LOGINDiana tidak menyangka, di pernikahannya yang ke lima tahun dengan sang suami. Ia di hadapkan dengan kenyataan pahit. Jika sang suami selama ini telah menikah dengan perempuan lain di belakangnya, dan lebih menyakitkan. Semua anggota keluarga sang suami mengetahui hal tersebut dan menyembunyikannya dari Diana. Apa yang harus Diana lakukan? Bertahan dengan suami yang baik dan sempurna dimatanya, tapi telah mengkhianatinya, atau berpisah?
View More"Hiat!! Hiat!!"
Beberapa murid di perguruan Wunan sedang berlatih dengan pedang kayu, murid cilik yang rata-rata berumur 9-10 tahun itu mengerahkan tenaga mereka untuk mengayunkan pedang ke arah boneka jerami. Peluh membanjiri tubuh mereka, namun mereka belum merasa letih, guru Yao berjalan dengan tangan di belakang. Memperhatikan setiap gerakan murid cilik yang diajarnya. "Turunkan kakimu, bagaimana bisa kuat kalau pondasimu tidak benar!!" teriak guru Yao. Semua murid cilik langsung memperbaiki posisi kaki mereka, seketika terasa sangat letih namun tidak boleh mengeluh. Sementara itu dipojokan, seorang anak laki-laki berusia 7 tahun memperhatikan mereka dengan sapu di tangannya. Anak laki-laki itu memiliki rambut putih, mata putih dan kulit yang pucat. Arash Adipati, wajahnya berbinar dan merasa senang ketika melihat para murid cilik berlatih. Saat berumur 8 tahun ia boleh mendaftar, Arash tak sabar menjadi bagian dari murid cilik!! karena sebentar lagi ia akan berumur 8 tahun. "Hiat!! Hiat!!" Begitu tidak ada orang, Arash berlatih dengan sapu di tangannya, seolah itu adalah pedang kayu yang ia gunakan. "Bug!!" sesorang melemparinya dengan kerikil, tepat mengenai keningnya. Arash hanya bisa mengernyit kesakitan. "Hei yatim!! Apa yang kamu lakukan?" Wan Yunan memasang wajah mengejek bersama 2 orang temannya. Dia adalah keponakan dari Wan Bingwen, salah satu ketua di perguruan Wunan dan sangat dihormati. "Sepertinya ia berlatih dengan sapu itu!!" ketika Lao Bao berkata, yang lainnya langsung tertawa menghina. "Jangan bikin malu, kamu nggak dibutuhkan disini!! Bawa pergi sapumu itu!!" ejek Halim Chao. "Aku masih harus membersihkan tempat ini..." sahut Arash, Dia berjalan menjauh tetapi Wan Yunan dan kedua temannya sepertinya tidak akan melepaskannya kali ini. "Bug!!" Kali ini, sebuah tendangan mendarat di punggung Arash. Arash terjerembab ke depan. Ia harus menahan sakit karena ada batu yang mengenai dadanya. "Jangan muncul lagi di pelataran depan, tempatmu ada di belakang sana!! Kalau aku masih melihatmu muncul, aku akan memberimu pelajaran!!" ancam Wan Yunan. "Aku nggak bisa lakukan itu, aku harus membersihkan pelataran depan... Akh!!" Belum sempat Arash menghabiskan penjelasannya kaki Halim Chao sudah menginjak kaki Arash. Arash harus menahan sakit di kakinya. "Jangan mendebat!! Atau aku patahkan kakimu ini!!" kata Halim Chao sembari memberi tekanan pada kakinya di kaki Arash. "Akh!! tolong lepaskan kakiku..." "Bug!!" Wan Yunan menendang kembali Arash di bagian dada, hingga Arash harus menahan dengan kedua tangannya. "Sampah sepertimu terlihat saja sudah cukup mengganggu, jadi setidaknya kamu harus bersembunyi agar nggak merusak tatanan di perguruan Wunan ini!! Lihatlah rambut dan mata putihmu itu, kamu seperti hantu!!" "Hahaha!! Hahaha!!" Derai tawa beberapa murid cilik lainnya terdengar, Arash hanya bisa berdiam diri. Tak ada yang bisa ia lakukan, ia masih berumur 7 tahun sedangkan lawannya sudah berumur 9-10 tahun. Mereka juga kuat karena selalu berlatih beladiri. Sedangkan Arash hanya anak yatim yang ikut menumpang bersama pamannya. Tanpa kekuatan!! Tanpa kemampuan beladiri!! "Hei!! Apa yang kalian lakukan?" Fatta datang dengan sapu di tangannya, ia telah selesai menyapu bagian dari perguruan. Melihat Arash berada di tanah membuat Fatta naik pitam. "Cuih!!" Wan Yunan meludah