LOGIN#Jejak Pemilik Sebelumnya
Dadaku terasa berat. Aku baru tiba di dunia ini, tetapi rasanya seperti seluruh Bonua Toru sudah mengetahui keberadaanku. aku hanya berdiri diam menatap retakan langit yang membentang di atas kepala. Retakan itu terlihat semakin besar dibanding saat pertama kali aku terbangun. Kadang aku merasa ada sesuatu yang mengintip dari balik sana, sesuatu yang terlalu besar untuk dipahami oleh akal manusia. Sulit dipercaya bahwa beberapa jam lalu aku masih berada di ranjang rumah sakit, menunggu ajal datang sambil mendengarkan tangisan anak bungsuku. Sekarang aku berada di dunia asing, memiliki tubuh pemuda yang bukan milikku, dan menjadi target para Penguasa Waktu yang bahkan belum pernah kulihat wajahnya. Aku mengusap wajah sambil menghela napas panjang. "Apa semua pemilik Batu Waktu berakhir seperti ini?" Lira yang berjalan beberapa langkah di depanku tidak langsung menjawab. Entah kenapa, melihat punggungnya membuatku merasa tenang sekaligus waspada. Dia memang terlihat seperti anak kecil. Tetapi setelah apa yang kulihat sebelumnya, aku tahu ada sesuatu yang jauh lebih tua bersembunyi di balik tubuh mungil itu. Saat suasana mulai hening, suara aneh tiba-tiba terdengar. Perutku berbunyi cukup keras. Lira menoleh. "Kau lapar?" "Tentu saja aku lapar." Aku mengusap perut sambil menggerutu "Aku mati, hidup lagi, diserang gladiator gila, hampir diinjak monster raksasa, lalu diberitahu bahwa seluruh dunia ingin memburuku." Aku menunjuk perutku sendiri. "Setelah semua itu, ternyata masalah terbesarku sekarang justru lapar." lira tersenyum, Bukan senyuman penuh. Namun cukup membuatnya terlihat seperti anak kecil normal. "Di depan ada desa." Aku langsung menoleh. "Masih ada manusia di dunia ini?" "Tentu." Jawaban singkat itu membuatku sedikit lega. Setidaknya dunia ini tidak sepenuhnya dipenuhi monster dan orang-orang gila yang melempar bola api tanpa alasan. Kami melanjutkan perjalanan. Semakin jauh berjalan, semakin banyak reruntuhan yang kulihat. Ada bangunan tinggi yang setengah roboh, kendaraan berkarat yang tertimbun tanaman liar, dan jalanan retak yang dipenuhi akar pohon hitam. Dunia ini terasa seperti dunia yang pernah mengalami kiamat. Tanpa sadar tanganku menyentuh saku celana. Dua batu inti masih berada di sana. Batu merah milik gladiator. Dan batu hitam milik monster yang baru saja kami kalahkan. Aku bisa merasakan energi samar dari keduanya, seolah mereka sedang memanggilku untuk digunakan. Namun aku tidak tertarik. Setidaknya untuk sekarang. Aku bahkan belum memahami Batu Waktu yang ada di tubuhku. Jika aku mulai menyerap terlalu banyak kekuatan tanpa memahami cara kerjanya, kemungkinan besar aku akan mati lebih cepat. Aku sudah cukup tua untuk memahami satu hal. Kekuatan yang tidak dipahami sering kali lebih berbahaya daripada musuh itu sendiri. "Lira." "Hm?" "Kau bilang aku bisa pulang." Langkahnya melambat. Meski hanya sesaat, aku sempat melihat perubahan kecil di matanya. "Bisa." Aku langsung berhenti berjalan. Jawaban itu membuat jantungku berdetak lebih cepat. Untuk pertama kalinya sejak tiba di dunia ini, aku mendengar sesuatu yang benar-benar ingin kudengar. "Bagaimana caranya?" Lira berbalik. Tatapannya mengarah kepadaku beberapa detik sebelum