تسجيل الدخولHazel masih menunduk saat mulai bicara lagi. Suaranya pelan dan serak karena terlalu lama menahan semuanya sendirian. Sedangkan Lintang Aksara Narendra duduk diam di sebelahnya tanpa menyela. Tatapannya tertuju penuh pada Hazel, semakin perempuan itu membuka sedikit demi sedikit hidupnya semakin berat dada Lintang menanggung rasa bersalahnya sendiri. “Dia sebenarnya baik…” Kalimat itu keluar sambil Hazel tersenyum kecil pahit. Tangannya saling menggenggam di atas pangkuan. Jemarinya bergerak gelisah. “Dulu… Aku kenal dia pas koas. "Tatapannya perlahan kosong mengarah ke depan. Seperti sedang melihat ulang masa lalu di kepalanya. “Waktu itu aku jadi relawan. Poskonya gak jauh dari kantor tempat dia kerja.” Lintang diam mendengarkan. Hazel melanjutkan pelan. “Dia kerja di Narendra Group cabang Jakarta. Bukan kantor pusat, dia kerja di kantor cabang sana ada “Aku sering lewat depan gedungnya karena posko relawannya dekat situ.” Sudut bibir Hazel sempat terangkat kecil mengingat mas
Ucapan Lintang tadi akhirnya menghancurkan pertahanan kecil yang sejak pagi mati-matian dijaga oleh Hazel. Perempuan itu masih duduk diam di bangku taman. Botol air mineral di tangannya mulai sedikit bergetar. Tatapannya lurus ke depan, ke arah tiga anaknya yang sedang bermain. Namun sekarang pandangannya mulai buram, tanpa bisa ditahan lagi air mata yang sejak subuh tertahan akhirnya jatuh perlahan membasahi pipinya. Hazel langsung menunduk cepat. Tangannya buru-buru mengusap air mata itu dengan ujung jarinya. Dirinya terbiasa menahan semuanya sendiri. Tadi subuh saat ditampar dirinya bahkan tidak menangis. Saat sudut bibirnya berdarah, Hazel hanya diam sambil melanjutkan menyetrika. Namun sekarang saat seseorang justru memperhatikan lukanya dengan nada setenang itu hati kecilnya terasa seperti disentuh pelan dan itu jauh lebih menyakitkan. Lintang yang duduk di sebelahnya langsung diam. Dada laki-laki itu terasa makin sesak melihat Hazel menangis seperti ini. Tatapannya berhenti p
Akhirnya mereka pergi ke taman bersama dan seperti biasa, Leyan dan Liana langsung heboh sendiri begitu tahu mereka naik mobil Lintang Aksara Narendra lagi. “AKU DI BELAKANG.” “Enggak aku duluan.” “Liana kemarin di kanan.” Suara rebutan itu langsung memenuhi parkiran minimarket. Sedangkan Hazel hanya bisa menghela napas kecil sambil memegang kantong belanja. “Pelan-pelan… nanti jatuh.” Lintang yang berdiri dekat pintu mobil sampai tertawa kecil melihat dua anak itu sibuk sendiri memilih tempat duduk. Sedangkan Lintang kecil seperti biasa jauh lebih tenang. Anak itu malah membantu Hazel membawa kantong snack dan air mineral tanpa diminta. “Aku pegang ini aja bunda.” Hazel langsung menoleh kecil. Tatapannya otomatis melembut. “Berat gak?” Lintang kecil menggeleng pelan. Lagi-lagi anak itu membuat Hazel merasa dirinya sedang berbicara dengan orang dewasa kecil. Tak lama kemudian, mobil akhirnya melaju menuju taman. Sepanjang perjalanan suasana benar-benar tidak pernah sepi. Ley
Mendekati jam tiga sore, rumah kembali mulai ramai oleh suara tiga anak kecil yang sudah tidak sabar ingin pergi ke taman. Leyan bahkan sudah mondar-mandir dari ruang tengah ke teras sejak jam setengah tiga. “Bundaaa.. Kita berangkat sekarang aja.” “Masih jam dua lewat.” Hazel menjawab sambil merapikan kerudungnya di depan cermin kecil ruang tamu. “Kalau sekarang nanti kesiangan.” “Tapi aku udah siap.” Leyan menunjukkan dirinya sendiri dengan wajah sangat serius. Tas kecilnya bahkan sudah menggantung di pundak. Sedangkan Liana sibuk memilih jepit rambut sambil duduk selonjor di lantai. “Aku mau yang bunga.” “Yang kemarin aja bagus.” Lintang kecil menimpali datar dari sofa sambil membaca buku gambar. “Enggak.” Liana langsung menggeleng cepat. “Aku mau cantik.” Lintang kecil langsung melirik adiknya sebentar. “Memangnya sekarang jelek?” Liana langsung diam beberapa detik. Lalu malah tertawa sendiri. Sedangkan Hazel hanya memperhatikan mereka sambil tersenyum tipis. Seperti bias
