Home / Urban / Pusaka Warisan Semut Rangrang / Bab 42: Pusaka Semut Rangrang

Share

Bab 42: Pusaka Semut Rangrang

Author: Ibrahiman
last update publish date: 2026-05-09 09:56:50
​"Mas Madun, kok malah senyum-senyum sendiri? Masih berasa ya sisa yang tadi?" tanya Dara sambil merapikan kaos birunya yang sempat melintir. Visual Dara sore itu memang luar biasa; keringat tipis di dahi dan leher putihnya membuat kulitnya yang halus tampak berkilau. Paha mulusnya yang kencang masih terlihat gemetar sedikit, menambah kesan seksi yang alami bagi gadis seumurannya.

​Madun merogoh saku celana kulinya, mengeluarkan sebuah botol kecil berisi minyak berwarna kemerahan. "Bukan itu,
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 220: Hasrat Membara Di Sela Rak Sembako

    ​Hujan gerimis fajar yang mengguyur wilayah rukun warga membuat suasana sekitar pasar kelurahan menjadi sangat lengang dan sunyi sepi dari aktivitas pembeli pagi ini. Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas and hidung mancung langsung menegakkan punggung tegapnya yang kekar sekuat tiang beton pasar, melirik ke arah pintu depan ruko kelontong mereka yang sengaja ditutup setengah tiang demi menghalau hembusan angin subuh yang dingin menusuk kulit.​"Mumpung toko masih sepi melompong and belum ada satu pun pelanggan kelurahan yang datang membeli beras fajar ini, sepertinya tidak ada salahnya kalau kita fokus jantan menghangatkan suasana di dalam ruko ini bersama-sama, Istriku Mbak Vina!" seru Madun lantang sambil memindahkan sekat papan tripleks di dekat meja kasir. Langkah tegap Madun yang gagah berani memancarkan pesona kuli panggul pasar tiga ton yang selalu siap memberikan kebahagiaan lahir batin yang murni, adem, dan tulus bagi wanita pilihan hatinya.​"Aduh Mas Madun s

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 219:

    Kemesraan Manis Di Balik Etalase​Petugas bea cukai yang lMadun menegakkan punggung tegapnya yang kekar sekuat tiang beton pasar, bersiap membuka pintu etalase kaca depan demi memulai aktivitas dagang perdana mereka bersama sang istri tercinta.​"Ayo Istriku Mbak Vina, mari kita tata stoples permen and tumpukan mie instan ini secara interaktif di rak paling depan agar menarik perhatian para pembeli rukun tetangga desa kita!" seru Madun lantang sambil mengangkat dua kotak kardus besar berisi minyak goreng sendirian menggunakan kekuatan otot lengan jantannya. Langkah tegap Madun yang gagah berani memancarkan pesona kuli panggul pasar tiga ton yang selalu siap menjadi kepala keluarga teladan bagi masa depan rumah tangga mereka.​"Siap Suamiku Mas Madun yang paling tampan, ini gua udah siapin label harga baru biar para pelanggan kelurahan tidak perlu bingung saat mengantre di depan meja kasir!" sahut Vina yang berjalan interaktif keluar dari balik meja etalase sambil membawa spidol hitam

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 218: Serbuan Beras Di Pagi Hari

    ​Fajar menyingsing dengan kejutan yang menggelegar dari balik dinding gudang penyimpanan sembako ruko kelontong baru mereka. Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas and hidung mancung langsung menegakkan punggung tegapnya yang kekar sekuat tiang beton pasar, melompat sigap dari atas kasur untuk menahan tumpukan karung beras seberat lima puluh kilogram yang hampir merubuhkan rak pajangan utama fajar ini.​"Waduh Istriku Mbak Vina, suara gemuruh tadi ternyata bukan gempa bumi ataupun serangan tikus tanah raksasa purba, melainkan ikatan tali rak kayu peninggalan pemilik ruko lama yang sudah lapuk dimakan usia kelurahan, cyiiinnn!" seru Madun lantang sambil menahan beban berat karung-karung tersebut sendirian menggunakan kekuatan otot lengan jantannya. Madun meresapi kembali getaran kerja keras yang murni, adem, dan tulus demi menyelamatkan aset modal usaha rukun warga mereka agar tidak hancur berantakan tertumpah ke lantai semen subuh ini.​"Ya ampun Mas Madun suamiku yang p

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 217: Tamu Tak Diundang Kolong Ranjang

