MasukFang Zhe mengorek telinganya pelan menggunakan kelingking, lalu meniupnya dengan gestur yang teramat santai, seolah pertanyaan penuh ancaman dari Han Ling tak lebih dari sekadar angin lalu. "Menetralkan?" Fang Zhe terkekeh rendah, menatap Han Ling dengan binar jenaka di matanya. "Tuan Muda Han, kau terlalu meremehkan bakatku, atau mungkin kau yang terlalu tinggi menilai racun murahanmu itu." Fang Zhe melangkah satu tindak lebih dekat. Langkahnya begitu ringan, namun entah mengapa riak energi keemasan yang samar di bawah kakinya membuat debu-debu di lantai arena terhempas menjauh. "Kau ingin tahu rahasianya? Sederhana saja," bisik Fang Zhe, sengaja menggantung kalimatnya sejenak demi menikmati ekspresi Han Ling yang semakin menggelap. "Tubuhku ini... kebetulan agak sedikit berbeda dari kultivator fana yang biasa kau temui. Alih-alih membunuhku, racun embun hitam semalam justru terasa seperti sup hangat yang menyegarkan. Sangat membantu untuk melunakkan meridianku sebelum mene
Masih memaki kearah sistemnya. Mata Fang Zhe kembali melotot membaca tiga kata yang berkedip dengan warna merah menyala di layar sistemnya. "Berutang jika genting?!" Fang Zhe mendengus geli sekaligus jengkel. "Kau ini sistem kultivasi atau aplikasi pinjaman online ilegal fana? Pakai ada fitur utang segala!" Namun, sistem tidak memberikan jawaban lebih lanjut dan benar-benar meredup, meninggalkan Fang Zhe dalam keheningan malam yang sunyi. Ia akhirnya memilih untuk memejamkan mata, memfokuskan seluruh kesadarannya untuk menstabilkan pusaran Qi keemasan di dalam Dantiannya hingga fajar menyingsing. * Keesokan paginya, atmosfer di sektor terdalam Penjara Naga terasa jauh lebih pekat dan mencekam dari biasanya. Matahari baru saja naik setinggi tombak, namun di dalam arena Hidup dan Mati... Sebuah area melingkar luas yang dipagari oleh jeruji besi raksasa berkarat, telah dipadati oleh ratusan narapidana kelas kakap. Mulai dari pembunuh berdarah dingin, kultivator sesat yang buro
Ding! Sebuah suara denting mekanis yang dingin tiba-tiba bergema langsung di dalam kesadaran Fang Zhe, disusul oleh hamparan layar semitransparan berwarna biru pudar yang perlahan mengambang di depan matanya. [Merespons fluktuasi emosi Host yang melebihi batas wajar. Menjawab tuduhan...] [Sistem tidak mendeteksi adanya tindakan kecurangan, pencurian, atau penyitaan energi seperti yang Host tuduhkan. Sistem beroperasi 100% demi keselamatan dan optimalisasi potensi Host.] "Tidak curang matamu?!" Fang Zhe hampir saja berteriak keras jika ia tidak ingat bahwa Faiye dan Lei Ba sedang berjaga di luar pintu. Kini ia mencengkeram rambutnya sendiri dengan frustrasi, memaki di dalam hati. "Dua sumber daya bernilai seratus triliun dolar! Setara dengan modal melatih calon jenderal kekaisaran! Bahkan membeli puluhan pulau! Dan kau membuatku mentok di bintang tiga permulaan?! Ke mana perginya delapan puluh persen energi itu kalau bukan kau yang menelannya, hah?!"Diiiing! Layar siste
Pintu logam ruangan itu dihantam terbuka hingga membentur dinding dengan keras. Faiye dan Lei Ba melesat masuk dengan senjata yang setengah terhunus dan ekspresi wajah yang penuh ketegangan. Mereka berdua panik setelah mendengar suara ledakan energi yang dahsyat, disusul oleh makian penuh amarah dari Fang Zhe yang menggema hingga ke luar ruangan. "Tuan Muda! Apakah ada penyusup?!" teriak Lei Ba, matanya menyapu sekeliling ruangan dengan liar, mencari musuh yang mungkin bersembunyi di dalam kegelapan. Namun, tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya ada Fang Zhe yang berdiri di tengah ruangan dengan jubah hitam yang masih berkibar pelan sisa gelombang kejut tadi. Hanya saja Urat-urat di pelipisnya menonjol, dan sepasang matanya menyiratkan kekesalan yang begitu mendalam. Memang benar aura yang menguar dari tubuh Fang Zhe kini telah jauh lebih kuat dan padat menandakan ia telah resmi menginjak ranah Pengumpul Roh bintang tiga... Tetapi ekspresinya justru tampak seperti orang yang baru