akhirnya menjawab. "Lima belas tahun lalu ada seseorang yang berhasil mengumpulkan pecahan Batu Waktu." "Seseorang sebelum aku?" Ia mengangguk. "Pemilik Batu Waktu sebelumnya." Aku terdiam. Selama ini aku mengira kekuatan ini baru memilihku. Ternyata aku hanyalah penerus dari seseorang yang pernah berjalan di jalur yang sama. "Siapa dia?" "Aku tidak tahu." "Kau tidak tahu?" "Aku bisa melihat banyak kemungkinan masa depan." Lira menatap langit. "Tapi masa lalu jauh lebih sulit." Aku menghela napas. Jawaban yang menyebalkan. Namun sebelum aku sempat mengeluh, Lira melanjutkan. "Aku tahu satu hal." "Apa?" "Dia pernah bertemu Dewa Bonua Toru." Langkahku terhenti lagi. Dewa. Kata itu terdengar terlalu besar. Terlalu mustahil. Namun setelah melihat waktu berhenti, monster raksasa turun dari langit, dan seorang anak kecil berbicara dengan suara wanita tua, aku mulai menyadari bahwa kata mustahil sudah tidak memiliki tempat di dunia ini. "Kalau begitu aku harus bertemu dewa itu." "Itulah satu-satunya cara." Aku mengangguk pelan. "Bagaimana caranya?" "Kumpulkan sepuluh pecahan Batu Waktu." Aku berkedip. "Sepuluh?" "Itu adalah inti yang terpecah saat Pengendali Waktu terakhir menghilang." Tentu saja tidak akan semudah berjalan ke rumah tetangga dan mengetuk pintu. "Dengan kata lain aku harus menjelajahi seluruh Bonua Toru." "Ya." "Dan selama itu para Penguasa Waktu akan memburuku." "Ya." "Hidup keduaku ternyata jauh lebih merepotkan daripada hidup pertama." Kali ini Lira tidak menjawab. Tatapannya mengarah ke kejauhan. Sebuah desa mulai terlihat. Asap tipis naik dari beberapa rumah kayu. Ada pagar sederhana. Ladang kecil. Dan untuk pertama kalinya sejak tiba di dunia ini, aku melihat tanda kehidupan yang nyata. Namun tepat ketika harapan itu muncul, kepalaku mendadak berdenyut hebat. Aku terhuyung. Rasa sakit itu datang begitu tiba-tiba hingga membuat lututku hampir menyentuh tanah. Bayangan-bayangan asing muncul di dalam pikiranku. Bukan ingatanku. Seorang pemuda berdiri di tengah hujan deras. Tubuhnya penuh luka. Darah mengalir dari dahinya. Namun yang paling menarik perhatianku adalah batu perak di tangannya. Batu itu sama persis dengan Batu Waktu milikku. Pemuda itu perlahan mengangkat wajah. Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas. Seolah ada sesuatu yang sengaja menghalangi pandanganku. Lalu suara samar terdengar dari kejauhan. "...Jacob..." Nama itu terdengar jelas. Jacob. Entah kenapa nama itu membuat dadaku terasa sesak. Seolah aku pernah mengenalnya. Padahal aku yakin belum pernah mendengar nama itu sebelumnya. Bayangan tersebut menghilang secepat kemunculannya. Aku terengah-engah sambil menatap tanah. Lira sudah berdiri di sampingku. "Ada apa?" Baru kali ini aku melihat sesuatu seperti itu. "Itu aneh." "Apa yang kau lihat?" Aku mengangkat kepala perlahan. "Seorang pria." Lira langsung diam. "Dan aku mendengar sebuah nama." Ekspresi gadis kecil itu berubah. Perubahan yang sangat kecil. Tetapi cukup untuk membuatku menyadarinya. "Nama apa?" Aku menatapnya. "Jacob." Tubuh Lira langsung membeku. Wajahnya yang biasanya tenang perlahan memucat. Untuk pertama kalinya sejak kami bertemu, aku melihat sesuatu yang tidak pernah kutemukan di matanya. Ketakutan. "Kau