LOGINAduh Mak, makin digoreng makin gosong! Isu Nayla jadi selir simpanan Sultan sengaja ditiup Selir Safiya pakai koin perak sampai seisi istana heboh. Sultan sih santai kayak singa, tapi sekarang yang terusik malah Sultanah Mariam, sang Sultanah Agung! Waduh, pawang sesungguhnya istana udah mulai ngelirik Nayla nih, seru parah! Gimana nasib Nayla setelah radar Ratu Agung mulai menyala? Yuk, gercep klik LIKE, FOLLOW,SUPPORT dan tumpahin KOMENTAR kalian di bawah! Dukungan kalian bener-bener booster utama buat author biar makin ngebut up bab selanjutnya!
Untuk pertama kalinya sejak menapakkan kakinya di atas lantai pualam kesultanan sebagai pelayan pribadi Sultan, Nayla Azura mendadak diperintahkan maju.Kali ini langkahnya bukan untuk menggosok noda piring, bukan membawa cangkir teh herbal yang mengepul, dan bukan pula menyusun gulungan dokumen yang kaku.Melainkan, untuk mengiringi dan menemani sultan Azfar berjalan menyusuri kesunyian taman belakang istana yang terasing dari hiruk-pikuk istana.Atmosfer malam itu terasa sangat tenang, dilingkupi kegelapan yang kaku sekaligus misterius di bawah perlindungan langit bertabur bintang.Angin malam yang berembus pelan sesekali membawa aroma manis kelopak bunga melati hutan yang mekar sempurna di sudut-sudut pagar batu.Mereka berdua berjalan perlahan tanpa melontarkan sepatah kata pun, membiarkan bunyi gesekan jubah sutra dan kain kasar menjadi suara beritme tunggal.Nayla senantiasa menundukkan kepala takzim, memastikan langkah kakinya tetap menjaga jarak aman sejauh dua langkah di bela
"Sudah lima belas hari."Suara bariton milik Sultan Azfar memecah kesunyian yang mencekam di dalam ruang kerja utama. Gulungan laporan tebal bersampul beludru itu perlahan ditutupnya, lalu diletakkan di atas meja kayu hitam.Tatapannya yang setajam ujung mata pedang berhenti tepat pada sosok pria perkasa yang berdiri tegap di hadapannya."Apa orang yang mendorong Nayla dari tangga marmer itu sudah kau temukan?" tanya sang Sultan, membuat atmosfer ruangan mendadak terasa jauh lebih dingin.Panglima Rafiq melangkah maju, membawa map kulit berisi berkas hasil penyelidikan.Di belakang punggung tegapnya, beberapa pengawal dalam ikut berdiri kaku dengan posisi siap, menyembunyikan ketegangan mereka di balik baju zirah baja.Sultan Azfar menerima map tersebut, lalu mulai membaca seluruh lembar dokumen tanpa memotong atau menyela sepatah kata pun."Hamba telah memeriksa tiga puluh dua pelayan dapur yang berada di sekitar area tersebut, Yang Mulia," buka Panglima Rafiq dengan suara berat yan
Selama bertahun-tahun lamanya desau angin mengitari pilar-pilar kokoh kesultanan Al-Qamar, tak seorang pun dari kalangan menteri maupun selir agung pernah melihat Sultan Azfar tersenyum hanya karena sebuah percakapan biasa.Wajah tampan sang penguasa timur tengah itu laksana pahatan batu granit purba; dingin, kaku, dan senantiasa memancarkan aura kematian yang mengintimidasi.Namun, pada hari yang diselimuti binar matahari fajar yang menembus celah jendela kaca ruang kerja utama ini, semua hukum kekakuan itu mendadak berubah haluan.Sultan Azfar sedang duduk dengan punggung tegak, memeriksa tumpukan lembar perkamen berisi rincian anggaran pembangunan jembatan logistik di perbatasan luar.Sepasang alis tebalnya bertaut kaku, mendapati sebaris angka kalkulasi yang mendadak terasa membingungkan.Tanpa mengalihkan pandangannya, sang Sultan melambaikan tangan tegapnya ke arah sudut ruangan tempat sang pelayan pribadi sedang membersihkan rak buku."Kemari kau, Nayla. Maju dan bacakan dengan
"Tidak ada bukti yang bisa mengarah pada satu nama spesifik di istana ini?"Panglima Rafiq menghantam meja kayu jati di ruang interogasi militer dengan kepalan tangannya yang kuat, hingga menimbulkan debu tipis yang beterbangan ke udara. Sepasang matanya berkilat murka, memandangi jajaran anak buahnya yang menunduk kaku tanpa berani membalas tatapan matanya."Kalau begitu, geledah seluruh sudut dan kita cari jejak bajingan itu sampai ada!" bentak sang panglima dengan suara bariton yang menggelegar dahsyat.Panglima Rafiq segera bergerak melakukan interogasi terhadap puluhan pelayan dapur dan dayang paviliun dalam sejak matahari belum terbit.Namun, usahanya menumbuk dinding batu yang keras; tidak ada satu pun hasil nyata yang bisa menyeret pelaku pendorong Nayla ke permukaan.Merasa dikelabui oleh keheningan massal para pelayan, Rafiq akhirnya mengambil keputusan dengan memanggil empat selir agung kesultanan ke aula penyidikan.Suasana aula mendadak menjelma menjadi ketegangan tingka
"Jawab pertanyaanku dengan jujur, Pelayan."Sultan Azfar Zayn Al-Qamar menutup gulungan laporan di tangannya dengan satu hentakan kaku yang bergema di ruang kerja.Sepasang matanya yang kelam dan tajam kini mengunci lurus pada sosok gadis yang berdiri menunduk di dekat meja jati besarnya."Belakangan ini... apakah ada yang berani mengusik atau mengganggumu di luar pengawasanku?" tanya sultan Azfar dengan nada bariton yang meremang dingin.Nayla Azura seketika terdiam, merasakan atmosfer di dalam ruangan mendadak menjelma menjadi dinding es yang kaku dan menghimpit dadanya.Jemari tangannya yang masih berbalut perban herbal saling meremas di balik lipatan celemek kain kasarnya, memicu denyut perih yang samar.Ia tahu betul, tanpa perlu menyebutkan kejadian, sang Sultan sedang membicarakan kejadian dorongan maut di tangga marmer tempo hari.Sultan Azfar bangkit dari kursinya, melangkah lambat memotong jarak di antara mereka hingga bayangan tubuh tegapnya menudungi Nayla."Katakan padaku
"Pelayan bernama Nayla yang menjadi buah bibir itu... bawa dia menghadap kemari sekarang juga."Sultanah Mariam menutup kitab tebal bersampul kulit rusa yang sejak tadi dibacanya dengan perlahan.Untuk pertama kalinya dalam sejarah ketegangan harem, sang permaisuri agung memanggil seorang pelayan rendah bukan karena terhasut oleh gosip miring para selir seperti kemarin.Melainkan, ada sebersit rasa penasaran yang mendadak mengusiknya di balik sepasang mata beningnya yang sedingin es.Nayla Azura melangkah dengan jemari yang saling meremas kaku di balik lipatan gaun seragamnya yang tipi.Detak jantungnya berpacu, dilingkupi kegugupan yang teramat hebat saat melewati ambang pintu paviliun utama permaisuri.Ia mengira dirinya akan diinterogasi dengan kejam atau diseret ke dalam ruang penyiksaan akibat gossip yang beredar miring tentangnya.Namun, pemandangan di dalam ruangan itu seketika mematahkan seluruh pemikiran buruk yang berkecamuk di dalam isi kepala Nayla.Sultanah Mariam tampak







