LOGINSuamiku menyiksaku selama pernikahan ini, membawa kekasihnya sebagai penghangat ranjang dan membekukan ranjangku. Terlebih saat aku tahu alasannya.... Cukup sudah! Lihat saja, kau pikir aku akan tinggal diam, Mas?
View MoreIvy's POV
The wolves are watching me unpack.
Not literally, but the two Pack sentries stationed outside my bedroom door haven't moved in forty minutes, and every time I cross near the window I catch the shift of their shoulders and the slight turn of their heads.
I hang the last of my clothes in the carved wooden wardrobe and try to look like a woman who isn't counting exits.
Ashveil is nothing like home. Home is underground in neon and concrete and the permanent smell of generator fuel and ambition. This place is timber and firelight and mountain air so clean it almost hurts to breathe. My bedroom alone is bigger than the entire floor I shared with two other girls back in the Syndicate compound.
Stone walls. A window that looks out onto a forest that goes on forever.
It's beautiful but I hate it.
I hate it because beautiful things in my experience always come with a price tag I find out about too late, and I hate it because I've been here less than six hours and I can already feel it; something about this place pulling at something in me I don't have a name for.
I close the wardrobe and sit on the edge of the bed.
One year. My father's voice echoed in my head, smooth and certain the way it always is when he's already decided. One year, Ivy. Then you come home. Like home is a thing I'm being lent out from and not a place I was managed in. Like I have a choice about either.
A knock at the door. Actual knocking this time, which already makes it different from Rook.
"Come in."
The girl who enters is around my age, dark-haired, with the kind of face that smiles before the rest of her has decided to. She's carrying a tray with tea, bread and something else that smells like honey. She kicks the door shut behind her with her heel like we're already friends.
"I'm Maren," she says, setting the tray on the side table, "Pack healer. I also volunteered to be your official welcome committee because everyone else was too intimidated and I thought that was embarrassing for us as a Pack, " She tilts her head, "You're smaller than I expected."
"People say that."
"Is it annoying?"
"Extremely."
She laughs, bright and unguarded, and something in my chest loosens, slightly, in a way I immediately don't trust. I don't make friends easily. I don't make friends at all, if I'm honest. Friends are people who can be used against you.
"Eat something," Maren says, nodding at the tray. "The Alpha's welcome dinner is in two hours and you'll want something in your stomach before you sit across a table from Soren Dusk on an empty one."
I reach for the bread. "Is he that bad?"
"He's not bad. He's just…" she pause, "a lot. He has this way of looking at you like he's already read the last page of you and found it unsatisfying," She pauses again, "You'll be fine though. You have the face."
"What face?"
"The one that looks like nothing bothers you," She says it without any cruelty, just observation, "It's a good face to have in this territory."
I eat the bread and don't tell her how long it took me to build that face, or what it cost.
***
The dinner is in the great hall, long table, firelight, and I walk in beside Maren and feel twenty sets of eyes land on me at once.
I keep my chin level and find my seat.
Alpha Soren sits at the head of the table, exactly as cold as advertised. He nods at me once when I sit, the greeting of a man who has fulfilled his social obligation and considers the matter closed. Around him, senior Pack members whose names I won't remember until I've heard them three times. Conversation I'm not included in.
I'm fine with all of it. I know how to sit in a room where I'm not wanted. I've been doing it my whole life.
What I'm not fine with is the chair directly across from mine being empty for the first twenty minutes of dinner, and then suddenly not being empty; and the man who fills it looking up and catching my eyes before either of us is ready for it.
I know his face. I saw it at the border gate this morning, lit by a lantern, when our convoy rolled in and he went so still it stopped me mid-breath. I'd asked Rook who he was and Rook had taken just a half-second too long to answer.
Caelum Dusk. The Alpha's brother.
"Sorry," he says, to me specifically, like the empty chair was a slight he owes me for, "I got held up at the eastern boundary."
"It's fine," I say.
"Did Maren feed you before this?"
I blink, "Yes."
