Home / Male Adult / Rayuan Desa Wanita / Terapi di Atas Meja Lab

Share

Terapi di Atas Meja Lab

Author: Falisha Ashia
last update publish date: 2026-06-24 17:18:14

Jari tangan Widya bergetar parah saat menyentuh kancing jas putihnya.

Wanita itu menarik napas panjang. Akal sehatnya menolak instruksi tersebut, namun rasa kebas yang menjalar di pergelangan tangannya menjadi bukti mutlak kematian sel jaringan ototnya.

Kain bernoda lumpur itu jatuh ke atas permukaan meja bedah baja. Kemeja katun tipis yang ia kenakan menyusul terlepas dan menumpuk di sisi pinggiran logam.

Wanita itu memeluk dadanya sendiri menyembunyikan pakaian dalamnya. Matanya menatap waspa
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Rayuan Desa Wanita   Pengabdian Sang Bunga Desa

    Ujung jari Nida menekan kain celana bahan milik Leo.Leo mencengkeram kedua pergelangan tangan Nida.Dia menghentikan pergerakan tangan wanita itu tanpa menggunakan tenaga berlebih."Kau melakukan ini karena putus asa," ucap Leo datar, memandang lurus ke mata wanita di depannya."Aku tidak menerima penyerahan diri dari wanita yang mencari pelarian sementara."Nida menggeleng cepat.Rambut hitam panjangnya tergerai menutupi sebagian bahunya."Saya sadar di mana tempat saya seharusnya," bantah Nida dengan suara bergetar namun tegas."Bang Jaya pergi pagi tadi untuk rute seminggu ke depan."Nida menatap mata Leo tanpa berkedip."Saya tersenyum mengantarnya ke truk, tapi hati saya benar-benar kosong."Leo melepaskan cengkeramannya dari pergelangan tangan Nida.Nida berdiri tegak di depan kursi Leo.Tangan kirinya menarik kemeja dinasnya hingga terlepas dari bahu.Pakaian seragam itu jatuh menumpuk di lantai ubin puskesmas.Pakaian dalam katun putih kini menjadi satu-satunya pembatas."Tun

  • Rayuan Desa Wanita   Skakmat Sang Juragan Tambak

    Ujung laras pistol rakitan itu berjarak kurang dari satu meter dari dada Leo.Jari telunjuk Bardi bertengger di pelatuk besi yang berkarat.Warga desa menjerit ketakutan dan mundur serentak.Lilis menahan napas di belakang punggung Leo, mencengkeram erat ujung kemejanya."Mundur atau peluru ini menembus jantungmu!" ancam Bardi serak.Napas juragan tambak itu memburu cepat, dadanya naik turun.Leo tidak mengubah posisi berdirinya.Matanya menatap lurus ke laras baja tersebut."Tarik pelatuk itu jika lenganmu tidak bergetar," tantang Leo datar.Bardi menggeram marah mendengar tantangan itu.Dia menghirup udara dari mulutnya dalam-dalam.Tarikan napas kasar itu membawa petaka.Serbuk putih pestisida di kerah baju kargonya ikut terhirup masuk.Mata Bardi membelalak lebar.Pria besar itu terbatuk keras menyemburkan cairan ludahnya.Pistol rakitan di tangannya jatuh membentur paving block.Bardi jatuh berlutut sambil mencengkeram lehernya sendiri."Uhuk! Tolong!" rintih Bardi dengan wajah m

  • Rayuan Desa Wanita   Pengkhianatan di Atas Kertas

    "Aku tidak bisa melakukan itu, Dokter," tolak Lilis melangkah mundur hingga punggungnya menabrak dinding kayu."Bardi memiliki banyak anak buah di seluruh desa. Suamiku akan menguliti tubuhku hidup-hidup di depan warga jika aku berkhianat."Leo berhenti di ambang pintu gubuk.Dia menoleh menatap Lilis dengan sorot mata datar."Kau sudah berkhianat sejak menyerahkan buku itu ke tanganku."Lilis menelan ludahnya yang terasa kering."Aku bisa menghancurkan kerajaan suamimu dalam hitungan jam," ucap Leo mengancingkan kembali kerah kemejanya."Pilihanmu hanya dua. Tetap menjadi samsak hidup Bardi, atau menjadi informanku dengan jaminan perlindungan mutlak."Lilis menatap ujung sepatunya sendiri.Sensasi sentuhan Leo di bawah dipan tadi masih berbekas jelas di sekujur sarafnya.Logika dan ketakutannya pada Bardi kalah telak oleh dominasi sang dokter."Aku bersaksi siang ini," putus Lilis mengangkat wajahnya. "Pastikan nyawaku aman, Dokter Leo."Leo mengangguk sekali tanpa memberikan janji v

  • Rayuan Desa Wanita   Terapi Kolong Bambu

    Pintu gubuk digedor dari luar dengan kepalan tangan."Lilis! Keluar kau perempuan pemalas!" teriak suara serak pria dari balik papan kayu.Tubuh Lilis tersentak keras mendengar suara suaminya.Buku catatan di pelukannya nyaris terjatuh akibat tremor di kedua tangannya yang semakin menjadi-jadi.Leo menarik kembali jari telunjuknya dari leher wanita itu.Dia memperhatikan postur bahu Lilis yang membungkuk tidak wajar saat ketakutan melanda."Tulang belakangmu melengkung menekan saraf servikal," diagnosis Leo cepat.Pria itu menunjuk area pundak kiri Lilis."Itu alasan kenapa tanganmu terus gemetar dan kesulitan bernapas setiap kali mendengar bentakan.""Pergi dari sini, Dokter," usir Lilis menahan air matanya."Bardi akan membunuh kita berdua jika melihat ada pria asing di gubuk ini.""Buka pintunya, Lilis!" bentakan Bardi terdengar semakin dekat bersamaan dengan suara tendangan ke dinding gubuk.Leo tidak mempedulikan ancaman di luar.Tangannya dengan cepat menyambar pinggang Lilis."

  • Rayuan Desa Wanita   Preman Empang

    Kayu rotan itu meluncur deras menuju pelipis kiri Leo.Tepat sebelum benturan terjadi, tangan kiri Leo bergerak menyamping.Dua jarinya mencengkeram pergelangan tangan sang preman dengan sangat presisi.Ujung ibu jari Leo menekan kuat simpul saraf radialis pria tersebut.Preman berambut cepak itu menjerit parau.Kayu rotan terlepas dari genggamannya dan jatuh membentur tanah berbatu.Leo menarik lengan preman itu ke depan.Dia memutar tubuhnya, lalu menendang bagian belakang lutut pria tersebut.Pria itu ambruk berlutut memegangi kakinya yang lumpuh mendadak."Keparat kau!" maki preman bertubuh gemuk melihat rekannya tumbang.Preman kedua, ketiga, dan keempat membuang tongkat rotan mereka ke tanah.Ketiga pria itu menarik celurit baja dari balik pinggang celana mereka.Mata pisau melengkung itu memantulkan cahaya matahari pagi yang mulai terik.Sebuah truk boks logistik berhenti mendadak di jalan tanah tepi bendungan.Pintu kemudi truk itu terbuka dengan kasar.Jaya melompat turun dar

  • Rayuan Desa Wanita   Air Keruh di Pagi Buta

    Pintu kayu ruang tamu ditarik terbuka dari dalam sebelum sepatu lars para petugas itu sempat mendobrak.Leo berdiri menyamping menutupi akses masuk.Tangan kanannya menyodorkan map plastik merah tepat ke dada pria berseragam khaki di depannya."Baca stempel pengesahan dari inspektur tata ruang provinsi di pojok kanan bawah," perintah Leo tanpa menaikkan nada suaranya.Pria berseragam itu menyorotkan senternya ke arah dokumen tersebut.Matanya melebar melihat tanda tangan asli atasannya.Tangan petugas itu gemetar mengembalikan map tersebut."Tarik mundur pasukanmu dalam waktu sepuluh detik," usir Leo.Tanpa banyak bicara, rombongan mobil dinas itu memutar balik meninggalkan pekarangan puskesmas dengan tergesa-gesa.Nida menghela napas lega dari balik punggung Leo.Wanita itu segera pamit pulang, menyisakan rutinitas malam yang kembali berjalan normal.Ketukan keras di meja pendaftaran puskesmas mengawali rutinitas jam delapan pagi.Maya berlari masuk dengan daster basah kuyup.Janda k

  • Rayuan Desa Wanita   Kania Pertama Kali Merasakan Sentuhan

    Nampan kayu di tangan Kania bergetar hebat hingga cangkir teh di atasnya bergemerincing. Mata bulat gadis lugu itu menatap nanar ke arah pakaian dalam renda milik Sekar yang tergeletak sembarangan di dekat kaki Leonardo.Di udara gudang yang sempit ini, aroma pekat perpaduan keringat dan cairan cin

  • Rayuan Desa Wanita   Buat Aku Hidup Kembali

    Tatapan memuja dari sepasang mata sayu Sekar meruntuhkan sisa-sisa pertahanan rasionalitas Leonardo. Sebagai seorang dokter, ia terbiasa mengendalikan kehidupan dan kematian di meja operasi. Namun malam ini, di dalam gudang kayu yang pengap dan temaram, ia akan mengendalikan tubuh dan jiwa wanita

  • Rayuan Desa Wanita   Benar-benar Berdua

    Gedoran di pintu kayu itu bagaikan dentuman meriam yang menghancurkan kabut gairah di dalam gudang.Maya tersentak mundur, wajahnya yang tadi merah merona karena nafsu kini seputih kertas. Tangannya gemetar hebat, buru-buru menarik naik kemben batiknya dan merapikan rambutnya yang berantakan.Di ba

  • Rayuan Desa Wanita   Amukan Suroto

    Hujan turun semakin deras, bagaikan tirai air yang menutupi pekarangan belakang rumah. Kilat menyambar membelah langit malam, menyinari sesosok pria gemuk yang sedang mengamuk layaknya kesetanan.“Buka pintunya, Kania! Di mana ibumu menyembunyikan istriku?!” raung Suroto, tangannya yang kekar terus

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status