LOGINKesuksesan besar Festival Lopis Nusantara ternyata tidak hanya membawa berkah dan keuntungan melimpah bagi Bono dan Rini, tetapi juga memicu gelombang kecemburuan dari pihak-pihak yang tidak suka melihat kedai "Lopis Sakti" berjaya.Dua hari setelah festival usai, suasana pagi di pelataran ruko kelontong Madun mendadak tegang.Sarah berdiri di ambang pintu ruko, mengenakan blus krem pas badan yang mengekspos lekuk tubuh sintal serta gundukan buah dadanya yang kencang naik-turun karena rasa cemas yang mendadak. Rok pensil hitam ketat membungkus pinggang ramping serta paha mulus jenjangnya dengan sempurna di bawah sorot matahari pagi.Madun berdiri tegar menjulang di samping istrinya, memperlihatkan otot lengan bidang dan dada bidang yang menonjol kuat di balik kaus oblong hitamnya. Wajah tampannya dengan rahang tegas menatap tajam ke arah depan ruko, di mana tiga orang pria berbadan gempal berkaus gelap berdiri dengan gestur menantang.Mereka adalah anak buah dari Badri, mantan pe
Beberapa bulan berselang sejak Kedai "Lopis Sakti" resmi beroperasi, usaha kecil yang dikelola oleh Bono dan Rini berkembang pesat melampaui ekspektasi. Aromanya yang khas dan cita rasa gula aren murni membuat kedai tersebut tidak pernah sepi pengunjung, bahkan mulai menarik perhatian pelancong dari luar kota.Pagi itu, pelataran ruko kelontong Madun tampak lebih sibuk dari biasanya. Spanduk besar bertuliskan "Festival Lopis Nusantara & Reuni Persahabatan" terbentang megah di antara tiang-tiang teras.Sarah berdiri anggun di dekat meja pendaftaran festival, mengenakan blus krem pas badan yang mengekspos lekuk tubuh sintal serta gundukan buah dadanya yang kencang naik-turun karena antusiasme yang tinggi. Rok pensil hitam ketat membungkus pinggang ramping serta paha mulus jenjangnya dengan sempurna di bawah sorot matahari pagi.Madun berdiri tegar menjulang di sisi sang istri, memperlihatkan otot lengan bidang dan dada bidang yang menonjol kuat di balik kaus oblong hitamnya. Wajah t
Matahari pagi menyinari atap ruko kelontong Madun dengan kehangatan yang menyegarkan. Udara desa terasa sejuk, membawa aroma embun pagi yang berpadu dengan wangi kopi hitam.Sarah berdiri di teras ruko, mengenakan blus krem pas badan yang mengekspos lekuk tubuh sintal serta gundukan buah dadanya yang kencang naik-turun menikmati udara pagi. Rok pensil hitam ketat membungkus pinggang ramping serta paha mulus jenjangnya dengan sempurna di bawah sorot cahaya matahari pagi.Madun berdiri tegar menjulang di samping istrinya, memperlihatkan otot lengan bidang dan dada bidang yang menonjol kuat di balik kaus oblong hitamnya. Wajah tampannya dengan rahang tegas tampak tenang, menikmati ketenteraman desa yang kini benar-benar terbebas dari segala bentuk ancaman kriminalitas.Tidak lama kemudian, suara langkah kaki yang riang terdengar dari arah jalan setapak. Sosok yang ditunggu-tunggu akhirnya muncul: Bono berjalan berdampingan dengan Rini, istrinya.Bono tampak jauh lebih segar dengan k
Malam hari menyelimuti desa dengan keheningan yang menenangkan. Lampu-lampu warung dan ruko kelontong Madun menyala terang, memancarkan kehangatan di tengah angin malam yang berhembus sepoi-sepoi.Sarah berdiri di ruang tengah ruko sambil merapikan laporan keuangan harian, mengenakan blus krem pas badan yang mengekspos lekuk tubuh sintal serta gundukan buah dadanya yang kencang naik-turun karena sisa semangat dari kunjungan sore tadi. Rok pensil hitam ketat membungkus pinggang ramping serta paha mulus jenjangnya dengan anggun.Madun berdiri tegar di dekat pintu utama, memperlihatkan otot lengan bidang dan dada bidang yang menonjol kuat di balik kaus oblong hitamnya. Wajah tampannya dengan rahang tegas tampak begitu tenang menikmati suasana malam yang damai.Bono datang menghampiri ruko dengan langkah ringan, membawa sekotak martabak manis pesanan khusus untuk merayakan suksesnya misi pendekatan pertama hari itu. Wajah Bono tampak berbinar-binar gembira."Wah, selamat malam para p
