Mag-log in
Di sebuah kamar Deluxe Executive di Majestic Height Hotel, pada pagi hari...
Calvin Reed sedang menikmati mimpi indah ketika tiba-tiba merasakan pipinya ditampar. Ia tersentak bangun dan terkejut mendapati seorang wanita cantik dengan ekspresi marah yang luar biasa, berteriak kepadanya.
“Bajingan! Keparat! Dasar kau laki-laki kurang ajar!”
Calvin menelan ludah, mengabaikan perih di pipinya. Perhatiannya terlalu terpaku pada pemandangan di depannya hingga darahnya mengalir deras.
"Heh, dasar gadis cabul! Tutupi dulu dadamu baru mengoceh!"
"Argh! Sial! Kau sengaja melihatnya, ya?!" Wanita yang baru saja menampar Calvin itu menjerit setelah menyadari bahwa sejak tadi ia telah membiarkan dadanya berguncang-guncang tepat di depan mata pria itu.
"Aku? Sengaja melihat? Justru kau yang sengaja memamerkannya!" balas Calvin sambil turun dari ranjang dan mengenakan pakaiannya.
"Brengsek kau! Apa yang sudah kau lakukan padaku?!"
"Maaf? Justru kau yang menyeretku ke sini, lupa atau pura-pura lupa?" Calvin mengangkat sebelah alisnya.
Wanita itu terkejut mendengar ucapan Calvin. "Aku? Menyeretmu ke sini?!" serunya, seakan mempertanyakan pikirannya sendiri.
Calvin mengerutkan kening. "Kau mabuk berat di rooftop hotel tadi malam. Kita bertemu, lalu kau memintaku mengantarmu ke kamar, lalu—"
"Diam!" Wanita itu membentak, sementara ingatan tentang kejadian semalam menyeruak ke kepalanya. Wajahnya langsung memerah, kali ini bukan karena amarah, tapi malu.
"Arrgh!!! Dosa besar apa yang telah kulakukan?!" jeritnya frustasi.
Calvin meliriknya lalu menyeringai nakal. "Hai, kau punya kondisi unik. Uhm… Bisa kusebut juga sebagai, penyakit langka. Begitu minum alkohol, libidomu langsung melonjak drastis. Kau tak sadar? Kabar baiknya, aku bisa menyembuhkan penyakit itu."
Wanita itu terperangah dan terdiam. Tak ada seorang pun yang tahu rahasia itu, jadi bagaimana mungkin pria asing ini bisa mengetahuinya dengan mudah?
"Omong kosong! Kau pikir aku akan tertipu oleh tipu muslihat murahanmu?!"
"Aku serius. Aku bisa menyembuhkan kondisimu, tentu saja, kalau kau mau."
"Cih? Jangan harap aku akan tertipu olehmu, dasar mesum! Pembohong!"
Dengan kesal, wanita itu meraih tasnya di meja, mengambil setumpuk uang, lalu melemparkannya ke ranjang.
"Ambil uang ini dan lupakan pertemuan kita! Jangan sampai satu orang pun tahu kita pernah bertemu!"
"Kau menyuapku dengan jumlah sekecil ini?" Calvin mencibir.
"Jumlah kecil?! Itu lebih dari cukup! Jangan serakah!" dengus wanita itu dengan wajah kesal.
Calvin hanya tertawa kecil. Tanpa banyak bicara, ia berbalik dan berjalan menuju pintu. Namun, sebelum benar-benar keluar, ia menoleh dengan senyum lebar dan bergumam, "Aku tak butuh uang kompensasimu. Lagipula, permainan ranjangmu cukup liar dan... memuaskan!"
"BAJINGAN MESUM!!!" Wanita itu menjerit marah, tapi Calvin sudah melangkah keluar dari kamar, meninggalkan dirinya yang masih mendidih dalam amarah dan malu.
Di saat yang sama, ponsel Calvin bergetar.
'William Jones?' gumamnya setelah melihat nama penelepon.
"Halo."
“Hallo, Tuan Reed. Kami telah tiba di lobby Majestic Height Hotel. Raja Selatan, Kaisar Naga Langit, dan Ksatria Malam telah menunggu anda di Zenith Zest Restaurant. Mereka telah mendengar kedatangan anda di Maplewood City dan ingin memberi anda hadiah penyambutan.”
“Baik, aku akan segera turun ke lobby,” jawab Calvin Reed lalu menutup sambungan telepon.
Saat itu di lobby hotel, Majestic Height Hotel tengah dikejutkan dengan kemunculan mobil super mewah di depan lobby hotel mereka. Beberapa pria berjas hitam tampak berdiri berhadap-hadapan di samping mobil itu seolah sedang menunggu kedatangan seseorang dari dalam hotel.
Para karyawan Mejestic Height menelan ludah karena itu artinya, telah ada tamu super istimewa yang telah menginap di Majestic Height namun mereka luput memberi sambutan yang layak.
