INICIAR SESIÓNTesa adalah seorang putri Marquess yang terusir setelah gelarnya diambil alih. Ia dituntut untuk mengganti identitas menjadi laki-laki demi bertahan hidup. Simon adalah nama yang ia pilih. Namun, setelah penampilannya berubah menjadi Simon. Tiga pria dalam lingkarannya justru mulai menunjukkan perhatian. Ada Dokter dingin yang menjanjikan perlindungan, ada Duke kejam yang ia tolong. Lalu ada Earl cinta pertamanya yang menggoda. Sampai di suatu malam, tiba-tiba salah seorang dari tiga pria itu nekat menjatuhkannya ke atas ranjang, lalu mengurung tubuhnya. "Tu-tuan, kita berdua laki-laki!" Namun, pria itu hanya tersenyum. "Mau sampai kapan kau menyembunyikannya?" ***
Ver más"Anak itu pembawa sial!"
Theressa Verhagen sedang menyiapkan wewangian kelopak bunga di dalam bak mandi Monica Breuer ketika mendengar seruan itu dari celah ventilasi. Ia memucat, nafasnya tercekat. Punggungnya memberat. Pekan ini telah dijadwalkan pertunangan antara sepupunya Monica dengan Duke Veldam. Rakyat Falkenburg bergembira. Tesa berusaha menyiapkan keperluan dengan teliti. Menciutkan diri menjadi wanita tak terlihat. Namun, ia sadar hinaan itu pasti ditujukan untuknya. Selanjutnya, pintu kamar Monica terbuka, lalu Tesa diseret keluar. Tubuhnya yang mungil limbung dalam kebingungan. Ember berisi air yang ia bawa jatuh, membasahi lantai marmer sekaligus gaunnya yang dekil. "Kemari kau!" bentak Marquess Alphen. Gadis itu seketika bersimpuh, melakukan tindakan pertama yang ia pelajari ketika sadar suasana hati pamannya sedang buruk. "Maafkan aku, Paman." "Aku tahu cepat atau lambat kau pasti akan membuat keluarga kami menderita," raungnya marah. "Kau anak yatim piatu pembawa petaka!" "Kalau ada sesuatu yang Paman tidak suka, sebaiknya Paman katakan–" "Rombongan kereta kuda yang membawa Duke Veldam mengalami kecelakaan!" Tesa membelalak. Suasana hening menakutkan, hanya menyisakan isak tangis Monica. "Benar," seru wanita itu serak. "Dan semua ini karena kau," tudingnya. Tesa menggigit bibir. Bagaimana mungkin musibah orang lain, kini bisa menjadi kesalahannya? Dulu mereka tidak berani meninggikan suara di hadapan Tesa. Dulu mereka bahkan menjilat tindakannya dengan pujian demi mendapatkan bagian harta. Namun itu dulu saat Papanya masih memegang gelar Marquess. Setelah beliau meninggal mendadak karena sengatan lebah, semuanya berubah. Hidup Tesa jungkir balik seketika. Mama menyusul tidak lama kemudian karena tenggelam dalam duka. Tesa menjadi sebatang kara. Karena tidak memiliki ahli waris laki-laki. Alhasil gelar Marquess jatuh ke tangan Pamannya. Perjodohan politik yang dijanjikan antara Putri Marquess dan Duke Veldam ikut bergeser, tempat yang seharusnya diisi oleh Tesa kini digantikan oleh Monica. Tesa kehilangan perlindungan. Ia dioper dari satu kerabat ke kerabat lain. Mereka terlalu percaya jika mengasuh anak yatim piatu akan mendapatkan kesialan yang sama. Seperti penyakit menular. Tak peduli seberapa tenang temperamennya, seberapa rajin ia bekerja. Tetap tidak ada yang menginginkannya. Akhirnya Marquess Alphen tidak memiliki pilihan selain mengasuh Tesa. Pamannya selalu memastikan Tesa akan lebih memilih mati daripada hidup berlama-lama. Tidak terhitung berapa banyak ia tidur dalam kedinginan, perut kelaparan, bibir kekeringan. Kendati demikian, Tesa tetap tenang. Kegigihannya dalam bertahan membuat Marquess Alphen jengkel. Ia menjalani aktivitas dalam bisu, berdiri diam seperti hiasan tak kasat mata, berharap suatu saat bisa diterima. Monica menatapnya dengan sikap permusuhan. "Kau pasti senang dengan kejadian ini bukan Tesa?" serunya. "Kau tidak suka melihatku bahagia!" "Paman apakah berita itu benar?" "Kau pikir kami pembohong?" bentak Pamannya, menatap nyalang. "Seharusnya aku tidak membiarkan kau tinggal di sini. Hector usir wanita ini keluar!" "Tidak Paman, jangan lakukan ini." Tesa menyentak lengannya yang dipaksa berdiri. Pelupuk matanya memanas. Ia bisa melakukan apa saja, asal tidak meninggalkan Falkenburg. "Biarkan aku tetap di sini." "Jangan mengujiku Tesa, kau tidak berguna. Jika bukan laki-laki, atau wanita bangsawan kau hanya akan dianggap remeh. Satu-satunya yang bisa kau tawarkan adalah menikah dengan bangsawan tua." Tapi Pamannya tidak akan melakukan itu karena terlalu pelit untuk mengeluarkan uang sebagai biaya debutnya. Air mata Tesa meleleh. Ia menggenggam kedua tangan Bibinya dalam keputusasaan ketika telah diseret keluar dari kediaman Alphen. Sore itu matahari mulai merosot turun, rambut merah Tesa tampak menyala tersiram pantulan cahaya. Matanya yang biru terang menjadi berkilat kaca seperti perhiasan dalam etalase. "Bibi, aku janji akan berdiri diam di sudut seperti biasa saat kalian makan malam. Aku janji tidak akan bersuara sedikit pun," pintanya penuh tekad. "Tapi tolong, biarkan aku tetap tinggal di sini." "Bukankah sebaiknya kau pergi Tesa?" Tempramen Bibinya lebih halus. Namun ia juga tidak berdaya. Ia tertekan melihat Tesa selalu disiksa. "Bibi–" "Kau pasti akan menemukan tempat." Air mata Tesa bercucuran tanpa henti. "Dulu saat rumah kalian terbakar, bukannya Papa menampung kalian di Alphen? Demi masa lalu, berikan aku kesempatan sekali lagi." Bibinya menjadi tidak senang ketika diingatkan dengan musibah menyakitkan itu. Ia tidak suka memiliki hutang budi. Sekantong koin diselipkan dengan paksa ke tangan Tesa. "Pergilah, kau pasti bisa bertahan di luar sana." "Siapa yang akan menerimaku?" bisik Tesa. Namun Bibinya sudah menjauh. Ia bahkan tidak dibiarkan berkemas. Tesa hampir percaya musibah ini hanya alasan yang sengaja dibuat Pamannya untuk mengusirnya dari rumah. Angin dingin mengibarkan gaunnya yang lembab. Lengannya menggigil, ia mengusapnya pelan. Berjalan tidak tentu arah, dua keping koin ia gunakan untuk membeli lilin sebagai penerangan. Malam semakin larut. Suasana menjadi sunyi. Kakinya mulai lelah. Tanpa sadar Tesa telah sampai di perbatasan kota Loma. Gang-gang sempit di depannya tampak seperti ular tidak berujung. Suara tawa dan dentingan gelas terdengar dari pub-pub yang ia lewati. Suara yang terdengar seperti ejekan di telinganya. Tesa menyingkir ketika melihat dua pria mabuk tampak terhuyung-huyung ke arahnya. Mereka meracau sambil menendangi batu. Ia menahan napas, lalu cepat-cepat berpaling, menghindar dengan masuk ke gang lain. Namun Tesa nyaris menjerit ketika menabrak seorang pria. "Kenapa kau?" tanyanya gemetar. Cahaya lilin menari-nari di depan wajahnya ketika berusaha memerhatikan pria itu. "Bantu..." Pria itu justru mengeram. Mengulurkan tangan. Darah ada di mana-mana. Di wajahnya, di pakaiannya, di celananya. Jantung Tesa berdebar kencang. "Bantu mereka..." "Apa yang terjadi padamu?" Tesa setengah menduga pria itu adalah jelmaan iblis yang sengaja berkamuflase untuk menjerat gadis-gadis perawan, seperti dalam buku yang pernah ia baca. Atau mungkin ini adalah kesempatan yang diberikan Tuhan. Kehidupan dunia tidak membuatnya bahagia. Jika bersama iblis hidupnya akan membaik. Tesa akan mengikutinya dengan sukarela. Tapi saat Tesa meraihnya, jemari mereka bersentuhan. Ia tersentak, buru-buru menarik diri. "Kau–" Pria itu langsung ambruk menimpa tubuh Tesa, praktis membuat mereka sempoyongan dan jatuh ke tanah. "Ya Tuhan," serunya ngeri. Ia mendorong pria itu, menggulingkannya menjadi telentang. Merasakan bokongnya memanas. Jika bukan karena hati nurani yang telah diasahnya seumur hidup, Tesa pasti sudah meninggalkannya. Namun ada sesuatu yang membuatnya enggan. Ia merobek ujung gaun, lalu membantu menyeka wajah pria itu. Semakin noda darah di wajahnya memudar. Semakin Tesa menunjukkan pengenalan. Matanya kemudian melebar. "Duke Veldam?" ***Tesa duduk di perpustakaan bersemangat untuk membaca balasan surat yang dikirimkan Elias, sampai membuat Duke menggeleng kecil. "Dia membalas suratku hanya dengan selembar tulisan ringkas. Tapi denganmu dia bisa mengirim berlembar-lembar kertas. Apa saja sebenarnya yang kalian bicarakan?" Tesa menyunggingkan senyum lebar kemudian mengedipkan mata. "Rahasia." Ia menceritakan pada Elias bahwa dirinya sedang mengandung anak kedua. Sementara Elias membalas bahwa dia sudah menikah dengan seorang wanita pilihannya yang bernama Angela. Elias menceritakan wanita itu sebagai seorang malaikat berhati lembut. Mereka bertemu saat Elias bekerja di bagian administrasi tambang dan Angela adalah seorang pengacara. Bagaimana kisah romantis hubungan mereka menjadi dongeng bagi Tesa setiap kali surat itu dikirimkan. "Aku akan ke Breda," tulis Elias kali ini di dalam suratnya. "Dan aku sudah tidak
