LOGINErina masih memperhatikannya beberapa detik lebih lama.
Tatapannya tajam. Seolah mencoba membaca sesuatu di balik wajah tenang Fang Zhe. Lalu ia meletakkan cangkir tehnya secara perlahan.
“Hari ini ada pertemuan penting.”
Nada suaranya kembali profesional.
“Pertemuan perdagangan bahan obat dengan klien lama Paviliun Obat. Nilainya sangat besar.”
Fang Zhe berdiri tegap.
“Saya mengerti, Nona.”
Erina bangkit dari kursinya. Tumit sepatunya menyentuh lantai marmer dengan ritme teratur.
“Kau ikut bersamaku.”
Ia berjalan melewati Fang Zhe, aroma parfum lembutnya tertinggal sepersekian detik di udara.
“Tugasmu sederhana. Mengantar. Menjaga. Mengamati.”
Ia berhenti sebentar di depan pintu.
“Dan satu hal lagi.”
Fang Zhe mengangkat pandangan.
“Jangan membuat masalah dengan klienku.”
Nada suaranya tidak keras. Tapi jelas mengandung peringatan.
“Beberapa dari mereka memiliki latar belakang yang sensitif.”
Fang Zhe langsung menganggukan kepalanya, sejak menjadi pelayan keluarga Zhao. Fang Zhe memang tahu sedikit informasi tentang keluarga bangsawan yang tak suka saksi hidup berkeliaran.
Jantungnya bergetar lagi.
“Saya tidak akan bertindak tanpa instruksi,” jawabnya tenang.
Erina menatapnya sejenak.
“Kau cukup kuat. Itu sudah jelas terbukti kemarin.”
Tatapannya sedikit menyipit.
“Tapi dunia bisnis bukan arena jalanan. Ego bisa menghancurkan kesepakatan miliaran.”
Fang Zhe menunduk tipis.
“Saya hanya akan bertindak jika keselamatan Anda terancam.”
Sepersekian detik, sudut bibir Erina nyaris terangkat.
“Bagus.”
*
Tak lama setelah perjalanan singkat. Mobil hitam berhenti di depan gedung pertemuan eksklusif hotel bintang lima di kota Shange.
Pintu kaca terbuka otomatis. Di dalam, ruang VIP sudah disiapkan.
Meja panjang kayu mahoni. Dinding berlapis marmer gelap. Lampu gantung modern memantulkan cahaya hangat yang elegan.
Disana terdapat tiga pria telah duduk menunggu.
Dan di tengah mereka... Seorang pemuda berjas abu-abu mahal, rambut tersisir rapi, senyum tipis penuh percaya diri. Tatapannya mengandung kesombongan yang tak disembunyikan.
“Tuan Muda Keluarga Brata…” gumam Fang Zhe dalam hati dia mengingat sosok itu, saat pemuda itu berkunjung ke keluarga Zhao.
Ia mengenali wajah itu. Keluarga Brata adalah salah satu keluarga bangsawan kaya yang menguasai jalur distribusi bahan obat di seluruh wilayah Provinsi.
Erina berjalan masuk dengan langkah mantap.
“Tuan Muda Brata.”
Suaranya tenang. Pemuda itu berdiri, menyambut dengan senyum melebar.
“Nona Erina. Seperti biasa… Anda selalu memukau.”
Tatapannya menelusuri Erina tanpa malu. Dari wajah turun perlahan… Hingga ke ujung sepatu haknya.
Fang Zhe masih berdiri satu langkah di belakang, ekspresinya tetap datar. Namun matanya sedikit menyipit.
“Silakan duduk,” ucap Tuan Muda Brata.
Pertemuan dimulai. Beberapa menit pertama berjalan formal. Mereka membahas harga bahan obat langka. Distribusi kuota untuk konsumen, dan manfaat kerja sama jangka panjang.
Namun perlahan, arah pembicaraan berubah.
Tuan Muda Brata menyandarkan tubuhnya ke kursi. Senyumnya berubah lebih licik.
“Sejujurnya… keluarga kami bisa menaikkan kuota dua kali lipat.”
Erina menatapnya lurus.
“Itu kabar baik.”
“Tentu saja.” Ia tersenyum tipis. “Tapi setiap keuntungan besar… Biasanya memerlukan imbalan yang setara.”
Fang Zhe merasakan udara di ruangan itu berubah. Namun terlihat, wajah Erina tetap tenang.
