Masuk"Ternyata jas ini emang pantesnya dipakai sama dosen killer kayak lo, Ken," sapaan Raga sembari merapikan ikatan dasi kupu-kupu di leher Kenan. Pria muda itu bersandar di meja rias ruang tunggu pengantin pria, menatap sepupunya dari pantulan cermin dengan wajah tengilnya. Kenan yang mengenakan tuxedo hitam buatan penjahit Italia hanya melirik Raga dingin lewat cermin. "Kalau lo ke sini cuma buat ngoceh, mending lo cek sekali lagi keamanan luar gedung sekarang, Ga." "Aman, Bos! Semua kamera dan jalur enkripsi di area gedung sampai ballroom udah gue gembok rapat," jawab Raga santai sembari memamerkan layar tablet pribadinya. "Tikus bernama Kenzo itu nggak bakal bisa menyusup satu inci pun hari ini. Hari ini jelas panggung milik lo sama Kak Camelia." Kenan membetulkan posisi jam tangan mewahnya, menyunggingkan senyum tipis. "Bagus. Karena hari ini gue nggak menerima gangguan dalam bentuk apa pun." Sementara itu, di ruang pengantin wanita, atmosfer kemewahan memancar begitu indah
"Gue tau mata lo tajam, Bang, tapi kagak usah mandang gue kayak mau memutilasi gitu juga kali," celetuk Raga sembari menyesap es kopinya santai. Pria yang baru mendarat dari Tokyo beberapa hari lalu itu menyandarkan punggung di sofa ruang kerja penthouse, menatap Kenan dan Camelia yang berdiri berdampingan di hadapannya. Kenan menyilangkan kedua tangan di dada, menatap sepupunya dengan raut dingin tanpa senyum. "Gue cuma memastikan lo balik ke Jakarta bukan buat bikin pusing. Gladi bersih besok harus berjalan tanpa cela sedikit pun." "Santai, Bos. Gue ke sini murni mau jadi saksi pernikahan paling heboh tahun ini," balasan Raga diiringi cengiran khasnya. Dia lalu menoleh ke arah Camelia, mengedipkan sebelah mata secara jahil. "Lagian, calon ipar gue ini udah pinter banget ngejinakin lo, Bang. Mana berani gue macam-macam." Camelia terkekeh tipis, melipat tangannya dengan gaya santai yang biasa walau dalam hatinya ada rasa was-was. "Bagus kalau sadar diri, Ga. Jangan sampai gue y
"Lo mikirin apa jam dua malam begini belum tidur, Ca?" panggil Kenan dengan suara baritonnya yang serak khas bangun tidur. Tangannya merayap dari pinggang Camelia, menarik tubuh polos gadis itu makin merapat ke dada bidangnya di atas ranjang king size. Camelia memiringkan badannya, menatap garis tegas wajah calon suaminya di bawah pendar remang lampu tidur. "Nggak ada, Ken. Cuma deg-degan aja lusa kita udah resmi nikah." Kenan menyunggingkan senyum tipis yang sarat dominasi, merengkuh leher Camelia lalu mengecup bibirnya lembut. "Semua udah diatur sempurna. Lo cuma perlu berdiri di samping gue dan nikmati peran lo sebagai Nyonya Kenan Abimanyu." "Gue tau," bisik Camelia pelan sembari menyandarkan kepalanya di dada Kenan. Namun, begitu Kenan kembali terlelap dengan deru napas yang teratur, napas Camelia justru tertahan. Pikiran liarnya melayang jauh menembus jarak ratusan kilometer menuju sebuah rumah minimalis di Bali sana. Di dalam ingatan Camelia, pendar pualam "Kamar Mer
"Lo bener-bener iblis, Raga," desis Camelia dengan nada suara yang bergetar menahan amarah, matanya menatap tajam sepupu Kenan yang sedang merapikan kerah kemejanya dengan begitu santai di lorong remang dekat gudang. Raga hanya menyunggingkan seringai tipis yang teramat mengejek. "Bukannya lo yang nikmatin setiap detik dorongan gue tadi, Kak? Suara desahan lo nggak bisa bohong. Tubuh lo tuh selalu kangen sama keliaran gue." "Cabut dari sini sekarang sebelum gue bener-bener lupa diri dan tebas leher lo!" ancam Camelia seraya membetulkan gaun santainya yang sempat berantakan. Raga mengedipkan sebelah matanya penuh kemewahan dosa, lalu melangkah santai meninggalkan lorong gelap itu menuju area living room seolah tidak pernah terjadi adegan panas di antara mereka beberapa menit lalu. Begitu sosok Raga tak lagi terlihat, Camelia bergegas melangkah masuk ke dalam kamar mandi utama. Dia langsung menyalakan pancuran air hangat, berdiri di bawah g
"Jangan pernah sentuh atau ganggu Camelia, atau gue patahin kaki lo," tegur Kenan dengan nada suara yang teramat dingin dan mengintimidasi. Matanya menatap lurus sosok pria muda berpenampilan modis yang baru saja meletakkan koper besar di sudut living room penthouse. Raga—sepupu Kenan yang baru saja menyelesaikan program pertukaran pelajar di Jepang—terkekeh santai. Dia mengangkat kedua tangannya ke udara seolah menyerah. "Santai dong, Bang Kenan. Gue baru landing nih, masa langsung disambut ancaman? Gue cuma mau nengok calon kakak ipar gue yang cantik ini." Camelia yang sedang berdiri di dekat meja bar hanya menyunggingkan senyum tipis yang dingin. Dia mengenal betul tabiat Raga. Dulu, sebelum pria ini berangkat ke Jepang, mereka pernah terlibat permainan gila yang tersembunyi dari pengetahuan siapa pun. Raga adalah tipe pria yang pantang dilarang; makin keras Kenan mempagari, makin tertantang Raga untuk membongkarnya dengan cara yang ektrem. "Gue ada rapat darurat sama dewan
"Gue masih nggak percaya dua hari lagi gue bakal resmi jadi Nyonya Kenan Abimanyu," gumam Camelia sembari menatap pantulan dirinya di cermin kamar utama apartemen Kenan. Gaun malam dari sutra tipis melekat di tubuh rampingnya, sementara jemarinya mengelus cincin pertunangan berlian yang melingkar sempurna di jari manisnya. Kenan yang baru keluar dari kamar mandi hanya mengenakan celana tidur hitam, memperlihatkan dada bidang serta perut berototnya yang masih basah oleh sisa titik air. Pria itu melangkah mendekat dari belakang, menyusupkan kedua lengannya memeluk pinggang Camelia, menarik tubuh gadis itu hingga menempel rapat pada dadanya. "Kenapa? Lo masih berniat buat kabur dari gue, Nona Camelia?" bisik Kenan rendah di ceruk leher Camelia. Bibirnya menyapu lembut kulit sensitif di sana, memicu denyut hangat yang membakar ulu hati sang mahasiswi. Camelia menyandarkan kepalanya di bahu Kenan, membiarkan jemari tangannya menyusup ke sela-sela rambut basah sang dosen. "Nggak akan
Suasana di tangga darurat siang itu mendadak menjadi medan perang dingin yang mencekam. Kenan berdiri di anak tangga bawah, menghalangi jalan keluar dengan postur tubuh tingginya yang kaku penuh otoriter. Sementara, sosok pria bernama Raga masih berdiri santai di samping Camelia. Tangannya bahka
Camelia berdiri di depan cermin apartemennya dengan perasaan campur aduk. Perintah Kenan kemarin terus terngiang, seolah berbisik tepat di telinganya, “Pakai sesuatu yang menunjukkan kalau kamu punya... jiwa.”"Hah, bapak-bapak dingin dan otoriter itu. Argh!" Gerutu Camelia sambil membuka lemari p
Bunyi detak jam dinding di laboratorium lantai tiga terdengar seperti dentang lonceng kematian yang terasa lambat. Sudah masuk jam ketiga sejak istirahat makan siang berakhir, dan Camelia merasa otaknya sudah mencapai titik didih. Bahunya benar-benar terasa kaku, dan jari tangannya mulai gemetar k
Mobil sedan hitam Kenan berhenti di sebuah restoran bergaya kolonial yang tampak sangat privat dan tenang. Camelia memarkir mobilnya tepat di samping mobil Kenan dengan perasaan ragu.Begitu masuk, seorang pelayan langsung menggiring mereka ke sebuah ruang semi-VIP di sudut ruangan. Ada







