Home / Male Adult / Purba Sang Pemuas / Bab 3 Pusaka Botol Kecap

Share

Bab 3 Pusaka Botol Kecap

Author: Allina
last update publish date: 2026-03-30 15:53:28

Seketika suasana lorong VVIP itu berubah menjadi sangat kacau balau. Beberapa wanita berpakaian ketat langsung menjerit keras sambil menutup mata mereka rapat-rapat.

"Mau pamer kalau punya dia gede kali ya, mentang-mentang lorong VVIP isi cewek cakep semua!" teriak seorang wanita gemuk dengan riasan menor sambil menutup mulutnya, tak percaya.

Tentu saja mereka kaget melihat Arya berjalan sangat percaya diri, tanpa pakaian, dengan cacing besar alaska miliknya yang menyapa para pengunjung.

Meskipun begitu, ada juga wanita hidung belang yang justru sengaja membuka celah jarinya lebar-lebar. Mereka malah mengintip Arya sambil menelan ludah berkali-kali, melihat betapa bagusnya bentukan traktor Arya.

Padahal, selama ini Arya dirumorkan traktornya ga bisa nyala. Atau ya, kalau nyala, palingan cepat lowbet karena dua menit saja sudah keluar.

Berbeda dengan si pria Purba dalam diri Arya, dia sama sekali tidak peduli traktornya yang sangat besar dan menyita perhatian. Purba satu ini malah terus melangkah dengan dada dibusungkan ke depan, berniat mencari padang rumput untuk meminta ampun pada Dewa.

"Aneh kali dunia modern. Kenapa goa mereka terang benderang kayak gini, tapi betinanya malah suka menjerit kalau lihat pejantan sehat," gumam Purba dalam hati sambil menggaruk perutnya yang kotak-kotak.

Yap, benar sekali.

Yang tersisa dari Arya hanyalah wajah tampan, rambut, dan tinggi badan sekitar 172 centi. Adapun sisanya, adalah milik tubuh si Purba, termasuk otot perut, lengan, stamina, sekaligus Traktor yang bentukannya sekokoh Monas.

Akibat keributan itu, seorang pria berjas rapi menghentikan langkah santainya tepat di depan Arya. Pemuda bernama Rio itu adalah gigolo nomor satu di klab malam tersebut.

Sejak dulu, Rio selalu mencari gara-gara karena merasa tersaingi oleh ketampanan wajah Arya.

"Heh, Arya! Kamu sudah gila ya, jalan polosan gini di area tamu VVIP?" tegur Rio dengan nada suara sangat merendahkan.

"Lihat saja kelakuanmu ini, benar-benar memalukan martabat kita sebagai host papan atas! Pantas saja Nyonya Sonya tadi marah-marah sampai mau membatalkan pesanan. Gigolo gagal sepertimu memang cuma bisa bikin masalah dan merusak nama baik klab kita!" tambah Rio sambil bersedekap dada dan tersenyum sinis.

Mendengar rentetan ocehan itu, Arya hanya memiringkan kepalanya dengan dahi berkerut. Pria purba itu sama sekali tidak mengerti arti kata gigolo, host, atau nama baik klab.

Pengetahuan di otaknya masih sangat terbatas pada dua kata, berburu dan kawin buat bikin anak.

Tanpa disangka-sangka, insting liar Arya menangkap sinyal ancaman dari nada suara Rio yang sedikit tinggi, dan dikira bisa mengancam dominasinya sebagai mantan Alpha di sukunya.

Di zaman purba, nada bicara seperti itu adalah bentuk tantangan terbuka dari pejantan lemah. Mereka biasanya ingin merebut wilayah atau merebut betina dari sang kepala suku.

"Hei, pejantan kurus! Kamu berani menantang kepala suku di wilayah kekuasaannya sendiri? Tubuhmu saja kecil seperti monyet kurang makan. Masa kamu mau melawan pejantan paling tangguh di suku ini, hah?" balas Arya dengan suara berat dan menggelegar.

