MasukPria berdasi rapi itu melangkah arogan menghampiri Madun sambil melempar senyum sinis yang menyebalkan, membawa koper kulit hitam besar di tangan kanannya.Sarah berdiri tepat di samping Madun, mengenakan blus putih pas badan yang memperlihatkan gundukan buah dadanya yang kencang serta rok pensil hitam pendek yang membungkus pinggul padatnya dengan sangat sempurna.Wajah Sarah tampak menatap tajam penuh curiga, sementara paha mulusnya yang jenjang terlihat kontras di bawah terik matahari halaman ruko yang mulai meninggi."Selamat pagi, Tuan Madun. Saya utusan khusus dari korporasi properti, datang membawa solusi damai agar Anda tidak repot melawan raksasa bisnis," sapa pria itu congkak.Madun hanya terdiam tenang, memperlihatkan otot lengan bidang dan dada bidang yang menonjol di balik kaus oblong hitamnya, sementara wajah tampannya memancarkan wibawa dingin yang mematikan."Simpan basa-basi busuk itu di dalam koper kamu, dan langsung katakan apa mau bos besar kalian datang meng
Madun menarik napas pelan, matanya menyipit tajam menatap selembar dokumen resmi berlogo korporasi raksasa yang tercetak jelas di dalam amplop tersebut.Sarah yang berdiri di sampingnya langsung merapatkan tubuh sintalnya, memperlihatkan gundukan buah dadanya yang kencang menempel di lengan Madun saat ia ikut membaca isi surat itu.Blus putih ketat yang dikenakan Sarah tampak semakin membingkai pinggang rampingnya, sementara rok pensil hitam pendek memperlihatkan paha mulusnya yang jenjang di bawah sorot lampu balai desa."Ini surat perjanjian pengalihan paksa lahan desa, Mas! Jadi dalang di balik semua teror ini bukan preman biasa, tapi perusahaan properti besar yang mau gusur seluruh pemukiman kita!" seru Sarah cemas.Madun mengepalkan tangannya hingga otot lengan bidang dan dada bidangnya menonjol kuat di balik kaus oblong hitamnya, sementara rahang tegasnya mengeras menahan amarah yang membara.Wajah tampan Madun memancarkan ekspresi dingin yang luar biasa, bukan karena taku
Pukul tiga pagi, suara alarm darurat berbunyi nyaring dari pos ronda pemuda desa, membangunkan seluruh warga yang masih terlelap lelap.Madun langsung melompat dari tempat tidurnya, mengenakan kaus oblong hitam ketat yang mencetak otot lengan bidang dan dada bidangnya dengan sempurna.Sarah menyusul di belakangnya dengan daster sutra tipis warna merah marun yang memperlihatkan lekuk tubuh sintal serta gundukan buah dadanya yang tampak naik-turun menahan panik."Mas Madun, ada asap hitam membubung tinggi dari gudang penyimpanan pupuk di ujung utara desa!" lapor ketua regu pemuda desa dengan napas terengah-engah di depan pintu ruko.Madun mengencangkan ikat pinggangnya dengan gerakan maskulin, lalu menatap tajam Sarah yang merapikan tali dasternya yang sempat melorot di bahu mulusnya."Tenang, kumpulkan semua anggota Angkatan Muda Desa sekarang juga, kita buktikan kalau desa kita bukan tempat main-main!" perintah Madun dengan suara berat bernada rendah.Sesampainya di lokasi keba
"Mas Madun, setelah kejadian kemarin dengan para pejabat culas itu, saya rasa kita butuh barisan pengamanan mandiri dari pemuda desa," usul Sarah serius saat mereka sedang merapikan barang di toko.Sarah malam itu tampak sangat menawan dalam balutan kemeja putih pas badan yang menonjolkan lekuk tubuh sintal serta gundukan buah dadanya yang kencang, dipadukan dengan celana bahan hitam ketat yang membuat kaki jenjangnya terlihat semakin memukau.Madun yang sedang mengangkat karung beras seberat lima puluh kilogram menghentikan langkahnya, memperlihatkan otot lengan bidang dan dada bidang yang menonjol di balik kaus oblongnya yang basah oleh keringat. Wajah tampannya dengan rahang tegas tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya mengangguk menyetujui ide cemerlang istrinya tersebut."Ide bagus, Sarah. Biar mereka nggak gampang diinjak-injak sama preman berdasi atau pejabat korup kayak Harun kemarin," jawab Madun dengan suara berat dan jantan yang menenangkan.Siska yang kebetulan lewa
