Beranda / Male Adult / Purba Sang Pemuas / Bab 2 Minum Air Toilet

Share

Bab 2 Minum Air Toilet

Penulis: Allina
last update Tanggal publikasi: 2026-03-30 15:53:13

"Masa betina kota selemah ini? Di sukuku, betina bisa kawin sambil lari dikejar harimau, masa kamu gini aja udah nyerah-nyerah?" timpal Arya terus melakukan ritual purbanya.

Penghuni tubuh Arya, jarang sekali bisa menikmati keenakan seperti ini. Dirinya kemudian ingat sesuatu.

Pada masa lampau, dia sering bermain di atas batu, ranting. Setiap main pasti ada gesekan, atau minimal, paha lecet kena batu.

Pas lagi enak-enak main pun, ketika ada mammoth atau sejenis dinosaurus yang mengancam, permainan terpaksa ditunda. Sial memang, zaman dulu kalau main aja taruhannya nyawa.

Kadang waktu lagi main dan hasrat sudah membuncah tak bisa ditundah, mereka harus bermain sambil lari dikejar harimau. Sambil gendongan, satu ngatur nafas, satu ngatur tempo gerakan.

Pun jika dirinya atau betina ingin lanjut dan harimau ada dua, sudah pasti, permainan ini dilanjut di atas pohon yang tinggi, dan mereka duduk di tengah jepitan ranting.

Ya, gimana lagi, zaman dulu memang banyak bahaya.

Tapi yang pria itu nikmati sekarang adalah, dia bisa bermain tanpa bahaya sama sekali. Apalagi, kasurnya empuk, sudah seperti reruntuhan pohon kapuk yang disusun rapi.

Seiring berjalannya detik-detik yang memanas, rasa sakit di area sensitif Sonya perlahan menyusut habis. Rasa ngilu itu berganti menjadi aliran kenikmatan luar biasa yang belum pernah dia rasakan seumur hidupnya. Napas aktris terkenal itu mulai putus-putus dan dadanya naik turun dengan cepat.

"Arya, ampun, aku tahu kamu kepala suku, tapi nggak sampai kayak gini juga! Plis, plis, sumpah, aku bayar kamu tiga kali lipat, sama aku promosiin kamu ke temen-temenku. Plis, terus!" rancau Sonya sambil meremas kuat sprei kasur hingga kusut berantakan.

"Hahaha, bilang saja kamu sudah mulai suka, kan? Betina memang selalu gengsi kalau baru awal-awal!" ledek Arya sambil memberikan senyuman mengejek.

"Ahhh! Iya, aku ngaku aku suka!" pinta Sonya yang akhirnya menyerah total pada hasratnya sendiri.

Arya tersenyum puas mendengar pengakuan jujur itu. Pria itu langsung menuruti permintaan Sonya tanpa membuang waktu.

Detik demi detik terus berlalu tanpa tanda-tanda berhenti sama sekali.

Tenaga Arya seolah tidak ada habisnya layaknya mesin giling raksasa. Keringat membasahi seluruh tubuh mereka berdua hingga saling menempel erat.

Tepat pada detik berikutnya, tubuh Sonya mengejang hebat seperti tersengat petir, diikuti dengan Arya yang juga merasakan hal serupa. Keduanya bernapas tersengal-sengal di atas kasur yang sudah basah oleh keringat.

Sonya langsung lemas dan memejamkan matanya rapat-rapat karena kelelahan luar biasa.

Melihat betina di bawahnya diam tak berkutik, Arya hanya tertawa pelan dan menepuk paha Sonya. Dia merasa sangat lengket dan gerah karena keringat membanjiri sekujur badannya.

"Argh, emang wanita zaman sekarang kayak gini, ya? Badan bagus, molek, putih, beda banget sama gadis-gadis masa purba dulu. Tapi, mereka ga tahan lama. Percuma kayaknya, kalau cantik aja. Mending aku cari gadis-gadis lain yang lebih kuat!" batin Arya setelah membaringkan tubuh Sonya di atas ranjang.

Pria itu menyingkirkan tubuh Sonya dengan pelan, lalu Arya berjalan tanpa busana mencari sumber mata air di dalam ruangan aneh itu.

Langkahnya terhenti sempurna di depan sebuah pintu kaca transparan.

Di balik kaca itu, Arya melihat benda putih berbentuk mangkuk besar menempel kuat di lantai. Lalu ada tiang besi panjang menancap di tembok atasnya.

