MasukSalsa memijat kepalanya yang mendadak berdenyut akibat wajah si kembar berhasil membuat Alea dan Raka syok bukan main. Ini pasti anak Papa, pikir Alea. Sebelum Alea sempat menuntut penjelasan dari Salsa, tiba-tiba Salsa berlutut di depan Raka. “Ja–jadi-” Alea terbata, tatapannya terkunci pada dua bocah yang wajahnya mirip sembilan puluh persen seperti sang papa.“Kumohon tolong sembunyikan ini dari atasan anda, pak. Tolong jangan sampai hidup kami susah lagi. Saya mohon berpura-puralah untuk tidak mengetahui soal ini, sama seperti saat anda tetap memilih untuk pura-pura tidak tahu menahu soal kepergian saya,” ujar Salsa, berhasil membuat Raka membeku karena dihantam rasa bersalah begitu hebatnya pada sosok di depannya ini. Anak-anak itu berlarian ke dalam rumah sebelum Alea berhasil menyentuh keduanya. “Saya mohon. Jangan ganggu hidup saya, lima tahun ke belakang hidup saya tak mudah untuk saya lalui. Saya hampir kehilangan nyawa saat melahirkan mereka. Saya butuh pekerjaan untuk m
“Siapa bertamu tengah malam begini?” Gumam Salsa lagi. Dia menoleh ke arah kedua anaknya yang juga ikut tegang mendengar bel rumah yang mereka tempati berbunyi. “Nah, siapa itu, Ma? Apa jangan-jangan Mama pesan pizza?” tebak Kenzi. “Hmmmm sedapnya pizza,” sahut Kenzo. Keduanya tergelak setelah hidungnya dicubit sang mama. “Udah sana main sama kakek dulu, Mama mau lihat tamu yang datang,” ucap Salsa. Dia menurunkan tubuh Kenzi yang gembul dan didudukan di sofa. Dia meminta sang ayah untuk menjaga kedua anaknya, “jagain ya, Yah. Siapa tahu itu suster yang kita tungguin,” ujar Salsa. Dia sedang menunggu pengasuh untuk kedua anaknya mengingat sang Ayah sudah sakit-sakitan dan gak bisa lagi jagain keduanya yang super aktif seperti dulu.“Iya, Nak,” jawab Kakeknya si kembar. Saat si kembar mau ikut ke depan, sang Kakek berhasil menahannya. “Jangan nakal, nanti Mama marah,” bujuknya.“Mama gak pernah marah,” sahut Kenzo membuat sang kakek pening karena kedua cucunya selalu punya jawaban j
Sepanjang makan malam berlangsung, Nathan beberapa kali sengaja memanggil manajer restoran hanya untuk melayani hal-hal sepele yang diminta tunangannya. Salsa tahu betul permainan pria itu. Meski hatinya sangat panas dan jengkel melihat betapa manjanya Clara di depan umum pada Nathan, Salsa memilih tetap bekerja dengan profesional. Ia sadar tugas utamanya adalah memuaskan konsumen—termasuk melayani calon istri dari mantannya itu dengan sepenuh hati tanpa menunjukkan riak di wajahnya.Hampir dua setengah jam rombongan pengusaha itu menghabiskan waktu di The Grand Pavilion dan Salsa jadi semakin yakin kalau perusahaan Nathan sudah jauh lebih berkembang pesat ketimbang sebelum musibah itu terjadi. Dia juga mendengar Nathan menyebut Papanya Clara yang mengambil peran besar dalam kebangkitannya ke puncak popularitas. Ada rasa sakit di hati yang tidak bisa Salsa ungkapkan dengan kata-kata. Selama itu pula, Salsa berkali-kali memergoki tatapan Nathan yang menatap intens ke arahnya. Sorot ma
Salsa berusaha keras menahan debar jantungnya dan menjaga pandangannya tetap menatap tamunya.“Kamu yang dulu pernah ikut ke London bareng calon suamiku, kan?” tanya Clara. Matanya menatap Salsa dari atas ke bawah. Wajah wanita di depannya ini sama sekali tak berubah—bahkan kini terlihat jauh lebih cantik, matang, dan berkelas ketimbang beberapa tahun lalu.Salsa mengukir senyum manis di bibirnya, senyum yang dulu selalu membuat Nathan jatuh cinta berkali-kali pada wanita ini. Konyol rasanya dikenali oleh tunangan dari mantannya sendiri.“Benar, Bu. Saya dulu korban PHK di sana, makanya saya memutuskan cari pengalaman di tempat lain,” jawab Salsa dengan suara lembut dan berhasil membuat Nathan lupa akan uang ganti rugi sepuluh miliar.Clara manggut-manggut puas karena tebakannya benar.Mengabaikan rasa perih yang diam-diam menjalar di relung hatinya, Salsa menatap lagi ke arah Nathan. “Mari, Pak, Bu, saya antarkan ke meja Anda.” Ia mengibaskan tangannya sopan, mengarahkan mereka menuj
“Jadi gimana ini, Pak?” tanya salah satu polisi yang berada di lokasi, bingung melihat penabrak mobil mewah itu dibiarkan kabur begitu saja oleh Nathan Abimanyu.“Ya sudah, terima kasih, Pak. Biar jadi urusan saya dengan orang itu. Kebetulan saya kenal dengan orangnya,” sahut Nathan, mencoba menetralkan raut wajahnya.“Baik, Pak. Kalau begitu kami permisi dulu,” pamit petugas kepolisian, yang dibalas anggukan dan acungan jempol dari Nathan.Nathan lalu menoleh ke arah tim mekanik langganannya. “Bawa mobilnya ke bengkel. Ganti semua komponen yang rusak. Nanti biaya perbaikannya langsung saya transfer.”“Baik, Pak,” jawab mekanik senior itu.Bersamaan dengan itu, sebuah mobil hitam lain berhenti tepat di samping Nathan. Raka, asisten pribadinya, keluar dari pintu kemudi. Padahal Nathan sama sekali tidak menghubungi anak buahnya itu. Tapi karena status Nathan Abimanyu sebagai pengusaha tersohor di kota ini, kabar kecelakaan yang menimpanya langsung viral di media sosial dalam hitungan me
Saat Salsa hendak memutar tubuh untuk menutup pintu mobil, tiba-tiba pergelangan tangannya dicengkeram oleh Nathan. Sentuhan yang sudah lima tahun tak pernah dirasakannya itu seketika menghantarkan sengatan seperti ada aliran arus listrik tegangan tinggi yang membuat seluruh saraf Salsa tegang, pun dengan Nathan.“Masuk lagi, Sayang,” bisik Salsa setengah panik, berusaha menahan agar anak-anaknya tidak sampai keluar dari mobil.Namun, anak-anak itu rupanya mewarisi sifat papanya yang keras kepala. Mana mau mereka menurut kalau belum berhasil membawa mamanya pergi dari tempat itu. Tanpa rasa takut, keduanya tetap memaksakan diri turun dari mobil.Di sisinya, Nathan berusaha menahan napas. Dadanya bergemuruh hebat, dipaksa menerima kenyataan pahit bahwa wanita yang dicari-carinya selama ini ternyata sudah dimiliki orang lain. Matanya membulat sempurna saat melihat dua makhluk kecil tampak saling bantu menuruni pijakan mobil.“Jadi kamu sudah menikah?” suara Nathan terdengar berat, berus
“Ta–tapi saya gak mau pakai baju ini, Om,” cicit Salsa, mencoba mengumpulkan sisa keberaniannya yang sudah hampir habis ditelan ketakutan setiap kali bertemu dengan Nathan.Nathan yang sejak tadi sibuk di depan MacBook seketika berhenti mengetik. Dia menoleh ke sumber suara, menatap Salsa dengan r
Braaaaak Pintu kamar Zara dibuka lebar hingga menimbulkan dentuman yang cukup keras membuat Salsa kaget. “Kurang ajar! Kamu ngintip, ya?” tuduh Aditya kesal. Dia keluar untuk mencari tahu apa sebetulnya yang pecah di depan kamar calon istrinya. Dan betapa kesalnya dia mendapati Salsa di sana. Ad
Ting. Satu pesan baru masuk lagi dari Nathan. Pria itu mengirimkan sebuah titik lokasi vila yang menjadi tempat pertemuan mereka besok siang. Belum sempat Salsa mencerna semuanya, satu pesan beruntun kembali masuk. “Jangan bilang apa pun pada Alea tentang perjanjian panas ini. Paham!” Hati Salsa
“Tapi, Om…” “Kalau kamu punya barang berharga sebagai jaminan, boleh pakai itu. Asal nilai jualnya lebih besar dari uang satu miliar yang kamu butuhkan sekarang,” ucap Nathan cepat, memotong kalimat Salsa sebelum gadis itu sempat menyelesaikannya. Salsa tampak semakin frustasi. Detik jam dinding