Suasana halaman ruko yang tadinya riuh oleh sorak-sorai kemenangan mendadak kembali menegang ketika sebuah mobil sedan hitam milik Harun yang sempat melarikan diri tiba-tiba berputar arah dan berhenti tepat di depan pintu masuk. Harun turun dengan wajah merah padam menahan malu, amarahnya sudah mencapai ubun-ubun karena merasa dipermalukan di depan warganya sendiri. Ia melangkah maju dengan gaya arogan, menuding-nuding wajah Madun sambil berteriak histeris penuh ancaman. "Kamu pikir kamu siapa, Madun! Beraninya kamu mempermalukan pejabat negara di depan umum! Saya bisa pastikan hidup kamu dan istrimu hancur lebur mulai detik ini juga!" bentak Harun dengan suara melengking yang memecah keheningan sore itu.Sarah yang berdiri di samping Madun langsung mendengus kesal, matanya melotot tajam memperlihatkan pesona wanita karier yang mematikan di balik blus sutra biru tua yang membalut tubuh sintal dan padat berisinya. "Hei, pejabat bermuka dua! Belum cukup kamu bikin malu instansi sendir
Seminggu setelah pertemuan emosional di ruang belakang ruko, suasana desa yang tenang kembali terusik oleh deru mesin mobil mewah yang sudah sangat akrab di telinga warga. Sarah kembali datang, namun kali ini auranya jauh lebih cerah dan terbuka. Ia melangkah keluar dari mobil mengenakan terusan berwarna biru langit yang membalut tubuh rampingnya dengan sempurna, memperlihatkan lekuk pinggang yang indah dan kaki jenjang yang memikat setiap mata pria yang memandang. Rambutnya tergerai indah, dan wajahnya yang biasanya kaku dengan kesan profesional kini tampak lebih lembut dan berseri-seri, seolah beban berat yang selama ini ia pikul telah terangkat sepenuhnya dari pundaknya.Madun yang sedang menata tumpukan karung beras dengan otot lengan yang menonjol dan kaus oblong yang basah oleh keringat, segera menyambut Sarah di depan ruko. "Kembali lagi, Sarah? Saya tidak menyangka Anda akan datang secepat ini," sapa Madun dengan suara berat dan jantan. Ia menyeka keringat di dahinya dengan
Madun bener-bener cuma mau memastikan kamu masuk ke dalam kamar untuk istirahat fajar ini tanpa perlu dikotori hawa nafsu birahi liar setelan pabrik, cyiiinnn!" seru Madun bernapas lega sedalam-dalamnya sambil membuka grendel pintu pagar anyaman bambu, meresapi kembali getaran asmara suci yang murn
"Waduh, gawat! Madun, Rini! Pak Bos beneran bangun!" bisik Siska sambil kelabakan menarik daster satin ungunya yang tadi melorot sampai pinggang. Visual Siska dalam kondisi panik benar-benar luar biasa; dadanya yang montok bergoyang hebat saat ia berusaha merapikan rambutnya yang acak-acakan."Tu
Sore menjelang malam Jum'at, Madun mau tak mau kembali ke rumah Siska sesuai jadwal periksa yang ditetapkan Siska.Sebenarnya Madun merasa aneh karena diminta ke rumah bukan ke klinik. Tapi, karena tidak tahan ingin berduaan dengan Bidan Siska yang cantik, Madun menurut saja. "Madun, sebelum kita
"Madun! Di sini!" bisik Siska dari balik gerbang rumahnya yang tinggi setelah Madun mengetuknya.Malam itu, Siska terlihat sangat berbeda. Ia hanya mengenakan daster satin tipis berwarna putih tulang yang hampir transparan jika terkena cahaya lampu teras. Rambutnya yang hitam legam dibiarkan teru