Tentu saja Rio langsung membelalakkan matanya mendengar jawaban aneh tersebut. Pria berjas itu merasa Arya sengaja mengejek bentuk tubuhnya yang memang tidak berotot sama sekali. Wajah Rio langsung memerah menahan amarah yang meledak-ledak.

"Sialan kamu, Arya! Beraninya kamu mengataiku monyet kurang makan di depan para tamu elit klab ini! Asal kamu tahu, aku ini menghasilkan miliaran rupiah setiap bulan untuk klab ini!" teriak Rio sambil menunjuk tepat di depan hidung Arya menggunakan jari telunjuknya.

"Kamu itu cuma gigolo murahan yang tidak laku dijual! Jangan harap kamu bisa bersaing denganku sampai kapan pun juga!" sambung Rio dengan suara melengking tinggi.

Tepat pada detik itu juga, tangan kanan Arya bergerak secepat kilat menyambar jari telunjuk Rio. Pria berbadan kekar itu langsung memelintir jari tersebut ke arah belakang tanpa ragu sedikit pun.

Terdengar bunyi patahan tulang yang sangat nyaring memecah keheningan lorong tersebut.

Rio langsung menjerit histeris setinggi langit. Pria itu seketika terduduk di lantai sambil memegangi tangannya yang sudah bengkok tidak wajar. Air matanya langsung menetes deras menahan rasa sakit yang luar biasa.

"Tolong! Tanganku patah! Dasar orang gila, berani-beraninya kamu merusak aset berhargaku!" ratap Rio sambil menangis tersedu-sedu di atas lantai marmer.

"Pejantan lemah dilarang menunjuk wajah kepala suku pakai jari! Bersyukurlah aku cuma mematahkan jarimu malam ini. Kalau di sukuku, kamu sudah kujadikan umpan untuk memancing harimau kelaparan!" ucap Arya dengan tatapan mata sangat tajam.

Kejadian brutal itu membuat semua orang di lorong semakin panik ketakutan. Beberapa pelayan klab langsung berlarian ke arah meja resepsionis untuk mencari pertolongan. Mereka saling bertabrakan satu sama lain karena terburu-buru.

"Panggil keamanan sekarang juga! Arya tiba-tiba mengamuk dan mematahkan jari Kak Rio!" teriak salah satu pelayan wanita sambil gemetaran memegang nampan minuman.

"Dia juga telanjang bulat, mana merusak pintu kamar VIP lagi! Cepat panggil Mami Sisca kemari sebelum Arya membunuh pelanggan kita!" sahut pelayan lainnya dengan wajah pucat pasi.

Hanya berselang tiga menit, suara ketukan sepatu hak tinggi terdengar bergegas mendekati kerumunan tersebut. Seorang wanita berpenampilan sangat elegan dan dominan muncul membelah kerumunan staf klab. Wanita itu memakai gaun merah ketat yang menampilkan lekuk tubuhnya yang sangat berisi.

Wanita bernama Sisca itu adalah pemilik klab malam yang terkenal sangat tegas dan kejam. Di belakangnya, empat orang petugas keamanan bertubuh besar berbaris rapi siap menerima perintah. 

Sisca langsung membelalakkan matanya melihat kondisi lorong klabnya yang berantakan. "Ada keributan apa ini di klabku? Arya, kenapa kamu telanjang dan mematahkan jari gigolo andalanku!"

"Kamu sadar apa yang sudah kamu lakukan malam ini, Arya? Kamu merusak fasilitas kamar VVIP dan menelanjangi dirimu sendiri di depan umum! Kamu juga melukai aset perusahaanku yang paling berharga!" ancam Sisca sambil menatap langsung ke kedua bola mata Arya.

"Aku akan menuntutmu dengan denda lima puluh miliar rupiah atas pelanggaran kontrak ini! Kamu akan membusuk di penjara kalau tidak bisa membayar kerugian klabku!" tambah wanita itu dengan dada naik turun menahan napas.

Menghadapi ancaman bertubi-tubi itu, Arya sama sekali tidak merasa takut atau gentar. Pria purba itu malah melangkah maju mendekati tubuh montok Sisca. Arya memajukan wajahnya ke arah leher Sisca dan mengendus dalam-dalam.

Seketika bulu kuduk Sisca meremang mendapatkan perlakuan kurang ajar dari anak buahnya tersebut. Hidung mancung Arya menyentuh kulit leher Sisca yang sangat putih dan wangi.

"Hei betina dominan. Suaramu memang keras dan menakutkan seperti induk beruang. Kenapa tubuhmu malah mengeluarkan aroma gairah yang sangat menyengat hidungku?" tanya Arya dengan senyum menyeringai lebar.

"Bau tubuhmu bilang kamu sedang menahan hasrat kawin yang sangat besar. Kamu nggak perlu marah-marah untuk menutupi hal itu dariku," lanjut pria bertubuh kekar tersebut.

Spontan, wajah Sisca langsung memerah padam sampai ke telinga. Wanita mandiri itu merasa harga dirinya diinjak-injak di depan para bawahannya. Jantung Sisca berdebar sangat kencang karena tebakan gigolo itu ternyata benar seratus persen.

"Tutup mulut kasarmu itu, Arya! Satpam, cepat tangkap pria gila ini dan seret dia ke ruang bawah tanah sekarang juga! Jangan biarkan dia merusak acaraku malam ini!" perintah Sisca dengan suara bergetar karena panik bercampur marah.

Keempat satpam bertubuh besar itu langsung bergerak maju untuk meringkus tubuh Arya. Mereka membawa tongkat pemukul berwarna hitam di tangan masing-masing.

Namun, Arya dengan mudah mengibaskan tangannya dan menangkis pukulan satpam terdepan. Pria purba itu langsung mendorong dua satpam sekaligus hingga terpental keras menabrak dinding lorong. Dua satpam sisanya langsung mundur ketakutan melihat kekuatan fisik Arya yang tidak masuk akal.

"Kalian pejantan lemah minggir saja dari hadapanku! Betina ini sudah siap kawin. Aku harus melayaninya sekarang juga sebagai kepala suku yang bertanggung jawab!" seru Arya sambil melangkah maju mendekati Sisca lagi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Purba Sang Pemuas   Bab 76 Napi Rakit Tenda

    Gara-gara rentetan pertanyaan tajam itu, si polisi penjaga mengusap keringat dingin di leher belakangnya. Pria berseragam itu menunjuk ke arah lorong tahanan dengan jari yang bergetar."Ibu berdua nggak tahu seberapa gilanya pria raksasa yang Ibu bawa itu! Tadi sore pas baru masuk sel nomor tiga, dia langsung diajak ribut sama kawanan preman tatoan di dalam sana.""Terus klien saya diapain sama preman sel itu, Pak?!" potong Sisca memekik cemas teringat wajah tampan Arya."Bukan klien Ibu yang diapain, Bu! Tahanan satu sel yang isinya enam preman terminal itu sekarang teler semua nggak sadarkan diri! Klien Ibu cuma butuh waktu tiga detik buat bikin mereka pingsan numpuk di pojokan kayak ikan mati!"Menelan ludah dengan susah payah, Viona hanya bisa memijat pangkal hidungnya meratapi kelakuan bar-bar andalannya. "Habis ngebantai preman satu sel, klien saya ngapain lagi di dalam sana, Pak?""Itu dia masalah utamanya, Bu! Habis bikin orang pingsan muntah darah, dia malah senyum-senyum nge

  • Purba Sang Pemuas   Bab 75 Polisi Mohon Ampun

    "Gigolo purba itu beneran nggak bisa dikasih napas tenang sehari aja buat nggak bikin onar, ya?!" rutuk Viona memijat pelipisnya.Gara-gara stres mendadak, urat kepala sang pengacara kondang itu terasa mau pecah. Dihempaskannya kembali tubuh montok itu ke atas sofa beludru dengan gerakan kasar. Dia mulai membayangkan seberapa hancurnya reputasi klab jika rahasia identitas Arya sebagai pemuas ranjang terbongkar oleh pihak kepolisian."Terus gimana ceritanya dia bisa ngebantai anak orang di gang sempit? Dia itu buta hukum, kalau sampai videonya viral terekam CCTV, repot urusannya!" cerca Viona menuntut penjelasan.Masih mengatur napasnya, Sisca ikut duduk menghempaskan diri di sebelah Viona. "Gue juga belum tahu detail kejadiannya, Vi. Makanya gue langsung nekat lari ke sini buat ngajak lo nyamperin dia ke polsek sekarang juga."Tiba-tiba saja, Sonya mengangkat sebelah tangannya memberi isyarat agar mereka berdua tenang sejenak. Rambut aktris cantik itu masih sedikit basah terkena rinti

  • Purba Sang Pemuas   Bab 74 Gajah Masuk Kandang

    "Mampus lu, Bangsat! Badan doang gede kayak gajah, dipukul kayu sekali aja langsung modyar lu kan!" ejek pria bertopi itu sambil meludah ludah penuh kepuasan.Tawa histeris bernada kebanggaan palsu itu bergema nyaring menandakan kemenangan prematur seorang pengecut jalanan. Sekitar sepuluh detik berlalu menembus kesunyian, Arya masih menolak tumbang mencium aspal kotor seperti harapan sang musuh. Perlahan namun pasti, kepala sang Kepala Suku mulai berputar menoleh ke arah belakang membelah udara dingin.Darah segar berwarna merah pekat tampak menetes perlahan dari pelipis kirinya yang sedikit robek. Cairan anyir itu mengalir turun melewati lekuk hidung mancungnya hingga menetes menodai kerah kemeja flanel kucelnya.Sorot mata pemuda pedalaman itu tidak lagi memancarkan kebingungan komikal akibat mainan getar. Tatapannya kini sepenuhnya berubah menjadi insting iblis absolut yang menuntut pencabutan nyawa mangsa.Seketika itu juga, tawa si pencuri terhenti paksa tergantikan oleh raut wa

  • Purba Sang Pemuas   Bab 73 Ulat Tanah Bergetar

    Melihat empat tongkat kayu diacungkan ke arahnya, Arya justru memiringkan kepalanya dengan tatapan kelewat datar.Sama sekali tidak ada kilatan ketakutan dari bola matanya yang semerah darah segar. Otaknya justru merasa sangat terhina melihat senjata tumpul yang dibawa oleh para manusia modern jalanan ini. Sepertinya, kera-kera kurus ini belum paham bahwa mereka sedang berhadapan dengan predator puncak pelahap daging dari zaman prasejarah."Kalian mencoba merampok Kepala Suku hanya bermodalkan ranting kayu patah yang bahkan tidak memiliki ujung tajam?"Tertawa meremehkan, preman bertato itu meludah kasar ke tanah. "Bacot lu kegedean, Bang! Sikat aja langsung kakinya biar dia nyungsep cium tanah!"Mendapat aba-aba serangan, dua preman terdepan langsung mengayunkan tongkat baseball mereka mengincar lutut Arya.Menghadapi serangan lambat tersebut, Arya sama sekali tidak repot-repot menghindar apalagi memundurkan langkahnya. Dibiarkannya kayu keras itu membentur tulang keringnya dengan su