Sebelum keadaan menjadi buruk, para pegawai hotel segera memasang karpet merah melintang dari dalam hotel hingga ke bawah pintu mobil mewah itu demi memberi penyambutan kepada tamu istimewa mereka.
Tak hanya itu, sebanyak lima puluh lebih pegawai Majesctic Hotel kini juga telah berbaris rapi di sisi kanan dan kiri karpet merah, mereka berniat menundukkan badan serendah mungkin demi meminta maaf kepada tamu istimewa yang telah luput mereka istimewakan.
Namun, di saat para pegawai Majestic Hotel sedang bersiap-siap menanti kedatangan sosok tamu berpengaruh yang identitasnya belum mereka ketahui, mereka justru dikejutkan dengan kemunculan pemuda berpenampilan sederhana yang berjalan santai menginjak karpet merah.
Salah seorang pegawai senior dengan wajah marah berjalan menghampiri pemuda itu, satu tangannya terangkat ke atas dan bersiap untuk memberi tamparan.
Namun, beberapa detik sebelum penamparan itu terjadi, terdengar teriakan keras dari depan lobby hotel.
“Beri hormat kepada Tuan Reed!”
BANG!Tembakan dari laras 9mm milik Logan Taylor menghasilkan cipratan darah segar yang menyembur ke udara, mengotori dedaunan kering di bawahnya. "Nyaris saja," desis Calvin Reed. Suaranya serak, namun nada bicaranya masih membawa ketenangan yang luar biasa angkuh.Logan Taylor mematung. Matanya melebar saat melihat tangan kanan Calvin kini telah mencengkeram kuat laras senjatanya. Dalam detik-detik krusial sebelum pelatuk ditarik sepenuhnya, kalkulasi taktis Calvin yang tajam berhasil menggerakkan sisa-sisa energinya. Ia melakukan sabetan cepat, memukul paksa moncong pistol Logan hingga arah peluru bergeser.Namun, karena koordinasi motorik tubuhnya belum pulih sempurna akibat efek New Moon, tepian telapak tangan kanan Calvin tergores peluru yang melesat panas, memuncratkan darah yang baru saja menyembur ke udara.Meskipun tangannya terluka dan darah segar mengalir melalui sela-sela jarinya, cengkeraman Calvin pada senjata Logan sama sekali tidak mengendur. Seolah-olah rasa sakit f
Dahlia panik setengah mati mendengar kalimat terakhir dari Logan Taylor. Ketakutan bahwa suaminya akan benar-benar dieksekusi dan dikuliti demi sebuah mutiara mistis merubuhkan seluruh sisa akal sehatnya. Tangannya yang gemetar langsung mencengkeram roknya sendiri, lalu dalam hitungan detik, sebuah gerakan refleks yang tak terduga lahir dari keputusasaan. Dengan sangat cekatan, Dahlia menghunuskan sebatang jarum suntik medis berisi cairan pekat ke arah pinggang Logan yang saat ini berada tepat di dalam jangkauan terdekatnya.Gerakan Dahlia sejujurnya sangat cepat dan mulus. Tetapi... di hadapan seorang Warlord, kecepatan warga sipil tetaplah sebuah lelucon.SMACK!Sebuah hantaman kaki mendarat brutal. Tanpa sedikit pun mengalihkan pandangan dari dahi Calvin, Logan Taylor melakukan tendangan menyamping yang pendek namun bertenaga masif. Tubuh Dahlia langsung terlempar ke samping seperti boneka kain, menghantam tanah dan ranting kering dengan keras. Jarum suntik berisi racun yang digen
"Seorang Warlord turun ke semak-semak hanya untuk menangkap veteran perang yang sedang ‘sakit’? Kau benar-benar sangat merindukanku, Logan Taylor.”Suara Calvin Reed terdengar serak, namun nadanya masih setajam silet yang baru diasah. Di tengah kegelapan semak belukar Maplewood, kalimat itu sukses membuat Logan Taylor, pria yang dikenal dunia bawah sebagai The Knight of the Night, menghentikan gerakan jarinya di pelatuk. Logan menyunggingkan senyum miring, sebuah ekspresi yang mencampurkan rasa hormat yang terpaksa dengan kebencian yang mendalam.Dari segi usia, Logan Taylor jauh lebih tua ketimbang Calvin. Dengan rambut yang mulai memutih di pelipis dan gurat wajah yang tegas, ia lebih cocok disebut sebagai teman ayah Calvin daripada musuh sebaya.Namun, di dunia militer Valorian, usia hanyalah angka yang tidak berguna. Meskipun Calvin jauh lebih muda, kiprahnya di berbagai medan perang internasional telah menempatkannya di puncak hierarki Warlord negara Valorian. Di mata hukum milite