Suasana warung kopi Mak Jiah mendadak terasa lebih semarak dengan kehadiran kelompok kecil Madun dan kawan-kawan. Rini, gadis berkerudung rapi yang semula tampak sibuk dengan gelas-gelas pesanan, kini meletakkan nampannya di atas meja lalu membalas sapaan Bono dengan senyuman ramah yang menenangkan."Silakan duduk, Mas Bono... Mbak Sarah, Mas Madun, dan Siska juga," ucap Rini sopan sambil mempersilakan mereka menempati bangku kayu panjang di dekat etalase warung.Bono menarik kursi dengan gerakan sedikit kaku, masih diliputi rasa salah tingkah di hadapan gadis yang menjadi target utama agen biro jodoh dadakan tersebut. Madun duduk di sebelah Sarah, memperlihatkan otot lengan bidang dan dada bidang yang menonjol kuat di balik kaus oblong hitamnya, memancarkan wibawa tenang untuk mencairkan suasana.Siska langsung menyenggol lengan Bono pelan sambil berbisik dengan nada menggoda. "Woy, jangan kaku amat kayak patung pancoran! Pasang senyum andalan dong, tunjukin kalau mantan raja jud
Sesi latihan fisik pagi itu ditutup dengan napas terengah-engah dan tawa lepas di pelataran ruko. Setelah berhasil melewati ujian push-up dan lari keliling desa, Bono duduk bersila di teras sambil meneguk air mineral dingin, merasa jauh lebih bugar dari hari-hari sebelumnya.Sarah berdiri di samping suaminya, mengenakan blus krem pas badan yang mengekspos lekuk tubuh sintal serta gundukan buah dadanya yang kencang naik-turun karena sisa angin pagi. Rok pensil hitam ketat membungkus pinggang ramping serta paha mulus jenjangnya dengan sempurna di bawah sorot matahari yang semakin hangat.Madun berdiri tegar menjulang, memperlihatkan otot lengan bidang dan dada bidang yang menonjol kuat di balik kaus oblong hitamnya. Ia menatap sahabatnya yang kini tampak jauh lebih bersemangat menata hidup."Badan sudah mulai terbentuk, mental juga sudah mulai pulih dari bayang-bayang masa lalu," ucap Madun dengan suara berat bernada rendah yang penuh wibawa. "Tapi hidup kamu belum lengkap kalau cum
Madun bener-bener cuma mau memastikan kamu masuk ke dalam kamar untuk istirahat fajar ini tanpa perlu dikotori hawa nafsu birahi liar setelan pabrik, cyiiinnn!" seru Madun bernapas lega sedalam-dalamnya sambil membuka grendel pintu pagar anyaman bambu, meresapi kembali getaran asmara suci yang murn
Sore menjelang malam Jum'at, Madun mau tak mau kembali ke rumah Siska sesuai jadwal periksa yang ditetapkan Siska.Sebenarnya Madun merasa aneh karena diminta ke rumah bukan ke klinik. Tapi, karena tidak tahan ingin berduaan dengan Bidan Siska yang cantik, Madun menurut saja. "Madun, sebelum kita
"Madun! Di sini!" bisik Siska dari balik gerbang rumahnya yang tinggi setelah Madun mengetuknya.Malam itu, Siska terlihat sangat berbeda. Ia hanya mengenakan daster satin tipis berwarna putih tulang yang hampir transparan jika terkena cahaya lampu teras. Rambutnya yang hitam legam dibiarkan teru
"Madun! Cepat masuk! Jangan celingak-celinguk begitu, nanti dikira maling!" bisik Siska dari balik pintu klinik yang terbuka sedikit. Suaranya serak, matanya yang dilapisi riasan tipis tampak berkilat-kilat di bawah lampu remang koridor. Siska malam itu mengenakan seragam bidan yang sengaja dilep







