เข้าสู่ระบบAsap hitam pekat berbau ozon dan daging panggang membubung dari sisa-sisa dek komando. Di tengah reruntuhan yang berpijar, Rajendra batuk darah, dadanya naik turun dengan nafas yang memburu. Matanya yang diperkuat implan sibernetik berkedip merah, mengirimkan sinyal peringatan kritis langsung ke korteks serebralnya. Di sebelahnya, Madam Amy terkapar dengan pelindung berteknologi nano yang robek di berbagai tempat. Kulit pualamnya kini ternoda jelaga dan darah keperakan, darah sintetis hasil rekayasa genetik tingkat tinggi. Mereka berdua masih bernapas. Mereka selamat dari pertempuran sengit melawan Malik, sang eksekutor berdarah dingin yang dikirim oleh Aliansi Orbit Luar. Pertarungan tadi bukan sekadar adu fisik, melainkan benturan distorsi ruang dan senjata plasma yang mengoyak atmosfer buatan di dalam benteng melayang mereka. "Rajendra..." suara Madam Amy terdengar seperti gesekan ampas besi. Tangan kanannya, yang kini kehilangan fungsionalitas motorik karena hantaman gelom
Lampu indikator pada dinding koridor Aethelhard berdenyut dalam ritme yang lambat, memancarkan cahaya merah temaram yang menyerupai detak jantung makhluk purba. Di luar jendela observasi kapal, tidak ada bintang. Tidak ada galaksi. Hanya ada kekosongan absolut dari Dimensi Kelam dan sebuah wilayah di luar ruang dan waktu konseptual, tempat materi normal akan hancur menjadi partikel subatomik jika tidak dilindungi oleh perisai peluruhan kuantum kapal.Madam Amy berdiri menatap kekosongan itu. Jubah siber-sutranya berkilau setiap kali sensor pada pakaian itu membaca perubahan fluktuasi dimensi. Wajahnya tetap tenang, guratan usianya disamarkan oleh augmentasi seluler generasi terbaru, namun matanya memancarkan kedalaman yang dingin."Mereka sedang menari di atas kuburan yang mereka gali sendiri," suara Madam Amy memecah keheningan anjungan kapal. Nadanya rendah, namun bergema kuat. "Merayakan kemenangan yang mereka sebut sebagai Hari Pembebasan. S
Sistem kecerdasan buatan itu dari dalam. Bersamaan dengan itu, sistem jubah besi di seluruh kerajaan mulai kehilangan sinkronisasi. Partikel antimateri tidak lagi mengalir untuk memulihkan, melainkan mulai saling bertabrakan secara tidak terkendali, menghancurkan struktur logam yang selama ini mereka lindungi. Zhafirah, memanfaatkan detik-detik kehancuran sistem pertahanan musuh, merangkak dengan sisa tenaganya. Dia menekan tombol detonator pada bom penstabil magnetik yang telah mereka pasang."Hancurlah, neraka besi," desis Zhafirah. Ledakan besar pun terjadi. Bukan ledakan api, melainkan kilatan cahaya absolut yang menelan seluruh kegelapan, meruntuhkan pilar-pilar raksasa kerajaan Rajendra, dan menghancurkan fondasi kota bawah tanah hingga menjadi puing-puing yang tak bersisa.Fajar baru kemanusiaan asap tebal perlahan-lahan terurai oleh angin dingin yang berembus dari celah-celah langit-langit benteng yang runtuh. Untuk pertama kalinya dalam ratusan tahun, atap kota bawah tanah ya
Sistem kecerdasan buatan itu dari dalam terasa bergejolak. Bersamaan dengan itu, sistem jubah besi di seluruh kerajaan mulai kehilangan sinkronisasi. Partikel antimateri tidak lagi mengalir untuk memulihkan, melainkan mulai saling bertabrakan secara tidak terkendali, menghancurkan struktur logam yang selama ini mereka lindungi. Zhafirah, memanfaatkan detik-detik kehancuran sistem pertahanan musuh, merangkak dengan sisa tenaganya. Dia menekan tombol detonator pada bom penstabil magnetik yang telah mereka pasang."Hancurlah, neraka besi," desis Zhafirah. Ledakan besar pun terjadi. Bukan ledakan api, melainkan kilatan cahaya absolut yang menelan seluruh kegelapan, meruntuhkan pilar-pilar raksasa kerajaan Rajendra, dan menghancurkan fondasi kota bawah tanah hingga menjadi puing-puing yang tak bersisa.Fajar baru kemanusiaan asap tebal perlahan-lahan terurai oleh angin dingin yang berembus dari celah-celah langit-langit benteng yang runtuh. Untuk pertama kalinya dalam ratusan tahun, atap k
Rasa sakit yang jujur itu mendadak terenggut oleh getaran seismik yang maha dahsyat. Tanah gembur tempat Malik dan Zhafirah terkapar tidak lagi sekadar bergeser, melainkan berguncang hebat seolah-olah fondasi bumi sedang dicabut dari akarnya. Pendaran putih keemasan yang baru saja mereka kira sebagai fajar kebebasan mendadak terdistorsi, memelintir menjadi warna merah menyala yang pekat dan berbau sulfur tajam."Malik! Ini belum berakhir!" jerit Zhafirah, kuku-kukunya mencengkeram reruntuhan beton saat tubuhnya nyaris terlempar ke dalam celah menganga yang baru saja membelah lantai silinder.Di atas mereka, di tengah runtuhnya reaktor inti, tubuh Madam Amy yang sempat retak tidak hancur. Justru, retakan di kulit porselennya memancarkan lava digital berwarna jingga pekat. Rajendra berdiri di belakangnya, eksoskeletonnya telah meleleh dan menyatu dengan panel kendali darurat yang tersembunyi di dinding magma baja. Setengah wajah manusianya yang tersisa kini terkunci dalam seringai kegil
Langkah kaki Malik terasa begitu ringan di atas hamparan rumput yang basah oleh embun pagi. Angin sepoi-sepoi membawa aroma tanah gembur dan kehidupan baru yang sangat menenangkan. Di sampingnya, Zhafirah tersenyum lebar, membiarkan jemarinya bertautan erat dengan jemari Malik. Dunia luar yang mereka mimpikan, sebuah bumi yang bersih, hijau, dan bebas dari belenggu logam, kini terbentang sejauh mata memandang."Rasanya seperti mimpi, Malik," bisik Zhafirah, suaranya bergetar oleh kebahagiaan yang selama ini tabu untuk mereka rasakan. "Matahari ini... rasanya begitu hangat di kulitku."Malik menghentikan langkahnya. Ia menatap Zhafirah, lalu beralih menatap telapak tangannya sendiri yang bersih tanpa cacat luka bakar. Sesuatu yang ganjil mendadak melintas di sudut terjauh logikanya. Kehangatan ini. Sinar matahari fajar itu memapar kulitnya dengan intensitas yang sangat stabil. Terlalu stabil. Tidak ada fluktuasi angin yang alami. Tidak ada partikel debu sekecil apa pun yang mengganggu