  • Purba Sang Pemuas   Bab 72 Batu Sihir Dicuri

    Mendengar panggilan udik tersebut, dahi ibu warung itu berkerut dalam penuh keheranan."Beli rokok maksudnya, Bang? Sebungkus tiga puluh ribu, mana duitnya sini?" tagih si ibu warung sembari menengadahkan telapak tangannya tanpa rasa takut.Karena permintaan itu, Arya terdiam kaku memikirkan konsep pertukaran barang di dunia modern. Dia sama sekali tidak membawa sepeser pun lembaran kertas bergambar yang sering dipuja-puja oleh manusia zaman ini. Tiba-tiba saja, otaknya teringat pada pesan Viona tentang fungsi serbaguna dari sebuah batu pipih ajaib.Dikeluarkannya ponsel pintar keluaran terbaru seharga belasan juta itu dari saku celana jinsnya."Aku tidak punya kertas gambar, tapi betina hukumku bilang batu sihir ini bisa menelan dan menukar barang apa saja. Cepat tukar batuku ini dengan kotak herbalmu!" ujar Arya menyodorkan hapenya dengan gaya mendominasi.Melihat layar ponsel mahal yang menyala terang itu, ibu warung malah memutar bola matanya dengan raut wajah malas."Oh, abangnya

  • Purba Sang Pemuas   Bab 71 Herbal Pembakar Jiwa

    Berdiri di depan mereka, seorang wanita matang dengan setelan blazer abu-abu yang membungkus tubuh sintalnya dengan sempurna.Wajahnya cantik dengan garis rahang yang tegas, dipermanis oleh kacamata bingkai tipis yang memberikan kesan cerdas sekaligus dingin. Dialah Bu Amara, dosen psikologi perkembangan yang terkenal paling disegani sekaligus menjadi dambaan rahasia banyak mahasiswa pria. Rambut hitam panjangnya diikat rapi ke belakang, memperlihatkan leher jenjangnya yang putih mulus tanpa cacat sedikit pun."Sore, Sarah, Clarissa. Tampaknya kalian sedang asyik membicarakan sesuatu yang sangat menarik sampai tidak sadar saya berdiri di sini," tegur Bu Amara dengan suara bariton yang lembut namun berwibawa.Merespons teguran tersebut, Sarah buru-buru merapikan kemeja BEM miliknya dengan gerakan yang sangat kikuk. Jantungnya berdebar kencang karena takut jika dosen cerdas ini sempat menangkap sepatah kata tentang obrolan vulgar mereka tadi."S-sore, Bu Amara. Ini... kami cuma lagi bah

  • Purba Sang Pemuas   Bab 8 Tatapan Maut Pemburu

    Dua bodyguard bule raksasa itu sontak maju selangkah memasang badan tegap menghalangi jalur jalannya."Minggir!" Arya mendesis tajam memberikan peringatan mematikan untuk kedua pria asing tersebut."Kalian berdua pejantan bule kelebihan lemak mending minggir dari hadapanku sekarang juga sebelum terl

  • Purba Sang Pemuas   Bab 6 Kutukan Video Viral

    Tanpa menunggu balasan Arya, Sonya segera menarik kencang tangan pria yang masih menjilati sisa saus di jarinya itu. Mereka berdua bergegas lari kabur menuju mobil dan meninggalkan restoran sebelum polisi datang.Sesampainya di area depan klab milik Sisca, suasana mendadak riuh menyambut kedatangan

  • Purba Sang Pemuas   Bab 5 Kuda Raksasa Bermesin

    Melihat kelakuan barbar itu, Sonya langsung menjerit histeris. Aktris itu buru-buru merentangkan kedua tangannya untuk menghalangi laju tubuh besar Arya."Berhenti, Arya! Ini tuh mobil buat jalan-jalan di kota, benda ini aman dan nggak bakal gigit kamu sama sekali!" omel Sonya sambil memelototi waja

  • Purba Sang Pemuas   Bab 7 Sihir Penyedot Jiwa

    Sisca sontak mendongakkan kepalanya ke atas dan tertawa terbahak-bahak tanpa canggung. Wanita bergaun merah marun itu menggeser posisi duduknya menempel sangat rapat ke paha berotot Arya."Ya ampun, Arya! Kita ini lagi asyik baca komentar netijen-netijen di internet tentang kamu. Coba deh kamu lihat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status