mengenalnya?" Tatapannya justru mengarah ke batu perak di dadaku. Lalu kembali ke wajahku. Dan saat akhirnya ia membuka mulut, suaranya terdengar jauh lebih pelan dari biasanya. "Kalau kau mulai melihat Jacob..." Ia berhenti sejenak. "...berarti para Penguasa Waktu mungkin sudah menemukan jejak kita." Entah kenapa, untuk pertama kalinya sejak tiba di Bonua Toru, aku merasa bahwa musuh sebenarnya belum menunjukkan wajahnya. Dan nama Jacob... Mungkin adalah awal dari semua masalah yang akan datang.Pesan yang TertinggalSuara Jacob masih terngiang di dalam kepalaku bahkan setelah penglihatan itu berakhir.Aku berdiri terpaku di tengah gurun dengan napas yang terasa lebih berat dari biasanya, sementara Fragmen Api Purba di tanganku perlahan meredup hingga kembali menjadi kristal merah keemasan yang tampak biasa. Namun aku tahu apa yang baru saja kulihat bukanlah ilusi.Jacob benar-benar meninggalkan jejak dirinya di dalam fragmen itu."Arjon."Suara Sera membuyarkan lamunanku.Aku menoleh dan mendapati ketiga rekanku sedang menatap dengan ekspresi yang hampir sama.Khawatir, penasaran, dan sedikit terkejut."Apa yang kau lihat?" tanyanya.Aku menarik napas panjang sebelum menceritakan semuanya.Mulai dari dataran hitam yang asing, para Penguasa Waktu yang menyerangnya secara bersamaan, hingga pertarungan yang bahkan sekarang masih sulit kupercaya pernah terjadi.Semakin jauh aku bercerita, semakin berubah pula ekspresi mereka.Damar yang biasanya selalu santai kini terlihat seri
Ingatan yang hilangPerjalanan meninggalkan Kawah Merah berlangsung lebih tenang dibandingkan saat kami datang, tetapi pikiranku justru semakin ramai oleh berbagai pertanyaan yang belum menemukan jawaban. Pertemuan dengan Naga Api telah membuka banyak rahasia yang selama ini tersembunyi, namun setiap jawaban yang kami dapatkan justru melahirkan misteri baru yang lebih besar.Nama Lembah Langit Retak terus berputar di dalam kepalaku sepanjang perjalanan. Jika Jacob benar-benar meninggalkan sesuatu di sana, maka tempat itu kemungkinan besar akan menjadi tujuan berikutnya. Meski belum mengetahui apa yang menunggu di ujung perjalanan tersebut, aku mulai merasa bahwa seluruh jalan yang kutempuh sejak tiba di Bonua Toru perlahan mengarah ke satu titik yang sama.Gurun Abu membentang tanpa akhir di hadapan kami. Angin panas membawa debu merah yang sesekali berputar membentuk pusaran kecil di kejauhan, sementara matahari perlahan bergerak menuruni langit yang pucat. Damar menghabiskan sebagia
Aku masih memandangi Fragmen Api Purba yang berada di telapak tanganku ketika keheningan kembali memenuhi gua. Cahaya merah keemasan yang terpancar dari permukaannya bergerak perlahan seperti bara yang bernapas, memantulkan kilau hangat ke dinding-dinding batu di sekitar kami. Semakin lama kuperhatikan, semakin kuat perasaanku bahwa benda ini berbeda dari batu inti maupun artefak lain yang pernah kutemui selama berada di Bonua Toru. Di tengah keheningan itu, sebuah pertanyaan akhirnya muncul di benakku."Apa Jacob pernah memiliki Fragmen Api Purba ini?"Tatapan Naga Api turun ke kristal yang masih kugenggam sebelum ia menggeleng perlahan."Tidak."Jawaban itu membuatku sedikit terkejut karena hampir semua petunjuk yang kami temukan selama ini selalu berhubungan langsung dengan Jacob. Aku sempat mengira fragmen tersebut pernah menjadi bagian dari kekuatannya.Sera tampaknya memiliki pemikiran yang sama."Kalau begitu bagaimana dia mengetahui keberadaan benda ini?""Nah, itulah yang m
Warisan sang nagaFragmen Api Purba masih memancarkan cahaya merah keemasan yang hangat di telapak tanganku ketika keheningan kembali memenuhi gua. Pantulan sinarnya menari di dinding batu yang menghitam oleh panas magma, sementara Naga Api tetap memandang kami dengan tenang dari tempat peristirahatannya. Meski tubuh raksasanya tidak bergerak, keberadaannya saja sudah cukup untuk membuat siapa pun menyadari bahwa kami sedang berdiri di hadapan salah satu makhluk tertua yang masih hidup di Bonua Toru.Perhatianku belum sepenuhnya lepas dari kristal itu ketika suara berat Naga Api kembali menggema di seluruh ruangan."Kau ingin mengetahui lebih banyak tentang Jacob."Aku mengangguk tanpa ragu. Rasanya mustahil untuk tidak penasaran karena sejak pertama kali menginjakkan kaki di dunia ini, hampir setiap petunjuk yang kami temukan selalu mengarah pada nama yang sama.Tatapan Naga Api perlahan beralih ke lautan magma yang mengalir di bawah tebing batu sebelum ia mulai berbicara lagi."Asal
Naga Api tidak segera melanjutkan ucapannya setelah menyebut namaku. Mata raksasanya yang sebesar gerbang kota terus menatap ke arahku tanpa berkedip, seolah sedang memastikan bahwa orang yang berdiri di hadapannya benar-benar sosok yang selama ini ditunggunya. Sementara itu, aku hanya bisa berdiri diam berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi karena rasanya sulit dipercaya bahwa makhluk kuno yang belum pernah kutemui itu mengetahui namaku."Kau mengenalku?" tanyaku akhirnya.Meski pikiranku dipenuhi berbagai kemungkinan yang membingungkan, suaraku terdengar jauh lebih tenang daripada yang kurasakan sebenarnya.Naga Api mengembuskan napas perlahan hingga udara panas menyapu seluruh gua sebelum menjawab bahwa ia telah mengenalku jauh sebelum aku dilahirkan. Alih-alih memberiku penjelasan, jawaban itu justru menambah daftar pertanyaan yang terus menumpuk di kepalaku.Damar, Sera, bahkan Lira terlihat sama terkejutnya, tetapi tidak seorang pun berusaha menyela karena kami semua memah
# Nama yang DilupakanSuara Naga Api masih bergema di seluruh penjuru gua ketika keheningan perlahan mengambil alih suasana. Tidak ada seorang pun yang berani bergerak ataupun mengucapkan sepatah kata setelah makhluk raksasa itu menyebut namaku dengan begitu jelas, seolah kami memang pernah saling mengenal sebelumnya.Aku berdiri terpaku di tempat sambil menatap sepasang mata emas yang menyala dari balik kegelapan. Cahaya merah yang berasal dari aliran magma di dasar gua memantulkan kilau pada sisik-sisik raksasa yang menutupi tubuhnya, membuat sosok itu terlihat seperti gunung hidup yang sedang beristirahat. Namun yang membuatku sulit mengalihkan pandangan bukanlah ukuran tubuhnya ataupun tekanan mengerikan yang terpancar dari keberadaannya, melainkan kenyataan bahwa ia mengetahui siapa diriku.Setelah berhasil mengendalikan keterkejutanku, aku akhirnya membuka suara."Apa kau baru saja menyebut namaku?"Naga Api tidak langsung menjawab. Ia hanya menatapku cukup lama, seolah sedang