"Good." He reaches for the bread like that's a normal thing to open with, like he didn't just sit down across from a Syndicate stranger at a politically loaded dinner table and lead with whether she'd eaten. "She does that. It's her version of making sure you survive the first night."
Something about the easiness of him throws me. I'm good at reading rooms, at reading people, it's the skill my father prizes most in me and I cannot get a read on Caelum Dusk. He's not performing warmth and he's not concealing anything as far as I can tell, which in my experience means I'm missing something.
Nobody is just warm. There's always something underneath.
I'm still trying to find it when Rook appears in the doorway of the hall.
He wasn't invited to dinner. I know because I saw the seating arrangement and his name wasn't on it. He's standing at the edge of the room with a glass he isn't drinking from, and his eyes are moving between me and the man sitting across from me with an expression I have never once seen on his face in eight years.
I know every version of Rook's face. Focused. Cold. Dangerous. Bored. Patient.
This isn't any of them.
Caelum follows my gaze across the table, looks at Rook, and something shifts; barely, a fraction in his jaw.
He looks back at me.
"How are you finding Ashveil so far?" he asks, like nothing just happened.
And I almost answer him. I almost say it's beautiful or it's fine or something composed and safe.
Instead, from somewhere outside and beyond the hall, deep in the dark tree line of the mountain territory, low and resonant and pulling at something animal and inexplicable in the base of my spine, a howl rises.
Then another.
Then the whole Pack at the table goes quiet in a way that doesn't feel like fear.
It feels like a call.
And every hair on my body stands up.
Naya mencoba mengabaikan perasaan anehnya, dan mengangguk, "Baiklah, kita berikan kejutan untuk semuanya hari ini, mereka pasti seneng kamu sudah bisa jalan, Mas!" Lingga tersenyum, "Berkat obat paling mujarabmu, Sayang!" "Ishhh! Ke rumah Ibu sekarang!" potong Naya saat mengetahui suaminya mulai menunjukkan tanda-tanda berbeda. Badannya saja masih seperti remuk redam akibat ulah suaminya itu, "Dasar banteng liar!" "War, banteng liar akan menyerudukmu, Sayang!" canda Lingga semakin menjadi-jadi membuat Naya akhirnya terkekeh. Dan setelah itu, Lingga melajukan mobilnya sendiri, pertama kalinya menyetir setelah selama ini Naya yang menyetir membuat Lingga merasa kembali menjadi laki-laki seutuhnya. Cukup lama, mobil Lingga akhirnya terparkir sempurna di depan rumah Bu Btari, di sambut oleh Bu Btari yang menggendong Naima, Nendra dan Bia yang tengah menggendong Kayla. "Itu, Mama dan Papa datang!" Terdengar suara lirih Bia sambil menggoyangkan tangan Nendra, membuat Lingga tersenyum
Naya terkekeh mendengar godaan Lingga, kemudian mendorong kursi roda suaminya menuju kamar, "Bukan kamu yang menyeret ku, Mas, tapi aku yang meyeretmu!" Lingga tertawa mendengarnya, "Baiklah, aku pasrah padamu, Sayang!"Tawa keduanya memenuhi rumah yang dulu dingin di awal pernikahan itu, menghangatkan dan mengukir kembali asa yang pernah lebur. Seolah ingin mengganti semua rasa sakit menjadi kebahagiaan saja. Naya membersihkan suaminya, menggantikan dengan pakaian tidur, kemudian berganti dirinya yang mandi cukup lama untuk sekedar me time. Setelah seharian lelah mengurus kedua anaknya dan suaminya, berendam air hangat cukup merilekskan tubuhnya, mumpung kedua anaknya diangkut oleh sang ibu. Sedangkan Lingga sudah duduk di balkon dengan dua gelas hot chocolate buatan mbok rum lengkap dengan cookies home made. Menunggu istrinya yang sudah ijin untuk berendam lebih lama, Lingga sendiri sengaja memberikan waktu karena istrinya pasti sangat lelah seharian. Cukup lama, sekitar satu