“Imbalan seperti apa yang Anda maksud?”
Tuan Muda Brata menyilangkan kaki.
“Kesepakatan ini bisa kita lanjutkan… Jika Nona Erina bersedia menemaniku malam ini.”
Ruangan mendadak hening. Dua pria lain tertawa kecil, seolah itu hal biasa. Tatapan mereka jelas. Tidak lagi soal bisnis. Melainkan sesuatu yang lebih kotor.
Fang Zhe merasakan darahnya mendidih. Tangannya hampir mengepal. Namun ia teringat pesan Erina yaitu jangan membuat masalah.
Melihat Erina tidak langsung marah. Ia tidak ingin menampar. Ia tidak meninggikan suara. Ia hanya menatap pria itu dengan dingin. Meski tangannya ingin sekali bergerak menghajar wajah tuan muda dari keluarga Brata ini.
“Saya datang untuk bisnis, bukan hiburan.”
Suaranya setenang es. Tuan Muda Brata terkekeh geli mendengarnya.
“Ah, jangan terlalu kaku. Dunia ini saling menguntungkan.”
Ia berdiri. Melangkah mendekat sedikit ke sisi meja.
“Dengan satu malam saja… keluarga Brata akan memastikan Paviliun Obat berdiri di puncak pasar utara.”
Fang Zhe bisa melihat tatapan pria itu yang terang-terangan cabul. Erina langsung bangkit dari kursinya.
“Kalau begitu, kesepakatan ini tidak perlu dilanjutkan.”
Mendengarnya, senyum tipis yang tak tersembunyi terlihat pada sudut bibir tuan muda keluarga Brata.
"Tidak perlu dilanjutkan? Mungkin Paviliun Obatmu akan hancur... Setelah menyinggung tuan muda keluarga Paduka Ryan... Dengarkan aku, jika kamu menyetujuinya. Mungkin aku akan menyingkirkan keluarga itu dengan kekuasaanku?!"
Ucapan itu menggantung di udara. Ancaman yang dibungkus tawaran.
Erina sedikit menatap Tuan Muda Brata tanpa berkedip. Ekspresinya tetap tenang. Namun matanya terasa begitu dingin.
“Paviliun Obat berdiri karena kualitas dan reputasi,” ucapnya perlahan.
“Bukan karena perlindungan pria yang menyamakan kerja sama dengan pelecehan.”
Ruangan terasa lebih berat. Yang membuat senyum Tuan Muda Brata memudar sedikit.
“Kau berani sekali.”
Erina meraih tasnya.
“Keberanian berbeda dengan harga diri.”
Ia melangkah mundur.
“Dan harga diriku tidak untuk dinegosiasikan.”
Fang Zhe mengikuti satu langkah di belakang.
Detak jantungnya stabil. Namun amarahnya nyaris meledak. Saat mereka hampir mencapai pintu.
Tuan Muda Brata bersuara lagi.
“Erina.”
Fang Zhe dan Erina seketika berhenti.
Bukan karena takut. Melainkan karena ingin memastikan kata-kata terakhirnya jelas.
“Kesempatan seperti ini tidak datang dua kali.”
Erina tidak menoleh.
“Begitu pula dengan rasa hormat.”
Ia melangkah keluar. Pintu tertutup. Namun masalah belum selesai. Lorong VIP hotel itu sepi. Karpet tebal meredam suara langkah.
Namun tiga sosok besar sudah berdiri di ujung lorong.
Tiga pria berjas hitam.
Tubuh tinggi. Bahu lebar. Tatapan dingin tertuju kearah kedyuanya. Kini mereka mulai bergerak pelan.
Menutup jalur menuju lift. Fang Zhe langsung melangkah setengah di depan Erina. Posisinya jelas berusaha melindungi.
Salah satu pria menyeringai.
“Oh… Hanya sekadar pengawal kecil.”
Suaranya berat.
“Kau pikir jas bagus membuatmu terlihat berbahaya?”
Pria kedua tertawa pelan.
“Dia terlihat seperti model majalah. Bukan petarung. Memang dia bisa apa?”
Yang ketiga menepuk bahunya sendiri.
“Bos hanya ingin bicara lagi. Jangan membuat kami harus menyeret kalian.”
Erina tetap berdiri tegak. Tidak panik. Namun jelas ini bukan sekadar obrolan.
Fang Zhe menatap Erina, memperlihatkan tatapan tenang. Seperti meminta sebuah persetujuan.
“Hei anak muda! Menjauh, atau...”
Tidak membalas ancaman itu, Fang Zhe menyeringai dingin.
"Bos, apa aku boleh beraksi?"
Fang Zhe mengorek telinganya pelan menggunakan kelingking, lalu meniupnya dengan gestur yang teramat santai, seolah pertanyaan penuh ancaman dari Han Ling tak lebih dari sekadar angin lalu. "Menetralkan?" Fang Zhe terkekeh rendah, menatap Han Ling dengan binar jenaka di matanya. "Tuan Muda Han, kau terlalu meremehkan bakatku, atau mungkin kau yang terlalu tinggi menilai racun murahanmu itu." Fang Zhe melangkah satu tindak lebih dekat. Langkahnya begitu ringan, namun entah mengapa riak energi keemasan yang samar di bawah kakinya membuat debu-debu di lantai arena terhempas menjauh. "Kau ingin tahu rahasianya? Sederhana saja," bisik Fang Zhe, sengaja menggantung kalimatnya sejenak demi menikmati ekspresi Han Ling yang semakin menggelap. "Tubuhku ini... kebetulan agak sedikit berbeda dari kultivator fana yang biasa kau temui. Alih-alih membunuhku, racun embun hitam semalam justru terasa seperti sup hangat yang menyegarkan. Sangat membantu untuk melunakkan meridianku sebelum mene
Masih memaki kearah sistemnya. Mata Fang Zhe kembali melotot membaca tiga kata yang berkedip dengan warna merah menyala di layar sistemnya. "Berutang jika genting?!" Fang Zhe mendengus geli sekaligus jengkel. "Kau ini sistem kultivasi atau aplikasi pinjaman online ilegal fana? Pakai ada fitur utang segala!" Namun, sistem tidak memberikan jawaban lebih lanjut dan benar-benar meredup, meninggalkan Fang Zhe dalam keheningan malam yang sunyi. Ia akhirnya memilih untuk memejamkan mata, memfokuskan seluruh kesadarannya untuk menstabilkan pusaran Qi keemasan di dalam Dantiannya hingga fajar menyingsing. * Keesokan paginya, atmosfer di sektor terdalam Penjara Naga terasa jauh lebih pekat dan mencekam dari biasanya. Matahari baru saja naik setinggi tombak, namun di dalam arena Hidup dan Mati... Sebuah area melingkar luas yang dipagari oleh jeruji besi raksasa berkarat, telah dipadati oleh ratusan narapidana kelas kakap. Mulai dari pembunuh berdarah dingin, kultivator sesat yang buro
Ding! Sebuah suara denting mekanis yang dingin tiba-tiba bergema langsung di dalam kesadaran Fang Zhe, disusul oleh hamparan layar semitransparan berwarna biru pudar yang perlahan mengambang di depan matanya. [Merespons fluktuasi emosi Host yang melebihi batas wajar. Menjawab tuduhan...] [Sistem tidak mendeteksi adanya tindakan kecurangan, pencurian, atau penyitaan energi seperti yang Host tuduhkan. Sistem beroperasi 100% demi keselamatan dan optimalisasi potensi Host.] "Tidak curang matamu?!" Fang Zhe hampir saja berteriak keras jika ia tidak ingat bahwa Faiye dan Lei Ba sedang berjaga di luar pintu. Kini ia mencengkeram rambutnya sendiri dengan frustrasi, memaki di dalam hati. "Dua sumber daya bernilai seratus triliun dolar! Setara dengan modal melatih calon jenderal kekaisaran! Bahkan membeli puluhan pulau! Dan kau membuatku mentok di bintang tiga permulaan?! Ke mana perginya delapan puluh persen energi itu kalau bukan kau yang menelannya, hah?!"Diiiing! Layar siste
Pintu logam ruangan itu dihantam terbuka hingga membentur dinding dengan keras. Faiye dan Lei Ba melesat masuk dengan senjata yang setengah terhunus dan ekspresi wajah yang penuh ketegangan. Mereka berdua panik setelah mendengar suara ledakan energi yang dahsyat, disusul oleh makian penuh amarah dari Fang Zhe yang menggema hingga ke luar ruangan. "Tuan Muda! Apakah ada penyusup?!" teriak Lei Ba, matanya menyapu sekeliling ruangan dengan liar, mencari musuh yang mungkin bersembunyi di dalam kegelapan. Namun, tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya ada Fang Zhe yang berdiri di tengah ruangan dengan jubah hitam yang masih berkibar pelan sisa gelombang kejut tadi. Hanya saja Urat-urat di pelipisnya menonjol, dan sepasang matanya menyiratkan kekesalan yang begitu mendalam. Memang benar aura yang menguar dari tubuh Fang Zhe kini telah jauh lebih kuat dan padat menandakan ia telah resmi menginjak ranah Pengumpul Roh bintang tiga... Tetapi ekspresinya justru tampak seperti orang yang baru
