LOGINTabung oksigen portabel berbenturan keras dengan lantai keramik lorong Puskesmas Elite.Bidan Ayu mendorong ranjang dorong dengan napas tersengal membelah antrean pasien.Layar monitor medis di tangannya berkedip merah memancarkan bunyi peringatan darurat."Dua lansia tambahan baru saja kehilangan kesadaran di ruang tunggu depan, Dokter!" lapor Ayu panik.Wanita itu menarik masker oksigen dan memasangkannya ke wajah keriput seorang pasien pria.Leo melangkah keluar dari ruang kerjanya membawa stetoskop di leher kemeja linennya.Pria itu memeriksa pupil mata pasien dan mencium aroma tajam dari pakaian mereka."Bau amonia pekat bercampur sisa pembakaran klorin basah," observasi Leo datar."Pasien-pasien ini tidak mengalami wabah penyakit menular biasa.""Mereka keracunan partikel udara beracun dalam durasi lebih dari empat jam berturut-turut," jelas Leo menarik stetoskopnya.Jadwal sarapan pagi warga perbatasan barat hancur total oleh serangan gas kimia mematikan tersebut."Dari ma
Ujung sepatu bot preman itu berputar arah menjauhi pelat baja rongga turbin.Suara langkah kakinya perlahan meredup tenggelam oleh deru bising putaran mesin air raksasa di atas mereka.Leo melepaskan tekanan ibu jarinya dari ulu hati Amel secara perlahan."Mereka sudah bergerak menuju blok generator cadangan di sisi timur," lapor Leo datar menatap celah pelat.Amel melepaskan gigitannya dari kerah kemeja linen pria itu dengan napas terengah-engah.Wajah insinyur wanita itu memerah pekat menahan sisa guncangan biologis di sekujur saraf motoriknya."K-kita harus segera keluar sebelum mereka menyisir ulang tempat ini," bisik Amel merapikan letak kacamatanya.Leo merangkak keluar dari rongga sempit itu dan berdiri tegak menepis debu dari celananya.Dia mengulurkan tangan kanannya menarik tubuh Amel hingga berdiri stabil di atas kakinya.Mata sang dokter bedah tertuju pada deretan panel hidrolik penggerak pintu bendungan utama."Sistem elektronik mereka mungkin terkunci rapat dari pusat ko
Amel berdiri mengetik cepat di atas papan ketik terminal kendali hidrolik stasiun pompa air.Wanita berkacamata itu mencoba membobol sistem keamanan untuk membuka kunci pintu bendungan desa secara manual."Kode enkripsinya sudah diubah ulang secara sepihak siang tadi," gumam Amel membetulkan letak kacamatanya.Keringat dingin menetes dari dahi sang insinyur menyadari risiko tinggi dari tindakan sabotase tersebut.Tiga preman penjaga mendadak melangkah masuk ke dalam ruang kontrol menodongkan senjata mereka."Jadi kau mau mencoba menjadi pahlawan kemanusiaan untuk warga desa ya, Nona Insinyur?" tegur preman pertama.Amel terlonjak mundur menabrak meja kontrol menjatuhkan gulungan peta topografinya ke lantai."Bos Tirta sudah menduga kau akan mencoba berkhianat dengan membuka pintu bendungan itu malam ini," lanjut preman kedua.Pria berbadan gempal itu melangkah maju berniat mencengkeram rambut panjang Amel yang diikat kuda.Leo melesat masuk dari balik bayangan pintu memotong jarak
Debu kering beterbangan tertiup angin panas menyapu pelataran aspal Puskesmas Elite.Musim kemarau ekstrem melanda seluruh wilayah perbatasan distrik tanpa tanda-tanda awan mendung.Daun-daun pohon jati di pinggir jalan raya menguning dan berguguran layu menahan suhu tinggi.Layar monitor tangki air utama puskesmas berkedip merah menampilkan angka debit yang terus menurun.Bidan Ayu berlari keluar dari lorong ruang sterilisasi alat medis dengan wajah tegang."Pasokan air bersih untuk mesin sterilisasi uap panas mengalami penyusutan drastis pagi ini, Dokter," lapor Ayu dengan wajah yang tampak panik."Kita tidak bisa melakukan tindakan operasi minor siang nanti tanpa instrumen yang disterilkan secara absolut itu."Leo meletakkan cangkir kopi hitamnya ke atas meja kerja kayu jati di ruang VIP."Debit air tanah tidak akan turun drastis dalam semalam hanya karena cuaca panas," observasi Leo datar.Suara deru mesin mobil SUV mewah memecah percakapan mereka dari arah gerbang depan.Sebuah
Engsel pintu insulasi perak itu berderit pelan merespons dorongan bahu kanan Leo.Hawa beku berhembus keluar berbenturan langsung dengan udara pengap bekas pabrik tekstil.Leo melangkah keluar dari ruang pendingin raksasa menenteng kemeja linennya di tangan kiri.Sinta berjalan mengekor tepat di belakang sang dokter bedah dengan langkah kaki yang menapak stabil.Suhu inti tubuh perawat muda itu telah kembali normal sepenuhnya pasca terapi termal di dalam mesin pembeku.Rona kemerahan menghiasi wajah dan leher Sinta menyisakan jejak guncangan biologis barusan.Napas wanita itu masih sedikit tersengal menahan lonjakan hormon endorfin yang memabukkan jaringan otaknya.Sembilan penjaga bayaran mengerang parau memegangi pergelangan kaki mereka yang cacat permanen."Berhenti melangkah sekarang juga, Dokter keparat!" bentak Frans dari ujung lorong timur.Mantan ahli anatomi itu mengangkat sebuah pistol pembius bertekanan gas pneumatik tinggi.Laras hitam berlubang besar itu mengarah lurus m
Ujung tongkat baja pertama melayang lurus mengincar pelipis kanan Leo.Pemuda itu merendahkan bahunya membiarkan besi tumpul tersebut melewati kepalanya.Pisau titanium di tangan sang dokter bedah berputar memantulkan cahaya neon."Pukul kepalanya dari belakang!" perintah seorang preman berwajah parut.Leo melangkah mundur memotong lintasan serangan lawan dengan presisi geometris.Bilah perak murni itu menyayat bagian belakang pergelangan kaki preman pertama.Tendon Achilles pria tersebut terputus rapi dalam satu tarikan garis lurus.Preman berwajah parut itu menjerit keras kehilangan fungsi tumpuan kakinya seketika.Dia ambruk menghantam lantai tanpa kesempatan untuk berdiri tegak kembali."Kalian terlalu membebani otot betis saat mengayunkan senjata," evaluasi Leo datar."Potong lidahnya biar dia bungkam!" teriak preman lain melompat maju.Tiga penjaga bayaran lainnya merangsek serentak dari arah samping.Leo memutar tubuhnya menggunakan poros tumit kiri dengan kelenturan efisien.S
Bilah pintu baja menabrak kusen logam menghasilkan dentuman keras yang merobek telinga.Bunyi selot hidrolik bergeser menutup rapat dari berbagai sisi kusen.Ruang brankas itu kini tersegel, memisahkan mereka berdua dari dunia luar.Suara putaran baling-baling kipas ventilasi di langit-langit menda
Ban sedan dinas kejaksaan berdecit keras menabrak aspal beton. Mobil berplat merah itu melaju membelah kepadatan jalan tol lintas provinsi dengan kecepatan tinggi.Valeria mencengkeram kemudi dengan kedua tangannya yang berkeringat dingin. Jaksa wanita itu memacu laju kendaraan menuruti instruksi m
Tangan Leo meraih kemeja linen putih dari atas kursi rotan di tepi kolam. Pria itu melangkah naik meninggalkan air belerang yang mengepulkan uap panas ke udara.Delapan pelayan elitnya tertidur lemas tanpa busana menutupi tubuh di atas dipan bambu lantai kayu vila VIP.Leo mengancingkan kemejanya p
Sinar mentari pagi mengusir sisa-sisa dingin di ruang istirahat klinik darurat. Leonardo Xaverius melangkah keluar dengan kemeja linen yang melekat pas di tubuh kekarnya, memancarkan wibawa absolut seorang penguasa yang baru saja memuaskan hasratnya.Di belakang sang dewa bedah, Ayu menunduk patuh.







