تسجيل الدخولDua bodyguard bule raksasa itu sontak maju selangkah memasang badan tegap menghalangi jalur jalannya.
"Minggir!" Arya mendesis tajam memberikan peringatan mematikan untuk kedua pria asing tersebut.
"Kalian berdua pejantan bule kelebihan lemak mending minggir dari hadapanku sekarang juga sebelum terlambat! Jangan sampai aku mematahkan leher besar kalian persis seperti matahin ranting kering di dalam hutan sana!"
Tentu saja kedua bule sombong itu tidak paham bahasa Arya dan malah balik mendorong dada bidang sang kepala suku. Hanya bermodalkan satu sapuan punggung tangan kosongnya, Arya membalas dorongan pelan itu. Kedua bodyguard berbadan terlatih tersebut seketika terpental jauh mundur belasan langkah ke arah belakang.
Punggung raksasa kedua bule itu menabrak tembok ruangan marmer sampai berbunyi retakan luar biasa kencang.
Karina langsung membelalakkan matanya lebar-lebar saking shock berat melihat pemandangan ajaib barusan. Jarak antara sang ratu es dan sang kepala suku kini tersisa sejengkal tangan saja. Arya sengaja menundukkan kepalanya dalam-dalam ke area celah leher Karina yang terbuka bebas.
Pria liar kelaparan itu mengendus rakus aroma memabukkan dari pori-pori kulit sang produser wanita.
"Wangi." Suara serak Arya terdengar berbisik pelan tepat di sebelah daun telinga Karina.
"Ternyata bau keringat dari tubuhmu ini jauh lebih menantang dibandingkan ocehan dari mulut kasarmu itu, betina sombong. Kertas tipis apa yang barusan berani kamu pamerkan ke depan wajahku demi menyuruhku menjadi budakmu? Asal kamu tahu, di wilayahku sana, betina yang berani menantang otoritas kepala suku harus siap menerima hukuman cambuk di atas ranjang sampai besok pagi!"
Jantung Karina seketika berdegup secepat kilat kehilangan ritme kendali normalnya. Telapak tangan besar nan kasar milik Arya tiba-tiba melingkar sangat kuat merengkuh pinggang rampingnya dengan paksa.
"Lepasin!" Karina meronta panik berusaha mendorong dada sekeras batu milik pria liar itu.
"Kamu ini benar-benar nggak tahu sopan santun sama sekali terhadap wanita kelas atas! Beraninya kamu menyentuh tubuhku dengan tangan kotormu itu tanpa izin! Aku bisa membuat karir dan hidupmu hancur berantakan malam ini juga kalau kamu nggak segera menjauh dariku!”
Arya hanya tertawa terbahak-bahak mendengar ancaman beruntun dari betina mungil dalam dekapannya.
Merasa nyonya besar mereka sedang diancam, dua bodyguard bule raksasa yang sempat terpental tadi akhirnya bangkit berdiri.
Bermodalkan otot hasil suntikan steroid, kedua pria asing itu merangsek maju dengan kepalan tangan raksasa. Mereka berniat mengunci pergerakan Arya dari sisi kiri dan kanan secara bersamaan.
"Lepasin bos kami sekarang juga, dasar monyet jalanan gila! Kami bakal patahin semua tulang rusukmu malam ini juga sampai kamu mati membusuk di klab ini!" teriak salah satu bule itu dengan bahasa Indonesia yang terbata-bata penuh emosi.
Lantaran acara mengendus leher betinanya diganggu lagi, Arya mendengus kasar memancarkan kekesalan luar biasa.
Sedetik kemudian, kepala suku itu melepaskan pinggang Karina dan merendahkan postur tubuhnya hingga nyaris menempel ke lantai. Kuda-kuda pria purba itu terpasang sangat kokoh layaknya harimau purba yang bersiap mencabik leher mangsanya.
Seketika aura membunuh yang kelewat pekat menguar deras dari sekujur tubuh Arya. Suhu di dalam ruangan mewah itu mendadak turun drastis seolah-olah ada monster mematikan yang baru saja bangkit dari kuburan es.
"Kalian berdua maju selangkah lagi, aku jamin kepala kalian putus dari leher detik ini juga!" ancam Arya lewat desisan rendah yang menggetarkan isi perut siapa pun yang mendengarnya.
Akibat tatapan maut ala pemburu Mammoth itu, langkah kedua pengawal Karina terhenti total seperti patung. Udara seakan tersedot habis dari paru-paru mereka berdua saking ngerinya melihat sorot mata pembunuh milik Arya.
Lutut kedua pria berotot itu mendadak gemetaran hebat tak karuan kehilangan semua tenaga primatanya.
Akibat kelewat panik dan ketakutan setengah mati, dua bodyguard profesional bertarif mahal itu tanpa sadar kencing di celana!
"Kabur!" Salah satu pengawal menjerit histeris ketakutan.
Tanpa mempedulikan nasib majikannya lagi, kedua bule itu lari terbirit-birit keluar dari ruangan sambil berdesakan di ambang pintu. Mereka saling dorong menyelematkan nyawa masing-masing dari jangkauan sang monster jalanan.
