Share

Putri yang Mereka Biarkan Mati
Putri yang Mereka Biarkan Mati
Author: Finn

Bab 1

Author: Finn
Aula pesta dipenuhi kehangatan cahaya dan riuh tawa ketika aku dorong pintu kayunya yang berat.

Lampu kristal berkilauan di langit-langit. Asap cerutu ayah melayang perlahan penuhi udara. Mereka sedang pesta, rayakan penetapan Bella sebagai pewaris resmi Keluarga Basuki, sekaligus pengambilalihan seluruh operasi pesisir Pantai Timur yang akan dimulai hari Senin nanti.

Kedatanganku seolah buat suhu ruangan turun drastis. Ibu berdiri di meja utama sambil pegang gelas sampanye. Senyumnya langsung retak saat lihat aku.

"Gemma?"

Dia letakkan gelasnya, lalu tepuk pelan bahuku yang basah kuyup, seringan orang yang sedang singkirkan debu dari jaket.

"Kamu basah banget. Kenapa nggak kasih kabar dulu sebelum datang?"

Kemudian tatapannya jatuh pada map yang aku peluk erat di dada. Pupil matanya langsung membesar.

"Ibu." Suaraku bergetar, sementara air hujan terus menetes basahi karpet Persia di bawah kakiku. "Aku bawa hasil laboratorium. Aku mau ...."

Ayah perlahan letakkan pemotong cerutu peraknya. Pelan. Disengaja. Kuku Ibu cengkeram lenganku, tarik aku menjauh ke sudut ruangan yang lebih gelap.

"Jangan malam ini," desisnya tajam. "Lihat situasinya, Gemma. Ini malam penting bagi Bella. Jangan berani-berani hancurin."

Aku terpaku.

"Cukup." Suara Ayah potong dari meja utama.

"Kita sudah baca laporan itu, Gemma. Keluarga sudah ambil keputusan."

Dia sedikit condongkan tubuh. Nada suaranya begitu rendah, namun terasa seperti vonis kematian.

"Bella nggak akan jalani prosedur pengambilan sumsum tulang."

Tubuhnya berdiri tegak bak dinding hitam yang nggak tergoyahkan. Dia bahkan nggak lirik berkas di tanganku.

Sepasang mata abu-abunya yang dingin menyapuku, penuh rasa lelah dan jijik.

"Kamu terobos masuk ke sini," katanya pelan. "Di depan para sepupu dan rekan bisnis keluarga, hanya untuk minta agar Bella dibius dan diambil sumsum tulangnya demi selamatkan hidupmu?"

Dia mendekat sedikit lagi.

"Apa kamu ngerti seberapa besar dampak operasi itu? Hari Senin Bella akan ambil alih jalur pelayaran senilai 480 triliun. Dia nggak boleh ada dalam kondisi lemah."

Rasa dingin merayap masuk hingga ke tulangku. Mereka memang sudah tahu. Mereka baca laporan yang salah. Mereka kira akulah yang menderita leukemia dan mereka pilih berpesta sambil tanda tangani hukuman matiku.

"Ayah." Aku mendongak, gigi-gigiku bergemeletuk tahan dingin. "Laporan itu salah. Aku bisa jelaskan …."

"Aku nggak tertarik dengan sandiwara," potongnya dingin.

"Kalau kamu butuh biaya pengobatan, minta saja ke Martin. Jangan korbankan adikmu."

Martin Cilando.

Aku noleh ke arah pria yang berdiri di dekat perapian. Tunanganku. Pewaris sindikat Cilando. Pria yang saat berusia enam belas tahun, pernah berlutut di hadapanku dan bersumpah akan lindungi aku seumur hidup.

Dia jalan hampiri kita, namun pandangannya bahkan nggak tertuju ke aku. Mata itu lebih dulu cari Bella yang duduk di meja utama kenakan gaun sutra warna sampanye, secantik boneka porselen di bawah cahaya lampu.

Barulah kemudian dia menatapku.

"Gemma," ucapnya lembut, dengan nada yang biasa digunakan untuk tenangkan seekor anjing yang ketakutan. "Ayahmu benar. Hari Senin Bella akan ambil alih pelabuhan. Nilai asetnya capai 480 triliun. Dia nggak boleh lewatkan upacara itu."

"Dia saudara kembarku." Suaraku nyaris pecah. "Kalau dia donorkan sumsum tulangnya, dia bisa selamatkan aku."

"Setelah itu dia butuh tiga bulan masa pemulihan?" Dia jongkok di depanku, lalu cengkeram daguku.

Sentuhannya sedingin es.

"Tiga bulan dalam kondisi lemah sementara para sepupu mulai incar kekuasaannya? Jangan egois."

Aku hanya menatapnya. Perutku terasa mual. Aku palingkan wajah dari mereka semua, lalu memandang Bella.

Dia masih duduk anggun di ujung meja. Gaun sutra warna sampanyenya pantulkan cahaya dengan indah. Wajahnya tujuh puluh persen sama denganku. Namun sejak kecil seratus persen kasih sayang keluarga selalu jadi miliknya.

"Bella." Suaraku hampir tenggelam oleh suara hujan di luar. "Kamu tahu apa yang mereka minta kamu lakukan demi aku. Dan kamu benar-benar bilang … apa pun yang terjadi … kamu nggak akan lakukan itu?"

Bella lebih dulu melirik Ibu, hadiahkan senyum lembut yang selalu mampu tenangkan siapa pun. Barulah dia noleh ke aku. Tatapannya tenang dan dingin.

"Nggak sama sekali."

"Pemeriksaan fisik untuk penetapanku sebagai pewaris tinggal tiga hari lagi. Aku harus ada dalam kondisi sempurna."

Dagunya terangkat angkuh.

"Aku nggak akan hancurkan masa depanku hanya karena kamu."

Aku pejamkan mata. Yang aku rasakan bukan amarah, melainkan sensasi jatuh.

"Tentu saja," bisikku lirih. "Warisanmu jauh lebih penting."

Dan saat itulah kesabaran ayah akhirnya benar-benar habis.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Putri yang Mereka Biarkan Mati   Bab 7

    Bella meninggal dunia pada pukul 04.17 dini hari.Saat itu aku belum tidur. Aku bisa rasakan itu. Ada kehampaan aneh yang tiba-tiba penuhi dadaku, seolah benang yang hubungkan kita sejak lahir diputus begitu saja oleh sepasang gunting. Aku bangkit dari ranjang sempitku. Mataku tertuju pada layar HP. Nggak ada pesan. Hanya waktu yang terus berjalan.Tepat pukul 04.23, telepon resmi dari rumah sakit akhirnya masuk. Dokter Chandra nangis."Gemma," katanya dengan suara tersendat. "Dia sudah pergi. Kegagalan banyak fungsi organ. Kita ... kita nggak berhasil stabilkan kondisinya."Aku nggak nangis. Aku hanya kenakan pakaian dengan tenang. Lalu aku pakai jas dokter putihku, jas yang aku dapatkan setelah bertahun-tahun belajar di sekolah kedokteran, aku beli dengan uang hasil jerih payahku sendiri, bukan karena nama besar Keluarga Basuki.Perlahan aku tutup kancingnya satu demi satu. Setelah itu aku jalan menuju rumah sakit....Menjelang fajar, skandal itu meledak.Keluarga Basuki Menolak Don

  • Putri yang Mereka Biarkan Mati   Bab 6

    Saat fajar menyingsing, listrik di gedung apartemenku mendadak padam.Aku lagi rebus air untuk buat teh ketika seluruh lampu tiba-tiba mati. Aku cuma berdiri dalam gelap, dengarkan derai hujan di luar, sampai terdengar ketukan di pintu, keras, nggak beraturan, seperti ada orang yang harus bersandar di daun pintu agar nggak roboh.Aku buka pintu.Victor Basuki langsung terjatuh ke lorong apartemenku.Dia nggak kenakan setelan jas seperti biasanya. Yang melekat di tubuhnya hanyalah kemeja yang sama seperti kemarin, kusut dan penuh noda kopi. Tubuhnya berbau keringat bercampur aroma cologne mahal yang sekarang berubah jadi masam. Di tangannya tergenggam sebuah map kulit, jenis map yang biasa dia gunakan saat tanda tangani kontrak bernilai triliunan rupiah."Gemma." Suaranya serak dan nyaris nggak terdengar. Matanya merah dipenuhi semburat darah. "Donor dari Swola meninggal di tengah perjalanan. Donor yang katanya cocok di Selesto ternyata cuma penipuan. Dan pagi ini, polisi bekukan seluru

  • Putri yang Mereka Biarkan Mati   Bab 5

    Dunia ternyata jauh lebih sempit daripada yang mereka bayangkan.Tiga hari kemudian, aku lihat di berita, jet pribadi Grup Basuki berputar-putar dari Geloa, lalu Destona, kemudian Selesto. Victor bukan sedang temui klien. Dia sedang berburu. Namun leukemia mieloid akut nggak akan tunggu seseorang yang bepergian dengan jet kelas satu.Aku sedang menyantap mie instan di apartemen studioku yang sederhana ketika pesan pertama masuk.Nomor nggak dikenal. Beberapa detik kemudian, nomor itu berubah jadi nomor yang nggak lagi disembunyikan.[Gemma. Kita temukan tiga calon donor di Zenya. Proses uji kecocokan lagi berlangsung. Tolong pertimbangkan.]Aku letakkan HP begitu saja. Mie di mangkuk perlahan jadi dingin. Pesan kedua datang tepat tengah malam.[Semua donor dari Swola gagal. Antigennya nggak cocok. Hati Bella mulai alami gagal fungsi. Tolong.]Aku nggak balas.Pesan ketiga berupa rekaman suara. Suara Victor terdengar pecah dan asing di telingaku."Aku tahu kamu dengarkan ini. Aku tahu k

  • Putri yang Mereka Biarkan Mati   Bab 4

    Aku lagi jahit luka robek di ruang UGD ketika pager di pinggangku bergetar.[Pusat Medis Basuki. Darurat Hematologi. Pasien: Bella Basuki. Kondisi kritis.]Tanganku nggak gemetar. Jarum tetap bergerak dengan presisi di kulit kepala pasien, tetapi benang jahit terasa seperti kawat di sela jemariku. Aku selesaikan jahitan itu. Aku lepaskan sarung tangan, lalu aku jalan menuju meja perawat dan menatap layar admisi.[Bella Basuki. AML Stadium 3. Gangguan banyak organ. Masuk pukul 02.45.]Dia pingsan di gala penobatan pewaris. Gelas anggur masih ada di tangannya. Mereka bilang tubuhnya menghantam lantai marmer seperti boneka porselen yang jatuh dan pecah.Aku menatap layar itu selama empat puluh tiga detik, lalu aku berbalik kembali ke ruang tunggu."Pasien berikutnya," kataku....Victor Basuki berdiri di luar laboratorium hematologi dengan cerutu yang telah padam tergenggam di tangannya. Petugas keamanan sudah peringatkan dia kalau merokok itu dilarang di rumah sakit.Dia nggak bantah. Di

  • Putri yang Mereka Biarkan Mati   Bab 3

    Aku sempat kira tubuhku akan roboh begitu lewati gerbang rumah itu. Aku kira air mataku akan tumpah tanpa henti, hanyutkan aku, namun ternyata nggak.Yang aku rasakan hanyalah kehampaan. Seolah ada orang yang menyusup ke dalam dadaku dengan tangan bersarung, lalu keruk habis segalanya, jantung, paru-paru, bahkan napasku, sisakan rongga dingin yang hanya bisa ditembus angin.HP-ku bergetar.Sebuah pesan dari Martin muncul, ditulis dengan ketepatan dan formalitas layaknya memo bisnis."Aku sudah tarik pengumuman tentang pertunangan kita. Alasan resmi yang diberikan adalah perbedaan yang nggak dapat didamaikan. Mulai saat ini, kita nggak ada hubungan apa pun lagi. Seluruh aset bersama dibekukan hingga proses peninjauan selesai."Belum sempat aku cerna isi pesan itu, notifikasi lain kembali muncul. Saluran terenkripsi milik keluarga, saluran yang biasanya hanya digunakan untuk pemberitahuan keamanan tingkat tinggi.Pesan dari Ayah.[Putriku, Gemma, resmi dicabut dari keanggotaan keluarga k

  • Putri yang Mereka Biarkan Mati   Bab 2

    Ayah dorong kursinya hingga bergeser kasar. Kaki-kaki kayu itu menggesek lantai marmer, memekakkan telinga."Keluar dari rumahku," katanya dengan suara yang dipenuhi racun kebencian. "Keluar dari keluarga ini. Kita nggak butuh parasit berdarah dingin yang egois seperti kamu."Jarinya menunjuk ke arah pintu."Kalau ibumu sampai jatuh sakit malam ini gara-gara ulahmu, aku sumpah kamu akan menyesal pernah dilahirkan."Martin melangkah maju. Dia selipkan tangan ke saku dalam jasnya, lalu keluarkan sebuah kotak beludru. Di dalamnya terdapat cincin pertunangan berlian potongan zamrud tiga karat, cincin yang pernah dia sematkan di jariku saat makan malam pertunangan kita.Dia jepit cincin itu di antara ibu jari dan telunjuknya. Menatapku sejenak, lalu buka telapak tangannya. Cincin itu jatuh menghantam meja mahoni.Klik.Bunyinya menggema seperti letusan pistol."Gemma," katanya datar. "Kita putus.""Kamu terlalu berlebihan. Terlalu nggak stabil. Kita sudah nggak cocok lagi."Nada suaranya ke

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status