Share

BAB 236

last update publish date: 2026-06-22 22:17:45

Satria menghentikan motor trailnya tepat di tengah-tengah mulut gang, mengunci posisi agar tidak ada satu pun dari kelima motor sport itu yang bisa mundur. Dia membiarkan mesin motornya tetap menyala lambat, menciptakan suara ketukan konstan yang memecah ketegangan di tempat sepi tersebut.

Wanita yang berdiri di samping motor Ninja hijau itu melihat kedatangan Satria. Meskipun dia tidak mengenal siapa pemuda berjaket kulit di atas motor trail itu, dan wajah Satria pun sebagian masih tertutup ol
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Satria Idaman Wanita   BAb 337

    Kamar 1204 itu berantakan. Igor meringis menahan sakit di dadanya. Dia berjalan pelan mendekati Ivan yang masih terbaring di lantai sambil memegangi bahu kanannya."Sialan," umpat Ivan pelan. "Tenaga orang itu tidak masuk akal."Igor berjongkok. Dia memegang lengan Ivan dan menariknya dengan satu sentakan keras. Terdengar bunyi tulang kembali ke posisinya. Ivan menjerit tertahan sambil menggigit bibir bawahnya.Di sudut lain, Boris sudah berhasil duduk di pinggir kasur. Dia masih terbatuk-batuk memegangi perutnya."Kita salah perhitungan," kata Igor dengan wajah serius. "Orang itu bukan pengawal biasa. Cara bergeraknya di ruang gelap tadi murni insting seorang pembunuh. Dia bisa saja menghabisi kita bertiga dengan mudah kalau dia mau."Boris menatap bosnya. "Terus kita harus bagaimana Bos? Lanjut menjalankan misi?"Igor menggeleng. "Kita tidak dibayar untuk mati konyol tanpa persiapan. Saya harus laporan ke Surya Aryatama sekarang."Malam itu juga di tempat yang berbeda, Surya Aryatam

  • Satria Idaman Wanita   BAB 336

    Berikut adalah Bab 379, menceritakan aksi penyusupan Satria ke markas tim pembunuh bayaran untuk memberikan teror mental sebelum mereka sempat menyerang.Bab 379: Harimau Masuk KandangMalam menunjukkan pukul sebelas lewat. Hujan rintik-rintik mulai membasahi jalanan ibu kota. Di rumah Vera, lampu lantai bawah sudah banyak yang dimatikan.Satria memastikan semua pintu dan jendela terkunci rapat. Setelah yakin Vera sudah tidur di kamarnya, dia mengambil jaket hitam, topi, dan sebuah belati lipat militer dari dalam tas ranselnya."Bim, lo udah siap?" bisik Satria ke mikrofon kecil di kerah jaketnya."Siap Komandan. CCTV lorong lantai dua belas Hotel Grand Batavia udah gue putar ulang. Rekamannya bakal berulang terus selama lima belas menit ke depan. Petugas keamanan hotel cuma bakal lihat lorong kosong," lapor Bima cepat."Bagus. Beri gue akses lift barang dari basement."Satria keluar dari rumah Vera lewat pintu samping dengan sangat tenang. Dia memacu motor sport pinjaman dari salah s

  • Satria Idaman Wanita   BAB 335

    Pintu kamar hotel bintang lima itu terbuka dengan kasar. Ivan masuk dengan wajah merah padam karena kesal. Dia melempar kunci mobil sedan abu-abunya ke atas meja kaca sampai berbunyi keras.Igor yang sedang membersihkan laras senapannya hanya melirik sekilas. Boris tertawa mengejek dari arah sofa sambil melempar kacang ke udara dan menangkapnya dengan mulut."Gagal total ya Van? Dikerjain sama kacung lokal?" sindir Boris santai."Tutup mulutmu Boris. Orang ini bukan kacung biasa. Insting mengemudinya gila. Dia tahu celah jalan tikus yang bahkan tidak ada di peta GPS kita," gerutu Ivan sambil menuangkan air es ke dalam gelas lalu meminumnya rakus.Igor meletakkan senapannya di atas meja. Wajah pria bule berbekas luka itu terlihat semakin serius."Sudah saya bilang, target kita punya latar belakang militer. Dia sengaja memancing kamu masuk ke gang sempit buat memastikan kalau kamu benar-benar mengikutinya," kata Igor tenang. "Mulai sekarang kita tidak bisa pakai cara standar. Kita pakai

  • Satria Idaman Wanita   BAB 334

    Malam harinya, Satria tiba di kediaman mewah Vera dengan membawa sebuah tas ransel berukuran sedang. Isinya cuma beberapa potong pakaian ganti dan perlengkapan pribadinya. Bi Imah, asisten rumah tangga yang sudah lama bekerja untuk keluarga Hadiwinata, menyambutnya dengan ramah."Den Satria, kamarnya sudah Bibi siapkan di ujung lorong dekat taman belakang. Nanti kalau butuh apa-apa, panggil Bibi saja ya," kata Bi Imah sambil menunjuk sebuah pintu kayu."Makasih banyak Bi. Maaf ya Satria jadi ngerepotin Bibi malam-malam begini," jawab Satria sopan.Vera yang sedang duduk di ruang keluarga tersenyum melihat interaksi mereka. Dia merasa suasananya jadi lebih hidup dengan kehadiran Satria di rumah sebesar ini. Biasanya dia cuma berdua dengan Bi Imah setelah pulang kerja.Sementara itu, di sebuah kamar hotel bintang lima di kawasan Thamrin, Igor sedang membuka sebuah koper hitam besar yang baru saja diantarkan oleh kurir suruhan Surya Aryatama.Klik. Koper itu terbuka.Di dalamnya tersusun

  • Satria Idaman Wanita   BAB 333

    Tiga orang pria asing berjalan keluar dari pintu kedatangan Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta. Penampilan mereka sangat mencolok. Tubuh mereka tinggi besar, mengenakan kacamata hitam, dan membawa tas ransel besar khas turis backpacker. Namun cara berjalan dan sorot mata mereka sama sekali tidak mencerminkan orang yang sedang liburan.Igor berjalan paling depan. Di belakangnya ada Boris si ahli penembak jitu dan Ivan yang merupakan spesialis bahan peledak dan pertarungan jarak dekat.Ponsel di saku jaket Igor bergetar. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor tak dikenal. Isinya berupa alamat sebuah hotel mewah di pusat kota Jakarta beserta nomor kamar yang sudah dipesan."Bos, kita langsung menemui klien tua itu?" tanya Boris sambil mengunyah permen karet. Bahasa Indonesianya sangat fasih meski logat Eropanya masih kental.Igor menggeleng pelan. "Tidak usah. Surya Aryatama sudah menyiapkan semuanya di hotel. Kita ambil senjata dan pelajari rute pelarian dulu. Target kita kali ini bukan p

  • Satria Idaman Wanita   BAb 332

    Pagi itu suasana kantor Hadiwinata Group terasa jauh lebih cerah dari biasanya. Berita tentang ditangkapnya Victor dan klarifikasi resmi perusahaan sukses mengembalikan kepercayaan publik. Laras bahkan masuk ke ruangan Vera sambil bersenandung kecil membawa map laporan progres proyek."Lapor Nona Vera. Pagi ini dana dari investor Singapura sudah masuk sepenuhnya ke rekening proyek. Pak Candra juga sudah menambah dua alat berat lagi di lokasi," lapor Laras dengan wajah berseri-seri.Vera yang sedang membaca email tersenyum puas. "Bagus. Kamu tolong atur jadwal rapat mingguan sama Pak Seno buat besok ya Ras. Kita harus pastikan jadwal pengecoran tidak meleset."Laras mengangguk cepat lalu keluar ruangan. Vera kemudian menoleh ke arah Satria yang seperti biasa sedang duduk santai di sofa sudut sambil memakan camilan."Nasi goreng kambing semalam benar-benar ampuh ya Sat. Pusing saya hilang, bangun tidur juga rasanya segar banget," kata Vera membuka obrolan.Satria tertawa pelan. "Itu kar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status