"Wah, pasti ini tempat khusus buat minum dan mandi para pejantan elit kayak si Arya! Tapi kok bentuknya aneh banget dan kecil begini? Zaman dulu, semua batu sama kayu, ini benar-benar gila!" gumam Arya sambil menggaruk dadanya yang dipenuhi keringat.

Tanpa ragu sedikit pun, Arya berjalan jongkok mendekati mangkuk putih tersebut. Dia menjulurkan lidahnya dan bersiap meminum air genangan dari lubang toilet itu. Namun, kaki kasarnya tidak sengaja menginjak pedal aneh di lantai samping mangkuk.

Air di dalam mangkuk itu tiba-tiba berputar kencang, menyusut, dan mengeluarkan suara sedotan sangat keras menakutkan.

"Gila! Airnya disedot monster pusaran batu! Aduh, kabur, ini kayak belalang sembah, nanti gigit!" teriak Arya sambil melompat mundur karena kaget setengah mati melihat kejadian horor itu.

Arya kemudian mengalihkan pandangannya ke arah tiang besi panjang di dinding seberang. Tangan kasarnya iseng meraih dan memutar sebuah tuas kecil di dekat tiang shower itu. Dia tidak tahu itu benda apa dan coba memutar tuasnya ke arah merah, sebelum akhirnya tuas itu mengeluarkan air.

Seketika itu juga, air jernih menyembur deras dari atas tepat mengenai kepalanya.

Pria purba itu kembali menjerit panik melolong-lolong. "Tolong, tolong, Dewa jangan turunkan hujan di dalam gua ajaib ini! Dewa, kenapa hujan ini sangat panas? Dewa, apa kau marah denganku karena aku tidak segera membuat anak?"

Arya masih berlarian di dalam kamar.

Melihat tingkah Arya, tentu Sonya sedikit curiga. Arya yang dia kenal, sangat-sangat culun dan gampang keluar walau hanya dimainkan pakai tangan. Masalahnya, setiap kali Sonya menyewa Arya, dia hanya ingin curhat saja.

Tapi malam ini jauh berbeda bagi Sonya, Arya memberinya servis setara gigolo bintang lima. Bukan, bukan bintang lima. Sonya bisa memberinya bintang sepuluh kalau ada.

Saat ingin menghentikan Arya yang masih loncat-loncat dengan badan sedikit memerah karena air shower, dia tidak bisa berbuat banyak ketika Arya kembali mendorongnya ke ranjang.

Napas Arya memburu kencang mencari udara segar. Dia merasa bahwa goa ini sangat berbahaya, penuh dengan sihir jahat, dan tidak masuk akal.

Insting survivalnya berkata, dia harus segera melarikan diri dari tempat ini secepat mungkin.

Pria itu melihat sepotong kemeja tipis milik Arya asli tergeletak di lantai dekat sofa. Dia mencoba memakai kemeja berwarna merah marun itu dengan susah payah.

Namun, otot dada dan lengannya yang kini mengembang efek jiwa purba membuat kemeja itu langsung robek parah di bagian kancing dan ketiak.

"Baju macam apa ini? Sempit banget dan bikin dada sesak napas! Sialan, aku harus cari padang rumput, goa ini penuh sihir. Aku nggak mau dikutuk Dewata!" gerutu Arya jengkel luar biasa.

Kemudian, Arya melempar sisa kemeja robek itu ke sembarang arah hingga tersangkut di atas lampu tidur.

Tanpa mengenakan sehelai benang pun, Arya membuka pintu kamar VIP itu dengan sekali tarikan keras tak terkira. Pintu tebal berpelitur mahal itu sampai terlepas dari engselnya dan berdebum jatuh ke lantai.

Arya melangkah santai keluar ke lorong klab malam yang sangat terang benderang.

Di sepanjang lorong itu, belasan wanita hidung belang elit dan staf klab sedang berjalan hilir mudik.

Mereka semua menghentikan langkah seketika secara bersamaan. Mata mereka melotot sempurna melihat kemunculan sosok pria kekar yang baru saja menghancurkan pintu kamar VVIP.

"Astaga naga! Itu si Arya, kan? Kenapa dia PD banget tanpa busana, mana bawa pusaka segede botol kecap."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Purba Sang Pemuas   Bab 76 Napi Rakit Tenda

    Gara-gara rentetan pertanyaan tajam itu, si polisi penjaga mengusap keringat dingin di leher belakangnya. Pria berseragam itu menunjuk ke arah lorong tahanan dengan jari yang bergetar."Ibu berdua nggak tahu seberapa gilanya pria raksasa yang Ibu bawa itu! Tadi sore pas baru masuk sel nomor tiga, dia langsung diajak ribut sama kawanan preman tatoan di dalam sana.""Terus klien saya diapain sama preman sel itu, Pak?!" potong Sisca memekik cemas teringat wajah tampan Arya."Bukan klien Ibu yang diapain, Bu! Tahanan satu sel yang isinya enam preman terminal itu sekarang teler semua nggak sadarkan diri! Klien Ibu cuma butuh waktu tiga detik buat bikin mereka pingsan numpuk di pojokan kayak ikan mati!"Menelan ludah dengan susah payah, Viona hanya bisa memijat pangkal hidungnya meratapi kelakuan bar-bar andalannya. "Habis ngebantai preman satu sel, klien saya ngapain lagi di dalam sana, Pak?""Itu dia masalah utamanya, Bu! Habis bikin orang pingsan muntah darah, dia malah senyum-senyum nge

  • Purba Sang Pemuas   Bab 75 Polisi Mohon Ampun

    "Gigolo purba itu beneran nggak bisa dikasih napas tenang sehari aja buat nggak bikin onar, ya?!" rutuk Viona memijat pelipisnya.Gara-gara stres mendadak, urat kepala sang pengacara kondang itu terasa mau pecah. Dihempaskannya kembali tubuh montok itu ke atas sofa beludru dengan gerakan kasar. Dia mulai membayangkan seberapa hancurnya reputasi klab jika rahasia identitas Arya sebagai pemuas ranjang terbongkar oleh pihak kepolisian."Terus gimana ceritanya dia bisa ngebantai anak orang di gang sempit? Dia itu buta hukum, kalau sampai videonya viral terekam CCTV, repot urusannya!" cerca Viona menuntut penjelasan.Masih mengatur napasnya, Sisca ikut duduk menghempaskan diri di sebelah Viona. "Gue juga belum tahu detail kejadiannya, Vi. Makanya gue langsung nekat lari ke sini buat ngajak lo nyamperin dia ke polsek sekarang juga."Tiba-tiba saja, Sonya mengangkat sebelah tangannya memberi isyarat agar mereka berdua tenang sejenak. Rambut aktris cantik itu masih sedikit basah terkena rinti

  • Purba Sang Pemuas   Bab 74 Gajah Masuk Kandang

    "Mampus lu, Bangsat! Badan doang gede kayak gajah, dipukul kayu sekali aja langsung modyar lu kan!" ejek pria bertopi itu sambil meludah ludah penuh kepuasan.Tawa histeris bernada kebanggaan palsu itu bergema nyaring menandakan kemenangan prematur seorang pengecut jalanan. Sekitar sepuluh detik berlalu menembus kesunyian, Arya masih menolak tumbang mencium aspal kotor seperti harapan sang musuh. Perlahan namun pasti, kepala sang Kepala Suku mulai berputar menoleh ke arah belakang membelah udara dingin.Darah segar berwarna merah pekat tampak menetes perlahan dari pelipis kirinya yang sedikit robek. Cairan anyir itu mengalir turun melewati lekuk hidung mancungnya hingga menetes menodai kerah kemeja flanel kucelnya.Sorot mata pemuda pedalaman itu tidak lagi memancarkan kebingungan komikal akibat mainan getar. Tatapannya kini sepenuhnya berubah menjadi insting iblis absolut yang menuntut pencabutan nyawa mangsa.Seketika itu juga, tawa si pencuri terhenti paksa tergantikan oleh raut wa

  • Purba Sang Pemuas   Bab 73 Ulat Tanah Bergetar

    Melihat empat tongkat kayu diacungkan ke arahnya, Arya justru memiringkan kepalanya dengan tatapan kelewat datar.Sama sekali tidak ada kilatan ketakutan dari bola matanya yang semerah darah segar. Otaknya justru merasa sangat terhina melihat senjata tumpul yang dibawa oleh para manusia modern jalanan ini. Sepertinya, kera-kera kurus ini belum paham bahwa mereka sedang berhadapan dengan predator puncak pelahap daging dari zaman prasejarah."Kalian mencoba merampok Kepala Suku hanya bermodalkan ranting kayu patah yang bahkan tidak memiliki ujung tajam?"Tertawa meremehkan, preman bertato itu meludah kasar ke tanah. "Bacot lu kegedean, Bang! Sikat aja langsung kakinya biar dia nyungsep cium tanah!"Mendapat aba-aba serangan, dua preman terdepan langsung mengayunkan tongkat baseball mereka mengincar lutut Arya.Menghadapi serangan lambat tersebut, Arya sama sekali tidak repot-repot menghindar apalagi memundurkan langkahnya. Dibiarkannya kayu keras itu membentur tulang keringnya dengan su

  • Purba Sang Pemuas   Bab 72 Batu Sihir Dicuri

    Mendengar panggilan udik tersebut, dahi ibu warung itu berkerut dalam penuh keheranan."Beli rokok maksudnya, Bang? Sebungkus tiga puluh ribu, mana duitnya sini?" tagih si ibu warung sembari menengadahkan telapak tangannya tanpa rasa takut.Karena permintaan itu, Arya terdiam kaku memikirkan konsep pertukaran barang di dunia modern. Dia sama sekali tidak membawa sepeser pun lembaran kertas bergambar yang sering dipuja-puja oleh manusia zaman ini. Tiba-tiba saja, otaknya teringat pada pesan Viona tentang fungsi serbaguna dari sebuah batu pipih ajaib.Dikeluarkannya ponsel pintar keluaran terbaru seharga belasan juta itu dari saku celana jinsnya."Aku tidak punya kertas gambar, tapi betina hukumku bilang batu sihir ini bisa menelan dan menukar barang apa saja. Cepat tukar batuku ini dengan kotak herbalmu!" ujar Arya menyodorkan hapenya dengan gaya mendominasi.Melihat layar ponsel mahal yang menyala terang itu, ibu warung malah memutar bola matanya dengan raut wajah malas."Oh, abangnya

  • Purba Sang Pemuas   Bab 71 Herbal Pembakar Jiwa

    Berdiri di depan mereka, seorang wanita matang dengan setelan blazer abu-abu yang membungkus tubuh sintalnya dengan sempurna.Wajahnya cantik dengan garis rahang yang tegas, dipermanis oleh kacamata bingkai tipis yang memberikan kesan cerdas sekaligus dingin. Dialah Bu Amara, dosen psikologi perkembangan yang terkenal paling disegani sekaligus menjadi dambaan rahasia banyak mahasiswa pria. Rambut hitam panjangnya diikat rapi ke belakang, memperlihatkan leher jenjangnya yang putih mulus tanpa cacat sedikit pun."Sore, Sarah, Clarissa. Tampaknya kalian sedang asyik membicarakan sesuatu yang sangat menarik sampai tidak sadar saya berdiri di sini," tegur Bu Amara dengan suara bariton yang lembut namun berwibawa.Merespons teguran tersebut, Sarah buru-buru merapikan kemeja BEM miliknya dengan gerakan yang sangat kikuk. Jantungnya berdebar kencang karena takut jika dosen cerdas ini sempat menangkap sepatah kata tentang obrolan vulgar mereka tadi."S-sore, Bu Amara. Ini... kami cuma lagi bah

  • Purba Sang Pemuas   Bab 5 Kuda Raksasa Bermesin

    Melihat kelakuan barbar itu, Sonya langsung menjerit histeris. Aktris itu buru-buru merentangkan kedua tangannya untuk menghalangi laju tubuh besar Arya."Berhenti, Arya! Ini tuh mobil buat jalan-jalan di kota, benda ini aman dan nggak bakal gigit kamu sama sekali!" omel Sonya sambil memelototi waja

  • Purba Sang Pemuas   Bab 1 Pusaka Purba di Hutan beton

    "Gila, betinanya mulus banget, beda banget sama betina zamanku dulu!" gumam pria itu dengan rahang menganga.Mengingat pria itu berasal dari masa lalu dan terbangun di masa depan, sesuatu yang hampir mustahil terjadi.Selama ini, dia hanya melihat betina dari sukunya yang berkulit kusam dan penuh de

  • Purba Sang Pemuas   Bab 4 Duel Melawan Kepala Mobil

    Tanpa menunggu persetujuan, tangan kekar Arya langsung melingkar kuat di pinggang ramping Sisca. Wanita pemilik klab itu menjerit kaget saat tubuhnya ditarik paksa. Tubuh Sisca langsung menempel rapat pada dada bidang Arya yang penuh keringat."Lepaskan aku, Arya! Kamu benar-benar sudah kehilangan a

  • Purba Sang Pemuas   Bab 3 Pusaka Botol Kecap

    Seketika suasana lorong VVIP itu berubah menjadi sangat kacau balau. Beberapa wanita berpakaian ketat langsung menjerit keras sambil menutup mata mereka rapat-rapat."Mau pamer kalau punya dia gede kali ya, mentang-mentang lorong VVIP isi cewek cakep semua!" teriak seorang wanita gemuk dengan riasan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status