Share

Bab 2

Author: Stary Dream
last update publish date: 2026-06-06 15:47:44

Masing-masing sudah meluapkan emosi mereka dengan menangis. Nicho dan istrinya kembali berpura-pura. Malam ini, seperti malam-malam sebelumnya dimana mereka berdua memasak bersama. Sambil bercanda dan mengobrol ringan.

Setelah makan malam, maka Nicho akan mencuci piring sementara Bunga membereskan bekas makan mereka.

"Tinggalkan saja, sayang. Biar aku yang membersihkannya!" Seru Nicho membawa piring kotor ke washtafel.

"Aku masih kuat kalau hanya mengelap meja, mas." Sahut Bunga tersenyum manis. "Oh, iya. Mumpung besok libur, aku mau minta temenin."

"Mau kemana, sayang?"

"Ke rumah mama, terus ke rumah ibu."

Nicho sampai menoleh. Ia menatap istrinya dengan penuh pertanyaan.

"Cuma mau silahturahmi, mas.. udah lama nggak ketemu mama." Sambung Bunga.

Nicho menghela nafas berat. "Baik. Akan ku temani."

Sebenarnya Nicho malas sekali pergi ke rumah mertuanya. Entah kenapa watak Bunga dan mamanya itu sangat berbeda.

Bunga yang lembut dan bertutur kata sopan harus memiliki ibu yang kasar, suka merendahkan orang lain dan sering kali melihat seseorang dari hartanya.

Ya, bisa dikatakan sampai sekarang Nicho belum bisa merebut hati mertuanya.

Sembilan tahun menikah dan tiga tahun berpacaran.. dua belas tahun Nicho mengenal ibu mertuanya. Dan sampai saat ini, restu dari wanita itu belum di dapatkan juga.

Pria miskin! Cuma anak yatim! Kamu tidak akan punya masa depan jika menikahi pria itu!

Masih terngiang-ngiang hinaan yang diberikan ibunya Bunga pada Nicho saat melamar istri tercintanya saat itu. Tak hanya itu, di pelaminan yang harusnya menjadi tempat bahagia mereka mengikat janji, ibu mertuanya main melenggang pergi sambil menunjuk-nunjuk wajah Niko. Menantu tak berguna katanya!

Hati Nicho sakit sekali. Tapi ia tahan semua emosinya demi Bunga. Apalagi Bunga malah membentangkan jarak dan memberikan permusuhan pada ibunya sejak hari itu.

Sebagai suami yang bijak, Nicho berusaha melunakkan hatinya. Ia selalu memberikan nasehat agar Bunga memaafkan ucapan ibunya. Walau harus Nicho yang berkorban perasaan secara penuh.

Esok pagi, Nicho tiba bersama Bunga di kediaman Tati, mertuanya. Baru saja masuk ke ruang tamu, Tati memberikan penghinaan.

"Mama pikir motor butut itu nggak bernyawa lagi! Ternyata panjang umur juga!" Sindirnya pada motor bebek butut yang dibawa oleh Nicho.

Bunga dan Nicho hanya tersenyum menganggap ucapan Tati sebagai angin lalu saja. Keduanya lalu menciumi tangan Tati dengan takzim.

"Melati baru aja beli mobil, Bunga! Mobil keluaran terbaru lagi. Suaminya baru aja naik jabatan!" Seloroh wanita tua ini.

Bunga dan Nicho lalu mengambil tempat duduk di sofa ruang keluarga.

"Alhamdulillah, ma. Aku senang dengarnya."

"Nah, kamu! Apa perolehanmu menikah dengan Nicho? Udah sembilan tahun, loh! Hidup kalian masih begitu-begitu saja! Suamimu masih jadi guru honorer. Motornya masih butut! Rumah kalian juga sempit! Gimana nanti kalau ada perayaan disana? Pasti banyak tamu yang nggak mau datang!"

Tangan Nicho terkepal dengan erat mendengar sindiran dari mertuanya.

Dia memang guru honorer tapi semua nafkah yang ia berikan pada istrinya adalah harta yang halal. Tidak seperti adik iparnya yang katanya bekerja di perusahaan tapi hebat sekali bisa membeli rumah dan kendaraan dalam sekejap! Simpang siurnya, suami Melati malah suka bertarung di meja judi.

Ah, mau jadi apa keluarga itu jika di nafkahi dengan uang yang haram? Hmm.. tapi Nicho hanya bisa menahan ucapannya di dalam hati.

"Nggak masalah, ma. Yang penting hidup kami tenang.. nggak ada hutang dan nggak menumpang. Apa yang kami miliki sudah lebih dari cukup." Sahut Bunga lembut. Berbeda sekali dengan ibunya yang sangat congkak dan kasar.

Tati mendengkus dan menatap sinis Nicho.

"Gimana kabar bayi tabung kalian? Pasti gagal lagi, kan?! Udahlah, Bunga. Cepat periksakan diri kalian. Mama yakin suamimu itu bermasalah."

Tati terkesiap. Sontak ia mengangkat kakinya.

Begitu juga dengan Nicho yang melotot. Tiba-tiba saja istrinya berlutut di hadapan Tati.

"Ada apa ini, Bunga???" Tanya Tati kaget.

Dengan wajah yang memerah menahan tangis, Bunga mengambil tangan Tati. Ia mencium tangan itu begitu lama dan takzim. Setelah itu, ia bersimpuh hingga membuat Tati semakin terkejut.

Bunga merundukkan kepalanya dan mencium kaki ibunya. Nicho yang melihat itu langsung terenyuh, ia memalingkan wajahnya ke arah lain.

"Kenapa, Bunga??!"

Tati mengangkat kedua bahu anaknya dan memaksa Bunga menatap wajahnya. Namun seketika itu juga Tati terperangah. Wajah anaknya sudah penuh akan air mata.

"Kedatangan ku kemari untuk meminta pengampunan mama. Selama ini, aku selalu membantah ucapan mama. Menyakiti mama dengan tindakanku.. aku mohon maafkan aku.." ucapnya terisak.

Tati tak mengerti. Ia lalu menatap menantunya.

"Kamu menyakitinya, Nicho?? Sebab itulah Bunga mengatakan hal ini karena dia menyesal menikah denganmu???!" Tati menatap sengit.

Bunga menggeleng. Ia menangkupkan tangannya.

"Tidak, ma. Mas Nicho tidak bersalah. Dia suamiku yang setia. Dia sangat mencintaiku dan selalu melindungiku. Hanya saja, aku harus memberikan kabar ini pada mama.."

Tati menatap putrinya yang sekarang menangis tersedu-sedu. Ia menangkupkan kedua tangannya seolah memohon ampunan.

"Aku mohon maafkan seluruh kesalahanku, ma. Aku tahu dosaku begitu besar.."

"Apa yang terjadi? Cepat katakan!" Bentak Tati tak sabar lagi.

Bunga meneguk ludah. Tenggorokannya tercekat.

"Aku tervonis kanker ovarium, ma. Hidupku tak lama lagi."

Sekarang tak hanya dua dunia yang hancur, melainkan dunia Tati ikut patah hari ini juga.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sampai Maut Memisahkan Cinta   Ending (Sampai Maut Memisahkan Cinta)

    Rose akhirnya membuat keputusan untuk tinggal di rumah sederhana milik ayahnya. Sambil menyelesaikan pendidikan dokternya, Rose juga sering mengunjungi Citra di rumah baru milik wanita itu. Abraham dan Citra telah resmi berpisah dua bulan setelahnya. Kehidupan Rose di rumah sakit juga berjalan dengan normal. Keinginannya tidak dipandang sebagai anak direktur telah dicapai. Sekarang dia bisa belajar dengan bebas tanpa gangguan. Gelar dokter resmi diraih Rose. Nicho dan Citra mendampingi Rose sebagai orang tuanya saat wisuda. "Kamu selalu membanggakan mama." Citra memeluk anaknya dengan erat. Rose berjalan ke sebelah dan memeluk ayahnya. "Ayah sangat menyayangimu." "Aku juga!" Rose menarik diri. "Kita ke makam ibu Bunga. Aku mau menunjukkan ini." Rose ingin memamerkan ijazahnya pada Bunga. Ketiganya lalu pergi ke makam milik Bunga. Disana Rose bercerita mengenai perjuangan selanjut

  • Sampai Maut Memisahkan Cinta   Bab 56

    Rose dibawa pulang oleh ayah kandungnya. Wanita ini diberikan kamar, diminta untuk berganti pakaian. Tantenya yang baik langsung menghidangkan makanan. Takut jika Rose kelaparan karena terlalu lama berkelana di jalanan."Rumah ini kecil, Rose. Mungkin nggak sebesar tempat tinggal kalian." Ucap Nadia sambil menuangkan nasi pada piring keponakannya.Rose tersenyum pahit. "Itu bukan rumahku, bu Nadia. Itu rumah papa Bram dan mama Citra.""Mamamu bilang kalau kamu kabur dari rumah. Apa itu benar?" Tanya Nadia.Rose mengangguk sambil menunduk."Mereka bilang ingin berpisah. Papa juga ingin menjual rumah itu. Lagi pula, mereka bukan orang tuaku." Jawab Rose sambil memandang wajah ayahnya. "Aku tahu pak Nicho pasti sangat terpukul karena perbuatan mama. Aku pun sama. Aku.. merasa seperti alat yang digunakan untuk mama mendapatkan pak Nicho. Aku.. aku..." Rose menangis tak mampu melanjutkan ucapannya."Nak.." tegur Nicho lembut.

  • Sampai Maut Memisahkan Cinta   Bab 55

    Citra menghubungi semua divisi rumah sakit. Termasuk rekan-rekan coas putrinya. Sayang sekali, Rose tak muncul sejak tiga hari yang lalu. Wanita itu bahkan melewatkan jadwal jaganya tanpa izin."Dimana kamu, Rose.." Citra sangat bersusah hati. Ia terduduk lemas di kursi kerjanya. Andai saja Citra menahan kepergian Rose. Mungkin semua ini tidak akan terjadi. Putrinya itu pasti mengalami hal yang berat. Ia terpukul karena mendapatkan fakta jika bukan anak kandung dari Citra.Terlebih mengingat perlakuan Abraham selama ini padanya. Oh.. Rose pasti kecewa.Pintu diketuk membuat Citra cepat-cepat mengusap air matanya. "Masuk lah." Ujarnya.Seseorang masuk. Citra bersiap dengan menggunakan jas dokternya. Kebetulan dia harus melaksanakan praktek di poliklinik hari ini."Abraham.." mata Citra langsung menyipit. Mau apa lagi pria ini?"Aku sedang melakukan ronde manajemen, jadi sekalian mampir kemari." Abraham menaruh

  • Sampai Maut Memisahkan Cinta   Bab 54

    "Sudah cukup, Renza. Terima kasih." Ucap Nicho menarik kakinya.Keponakannya yang manja ini sudah tumbuh dewasa. Meskipun sedikit galak, Renza memiliki kepribadian seperti ibunya. Yaitu lembut dan penuh perhatian.Contohnya seperti hari ini, Renza bersama Nadia mampir lagi ke rumah Nicho. Tak hanya membawakan bekal makanan, Renza juga memberikan pijatan pada pamannya yang terlihat letih itu."Bahunya mau aku pijit juga nggak?" Tawar Renza.Nicho terkekeh. "Tidak perlu. Kapan kamu wisuda?" Tanyanya mengalihkan pembicaraan."Dua bulan lagi, paman. Nanti aku mau paman datang.""Pasti paman datang.."Setelah Renza, kini giliran Nadia yang menegur. Wanita ini baru saja membuat bubur kacang hijau."Cicip dulu, mas. Ini nggak terlalu manis."Nicho menerima mangkuk kecil tersebut dan mengaduknya perlahan."Sudah lebih dari tiga hari. Apakah Rose menghubungimu?" Tanya Nadia penasaran.Tiga hari

  • Sampai Maut Memisahkan Cinta   Bab 53

    Pintu kamar itu diketuk berkali-kali. Rose masih enggan bangkit dari tidurnya. Ia terlungkup menyembunyikan tangisannya di bawah bantal.Semalaman ia tak tertidur karena takut kemarahan orang tuanya, namun pagi ini ia mendapatkan kejutan luar biasa yang berhasil meruntuhkan kepercayaannya.Citra yang ia muliakan memberikan fakta jika ternyata bukan ibu kandungnya. Rose hanyalah anak hasil curian. Ia terpisah dari orang tua aslinya karena obsesi yang dimiliki oleh Citra.Rose semakin menangis saat mengingat perlakuan Nicho padanya. Pria yang ternyata menjadi ayah kandung dari Rose. Pria yang sangat lembut dan juga penyayang."Rose, buka pintunya. Mama ingin bicara, nak.." bujuk Citra dari luar. Daritadi ia mengetuk pintu namun Rose masih enggan membukanya. Citra jadi cemas terlebih tak terdengar sahutan dari dalam."Rose! Kalau kamu nggak buka pintunya, mama akan suruh orang untuk mendobrak kamarmu!" Ucap Citra lagi. Kembali ia menggedor p

  • Sampai Maut Memisahkan Cinta   Bab 52

    "Nicho.. mari kita bicara.." Nicho memandang Citra dengan penuh rasa kecewa. Untuk apa lagi wanita ini datang kemari? Hati Nicho sakit sekali dibuat olehnya. Wanita yang mengaku sebagai sahabatnya malah mengiris dan memberikan luka untuknya."Pergilah, Citra." Sahut Nicho dingin."Kumohon, Nicho. Sebentar saja.. aku ingin menjelaskan semuanya.." pinta Citra penuh harap.Nadia mengusap bahu kakaknya. Walau ia tak mengerti apa yang terjadi, tapi Nadia menduga pasti ada hal yang berat sehingga membuat teman lama kakaknya itu datang kemari."Dengarkan saja, mas." Nicho menghela nafas panjang. Ia memutar tubuhnya dan duduk di kursi ruang tamu. Begitu juga dengan Nadia dan Citra yang mengambil tempat duduk dan saling berhadapan."Apa yang kamu pikirkan itu semua benar, Nic. Rose adalah putri kandungmu." Ucap Citra memulai pembicaraan.Nadia terkejut setengah mati. Sedangkan Nicho memejamkan matanya."Aku ti

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status