    ​​"Ya ampun Mas Madun suamiku yang tampan, gua kira tadi itu beneran naga penunggu kebun tebu yang mau menguji nyali jantan kamu sebelum menyentuh kesucian tubuh gua!" sahut Vina yang berjalan interaktif mendekat sambil mengelus dadanya yang naik turun karena sempat terkejut. Gadis desa penurut berlesung pipit itu sengaja memajukan langkah gemulainya hingga daster satin warna merah tipis yang membungkus ketat tubuh seksinya nampak meliuk indah, membuat suasana kamar pengantin baru itu kembali menghangat merem melek tertimpa embun subuh.​Visual Vina yang berdiri di samping ranjang bambu setelah kepanikan ular mainan itu bener-bener menjelma menjadi pemandangan maut yang sanggup merobek paksa seluruh saraf pertahanan mata jantan pembaca laki-laki se-Indonesia. Kain daster merah tipis tanpa lengan yang melekat ketat akibat sisa keringat dingin nampak menempel transparan membungkus kulit kuning langsatnya, menonjolkan dengan sangat jelas gundukan sepasang buah dadanya yang luar biasa be

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 216: Malam Pertama Di Tengah Sawah

    ​Meresapi suasana malam pengantin yang murni, adem, dan tulus bersama belahan jiwa pilihan warga rukun tetangga kelurahan fajar ini.​"Aduh Mas Madun suamiku yang perkasa, kenapa pintunya harus dikunci rapat sekali, padahal kan udara malam di sekitar rukun warga kita sedang sangat gerah!" sahut Vina yang berjalan interaktif keluar dari balik tirai kamar sambil membawa segelas susu putih hangat untuk sang suami tercinta. Gadis desa penurut berlesung pipit yang baru saja melepas sanggul pengantinnya itu sengaja memajukan langkah gemulainya hingga lekuk tubuhnya yang sintal padat berisi nampak meliuk indah, membuat bayangan tubuhnya di dinding kamar ikut bergetar manja.​Visual Vina di bawah temaram cahaya lampu petromak kamar pengantin malam itu bener-bener menjelma menjadi pemandangan maut yang sanggup merobek paksa seluruh saraf pertahanan mata jantan pembaca laki-laki se-Indonesia. Kain daster satin warna merah tipis yang membungkus ketat tubuh seksinya nampak menempel transparan aki

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 215: Ikatan Suci Di Serambi Masjid

    Madun dengan mata berkaca-kaca menatap meja akad di depan mimbar. Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas and hidung mancung langsung menegakkan punggung tegapnya yang kekar sekuat tiang beton pasar, meresapi detik-detik paling syahdu, adem, and penuh air mata keharuan saat ia bersiap mengucap janji suci di hadapan penghulu kelurahan pagi ini.​"Mempelai wanita dipersilakan memasuki ruangan saf utama untuk bersanding bersama calon imamnya!" panggil kiai desa dengan suara bergetar interaktif penuh wibawa spiritual yang merasuk sukma. Vina yang mengenakan gaun kebaya pengantin putih bersih nampak melangkah gemulai dengan anggun menembus barisan warga, membuat gaun panjangnya yang membungkus ketat tubuh seksinya yang sintal padat berisi nampak bergoyang lembut menyapu lantai marmer masjid dengan penuh kesucian cinta yang tulus bersih.​Visual Vina di tengah riuhnya tangis haru saksi pernikahan fajar itu bener-bener menjelma menjadi pemandangan maut yang sanggup merobek paksa

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 30: Jatah Malam Madun

    "Mas Madun! Pelan-pelan dong, ini gubuk warisan kakek aku bisa roboh kalau Mas hantamnya pakai tenaga kuli pasar begitu!" bisik Rini sambil mencengkeram erat lengan Madun yang berurat dan keras seperti batang pohon mahoni.Madun hanya menyeringai, memperlihatkan deretan giginya yang rapi di bawah k

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 29: Gempuran Linggis Malam

    "Mas Madun, kok belum ganti baju? Itu keringat di dada Mas kalau dibiarin bisa jadi ladang jamur, lho," goda Rini saat menghampiri Madun di belakang gudang.Madun tertawa kecil sambil mengusap lehernya yang kokoh. "Namanya juga kuli, Rin. Keringat ini adalah tanda perjuangan cari nafkah. Lagian, ka

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 27: Gebrakan Linggis di Balik Tirai Klinik

    "Aduh, Mas Madun! Jangan kencang-kencang peluknya, nanti daster aku sobek lagi!" bisik Rini sambil mencubit manja lengan Madun yang keras berotot."Habisnya kamu empuk banget, Rin. Beda sama karung beras yang tiap hari saya panggul," jawab Madun sambil melirik nakal ke arah paha Rini yang tersingka

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 25: Razia Mendadak di Balik Tumpukan Karung

    ​"Waduh, gawat! Madun, Rini! Pak Bos beneran bangun!" bisik Siska sambil kelabakan menarik daster satin ungunya yang tadi melorot sampai pinggang. Visual Siska dalam kondisi panik benar-benar luar biasa; dadanya yang montok bergoyang hebat saat ia berusaha merapikan rambutnya yang acak-acakan.​"Tu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status