Gabriel tahu istrinya mengandung.Dua bulan berlalu sejak kematian Lady Jasmine. Saat itu musim gugur mulai datang, pohon-pohon mulai menguning. Kemudian berguguran, membuat kastil Veldam tampak seperti lukisan.Gabriel sudah mengurung diri selama berhari-hari di ruang kantornya mengurus bisnis perkereta apian dan perkapalan miliknya bersama Chole ketika tiba-tiba Ragnar masuk kemudian memberikan pengumuman."Duchess sedang mengandung, Duke."Pena modern yang sudah dilapisi dengan tinta di dalamnya yang sedang Gabriel genggam mendadak berhenti. Ia mengangkat kepala dari dokumen di atas meja dan mengerutkan alis.Ragnar melanjutkan. "Pagi ini Duchess memilih sarapan di kamar karena mengeluh kepalanya sakit. Dia hampir tidak bepergian beberapa hari terakhir karena sibuk mengajarkan Garret membaca serta menolak semua jadwal minum teh perkumpulan para ibu bangsawan. Itu menimbulkan gosip yang panas. Mereka menyebut Duchess sangat angkuh, jadi
"Aku rindu dengan Helena."Suara calon Duke membuat tidur Tesa di kereta kuda agak terganggu. Tetapi ia tetap menggeliat, kemudian membuka mata. Melihat kedua pria yang ia cinta sedang mengobrol dengan serius."Sudah lama sekali aku tidak berjumpa dengannya. Aku ingin bermain dan memanjat pohon bersamanya."Gabriel menahan diri untuk tidak segera merangkul anak itu dan mencubiti pipinya gemas. Sejak dalam perjalanan. Garret tidak pernah berhenti makan, mulutnya selalu mengunyah apa saja. Tesa benar kalau putranya ini memang menyukai semua jenis makanan."Menurutku, setelah ini mungkin kita bisa melakukan perjalanan ke Loma.""Tidak."Tesa mendelik dengan jawaban cepat Gabriel bahkan tanpa berpikir. Tesa tahu suaminya enggan ke Loma karena tidak ingin bertemu Mathius.Gabriel meringis kemudian mengulangi dengan lebih santai. "Kenapa tidak kau kirimkan saja surat untuk Helena?""Aku belum lancar menulis.
"Ikutlah dengan kami," pinta Tesa saat seluruh peti-peti mereka dikumpulkan.Tesa tidak pernah terlibat langsung dengan masalah 'Tupai' yang menjadi urusan suaminya dan Romeo. Ia hanya mendengar kabar terbaru secara berkala tentang situasi pria itu dan apa yang telah mereka lakukan padanya.Bagi Tesa keputusan Duke pastilah tepat dan bijaksana. Oleh sebab itu ia hanya menghormati dan mendukungnya. Lagipula ancaman nyawa bukanlah sesuatu yang sepele terlebih bila itu menyangkut putra mereka, Garret.Namun hal ini berbeda dengan Diana, meski pipinya mulai memunculkan rona, dan matanya sudah kembali cerah setelah tiga hari berlalu sejak kematian Lady Jasmine, tapi tidak bisa dipungkiri kepergian mereka membuat Diana lesu. Tesa sudah merasa terbiasa dengannya, dan pengalaman seminggu lebih di mansion membentuk persahabatan yang tidak mungkin bisa diabaikan."Aku membutuhkan pelayan pribadi tambahan untuk membantu Rose. Kau orang yang rapi dan cekatan,
Gabriel tidak bisa menahan diri.Rencana pernikahan mereka bergeser, entah apa yang ada di pikirannya. Tiba-tiba saat sedang menikmati dinner di salah satu restoran kalangan kelas atas. Gabriel meminta mereka untuk secepatnya menikah di Kirk."Perjalanan ke Breda sangat jauh, it
"Kau tahu siapa yang sedang kau sentuh?" tanya Duke kasar.Serta merta Tesa berjengit kemudian melepaskan diri. "Duke ini..."Gabriel segera mengangkat tangan, tidak ingin mendengar apapun dari Tesa. "Aku sedang bicara pada Elias."Sinting.Duke berjalan mendek
Elias menjejakkan kakinya di atas karpet, pakaiannya telah tersingkap hanya dilapisi jubah tidur, kemudian dia bangkit perlahan. Di luar lonceng jam berbunyi yang berarti menunjukkan waktu tengah malam. Namun ia sama sekali tidak mampu terlelap. Bayangan Tesa–Tesanya yang manis men
Tesa masih terjaga saat merasakan embusan napas Duke yang teratur, sementara lengan pria itu merangkul pinggangnya dengan ringan. Wanita itu beringsut sedikit, berhati-hati agar tidak membangunkan Duke. Lalu perlahan memijakkan kakinya di atas karpet bludru. Tesa kemudia






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reseñasMás