Fang Zhe menatap reaksi berlebihan dari kedua bawahannya dengan pandangan datar, seolah-olah sumber daya yang sanggup memicu perang di penjara naga hitam itu, tak lebih dari sekadar vitamin penambah stamina biasa. "Kalian berdua, berjaga di luar sekarang," perintah Fang Zhe, suaranya pelan namun mengandung otoritas yang tidak menerima bantahan. "Jangan biarkan siapa pun mendekat atau mengintip ke dalam ruangan ini selama aku menyerap khasiat dua sumber daya ini." "Baik, Tuan Muda!" jawab Faiye dan Lei Ba serentak. Mereka berdua segera mundur dengan langkah cepat, menutup pintu logam ruangan dengan rapat. Di luar, keduanya langsung memasang posisi siaga penuh, melepaskan aura kewaspadaan tertinggi untuk memastikan tidak ada mata-mata faksi lain atau sipir yang berani mendekat. Begitu situasi di luar dipastikan aman, Fang Zhe tidak langsung menyentuh kotak cendana di atas meja. Ia justru memejamkan matanya sejenak, mengalirkan indra spiritualnya ke seluruh penjuru ruangan un
Fang Zhe menatap gulungan bambu giok yang berkilauan di atas meja. Matanya memicing, menganalisis fluktuasi energi spiritual yang menguar samar dari tulisan-tulisan kuno di atasnya. Cairan Sumsum Naga Bumi dan Pil Pemurni Jiwa Sembilan Transformasi. Menurutnya ini sudah cukup. "Ambilkan semuanya untukku," ujar Fang Zhe tanpa keraguan sedikit pun. Suaranya terdengar mutlak, sebuah titah dari seorang pria yang tahu persis apa yang dia inginkan. Li Shian tersenyum lebar, binar matanya memancarkan kepuasan seorang pebisnis yang baru saja memenangkan lotre terbesar dalam hidupnya. "Keputusan yang sangat bijaksana, Tuan Muda Fang Zhe. Mohon tunggu sebentar." Dengan gerakan anggun namun cekatan, Li Shian menggunakan segel giok khususnya untuk memproses transaksi fantastis tersebut. Puluhan kartu ATM di atas meja tersedot saldonya secara masif, meninggalkan angka yang pas untuk menebus dua sumber daya terlarang itu. Tak lama kemudian, Li Shian kembali dengan sebuah kotak kayu cenda
Pagi di Paviliun Obat biasanya dimulai dengan aroma tenang dari rebusan herbal dan gesekan pelan lesung kayu. Namun, bagi Fang Zhe, pagi ini terasa seperti berjalan di atas seutas tali yang sangat tipis. Kalimat terakhir Erina tentang hukuman "tidur di halaman" masih terngiang di telinganya, member
Seluruh ruangan menjadi sunyi. Karena Tatapan dingin Erina tertuju tepat pada Fang Zhe.“Semalam ini, kau seharusnya beristirahat…” katanya perlahan.“Lalu kenapa kau malah keluar hingga pagi hari?”Nada suaranya tidak keras.Namun justru itulah yang membuat suasana terasa semakin menekan.Dua pega
erIrma masih menatap Fang Zhe tanpa berkedip. Tatapannya tajam, seolah ingin menembus sampai ke dalam pikirannya. “Fang Zhe…” katanya pelan. “Ilmu medis seperti itu… kau benar-benar hanya ‘pernah belajar beberapa kali’?” Ia menyilangkan tangan di dada. “Dan kau belajar dari mana?” Ruanga
Suara benturan keras terdengar hampir bersamaan terdengar. Karena Tangan Fang Zhe bergerak cepat seperti bayangan.Telapak tangannya menghantam tengkuk pria pertama dengan presisi sempurna.Hal itu membuat, sepasang mata pria itu langsung memutih. Tubuhnya lemas seketika sebelum ambruk ke tanah.TH