ke arah wajah Arash. "Ingat, jangan muncul di hadapan kami lagi yatim terkutuk!!" kata Wan Yunan, mereka lalu membubarkan diri begitu melihat Fatta mendekat. "Arash!! Kamu nggak apa? Ada yang terluka?" tanya Fatta. "Nggak apa paman, nggak ada yang luka!!" sahut Arash dengan senyum terpaksa di wajahnya. "Apa-apaan mereka, mengeroyok orang lain seperti itu!! Awas saja, akan aku laporkan kepada ketua Wan!!" kata Fatta marah. Tubuhnya yang tinggi besar dengan otot dan wajah yang sangar membuat Fatta ditakuti oleh beberapa murid cilik, tapi tetap saja ketika Fatta tidak ada mereka dengan mudahnya membully Arash. "Arash, naik ke punggung paman!!" Fatta berjongkok, hal yang Arash sukai adalah digendong pamannya, Fatta. Dengan lemah dan menahan sakit di kaki serta dadanya Arash naik ke punggung Fatta. Air mata yang tadi tertahan membuatnya menangis pilu. "Paman, aku nggak memilih hidup sebagai yatim, tapi mengapa mereka selalu mengejekku!!" "Kamu bukan yatim Arash, ibumu memang sudah meninggal, tapi ayahmu masih hidup, ayahmu adalah seorang pahlawan yang menyelamatkan alam manusia, saat ini ia hanya nggak bisa kembali, bukankah sudah berkali-kali paman tegaskan soal itu!!" kata Fatta dengan perasaan sedih. Jika mengingat pengorbanan yang keluarga Arash lakukan maka tak terasa air mata Fatta juga akan menetes. Terlebih Arash harus tumbuh tanpa kasih sayang keluarganya. Fatta berjanji akan memberikan seluruh kasih sayangnya untuk Arash. Arash hanya bisa diam, dia tak lagi bersuara. Hanya kesedihan yang kini menerpanya tanpa bisa di utarakan. "Arash, paman membuatkanmu mie ayam!! Paman juga membelikanmu batu tinta yang baru, jadi kamu bisa menggambar lagi hari ini!! Apa kita harus membeli kuas baru untukmu?" tanya Fatta, Arash tau pamannya itu berusaha menghiburnya. "Baiklah... Karena mie ayam buatan paman sangat enak, jadi aku nggak akan bersedih lagi." sahut Arash, membuat Fatta tersenyum senang. Fatta tau Arash adalah anak yang kuat. Bahkan saat bulan darah yang muncul 2-3 kali dalam setahun, Arash mampu menahan rasa sakit di tubuhnya. "Harus begitu!! Arash adalah anak dari para pahlawan, Arash juga akan menjadi kuat seperti kedua orang tuamu!!" kata Fatta dengan berdendang, memuji dan menghibur Arash adalah bagian dari rutinitas Fatta. Fatta juga selalu memanjakan Arash, berusaha mengisi kekosongan kedua orangtuanya.Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke kampung halaman Mas Deri, setelah mendengar kabar duka atas kepergianya, setelah sekali lama aku tidak mendengar kabarnya. Perjalanan menuju kampung halaman Mas Deri kali ini adalah perjalanan yang penuh dengan campuran perasaan. Meski sudah cukup lama aku tidak mendengar kabar darinya, kabar duka atas kepergiannya membuatku merasa harus hadir di sana. Mas Deri bukanlah orang asing bagiku, dia adalah mantan suami, ayah dari Lili, dan seseorang yang pernah aku cintai. Meskipun hubungan kami sudah berakhir, kenangan bersama Mas Deri tetap ada, dan aku merasa bahwa aku perlu memberikan penghormatan terakhir padanya. Aku juga memutuskan untuk membawa Lili, meskipun awalnya dia enggan ikut. Lili masih cukup kecil dan mungkin tidak sepenuhnya mengerti mengapa kami harus pergi ke kampung halaman Mas Deri, tapi aku merasa penting baginya untuk hadir. Apalagi, meskipun hubungan kami tidak lagi bersama, Mas Deri tetaplah ayahnya. Tidak ada ala