Jam menunjukkan pukul 10.09 pagi saat suasana di depan sekolah TK mulai ramai. Pintu-pintu kelas dibuka satu persatu. Suara anak-anak langsung memenuhi halaman kecil sekolah dengan riuh yang khas. Beberapa berlari menghampiri orang tua mereka. Ada yang sibuk menunjukkan hasil gambar dan ada juga yang langsung merengek minta jajan. Sedangkan Hazel berdiri tenang di dekat pagar sekolah sambil menunggu. Hijab krem lembut membingkai wajahnya pagi itu. Masker medis masih menutupi sebagian wajahnya dengan rapi dan meski tubuhnya masih terasa lelah matanya perlahan mulai lebih hidup saat melihat anak-anak kecil keluar dari kelas satu per satu. Sampai akhirnya, Leyan muncul paling depan sambil membawa tas kecil bergambar dinosaurus. Anak itu awalnya masih sibuk bicara dengan temannya. Namun beberapa detik kemudian, matanya menangkap sosok Hazel di dekat pagar. Seketika wajahnya langsung berubah cerah total. “BUNDAAAAAA!” Suara nyaring itu langsung membuat beberapa orang tua lain ikut menol
Subuh itu suasana rumah masih dingin dan penuh ketegangan setelah tamparan yang diterima Hazel beberapa menit lalu. Sedangkan Rehan tetap bersiap kerja seperti tidak terjadi apa-apa. Laki-laki itu akhirnya memakai seragam yang tadi salah disetrika Hazel. Karena sebenarnya seragamnya hampir sama. Hanya beda jadwal pemakaian saja. Namun seperti biasa Rehan tetap mencari alasan untuk melampiaskan emosinya. Suara lemari dibuka kasar, langkah kaki berat dan gumaman kesal yang terus terdengar sejak tadi. “Pagi-pagi udah bikin emosi aja…” Hazel diam, perempuan itu hanya berdiri di dapur kecil sambil menyiapkan kopi panas dengan wajah menunduk. Sudut bibirnya masih terasa perih, pipinya juga mulai membiru samar dan seperti biasa dirinya tetap bergerak tenang seolah semua baik-baik saja. Padahal tangannya masih sedikit gemetar. Sekitar pukul lima pagi, Rehan akhirnya bersiap pergi. Sebelum keluar rumah laki-laki itu sempat melirik Hazel yang sedang merapikan meja dapur. “Kamu kerja hari in
Tubuh Hazel terasa lemas, setiap gerakan terasa berat. Ia menyadari dirinya tak bisa bergerak bebas, tangan sementara kaki dan badannya ditahan oleh beberapa sosok yang lain disana, tubuhnya juga terasa kaku akibat obat bius yang diberikan padanya. Panik mulai merayapi setiap sudut pikirannya. Sos
Ruangan itu masih di sinari cahaya remang-remang dari lampu tidur. Bayu melirik ke yang lain, lalu menyeringai tipis. “Jangan pada diem aja. Dari tadi juga udah jelas mau ngapain.” Raka mengangkat alis. “Ya terus? Lu mau jadi yang paling depan?” “Kenapa? Takut?” Bayu menantang. Raka tertaw
Satu minggu setelah hari-hari yang melelahkan di kampus, Sabtu pun tiba. Hazel dan teman-temannya bersiap mengikuti kegiatan bakti sosial yang diadakan oleh fakultas kedokteran. Mereka akan melakukan pemeriksaan kesehatan gratis di sebuah panti jompo di pinggiran Jakarta. Pagi itu, matahari baru s
Suasana meja itu tidak lagi santai. Kalimat terakhir Lintang masih menggantung di udara, membuat semua orang diam beberapa detik lebih lama dari biasanya. Bayu menyandarkan tubuhnya, matanya berpindah dari satu orang ke orang lain, lalu berhenti pada Lintang. “Berarti… kita sepemikiran ya”, katany