Lingga seakan memiliki harapannya lagi, merasa dirinya harus sembuh untuk kedua anaknya dan juga Naya. Naya benar-benar menyulut semangat Lingga, dan Naya kembali memeluk suaminya penuh dengan haru, melihat suaminya memiliki semangat hidup membuatnya sangat bahagia. 'Bahkan jika kamu tak bisa jalan sekalipun selamanya, aku akan tetap bangga memilikimu, Mas!' batinnya. Bersamaan dengan itu, Bu Btari masuk kembali ke dalam kamar menggendong bayi mungil itu sambil menggandeng tangan kecil cucu pertamanya yang baru tiba, "Peluklah Papamu, kau pasti rindu kan?" titahnya. Membuat Naya dan Lingga terpaku melihat putranya sudah berlinang air mata menatap sang ayah. Sontak Lingga merentangkan tangannya, dengan mata penuh kerinduan melihat putranya yang terlihat jauh lebih besar, dengan gaya pakaian yang berbeda dan juga rambut yang berwarna pirang. Sedikit banyak, Lingga tau yang putranya rasakan, membuat Lingga tak bisa menahan matanya yang sudah basah, "Kemarilah jagoan, Ayah rindu!"
"Mas!" lirih Naya masih terus mengusap wajah suaminya, "Aku menanti delapan bulan untuk bisa berbincang dengamu, aku habiskan hari-hari dengan rasa bersalah! Dengan penyesalan! Jika bisa aku ingin menukar dunia ini dengan bangunmu kembali bukan untuk perceraian!" lirih Naya dengan lelehan air mata. Hatinya tak sanggup mendengar ucapan rendah diri itu dari suaminya, segala penyesalan, semua sakit suaminya, Naya lebih dari sakit. "Naya yakin Mas akan cepat sembuh, bisa jalan lagi! Hanya butuh waktu, Mas ... Mas juga belum menepati janji akan ke Barcelona dengan Nendra! Seperti keinginan Nendra, mari bangun rumah tangga kita lagi, jangan menceraikan Naya, Mas!" pinta Naya. Persetan dengan harga diri, nyatanya kehilangan Lingga begitu menghantam hatinya, begitu memporak-porandakan hidupnya, memporak-porandakan hati putranya juga. Jika permohonan Lingga delapan tahun lalu Naya tolak, kini permohonannya, akan Naya pastikan tidak akan tertolak. Namun, bukannya menjawab, Lingga justru ke
Naya semakin tertawa terbahak-bahak, 'Ibu yang baik? Jangankan punya anak, suamiku bahkan jijik menyetuhku, Bu!' batin Naya. "Kamu ini, di nasehati Ibu malah tertawa, Nak!" jawab Bu Btari. "Ibu sih, aku jadi berasa menantu Ibu, bukan anak Ibu, tau!" canda Naya, "Naya tau, Bu! Makasih sudah peduli
"Iya, Sayang! Yuk, kita langsung ke kamar saja!" ajak Lingga sambil merangkul pundak wanita yang melingkarkan tangannya di perut Lingga. Naya hanya bisa terpaku, menatap kepergian suaminya dengan dada yang mendidih, "Kamu sengaja melakukannya, kan Mas? Seolah memberikan aku harapan agar aku semaki
Lingga menyadari sesuatu setelan mendengar gumaman Naya, namun dia tetap diam dan mendudukkan Naya di jog mobil. Jujur! Naya sangat lemas sekali. Demamnya juga sangat tinggi karena semalaman tidur di ubin kamar mandi. Mas Byakta sama Bu Btari tampak mengantar sampai di teras saja karena dilarang
Naya terbelalak dengan pekikan tertahan karena serangan dadakan yang diluncurkan oleh Lingga. Membungkam semua penolakan serta pukulan yang Naya berikan, posisi Naya yang duduk di lantai dan Lingga diatas kasur yang menyambar bergitu saja membuat Nata mendongak."Diamlah, atau Ibu dan Mas By akan


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews