LOGINHujan gerimis fajar yang mengguyur wilayah rukun warga membuat suasana sekitar pasar kelurahan menjadi sangat lengang dan sunyi sepi dari aktivitas pembeli pagi ini. Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas and hidung mancung langsung menegakkan punggung tegapnya yang kekar sekuat tiang beton pasar, melirik ke arah pintu depan ruko kelontong mereka yang sengaja ditutup setengah tiang demi menghalau hembusan angin subuh yang dingin menusuk kulit."Mumpung toko masih sepi melompong and belum ada satu pun pelanggan kelurahan yang datang membeli beras fajar ini, sepertinya tidak ada salahnya kalau kita fokus jantan menghangatkan suasana di dalam ruko ini bersama-sama, Istriku Mbak Vina!" seru Madun lantang sambil memindahkan sekat papan tripleks di dekat meja kasir. Langkah tegap Madun yang gagah berani memancarkan pesona kuli panggul pasar tiga ton yang selalu siap memberikan kebahagiaan lahir batin yang murni, adem, dan tulus bagi wanita pilihan hatinya."Aduh Mas Madun s
Kemesraan Manis Di Balik EtalasePetugas bea cukai yang lMadun menegakkan punggung tegapnya yang kekar sekuat tiang beton pasar, bersiap membuka pintu etalase kaca depan demi memulai aktivitas dagang perdana mereka bersama sang istri tercinta."Ayo Istriku Mbak Vina, mari kita tata stoples permen and tumpukan mie instan ini secara interaktif di rak paling depan agar menarik perhatian para pembeli rukun tetangga desa kita!" seru Madun lantang sambil mengangkat dua kotak kardus besar berisi minyak goreng sendirian menggunakan kekuatan otot lengan jantannya. Langkah tegap Madun yang gagah berani memancarkan pesona kuli panggul pasar tiga ton yang selalu siap menjadi kepala keluarga teladan bagi masa depan rumah tangga mereka."Siap Suamiku Mas Madun yang paling tampan, ini gua udah siapin label harga baru biar para pelanggan kelurahan tidak perlu bingung saat mengantre di depan meja kasir!" sahut Vina yang berjalan interaktif keluar dari balik meja etalase sambil membawa spidol hitam
Fajar menyingsing dengan kejutan yang menggelegar dari balik dinding gudang penyimpanan sembako ruko kelontong baru mereka. Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas and hidung mancung langsung menegakkan punggung tegapnya yang kekar sekuat tiang beton pasar, melompat sigap dari atas kasur untuk menahan tumpukan karung beras seberat lima puluh kilogram yang hampir merubuhkan rak pajangan utama fajar ini."Waduh Istriku Mbak Vina, suara gemuruh tadi ternyata bukan gempa bumi ataupun serangan tikus tanah raksasa purba, melainkan ikatan tali rak kayu peninggalan pemilik ruko lama yang sudah lapuk dimakan usia kelurahan, cyiiinnn!" seru Madun lantang sambil menahan beban berat karung-karung tersebut sendirian menggunakan kekuatan otot lengan jantannya. Madun meresapi kembali getaran kerja keras yang murni, adem, dan tulus demi menyelamatkan aset modal usaha rukun warga mereka agar tidak hancur berantakan tertumpah ke lantai semen subuh ini."Ya ampun Mas Madun suamiku yang p
"Ya ampun Mas Madun suamiku yang tampan, gua kira tadi itu beneran naga penunggu kebun tebu yang mau menguji nyali jantan kamu sebelum menyentuh kesucian tubuh gua!" sahut Vina yang berjalan interaktif mendekat sambil mengelus dadanya yang naik turun karena sempat terkejut. Gadis desa penurut berlesung pipit itu sengaja memajukan langkah gemulainya hingga daster satin warna merah tipis yang membungkus ketat tubuh seksinya nampak meliuk indah, membuat suasana kamar pengantin baru itu kembali menghangat merem melek tertimpa embun subuh.Visual Vina yang berdiri di samping ranjang bambu setelah kepanikan ular mainan itu bener-bener menjelma menjadi pemandangan maut yang sanggup merobek paksa seluruh saraf pertahanan mata jantan pembaca laki-laki se-Indonesia. Kain daster merah tipis tanpa lengan yang melekat ketat akibat sisa keringat dingin nampak menempel transparan membungkus kulit kuning langsatnya, menonjolkan dengan sangat jelas gundukan sepasang buah dadanya yang luar biasa be
Meresapi suasana malam pengantin yang murni, adem, dan tulus bersama belahan jiwa pilihan warga rukun tetangga kelurahan fajar ini."Aduh Mas Madun suamiku yang perkasa, kenapa pintunya harus dikunci rapat sekali, padahal kan udara malam di sekitar rukun warga kita sedang sangat gerah!" sahut Vina yang berjalan interaktif keluar dari balik tirai kamar sambil membawa segelas susu putih hangat untuk sang suami tercinta. Gadis desa penurut berlesung pipit yang baru saja melepas sanggul pengantinnya itu sengaja memajukan langkah gemulainya hingga lekuk tubuhnya yang sintal padat berisi nampak meliuk indah, membuat bayangan tubuhnya di dinding kamar ikut bergetar manja.Visual Vina di bawah temaram cahaya lampu petromak kamar pengantin malam itu bener-bener menjelma menjadi pemandangan maut yang sanggup merobek paksa seluruh saraf pertahanan mata jantan pembaca laki-laki se-Indonesia. Kain daster satin warna merah tipis yang membungkus ketat tubuh seksinya nampak menempel transparan aki
Madun dengan mata berkaca-kaca menatap meja akad di depan mimbar. Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas and hidung mancung langsung menegakkan punggung tegapnya yang kekar sekuat tiang beton pasar, meresapi detik-detik paling syahdu, adem, and penuh air mata keharuan saat ia bersiap mengucap janji suci di hadapan penghulu kelurahan pagi ini."Mempelai wanita dipersilakan memasuki ruangan saf utama untuk bersanding bersama calon imamnya!" panggil kiai desa dengan suara bergetar interaktif penuh wibawa spiritual yang merasuk sukma. Vina yang mengenakan gaun kebaya pengantin putih bersih nampak melangkah gemulai dengan anggun menembus barisan warga, membuat gaun panjangnya yang membungkus ketat tubuh seksinya yang sintal padat berisi nampak bergoyang lembut menyapu lantai marmer masjid dengan penuh kesucian cinta yang tulus bersih.Visual Vina di tengah riuhnya tangis haru saksi pernikahan fajar itu bener-bener menjelma menjadi pemandangan maut yang sanggup merobek paksa
"Waduh, Neng Jenderal seksi! Kenapa pingsan di dada sawo matang Mas Madun sih, mana belahan dada montok kamu empuk banget nempel di otot perut kotak-kotak ekeuuu!" jerit Madun tersedak ludah saat menahan tubuh sintal sang jenderal di bawah hujan anak panah beracun dari atap ruko.Madun, wajah tampa
"Aduuuh, Juragan Madun! Lepaskan pelukan maut tiga bidadari pasar polos ini dong, cyiiinnn! Ekeuuu sama geng waria jembatan merah jadi ikutan gatel melihat gundukan gunung kembar mereka nempel penuh busa merica!" jerit mami Susi melompat masuk lewat jendela bawa handuk basah, merusak suasana tegang
"Waduh, Nyonya Besar bertubuh tambun berkalung emas! Tolong jangan segel ruko warisan kakek ekeuuu ini dong, cyiiinnn! Kalau Madun setelan pabrik dijebloskan ke penjara, siapa lagi yang lindungi komunitas waria jembatan merah dari gusuran satpol pp?!" jerit Madun panik sambil meliukkan pinggul keka
"Waduh, Mami Susi! Jangan dekat-dekat ekeuuu sambil buka baju gitu dong, cyiiinnn! Sumpah, bulu dada kamu yang lebat kayak ijuk sapu itu bener-bener bikin jimat semut rangrang ekeuuu mendadak mati rasa ketakutan!" jerit Madun melengking panik sambil melompat mundur menabrak cermin rias salon malam







