Share

BAB 25 Testpack

Author: Adw_Canss781
last update publish date: 2026-04-25 23:51:55

Pagi itu, kost masih sunyi. Jam dinding baru menunjukkan pukul 05.03, tapi Hazel sudah terbangun, terengah-engah menahan rasa mual yang tiba-tiba menyerang. Tubuhnya panas, perutnya bergejolak, dan setiap kali ia menelan ludah rasanya hampir ingin muntah lagi. Ia menekuk tubuh di tepi ranjang, hoodie menutupi bahunya, masker tergantung di dagu.

Sekejap ia menatap jendela, langit masih gelap, udara pagi sejuk, tapi tak mampu menenangkan tubuhnya yang gelisah. Weekend seharusnya waktunya istir
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 103 Merasa Tersisih

    Suasana di sekitar meja mereka terasa canggung beberapa detik setelah kalimat terakhir Lintang terdengar. Melisa Cahyani masih berdiri di tempatnya. Ekspresinya berubah tipis karena jelas dirinya tidak menyangka Lintang akan sedingin ini. Dulu laki-laki itu bahkan rela menunggu berjam-jam hanya untuk menemaninya makan. Sedangkan sekarang keberadaannya justru seperti mengganggu. Lintang akhirnya kembali membuka suara. Tatapannya datar. “Kalau udah selesai bicara… mending Anda pergi.” Kalimat itu terdengar sangat formal dan sangat jauh dari yang dikenal dulu. “Jangan ganggu suasana disini.” Kalimat itu benar-benar membuat Melisa diam, jelas terasa Lintang sama sekali tidak ingin dirinya berada di meja itu lebih lama. Sedangkan di sisi lain, tiga anak kecil di meja justru mulai kembali sibuk dengan dunia mereka sendiri. Mereka tidak benar-benar mengerti ketegangan orang dewasa. Lintang kecil akhirnya angkat bicara sambil menaruh sendoknya pelan. “Ayah…” Lintang langsung menoleh, lag

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 102 Bertemu Masa Lalu

    Tak lama setelah itu semua pesanan akhirnya datang memenuhi meja mereka. Aroma sate bakar langsung semakin terasa kuat, kuah sop masih mengepul panas. Sedangkan dua piring iga sapi bakar sukses membuat mata Leyan berbinar paling terang. “Waaaah… Ayah ini gede banget.” Lintang sampai tertawa kecil melihat ekspresi anak itu. “Ingat makannya jangan langsung kalap. Takutnya nanti gak habis.” Leyan langsung menggeleng cepat. “Habis kok.” “Yakin?” tanya Lintang. “YAKIN.” Sedangkan Liana sudah sibuk memperhatikan sate ayamnya sendiri. Namun beberapa detik kemudian kening kecilnya mulai berkerut. Karena dirinya kesusahan menarik daging sate dari tusuknya. “Ayah…” Lintang langsung menoleh. “Hmm?” “Ini susah.” keluh Liana, dia mendorong piring berisi sate pesanannya ke arah Lintang sedikit. Lintang akhirnya mengambil piring sate milik Liana. Lalu perlahan membantu melepaskan potongan daging sate dari tusuk satu per satu. “Nah… Makannya pelan-pelan aja.” Liana langsung tersenyum puas.

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 101 Protes Kecil

    Begitu Leyan berlari mendekat, suasana taman yang tadi terasa agak murung langsung berubah ramai lagi. “AYAHHH.” Anak itu langsung memeluk pinggang Lintang tanpa rem. Sedangkan Liana menyusul beberapa detik kemudian dengan wajah yang masih terlihat sedikit kesal. “Ayah kok lama sekali…” Nada suaranya terdengar seperti protes tulus anak kecil yang benar-benar menunggu. Lintang langsung jongkok pelan di depan mereka. Tatapannya bergantian melihat dua wajah kecil itu. Lagi-lagi dadanya terasa penuh melihat mereka menyambutnya seperti ini. “Iya…” Lintang tersenyum kecil samar. “Ayah tadi meeting.” "Meetingnya lama banget.” Leyan langsung ikut nimbrung cepat. “Iya.” “Ayah biasanya kan cepet.” protes Leyan lagi. Lintang mengangguk kecil. “Iya… tapi kali ini memang gak bisa ditinggal, maaf ya.” Kalimat itu keluar begitu pelan dan tulus sampai Liana yang tadi masih manyun perlahan mulai luluh lagi. Jujur saja anak perempuan itu memang sedari tadi terus melihat ke arah jalan menunggu

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 100 Menunggu

    Jam menunjukkan pukul setengah dua siang saat Lintang akhirnya berdiri dari kursinya. Meeting tetap harus berjalan, mau bagaimana pun keadaan isi kepalanya sekarang. Map putih hasil tes DNA itu akhirnya dimasukkan kembali ke dalam tas kerja hitam miliknya. Meski begitu Lintang tetap merasa seolah benda itu masih berada tepat di depan matanya. Setiap kali mengingat hasilnya, dadanya kembali terasa sesak. Angka itu jelas, 99,98% tiga anak itu anaknya dan kesadaran itu belum benar-benar selesai ia cerna sampai sekarang. Lintang akhirnya berjalan keluar ruangan menuju ruang meeting utama. Beberapa staf yang melihatnya langsung berdiri kecil menyapa. “Siang Pak.” Lintang mengangguk singkat. Langkahnya tetap tenang seperti biasa, raut wajahnya juga masih datar. Namun orang-orang yang sudah cukup lama bekerja pasti sadar atasan mereka hari ini jauh lebih diam dibanding biasanya. Karena biasanya Lintang termasuk tipe pemimpin yang cukup aktif saat meeting. Cepat memberi tanggapan, cepat m

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 99 Tentang Kenyataan

    Ruangan Dokter Maya Anindita mendadak terasa terlalu sempit bagi Lintang. Padahal sejak tadi tidak ada yang berubah. AC masih menyala pelan, suara langkah kaki yang terdengar samar masih terdengar dari lorong luar. Jam dinding masih berdetak tenang. Namun setelah kalimat itu keluar semuanya terasa berbeda. “Bapak adalah ayah biologis dari ketiga anak itu.” Lintang masih diam. Kepalanya menunduk dalam, tangannya menutup wajah sendiri. Dadanya terasa penuh sampai sulit bernapas normal dan yang paling menyakitkan dirinya justru merasa lega. Lega karena selama ini perasaannya tidak salah. Lega karena tiga anak kecil yang memanggilnya Ayah itu benar-benar darah dagingnya. Sekaligus hancur karena dirinya tahu persis bagaimana mereka hadir ke dunia ini. Dokter Maya memperhatikan laki-laki di depannya beberapa saat. Lalu kembali membuka lembar hasil pemeriksaan lebih detail. “Pak Lintang…” Lintang perlahan menurunkan tangannya dari wajah. Matanya terlihat merah sekarang. Dokter Maya me

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 98 Hasil Tes DNA

    Senin siang di gedung cabang Narendra Group Bandung sedang berada di jam paling sibuk. Suasana lantai direksi terasa padat sejak pagi. Beberapa staf keluar masuk ruang meeting membawa dokumen. Suara printer terdengar hampir tanpa jeda. Beberapa telepon kantor juga terus berbunyi bergantian. Sedangkan di ruang direktur sementara, Lintang bahkan belum benar-benar berhenti bekerja sejak datang pagi tadi. Laptopnya masih terbuka penuh laporan, tumpukan map memenuhi meja dan layar tablet di sampingnya menampilkan data evaluasi cabang yang belum selesai diperiksa. “Pak Lintang, ini revisi laporan distribusi minggu lalu.” “Taruh aja dulu.” “Meeting jam setengah dua jadi dimajuin Pak.” Lintang mengangguk kecil tanpa mengalihkan fokus dari layar laptopnya. Kepalanya sebenarnya mulai terasa berat. Sejak pagi dirinya terus berpindah dari satu urusan ke urusan lain tanpa jeda. Bahkan kopi di meja sejak tadi belum benar-benar disentuh. Namun di tengah semua kesibukan itu, pikirannya tetap be

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 20 Confess

    Hari-hari berlalu, satu minggu, lalu dua minggu. Hazel mulai terbiasa dengan hidupnya yang sekarang. Bukan berarti semuanya membaik, karena rasa takut itu masih ada, masih tinggal di dalam dirinya seperti bayangan yang tidak pernah benar-benar pergi. Kadang saat mendengar langkah kaki terlalu keras

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 19 Trigger dan Perubahan

    Sore hari datang lebih cepat dari yang Hazel sadari. Kelas demi kelas terlewati begitu saja, tanpa benar-benar ia ingat apa yang diajarkan. Semuanya terasa seperti potongan waktu yang kabur, ia hadir, duduk, mencatat, tapi pikirannya tidak pernah benar-benar ada di sana. Saat akhirnya jam pulang

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 18 Kekosongan dan Konsekuensi

    Pagi itu datang seperti biasa, tidak ada yang berbeda. Cahaya matahari masuk melalui celah tirai, menerangi sudut kamar dengan lembut. Suara kendaraan dari luar terdengar samar, bercampur dengan aktivitas pagi yang mulai hidup perlahan. Semuanya terasa normal, Hazel sudah bangun sejak beberapa saat

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 17 Kenyataan yang Menyakitkan

    Hazel tidak ingat kapan tepatnya ia berhenti menangis. Yang ia ingat hanya lelah. Lelah yang menumpuk, menggerogoti tubuhnya sampai tidak ada lagi tenaga yang tersisa, bahkan sekadar untuk mengeluarkan suara. Tangisnya semalam tidak benar-benar berhenti, hanya melemah terseret pelan sampai akhirnya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status