Home / Zaman Kuno / Rahasia Malam Sultan / Bab: 12 Gosip yang Menjadi Racun

Share

Bab: 12 Gosip yang Menjadi Racun

Author: fazaa
last update publish date: 2026-07-07 12:16:48
Keesokan paginya, atmosfer di dalam istana Al-Qamar mendadak terasa jauh lebih pekat oleh kabut desas-desus.

Nama Nayla Azura mendadak menjadi bahan pembicaraan tunggal yang bergulir liar di setiap sudut dinding batu kekaisaran. Namun, ia tidak lagi dibicarakan sebagai seorang pelayan miskin yang bernasib malang.

Melainkan, sebagai selir rahasia yang paling pandai memikat hati Sultan Azfar di balik tirai sutra.

Gosip panas itu menyebar dengan kecepatan yang mengerikan, menjalar bagai api yang me
fazaa

Aduh Mak, makin digoreng makin gosong! Isu Nayla jadi selir simpanan Sultan sengaja ditiup Selir Safiya pakai koin perak sampai seisi istana heboh. Sultan sih santai kayak singa, tapi sekarang yang terusik malah Sultanah Mariam, sang Sultanah Agung! Waduh, pawang sesungguhnya istana udah mulai ngelirik Nayla nih, seru parah! Gimana nasib Nayla setelah radar Ratu Agung mulai menyala? Yuk, gercep klik LIKE, FOLLOW,SUPPORT dan tumpahin KOMENTAR kalian di bawah! Dukungan kalian bener-bener booster utama buat author biar makin ngebut up bab selanjutnya!

| 3
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
may
Dih ngreget bgttt
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Rahasia Malam Sultan   Bab 42: Percakapan di Taman

    Untuk pertama kalinya sejak menapakkan kakinya di atas lantai pualam kesultanan sebagai pelayan pribadi Sultan, Nayla Azura mendadak diperintahkan maju.Kali ini langkahnya bukan untuk menggosok noda piring, bukan membawa cangkir teh herbal yang mengepul, dan bukan pula menyusun gulungan dokumen yang kaku.Melainkan, untuk mengiringi dan menemani sultan Azfar berjalan menyusuri kesunyian taman belakang istana yang terasing dari hiruk-pikuk istana.Atmosfer malam itu terasa sangat tenang, dilingkupi kegelapan yang kaku sekaligus misterius di bawah perlindungan langit bertabur bintang.Angin malam yang berembus pelan sesekali membawa aroma manis kelopak bunga melati hutan yang mekar sempurna di sudut-sudut pagar batu.Mereka berdua berjalan perlahan tanpa melontarkan sepatah kata pun, membiarkan bunyi gesekan jubah sutra dan kain kasar menjadi suara beritme tunggal.Nayla senantiasa menundukkan kepala takzim, memastikan langkah kakinya tetap menjaga jarak aman sejauh dua langkah di bela

  • Rahasia Malam Sultan   Bab 41: Pelaku yang Tak Pernah Ditemukan

    "Sudah lima belas hari."Suara bariton milik Sultan Azfar memecah kesunyian yang mencekam di dalam ruang kerja utama. Gulungan laporan tebal bersampul beludru itu perlahan ditutupnya, lalu diletakkan di atas meja kayu hitam.Tatapannya yang setajam ujung mata pedang berhenti tepat pada sosok pria perkasa yang berdiri tegap di hadapannya."Apa orang yang mendorong Nayla dari tangga marmer itu sudah kau temukan?" tanya sang Sultan, membuat atmosfer ruangan mendadak terasa jauh lebih dingin.Panglima Rafiq melangkah maju, membawa map kulit berisi berkas hasil penyelidikan.Di belakang punggung tegapnya, beberapa pengawal dalam ikut berdiri kaku dengan posisi siap, menyembunyikan ketegangan mereka di balik baju zirah baja.Sultan Azfar menerima map tersebut, lalu mulai membaca seluruh lembar dokumen tanpa memotong atau menyela sepatah kata pun."Hamba telah memeriksa tiga puluh dua pelayan dapur yang berada di sekitar area tersebut, Yang Mulia," buka Panglima Rafiq dengan suara berat yan