"Aku tidak datang untuk berdebat, Xavier. Jika ucapanmu barusan bermakna kau ingin menentangku, jawabanku adalah, ayo kita bertarung!"Mark Allen mengucapkan kalimat itu dengan senyum tipis yang menggantung di sudut bibirnya, jenis senyum yang biasanya dimiliki oleh orang-orang yang merasa memegang kendali.Xavier tidak membalas dengan kata-kata. Baginya, bicara dengan lawan seperti Mark adalah pemborosan oksigen. Sebagai pria yang dijuluki "Raja Neraka", Xavier memiliki filosofi sederhana: jika seekor anjing menggonggong terlalu keras, kau tidak perlu menggonggong balik, kau cukup mematahkan lehernya agar suasana kembali hening.Sret!Atmosfer di sekitar helikopter mendadak turun hingga ke titik beku. Mark Allen bergerak lebih dulu. Sebagai tangan kanan Logan Taylor, The Knight of the Night yang melegenda di Valorian, Mark adalah monster yang lahir dari rahim kegelapan. Kekuatan utama dari faksi Logan Taylor bukanlah taktik militer konvensional, melainkan kemampuan bertarung di medan
Xavier tidak merespons ucapan Calvin. Seluruh perhatiannya tersita penuh pada layar radar yang berkedip cepat di panel instrumen. Keheningan kabin mendadak sirna, digantikan ketegangan yang merayap kembali. Sesuai dengan kalkulasi Xavier, perjalanan mereka tidak akan berjalan mulus. Ada titik-titik merah di monitor bergerak dalam formasi mengepung.Benar saja, selang beberapa menit kemudian, suasana sunyi di dalam kabin helikopter pecah seketika. Deru tembakan senapan mesin berat menggema keras.“Tembakan yang sia-sia,” desah Xavier sambil menyunggingkan senyum tipis.Meski disergap dan diberondong peluru, Xavier cukup lihai membaca arah serangan. Pengalamannya di medan pertempuran membuatnya mampu menghentak tuas kendali dengan ketepatan ekstrem, memiringkan badan helikopter tepat sebelum rentetan timah panas merobek body helikopter."Mr. Reed, kita kedatangan tamu," ujar Xavier dengan suara datar namun tegas. "Sialnya lagi, saat ini kita sedang berada di atas hutan Maplewood. Apa A
Mendengar jika Xavier sendiri yang meracuni pilot dan kopilot, Calvin menarik napas dalam. Ia tahu jika Xavier adalah sosok yang memiliki perhitungan mendalam terhadap keputusan yang dia ambil."Kau ingin menggagalkan misimu sendiri, Xavier?" tanya Calvin dengan suara parau namun tetap tenang. "Kau mengenal Eldran King lebih baik dari siapa pun. Mengkhianatinya sama saja dengan menulis surat kematianmu sendiri. Kau tahu konsekuensinya."Xavier tak langsung menjawab. Ia justru bergerak dengan kecepatan yang mengerikan bagi seseorang yang tampak tenang. Ia melepaskan sabuk pengamannya, melangkah ke kokpit, dan tanpa ragu membuka pintu samping kemudi. Angin malam yang dingin menderu masuk, mengacaukan suhu di dalam kabin.Dalam satu gerakan efisien, dingin dan tanpa ampun, Xavier mendorong tubuh pilot dan kopilot yang sudah terkulai lemas keluar dari pintu yang terbuka. Mereka jatuh menghilang ditelan kegelapan langit Maplewood."Aah!" Dahlia menjerit spontan, menutup matanya dengan kedu
Setelah Calvin Reed mengucapkan maksudnya, Edward Miller segera menyadari jika pemuda yang baru saja menyembuhkan putrinya itu bukanlah pemuda biasa. Segera, Edward mengajak Calvin dan Dahlia ke ruang tamu sekaligus meminta dokter David mengurusi Emily.Kini, Calvin, Dahlia, dan Edward Miller telah
David Longman bahkan masih ingin mengucapkan beberapa kalimat hinaan kepada Calvin, tetapi tentu saja mulutnya kini sedang tersumpal oleh keterkejutannya sendiri.“Tidak mungkin…” gumam David Longman pelan, “pemuda itu bahkan hanya meraba-raba tubuh Emily, tetapi, bagaimana bisa?”Dua asisten David
Emily Miller masih dalam keadaan terbujur kaku dengan bibir mengeluarkan busa. Meski sekilas gadis itu tampak seperti sudah tak bernyawa, Calvin merasa menyembuhkan Emily bukanlah hal yang sulit.“Ada satu syarat sebelum aku memulai penyembuhan,” ucap Calvin seraya menempelkan tangannya ke urat nad
Saat itu pegawai senior Majestic Height menoleh ke belakang dan mendapati deretan pasukan pengawal di depan lobby tengah membungkuk dalam diikuti dengan seluruh pegawai Majestic Height yang juga turut menunduk merendah. Sialnya bagi pegawai hotel senior itu, tak ada siapa pun yang berjalan keluar