Hari ini adalah tepat dua tahun yang lalu, aku dan Mas Deri memutuskan untuk berpisah. Sejak saat itu, hidupku berubah drastis, namun aku merasa cukup bahagia dan puas menjalani kehidupan sebagai orang tua tunggal untuk putriku, Lili. Dalam waktu dua tahun ini, aku telah belajar untuk menjadi lebih mandiri dan kuat, meskipun tentunya ada banyak tantangan yang harus kuhadapi. Aku merasa cukup bangga melihat putriku tumbuh menjadi seorang anak yang ceria, cerdas, dan penuh semangat.Hari ini juga menjadi hari yang penuh makna, karena Lili akhirnya memulai perjalanan barunya di sekolah dasar. Ini adalah langkah besar dalam hidupnya. Aku tahu betapa pentingnya momen ini, dan meskipun perasaan campur aduk melanda hatiku, aku merasa sangat bersemangat untuk mengantarnya ke sekolah untuk pertama kalinya. Sebagai orang tua tunggal, aku merasa bahwa aku tidak boleh melewatkan momen-momen penting dalam kehidupan Lili. Sebelum kami berangkat, aku memastikan untuk memberikan dukungan penuh a
Aku tidak menjawab pertanyaan dari Rehan, karena aku sendiri juga terkejut melihat mas Deri. Mas Deri, yang memiliki segalanya, kini aku melihat dia menjadi pemulung.Begitu malang nasibnya. Meskipun aku berusaha keras untuk melupakan segala kenangan bersama Mas Deri, kenyataan yang ada di depanku ini membuat semuanya kembali mengingatkan aku pada masa-masa masih bersama Mas Deri.Jujur setelah Lili ikut bersamaku, kehidupan kami berdua jauh lebih tenang. Namun, di sisi lain, hubungan dengan Mas Deri semakin renggang. Meskipun beberapa kali dia datang ke rumah Rina untuk menemuiku, aku tidak sekali pun memberinya kesempatan untuk berbicara denganku. Aku benar-benar menghindarinya. Begitu juga dengan telepon dan pesan yang seringkali dia kirim, aku memilih untuk tidak membalas. Aku merasa bahwa hubungan kami sudah berakhir, dan aku tak ingin kembali ke masa lalu yang penuh dengan kepedihan itu.Tapi sekarang, melihat Mas Deri yang sudah jauh berubah, aku merasa prihatin.Melihatnya m
"Rin, kamu diam saja bisa tidak." ucap Rehan pada sang adik yang hampir saja memberi tahu Diana, tentang pekerjaan aslinya.Tentu saja Rehan berbicara, saat Diana dan juga Lili sedang mencoba permainan lain di wahana permainan yang mereka kunjungi."Mas, ngapain sih di tutup tutupi dari Mbak Diana, cepat atau lambat pasti Mbak Diana tahu kalau Mas ini sebenarnya bukan tukang bangunan, tapi pengusaha properti yang sukses." ucap Rina, dirinya benar-benar heran kenapa sang kakak, yang tidak ingin memberi tahu Diana jika dia adalah seorang pengusaha properti.Namun, Rehan tidak ingin menjawab pertanyaan dari sang adik."Eh malah diam." ujar Rina. "Dan kapan, Mas Rehan mau bilang sama Mbak Diana. Kalau Mas Rehan masih suka sama dia."Rehan menatap pada Rina, setelah mendengar apa yang dikatakannya."Mas jangan bohong, aku tahu Mas tuh masih suka sama Mbak Diana. Dan sekarang saatnya Mas mengungkapkan perasaan Mas pada Mbak Diana, sebelum ada orang lain yang mendekati Mbak Diana." saran Rin
Pesan dari nomor yang tidak aku kenal, datang dengan begitu tiba-tiba dan begitu jelas. Ada nama Mas Deri, suamiku, yang disebutkan di dalam pesan itu. Aku tak tahu harus percaya atau tidak, tetapi rasa takut menyelusup begitu dalam, menghantui setiap sudut pikiranku.Apakah ini mungkin? Apa mungki
"Maaf, untuk apa kamu minta maaf padaku Wi?" tanyaku, menimpali ucapan Dewi yang terasa tabu bagiku.Bukannya menjawab pertanyaanku, Dewi malah mengukir senyum, senyum yang membuatku semakin bingung dan curiga. "Tidak ada apa-apa, Mbak, tadi aku lupa mau ngomong apa," jawabnya dengan nada yang ter
Baru saja supir tersebut memutar balik mobilnya untuk kembali ke rumah mertuaku.Tiba-tiba adik iparku, Dewi, datang menggunakan motor dan menghentikan laju mobil yang aku naiki."Mbak." Dewi mengetuk jendela mobil di mana aku duduk. Suaranya terdengar agak tergesa-gesa, namun wajahnya terlihat san
"Bu, siapa pria tadi?" tanyaku pada ibu mertuaku, karena pria yang baru bertemu dan mengajak mas Deri keluar rumah, sama sekali tidak aku kenal. "Teman lama Deri, Diana. Lebih baik kamu berkemas, biar ibu gendong Lili," jawab ibu mertuaku dengan tenang.Aku menatap Lili, yang dengan keras menolak
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews