Beranda / Romansa / SENDIAKALA / 04 JEJAK DI RUMAH LAMA

Share

04 JEJAK DI RUMAH LAMA

Penulis: Lila Oktavia
last update Tanggal publikasi: 2025-10-01 20:40:51

"Kalo minggu depan kamu masih di Jakarta, apa kamu mau nemenin aku ke toko buku? Setelah itu aku ajak kamu buat beli jus strowberi paling enak di jakarta, kamu masih suka jus stroberikan?"

"Hem... Boleh. Asal kamu enggak maksa aku buat baca buku tebal-tebal yang akan kamu belikan?"

Satya tertawa kecil mendengar responku, "Enggak..." tertawanya semakin renyah megiringi perjalanan kota yang padat. Suara musik yang ia putar tak ada harga dirinya, bembicaraan kami lebih menarik dari pada mendengarkan musik dengan alunan indah itu.

“Ini rumahnya?” Satya bertanya setelah memberhentikan mobilnya di tepi jalan. G****e Maps yang mengarahkan kami memberi perintah berhenti. Aku menoleh ke luar jendela, memperhatikan sekitar. Di sinilah kami berhenti. Aku menarik napas dalam, lalu menjawab dengan mantap, “Ya, ini rumah majikan Bu.”

Aku turun dari mobil yang dikemudikan Satya. Sudah bukan pertama kali aku ke sini, jadi aku hafal setiap lekuk bangunan yang kini sedikit berubah. Awalnya aku ingin turun di persimpangan jalan saja, tapi Satya dengan gigih mengantarkanku sampai di depan rumah ini, seolah tak rela melepaskan.

“Sini-sini, biar ku bantu membawakan barangmu ke dalam,” katanya, mengambil alih barangku yang tak banyak. Aku tersenyum, tahu betul bagaimana Satya dia sosok yang tak mudah mundur.

Kami mengucapkan salam di depan pintu gerbang. Seorang satpam yang baru kukenal membalas salam kami dengan sopan, kemudian mempersilakan masuk. “Saya anak dari Bu Santi,” aku memperkenalkan diri, dan ia segera mengantar kami masuk.

“Azahra?” Suara yang sangat kurindu akhirnya terdengar, mengalir hangat seperti mentari pagi. Wanita paruh baya dengan baju putih itu mendekapku erat, menghapus jarak dan sepi yang membelenggu hari-hariku.

“Alhamdulillah, sehat, Bu. Ibu sendiri bagaimana?” suaraku lembut, membalas kehangatan pelukannya.

“Alhamdulillah, Ibu juga sehat, Nak. Ibu kangen sama kamu.” Ciuman demi ciuman menghujani wajahku, membangkitkan rindu yang telah lama terpendam. “Ini siapa, Nak?”

“Ini Satya, Bu, anak dari majikan Bapak dulu,” jawabku pelan.

Satya tersenyum, sedikit canggung tapi hangat. “Em… kebetulan saya ada dinas di Jakarta, jadi saya antar Zahra ke sini dari desa,” katanya singkat.

“Terima kasih ya, Nak Satya. Eh, ayok kalian duduk dulu,” Ibu mengajak.

Satya menolak dengan halus, “Em... Tidak usah, Bu, saya langsung pamit saja.”

Aku mengangguk, tak ingin membuatnya merasa tidak nyaman.

“Azahra? Kamu sudah datang?” tanya suara lain.

Aku langsung saja menjabat tangan mbak Aiza sebagaimana menjabat tangan seorang adik pada kakaknya. Mbak Aiza memelukku hangat, aku masih bisa merasakan kasih sayangnya, masih sama seperti dahulu, tak kurang tak lebih.

“Dokter?”

“Bu Aiza." Satya mengangguk merespon mba Aiza.

“Ada perlu apa dok? Apa suami saya yang memanggil dokter ke sini?”

“Tidak Bu Aiza, saya hanya mengantarkan Azahra, kebetulan saya dari kampung dan Azahra satu kampung dengan saya.”

“Oh, begitu.”

Perbincangan kami diakhiri dengan pamit dari Satya. Dan kini aku akan menuntaskan rinduku pada ibu.

***

“Mbak Aiza, mau saya bantu Mbak?” suaraku mengusik keheningan, sambil berusaha membantu memasukkan barang-barang ke dalam keranjang.

“Boleh, minta tolong masukkan saja ke dalam keranjang itu, ya,” jawab Mbak Aiza sambil tersenyum tipis.

Ada sesaat diam yang terasa berat. Akhirnya aku memberanikan diri bertanya, “Mbak Aiza, ada sesuatu yang ingin disampaikan kepada saya?”

Matanya menatap tajam, ada beban yang ingin ia ungkapkan. “Iya, aku pengen bicara hal penting, Azahra." Mbak Aiza menghentikan pembicaraanya, diam beberapa saat seperi sedang mengolah kata-kata yang sekiranya amat berantakan. "Ngomong-ngomong, kamu ada hubungan sama dokter Satya?"

Aku menatap mbak Aiza dalam, bukankah aku sudah menjelaskan bahwa Satya adalah anak dari majikan bapa?

"Hubungan yang melibatkan perasaan. Pacar?" Lanjut mbak Aiza.

Aku sedikit terkejut mendengar itu. Tapi melihat raut wajah mbak Aiza entah mengapa aku ingin tertawa, hingga akhirnya aku memutuskan untuk tersenyum kecil, “Satya? Kami teman kecil, Satya anak dari majikan Bapak dulu. Tida ada hubungan kusus di antara kami selain teman, mbak."

“Hem... Seperti itu."

"Iya, mbak."

"Em… kalau kamu sendiri, apa sudah ada calon?”

Aku kembali tersentak. Pertanyaan itu mengingatkanku pada masalah yang sedang melandakau kini. Aku terdiam entah berapa lama, sampai aku kembali lagi tersadar saat mbak Aiza menyentuh pundakku, menatap mataku dalam. "Maaf sebelumnya Azahra. Seharusnya aku enggak mempertanyakan ini."

Segera aku menggeleng pelan, menyulam senyum, "enggak papa kok, Mbak." Aku menarik napas panjang, suara hatiku bercampur baur, mengusahakan untuk tersenyum lebih lebar. “Saya belum ada calon Mbak, masih ragu juga.”

Mbak Aiza mengangguk, “Enggak papa, dulu Mbak juga gitu sebelum nikah sama Risam. Tapi setelah tahu Risam, ternyata menikah tidak seburuk itu, bahkan hari-hari yang Mbak lalui jadi lebih indah, sebab Risam.”

Aku menatapnya dengan kagum, “Mbak Aiza beruntung sekali.”

Mbak Aiza terdiam beberapa saat menatapku, kemudian menunduk dalam, "Iya... Aku beruntung Azahra." Menatapku kembali, "Aku beruntung sebab memiliki Risam." senyumnya di sulam simpul, manis dan hangat sekali.

“Eh... Tunggu sebentar ya,” katanya lalu beranjak ke pintu.

Beberapa saat kemudian, Mas Risam masuk, wajahnya ramah dan tenang. Ada sesuatu dalam tatapannya yang menguatkan keyakinan Mbak Aiza akan kebahagiaan yang datang bersamanya. Akupun melihat di mana letak keberuntungan mbak Aiza, dan aku yakin mas Risam-pun sama beruntungnya sebab mendapatkan mbak Aiza.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • SENDIAKALA   25 MALAM HUJAN DAN PENUH PERASAAN

    Sejak siang, Mbak Aiza tampak beberapa kali memeriksa ponselnya. Senyum tipis tak pernah lepas dari wajahnya setiap kali layar itu menyala. Aku yang sedang membantu Bu Siti menyusun bunga di ruang tamu hanya memperhatikannya sekilas, hingga akhirnya beliau menghampiriku. "Mas Risam baru saja mengabari Azahra," ujarnya sambil mengangkat ponselnya. "Beliau sudah selesai menangani persidangan dan sekarang sedang dalam perjalanan pulang. Insyaallah sebelum Magrib sudah sampai." Aku mengangguk pelan. Entah mengapa, ada rasa gugup yang tiba-tiba memenuhi dada. Sudah beberapa hari Mas Risam berada di luar kota, dan selama itu pula kami hanya sesekali bertukar kabar melalui telepon. Melihat reaksiku, Mbak Aiza terkekeh pelan. "Em... Tapi mbak harus pergi, Azahra." Aku mengernyit. "Pergi?" "Iya. Ada beberapa perlengkapan klinik yang harus Mbak beli. Dan ini kesempatan yang tepat untuk memberi kalian waktu berdua." Aku langsung menggeleng. "Azara ikut saja, Mbak." Beliau justru meraih ked

  • SENDIAKALA   Bab 24 Bimbingan dari Aiza

    Keesokan paginya, saat aku sedang merapikan lemari pakaian, terdengar ketukan pelan di pintu kamar. "Azara, Mbak boleh masuk?" Aku segera membukakan pintu. Mbak Aiza berdiri sambil membawa sebuah kotak penyimpanan, sebuah album foto keluarga, dan beberapa map tipis. Senyumnya masih sama hangatnya seperti biasa, tetapi kali ini ada keseriusan yang tersirat di wajahnya. "Kalau kamu tidak sibuk, Mbak ingin mengajakmu mengobrol." "Tentu, Mbak." Kami duduk berdampingan di sofa dekat jendela. Untuk beberapa saat, Mbak Aiza hanya memandang kedua tangannya sendiri sebelum akhirnya membuka pembicaraan. "Semalam... kamu tidak melakukan kesalahan apa pun." Aku menoleh heran. "Bahkan menurut Mbak, kamu sudah sangat baik." "Lalu kenapa Mbak terlihat kepikiran?" Beliau tersenyum tipis. "Karena semalam Mbak sadar ada satu hal yang belum sempat Mbak ajarkan." Aku mengernyit pelan. "Apa itu?" Mbak Aiza mengembuskan napas sebelum berkata dengan suara yang tenang. "Keluarga kami." Aku mas

  • SENDIAKALA   23 Dinner

    Minggu pagi itu aku terbangun sedikit lebih awal dari biasanya. Setelah merapikan tempat tidur dan menyelesaikan salat Dhuha, aku duduk di tepi ranjang sambil membaca beberapa lembar Al-Qur'an. Rumah masih terasa tenang. Mas Risam belum juga kembali dari perjalanan dinasnya, sementara Mbak Aiza sejak pagi sudah sibuk menerima beberapa panggilan dari klinik. Tak lama kemudian, pintu kamarku diketuk pelan. "Azara, sudah bangun?" suara Mbak Aiza terdengar dari balik pintu. Aku segera membukanya. Mbak Aiza berdiri dengan senyum yang begitu cerah. Beliau mengenakan batik merah marun yang dipadukan dengan hijab berwarna krem. Penampilannya tampak anggun, tetapi raut wajahnya jauh lebih menarik perhatianku karena terlihat begitu bersemangat. "Mbak masuk, ya?" Aku mengangguk sambil mempersilahkannya. Mbak Aiza langsung duduk di sampingku sebelum meraih kedua tanganku. "Hari ini Mama mengundang keluarga besar untuk makan malam di rumah. Sekalian mengenalkan kamu sebagai istri Mas Risam."

  • SENDIAKALA   22 MALAM KE DUA

    Suara azan Subuh dari masjid desa membangunkanku lebih awal. Aku segera mengambil air wudu, lalu kembali ke kamar dengan mengenakan mukena putih yang kubawa dari rumah. Mas Risam sudah menungguku dengan sarung dan baju koko sederhana. Tanpa banyak bicara, beliau hanya mempersilakanku berdiri di belakangnya untuk salat berjemaah. Aku mengangguk pelan. Menjadi makmum bagi suamiku untuk pertama kalinya menghadirkan perasaan yang sulit kujelaskan. Ada rasa asing, gugup, sekaligus haru yang berbaur menjadi satu. Mas Risam mengimami salat dengan bacaan yang tenang dan tartil. Aku mengikuti setiap gerakannya sambil berusaha mengosongkan pikiran dari segala kegelisahan yang sejak kemarin memenuhi hati. Dalam sujud terakhir, aku memanjatkan doa lebih lama dari biasanya. Aku memohon agar Allah melembutkan hatiku untuk menerima kehidupan baru ini, membimbingku menjadi istri yang mampu menjalankan amanah dengan baik, serta menjadikan Mas Risam sebagai imam yang selalu diberi keberkahan dalam seti

  • SENDIAKALA   21 Malam Pertama

    Mobil melaju pelan di jalan raya yang mulai terjal saat menjauh dari kota. Aku duduk di kursi belakang, menyimpan kalung bintang dari Mbak Aiza dengan hati-hati ke dalam tas kecil yang selalu kubawa. Mas Abrisam diam di kursi depan bersama sopirnya, tapi aku bisa merasakan bahwa dia sering melihat ke arahku melalui cermin spion. Lanskap berubah dari pemukiman padat menjadi hamparan sawah hijau yang luas, dengan pepohonan kelapa yang berdiri tegak di sekelilingnya, pemandangan yang dulu kubayangkan sebagai tempat tinggal yang damai, tapi kini rasanya seperti dunia yang benar-benar baru dan asing bagiku. Kita tidak bicara banyak selama perjalanan. Setelah hampir dua jam perjalanan, mobil berhenti di depan sebuah rumah besar dengan tembok berwarna putih pucat. Taman depan tidak terlalu luas, tapi ditanami berbagai jenis tanaman sayuran dan bunga kamboja kuning yang sedang mekar indah. Di dekat pintu utama, ada sebuah gazebo kecil dengan kursi kayu yang sudah dipoles rapi. “Ini rumah kita

  • SENDIAKALA   20 PERNIKAHAN

    Aku duduk di sudut kamar rias, ruangan kecil yang dulu jadi kamar baca Bapak, sekarang diubah sebentar untuk hari ini. Matanya merah karena menahan air mata, tapi wajahnya tetap penuh cinta saat melihat aku yang sedang memakai gaun putih sederhana yang dijahit sendiri oleh tetangga. Saat aku menyusun jilbab dengan hati-hati di depan cermin bekas yang selalu ada di kamar itu, ibu mendekat dan mengambil tanganku dengan lembut.Kulit tangannya yang kasar akibat kerja keras merawat kebun dan menjahit untuk menutupi kebutuhan keluarga menyentuh kulit aku yang lembut. Ibu menatapku, lalu melihat ke arah sebuah vas bunga mawar yang hanya ada satu kuntumnya, berdiri sendirian di atas meja rias. “Bunga cantik harus tumbuh di tanah yang subur, dengan akar yang kuat dan ruang yang cukup untuk berkembang,” ucap ibu perlahan, sambil menyentuh kelopak bunga itu dengan lembut. Aku mengerti makna yang tersirat, setiap bunga layak mendapatkan tempatnya sendiri, bukan harus berbagi ruang dengan yang la

  • SENDIAKALA   19 MAHKAM BAPAK

    Langit pagi itu terbentang cerah namun tidak terlalu terik, seolah alam juga memahami bahwa hari ini bukanlah hari untuk keceriaan yang berlebihan. Udara di komplek pemakaman terasa dingin dan bersih, membawa aroma tanah basah yang baru saja disiram embun pagi dan daun-daun tua yang mengering di ata

  • SENDIAKALA   18 GAUN DAN SYARAT

    Mobil mewah warna hitam mengendap tepat di depan sebuah bangunan bertingkat tinggi dengan dinding berlapis kaca tembus pandang. Pintu depan yang menjulang tinggi dibingkai dengan ornamen emas yang mengkilap, di atasnya terpampang nama butik bergaya kaligrafi: “Bunga Pengantin Atelier Pengantin Ekskl

  • SENDIAKALA   17 PANTAI

    Di pagi yang sepi, usai shalat subuh terlaksana dengan khidmat, aku memutuskan untuk keluar tanpa pamit panjang pada ibu. Langkah ku terasa berat namun juga ingin terbang bebas, seperti burung yang lama terkurung dalam sangkar. Ibu yang sedang membersihkan sajadah pun hanya mengangguk perlahan, mata

  • SENDIAKALA   16 AZAHRA SAKIT

    Perlahan-lahan aku mencoba membuka mata, meski pandanganku masih kabur dan berat. Cahaya lampu yang teramat terang membuatku memicing, namun di balik silau itu aku melihat sesosok yang sangat kukenal. Kulihat Ibu. Awalnya kukira itu hanya khayalanku, sisa dari kelelahan dan kepalaku yang masih ter

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status