  • Rahasia Malam Sultan   Bab 40: Senyum Sang Sultan

    Selama bertahun-tahun lamanya desau angin mengitari pilar-pilar kokoh kesultanan Al-Qamar, tak seorang pun dari kalangan menteri maupun selir agung pernah melihat Sultan Azfar tersenyum hanya karena sebuah percakapan biasa.Wajah tampan sang penguasa timur tengah itu laksana pahatan batu granit purba; dingin, kaku, dan senantiasa memancarkan aura kematian yang mengintimidasi.Namun, pada hari yang diselimuti binar matahari fajar yang menembus celah jendela kaca ruang kerja utama ini, semua hukum kekakuan itu mendadak berubah haluan.Sultan Azfar sedang duduk dengan punggung tegak, memeriksa tumpukan lembar perkamen berisi rincian anggaran pembangunan jembatan logistik di perbatasan luar.Sepasang alis tebalnya bertaut kaku, mendapati sebaris angka kalkulasi yang mendadak terasa membingungkan.Tanpa mengalihkan pandangannya, sang Sultan melambaikan tangan tegapnya ke arah sudut ruangan tempat sang pelayan pribadi sedang membersihkan rak buku."Kemari kau, Nayla. Maju dan bacakan dengan

  • Rahasia Malam Sultan    Bab 39: Jejak yang Menghilang

    "Tidak ada bukti yang bisa mengarah pada satu nama spesifik di istana ini?"Panglima Rafiq menghantam meja kayu jati di ruang interogasi militer dengan kepalan tangannya yang kuat, hingga menimbulkan debu tipis yang beterbangan ke udara. Sepasang matanya berkilat murka, memandangi jajaran anak buahnya yang menunduk kaku tanpa berani membalas tatapan matanya."Kalau begitu, geledah seluruh sudut dan kita cari jejak bajingan itu sampai ada!" bentak sang panglima dengan suara bariton yang menggelegar dahsyat.Panglima Rafiq segera bergerak melakukan interogasi terhadap puluhan pelayan dapur dan dayang paviliun dalam sejak matahari belum terbit.Namun, usahanya menumbuk dinding batu yang keras; tidak ada satu pun hasil nyata yang bisa menyeret pelaku pendorong Nayla ke permukaan.Merasa dikelabui oleh keheningan massal para pelayan, Rafiq akhirnya mengambil keputusan dengan memanggil empat selir agung kesultanan ke aula penyidikan.Suasana aula mendadak menjelma menjadi ketegangan tingka

  • Rahasia Malam Sultan   Bab 38: Pertanyaan Sang Sultan

    "Jawab pertanyaanku dengan jujur, Pelayan."Sultan Azfar Zayn Al-Qamar menutup gulungan laporan di tangannya dengan satu hentakan kaku yang bergema di ruang kerja.Sepasang matanya yang kelam dan tajam kini mengunci lurus pada sosok gadis yang berdiri menunduk di dekat meja jati besarnya."Belakangan ini... apakah ada yang berani mengusik atau mengganggumu di luar pengawasanku?" tanya sultan Azfar dengan nada bariton yang meremang dingin.Nayla Azura seketika terdiam, merasakan atmosfer di dalam ruangan mendadak menjelma menjadi dinding es yang kaku dan menghimpit dadanya.Jemari tangannya yang masih berbalut perban herbal saling meremas di balik lipatan celemek kain kasarnya, memicu denyut perih yang samar.Ia tahu betul, tanpa perlu menyebutkan kejadian, sang Sultan sedang membicarakan kejadian dorongan maut di tangga marmer tempo hari.Sultan Azfar bangkit dari kursinya, melangkah lambat memotong jarak di antara mereka hingga bayangan tubuh tegapnya menudungi Nayla."Katakan padaku

  • Rahasia Malam Sultan   Bab 37: Sultanah yang Mengamati

    "Pelayan bernama Nayla yang menjadi buah bibir itu... bawa dia menghadap kemari sekarang juga."Sultanah Mariam menutup kitab tebal bersampul kulit rusa yang sejak tadi dibacanya dengan perlahan.Untuk pertama kalinya dalam sejarah ketegangan harem, sang permaisuri agung memanggil seorang pelayan rendah bukan karena terhasut oleh gosip miring para selir seperti kemarin.Melainkan, ada sebersit rasa penasaran yang mendadak mengusiknya di balik sepasang mata beningnya yang sedingin es.Nayla Azura melangkah dengan jemari yang saling meremas kaku di balik lipatan gaun seragamnya yang tipi.Detak jantungnya berpacu, dilingkupi kegugupan yang teramat hebat saat melewati ambang pintu paviliun utama permaisuri.Ia mengira dirinya akan diinterogasi dengan kejam atau diseret ke dalam ruang penyiksaan akibat gossip yang beredar miring tentangnya.Namun, pemandangan di dalam ruangan itu seketika mematahkan seluruh pemikiran buruk yang berkecamuk di dalam isi kepala Nayla.Sultanah Mariam tampak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status