca tebal begitu?" omel Sonya yang baru saja lari keluar dari toilet dengan wajah pucat pasi. "Kepalaku bisa pecah mikirin tagihan ganti rugi restoran ini!"

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Purba Sang Pemuas   Bab 76 Napi Rakit Tenda

    Gara-gara rentetan pertanyaan tajam itu, si polisi penjaga mengusap keringat dingin di leher belakangnya. Pria berseragam itu menunjuk ke arah lorong tahanan dengan jari yang bergetar."Ibu berdua nggak tahu seberapa gilanya pria raksasa yang Ibu bawa itu! Tadi sore pas baru masuk sel nomor tiga, dia langsung diajak ribut sama kawanan preman tatoan di dalam sana.""Terus klien saya diapain sama preman sel itu, Pak?!" potong Sisca memekik cemas teringat wajah tampan Arya."Bukan klien Ibu yang diapain, Bu! Tahanan satu sel yang isinya enam preman terminal itu sekarang teler semua nggak sadarkan diri! Klien Ibu cuma butuh waktu tiga detik buat bikin mereka pingsan numpuk di pojokan kayak ikan mati!"Menelan ludah dengan susah payah, Viona hanya bisa memijat pangkal hidungnya meratapi kelakuan bar-bar andalannya. "Habis ngebantai preman satu sel, klien saya ngapain lagi di dalam sana, Pak?""Itu dia masalah utamanya, Bu! Habis bikin orang pingsan muntah darah, dia malah senyum-senyum nge

  • Purba Sang Pemuas   Bab 75 Polisi Mohon Ampun

    "Gigolo purba itu beneran nggak bisa dikasih napas tenang sehari aja buat nggak bikin onar, ya?!" rutuk Viona memijat pelipisnya.Gara-gara stres mendadak, urat kepala sang pengacara kondang itu terasa mau pecah. Dihempaskannya kembali tubuh montok itu ke atas sofa beludru dengan gerakan kasar. Dia mulai membayangkan seberapa hancurnya reputasi klab jika rahasia identitas Arya sebagai pemuas ranjang terbongkar oleh pihak kepolisian."Terus gimana ceritanya dia bisa ngebantai anak orang di gang sempit? Dia itu buta hukum, kalau sampai videonya viral terekam CCTV, repot urusannya!" cerca Viona menuntut penjelasan.Masih mengatur napasnya, Sisca ikut duduk menghempaskan diri di sebelah Viona. "Gue juga belum tahu detail kejadiannya, Vi. Makanya gue langsung nekat lari ke sini buat ngajak lo nyamperin dia ke polsek sekarang juga."Tiba-tiba saja, Sonya mengangkat sebelah tangannya memberi isyarat agar mereka berdua tenang sejenak. Rambut aktris cantik itu masih sedikit basah terkena rinti

  • Purba Sang Pemuas   Bab 74 Gajah Masuk Kandang

    "Mampus lu, Bangsat! Badan doang gede kayak gajah, dipukul kayu sekali aja langsung modyar lu kan!" ejek pria bertopi itu sambil meludah ludah penuh kepuasan.Tawa histeris bernada kebanggaan palsu itu bergema nyaring menandakan kemenangan prematur seorang pengecut jalanan. Sekitar sepuluh detik berlalu menembus kesunyian, Arya masih menolak tumbang mencium aspal kotor seperti harapan sang musuh. Perlahan namun pasti, kepala sang Kepala Suku mulai berputar menoleh ke arah belakang membelah udara dingin.Darah segar berwarna merah pekat tampak menetes perlahan dari pelipis kirinya yang sedikit robek. Cairan anyir itu mengalir turun melewati lekuk hidung mancungnya hingga menetes menodai kerah kemeja flanel kucelnya.Sorot mata pemuda pedalaman itu tidak lagi memancarkan kebingungan komikal akibat mainan getar. Tatapannya kini sepenuhnya berubah menjadi insting iblis absolut yang menuntut pencabutan nyawa mangsa.Seketika itu juga, tawa si pencuri terhenti paksa tergantikan oleh raut wa

  • Purba Sang Pemuas   Bab 73 Ulat Tanah Bergetar

    Melihat empat tongkat kayu diacungkan ke arahnya, Arya justru memiringkan kepalanya dengan tatapan kelewat datar.Sama sekali tidak ada kilatan ketakutan dari bola matanya yang semerah darah segar. Otaknya justru merasa sangat terhina melihat senjata tumpul yang dibawa oleh para manusia modern jalanan ini. Sepertinya, kera-kera kurus ini belum paham bahwa mereka sedang berhadapan dengan predator puncak pelahap daging dari zaman prasejarah."Kalian mencoba merampok Kepala Suku hanya bermodalkan ranting kayu patah yang bahkan tidak memiliki ujung tajam?"Tertawa meremehkan, preman bertato itu meludah kasar ke tanah. "Bacot lu kegedean, Bang! Sikat aja langsung kakinya biar dia nyungsep cium tanah!"Mendapat aba-aba serangan, dua preman terdepan langsung mengayunkan tongkat baseball mereka mengincar lutut Arya.Menghadapi serangan lambat tersebut, Arya sama sekali tidak repot-repot menghindar apalagi memundurkan langkahnya. Dibiarkannya kayu keras itu membentur tulang keringnya dengan su

  • Purba Sang Pemuas   Bab 72 Batu Sihir Dicuri

    Mendengar panggilan udik tersebut, dahi ibu warung itu berkerut dalam penuh keheranan."Beli rokok maksudnya, Bang? Sebungkus tiga puluh ribu, mana duitnya sini?" tagih si ibu warung sembari menengadahkan telapak tangannya tanpa rasa takut.Karena permintaan itu, Arya terdiam kaku memikirkan konsep pertukaran barang di dunia modern. Dia sama sekali tidak membawa sepeser pun lembaran kertas bergambar yang sering dipuja-puja oleh manusia zaman ini. Tiba-tiba saja, otaknya teringat pada pesan Viona tentang fungsi serbaguna dari sebuah batu pipih ajaib.Dikeluarkannya ponsel pintar keluaran terbaru seharga belasan juta itu dari saku celana jinsnya."Aku tidak punya kertas gambar, tapi betina hukumku bilang batu sihir ini bisa menelan dan menukar barang apa saja. Cepat tukar batuku ini dengan kotak herbalmu!" ujar Arya menyodorkan hapenya dengan gaya mendominasi.Melihat layar ponsel mahal yang menyala terang itu, ibu warung malah memutar bola matanya dengan raut wajah malas."Oh, abangnya

  • Purba Sang Pemuas   Bab 71 Herbal Pembakar Jiwa

    Berdiri di depan mereka, seorang wanita matang dengan setelan blazer abu-abu yang membungkus tubuh sintalnya dengan sempurna.Wajahnya cantik dengan garis rahang yang tegas, dipermanis oleh kacamata bingkai tipis yang memberikan kesan cerdas sekaligus dingin. Dialah Bu Amara, dosen psikologi perkembangan yang terkenal paling disegani sekaligus menjadi dambaan rahasia banyak mahasiswa pria. Rambut hitam panjangnya diikat rapi ke belakang, memperlihatkan leher jenjangnya yang putih mulus tanpa cacat sedikit pun."Sore, Sarah, Clarissa. Tampaknya kalian sedang asyik membicarakan sesuatu yang sangat menarik sampai tidak sadar saya berdiri di sini," tegur Bu Amara dengan suara bariton yang lembut namun berwibawa.Merespons teguran tersebut, Sarah buru-buru merapikan kemeja BEM miliknya dengan gerakan yang sangat kikuk. Jantungnya berdebar kencang karena takut jika dosen cerdas ini sempat menangkap sepatah kata tentang obrolan vulgar mereka tadi."S-sore, Bu Amara. Ini... kami cuma lagi bah

  • Purba Sang Pemuas   Bab 7 Sihir Penyedot Jiwa

    Sisca sontak mendongakkan kepalanya ke atas dan tertawa terbahak-bahak tanpa canggung. Wanita bergaun merah marun itu menggeser posisi duduknya menempel sangat rapat ke paha berotot Arya."Ya ampun, Arya! Kita ini lagi asyik baca komentar netijen-netijen di internet tentang kamu. Coba deh kamu lihat

  • Purba Sang Pemuas   Bab 6 Kutukan Video Viral

    Tanpa menunggu balasan Arya, Sonya segera menarik kencang tangan pria yang masih menjilati sisa saus di jarinya itu. Mereka berdua bergegas lari kabur menuju mobil dan meninggalkan restoran sebelum polisi datang.Sesampainya di area depan klab milik Sisca, suasana mendadak riuh menyambut kedatangan

  • Purba Sang Pemuas   Bab 4 Duel Melawan Kepala Mobil

    Tanpa menunggu persetujuan, tangan kekar Arya langsung melingkar kuat di pinggang ramping Sisca. Wanita pemilik klab itu menjerit kaget saat tubuhnya ditarik paksa. Tubuh Sisca langsung menempel rapat pada dada bidang Arya yang penuh keringat."Lepaskan aku, Arya! Kamu benar-benar sudah kehilangan a

  • Purba Sang Pemuas   Bab 3 Pusaka Botol Kecap

    Seketika suasana lorong VVIP itu berubah menjadi sangat kacau balau. Beberapa wanita berpakaian ketat langsung menjerit keras sambil menutup mata mereka rapat-rapat."Mau pamer kalau punya dia gede kali ya, mentang-mentang lorong VVIP isi cewek cakep semua!" teriak seorang wanita gemuk dengan riasan

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status