Fang Zhe menatap reaksi berlebihan dari kedua bawahannya dengan pandangan datar, seolah-olah sumber daya yang sanggup memicu perang di penjara naga hitam itu, tak lebih dari sekadar vitamin penambah stamina biasa. "Kalian berdua, berjaga di luar sekarang," perintah Fang Zhe, suaranya pelan namun mengandung otoritas yang tidak menerima bantahan. "Jangan biarkan siapa pun mendekat atau mengintip ke dalam ruangan ini selama aku menyerap khasiat dua sumber daya ini." "Baik, Tuan Muda!" jawab Faiye dan Lei Ba serentak. Mereka berdua segera mundur dengan langkah cepat, menutup pintu logam ruangan dengan rapat. Di luar, keduanya langsung memasang posisi siaga penuh, melepaskan aura kewaspadaan tertinggi untuk memastikan tidak ada mata-mata faksi lain atau sipir yang berani mendekat. Begitu situasi di luar dipastikan aman, Fang Zhe tidak langsung menyentuh kotak cendana di atas meja. Ia justru memejamkan matanya sejenak, mengalirkan indra spiritualnya ke seluruh penjuru ruangan un
Fang Zhe menatap gulungan bambu giok yang berkilauan di atas meja. Matanya memicing, menganalisis fluktuasi energi spiritual yang menguar samar dari tulisan-tulisan kuno di atasnya. Cairan Sumsum Naga Bumi dan Pil Pemurni Jiwa Sembilan Transformasi. Menurutnya ini sudah cukup. "Ambilkan semuanya untukku," ujar Fang Zhe tanpa keraguan sedikit pun. Suaranya terdengar mutlak, sebuah titah dari seorang pria yang tahu persis apa yang dia inginkan. Li Shian tersenyum lebar, binar matanya memancarkan kepuasan seorang pebisnis yang baru saja memenangkan lotre terbesar dalam hidupnya. "Keputusan yang sangat bijaksana, Tuan Muda Fang Zhe. Mohon tunggu sebentar." Dengan gerakan anggun namun cekatan, Li Shian menggunakan segel giok khususnya untuk memproses transaksi fantastis tersebut. Puluhan kartu ATM di atas meja tersedot saldonya secara masif, meninggalkan angka yang pas untuk menebus dua sumber daya terlarang itu. Tak lama kemudian, Li Shian kembali dengan sebuah kotak kayu cenda
Fang Zhe mengabaikan tarikan tangan Erina yang gemetar. Ia justru menumpuk chip emas bernilai jutaan dolar itu dengan suara dentingan yang memuaskan telinga."Fang Zhe! Cukup! Jangan dengarkan hasutan ular ini!" teriak Erina, wajahnya kembali memucat. "Satu juta delapan ratus ribu dolar! Kau bisa
Fang Zhe tidak langsung meletakkan chip-nya. Ia membiarkan suasana hening sejenak, membiarkan tatapan remeh dari para penjudi kelas kakap di sekeliling meja menusuk punggungnya. Mata Dewanya juga masih aktif, menangkap getaran frekuensi magnetik yang dimainkan sang bandar di bawah meja. "Baik aku
Fang Zhe berbalik dengan tenang, jubah abunya berkibar pelan seolah-olah ditiup oleh angin beku yang ia ciptakan sendiri.Di belakangnya, Tuan Muda Zhao masih terduduk lemas dengan napas tersengal yang mengeluarkan uap putih, sementara ayahnya, sang Kepala Keluarga, mematung dengan wajah pucat pasi
Erina menatap punggungnya beberapa detik. Ia bisa merasakan aura aneh dari pria yang berdiri di depannya itu. Tenang. Stabil. Seolah situasi di lorong ini sama sekali tidak berbahaya. Ia hanya menjawab singkat. “Asal, jangan membunuh.” Sudut bibir Fang Zhe sedikit terangkat. “Itu sudah cukup.