Melihat pengawal bayarannya lari kocar-kacir cuma gara-gara sebuah tatapan, rahang Karina menganga tak percaya. Belum sempat wanita itu mencerna situasi gila ini, Arya sudah kembali bergerak secepat kilat menyergap tubuhnya. Pria bertelanjang dada itu langsung memojokkan Karina hingga punggungnya menabrak keras dinding klab.
"Nah, sekarang pejantan pengganggunya sudah kabur semua. Tinggal kita berdua saja yang belum selesai urusan malam ini, betina sombong."
"Kamu mau ngapain lagi, Arya? Jangan macam-macam ya, aku ini produser terkenal yang bisa bikin kamu miskin seumur hidup! Kalau kamu berani sentuh aku lebih dari ini, aku pastiin besok pagi polisi udah ngepung tempat ini. Kamu bakal diseret ke penjara paling kumuh sampai mati membusuk di sana!"
Bukannya merasa ciut, Arya malah sengaja menempelkan tubuh kekarnya makin rapat menindih Karina. Hidung mancungnya kembali menyapu area leher dan telinga sang ratu es dengan ritme sangat lambat.
Hembusan napas panas pria itu langsung membuat bulu kuduk Karina meremang hebat tak terkendali.
"Kepala suku udah selayaknya paling pintar baca tanda-tanda betina yang minta dikawinin, ya kayak kamu gini. Apalagi, bau-mu ini, ahh, lebih enak dari milik Sisca sama Sonya. Pasti bengkuangmu lebih yahut, terus njepit sama kedut-kedut gitu!"
Gara-gara rentetan pertanyaan tajam itu, si polisi penjaga mengusap keringat dingin di leher belakangnya. Pria berseragam itu menunjuk ke arah lorong tahanan dengan jari yang bergetar."Ibu berdua nggak tahu seberapa gilanya pria raksasa yang Ibu bawa itu! Tadi sore pas baru masuk sel nomor tiga, dia langsung diajak ribut sama kawanan preman tatoan di dalam sana.""Terus klien saya diapain sama preman sel itu, Pak?!" potong Sisca memekik cemas teringat wajah tampan Arya."Bukan klien Ibu yang diapain, Bu! Tahanan satu sel yang isinya enam preman terminal itu sekarang teler semua nggak sadarkan diri! Klien Ibu cuma butuh waktu tiga detik buat bikin mereka pingsan numpuk di pojokan kayak ikan mati!"Menelan ludah dengan susah payah, Viona hanya bisa memijat pangkal hidungnya meratapi kelakuan bar-bar andalannya. "Habis ngebantai preman satu sel, klien saya ngapain lagi di dalam sana, Pak?""Itu dia masalah utamanya, Bu! Habis bikin orang pingsan muntah darah, dia malah senyum-senyum nge
"Gigolo purba itu beneran nggak bisa dikasih napas tenang sehari aja buat nggak bikin onar, ya?!" rutuk Viona memijat pelipisnya.Gara-gara stres mendadak, urat kepala sang pengacara kondang itu terasa mau pecah. Dihempaskannya kembali tubuh montok itu ke atas sofa beludru dengan gerakan kasar. Dia mulai membayangkan seberapa hancurnya reputasi klab jika rahasia identitas Arya sebagai pemuas ranjang terbongkar oleh pihak kepolisian."Terus gimana ceritanya dia bisa ngebantai anak orang di gang sempit? Dia itu buta hukum, kalau sampai videonya viral terekam CCTV, repot urusannya!" cerca Viona menuntut penjelasan.Masih mengatur napasnya, Sisca ikut duduk menghempaskan diri di sebelah Viona. "Gue juga belum tahu detail kejadiannya, Vi. Makanya gue langsung nekat lari ke sini buat ngajak lo nyamperin dia ke polsek sekarang juga."Tiba-tiba saja, Sonya mengangkat sebelah tangannya memberi isyarat agar mereka berdua tenang sejenak. Rambut aktris cantik itu masih sedikit basah terkena rinti
"Mampus lu, Bangsat! Badan doang gede kayak gajah, dipukul kayu sekali aja langsung modyar lu kan!" ejek pria bertopi itu sambil meludah ludah penuh kepuasan.Tawa histeris bernada kebanggaan palsu itu bergema nyaring menandakan kemenangan prematur seorang pengecut jalanan. Sekitar sepuluh detik berlalu menembus kesunyian, Arya masih menolak tumbang mencium aspal kotor seperti harapan sang musuh. Perlahan namun pasti, kepala sang Kepala Suku mulai berputar menoleh ke arah belakang membelah udara dingin.Darah segar berwarna merah pekat tampak menetes perlahan dari pelipis kirinya yang sedikit robek. Cairan anyir itu mengalir turun melewati lekuk hidung mancungnya hingga menetes menodai kerah kemeja flanel kucelnya.Sorot mata pemuda pedalaman itu tidak lagi memancarkan kebingungan komikal akibat mainan getar. Tatapannya kini sepenuhnya berubah menjadi insting iblis absolut yang menuntut pencabutan nyawa mangsa.Seketika itu juga, tawa si pencuri terhenti paksa tergantikan oleh raut wa
Melihat empat tongkat kayu diacungkan ke arahnya, Arya justru memiringkan kepalanya dengan tatapan kelewat datar.Sama sekali tidak ada kilatan ketakutan dari bola matanya yang semerah darah segar. Otaknya justru merasa sangat terhina melihat senjata tumpul yang dibawa oleh para manusia modern jalanan ini. Sepertinya, kera-kera kurus ini belum paham bahwa mereka sedang berhadapan dengan predator puncak pelahap daging dari zaman prasejarah."Kalian mencoba merampok Kepala Suku hanya bermodalkan ranting kayu patah yang bahkan tidak memiliki ujung tajam?"Tertawa meremehkan, preman bertato itu meludah kasar ke tanah. "Bacot lu kegedean, Bang! Sikat aja langsung kakinya biar dia nyungsep cium tanah!"Mendapat aba-aba serangan, dua preman terdepan langsung mengayunkan tongkat baseball mereka mengincar lutut Arya.Menghadapi serangan lambat tersebut, Arya sama sekali tidak repot-repot menghindar apalagi memundurkan langkahnya. Dibiarkannya kayu keras itu membentur tulang keringnya dengan su
Mendengar panggilan udik tersebut, dahi ibu warung itu berkerut dalam penuh keheranan."Beli rokok maksudnya, Bang? Sebungkus tiga puluh ribu, mana duitnya sini?" tagih si ibu warung sembari menengadahkan telapak tangannya tanpa rasa takut.Karena permintaan itu, Arya terdiam kaku memikirkan konsep pertukaran barang di dunia modern. Dia sama sekali tidak membawa sepeser pun lembaran kertas bergambar yang sering dipuja-puja oleh manusia zaman ini. Tiba-tiba saja, otaknya teringat pada pesan Viona tentang fungsi serbaguna dari sebuah batu pipih ajaib.Dikeluarkannya ponsel pintar keluaran terbaru seharga belasan juta itu dari saku celana jinsnya."Aku tidak punya kertas gambar, tapi betina hukumku bilang batu sihir ini bisa menelan dan menukar barang apa saja. Cepat tukar batuku ini dengan kotak herbalmu!" ujar Arya menyodorkan hapenya dengan gaya mendominasi.Melihat layar ponsel mahal yang menyala terang itu, ibu warung malah memutar bola matanya dengan raut wajah malas."Oh, abangnya
Berdiri di depan mereka, seorang wanita matang dengan setelan blazer abu-abu yang membungkus tubuh sintalnya dengan sempurna.Wajahnya cantik dengan garis rahang yang tegas, dipermanis oleh kacamata bingkai tipis yang memberikan kesan cerdas sekaligus dingin. Dialah Bu Amara, dosen psikologi perkembangan yang terkenal paling disegani sekaligus menjadi dambaan rahasia banyak mahasiswa pria. Rambut hitam panjangnya diikat rapi ke belakang, memperlihatkan leher jenjangnya yang putih mulus tanpa cacat sedikit pun."Sore, Sarah, Clarissa. Tampaknya kalian sedang asyik membicarakan sesuatu yang sangat menarik sampai tidak sadar saya berdiri di sini," tegur Bu Amara dengan suara bariton yang lembut namun berwibawa.Merespons teguran tersebut, Sarah buru-buru merapikan kemeja BEM miliknya dengan gerakan yang sangat kikuk. Jantungnya berdebar kencang karena takut jika dosen cerdas ini sempat menangkap sepatah kata tentang obrolan vulgar mereka tadi."S-sore, Bu Amara. Ini... kami cuma lagi bah
Seketika suasana lorong VVIP itu berubah menjadi sangat kacau balau. Beberapa wanita berpakaian ketat langsung menjerit keras sambil menutup mata mereka rapat-rapat."Mau pamer kalau punya dia gede kali ya, mentang-mentang lorong VVIP isi cewek cakep semua!" teriak seorang wanita gemuk dengan riasan
"Gila, betinanya mulus banget, beda banget sama betina zamanku dulu!" gumam pria itu dengan rahang menganga.Mengingat pria itu berasal dari masa lalu dan terbangun di masa depan, sesuatu yang hampir mustahil terjadi.Selama ini, dia hanya melihat betina dari sukunya yang berkulit kusam dan penuh de
Sisca sontak mendongakkan kepalanya ke atas dan tertawa terbahak-bahak tanpa canggung. Wanita bergaun merah marun itu menggeser posisi duduknya menempel sangat rapat ke paha berotot Arya."Ya ampun, Arya! Kita ini lagi asyik baca komentar netijen-netijen di internet tentang kamu. Coba deh kamu lihat
"Masa betina kota selemah ini? Di sukuku, betina bisa kawin sambil lari dikejar harimau, masa kamu gini aja udah nyerah-nyerah?" timpal Arya terus melakukan ritual purbanya.Penghuni tubuh Arya, jarang sekali bisa menikmati keenakan seperti ini. Dirinya kemudian ingat sesuatu.Pada masa lampau, dia







