LOGINLangit Jakarta malam itu berubah menjadi gelap gulita. Awan mendung menggantung rendah, menutupi kerlip bintang tanpa menyisakan setitik pun cahaya bulan.Satria mengemudikan mobil SUV hitam milik Vera dengan kecepatan sedang membelah jalanan lingkar luar kota. Di kursi belakang, Vera sedang menutup matanya rapat-rapat sambil memijat pelipisnya karena kelelahan setelah seharian membereskan sisa urusan kantor yang menumpuk."Mau mampir makan dulu, Non? Atau langsung pulang ke rumah?" tanya Satria sambil melirik lewat kaca spion tengah."Langsung pulang saja, Sat. Saya pengin langsung istirahat. Badan rasanya remuk semua," jawab Vera dengan suara lemas."Baik, Non."Namun, begitu mobil melewati sebuah ruas jalan raya yang agak sepi dan dikelilingi oleh pepohonan rimbun di sisi kiri dan kanan, mata Satria mendadak menyipit tajam. Insting militernya berteriak kencang. Di kaca spion, dua buah truk boks besar berukuran sedang tiba-tiba muncul dari arah belakang dengan kecepatan tinggi, meny
Di ruang kerja mewah miliknya, Surya Aryatama membanting vas kristal antik ke lantai hingga berkeping-keping. Berita utama di semua televisi dan portal berita siang ini kompak menyoroti kegagalan total kantor hukum mereka dalam kasus gugatan palsu tanah proyek Hadiwinata.Hendrawan, sang pengacara kepercayaan, berdiri gemetar di hadapannya dengan kepala tertunduk dalam."Bodoh! Kalian semua benar-benar tidak berguna!" bentak Surya dengan suara menggelegar. Urat-urat di leher pria tua itu menonjol keluar menahan amarah yang luar biasa. "Hanya mengurus sengketa tanah murahan saja kalian bisa kecolongan dan membuat nama keluarga kita jadi bahan tertawaan publik!""Maafkan saya Tuan Surya... Kami tidak menyangka pengawal Vera itu bergerak selambat dan sesenyap itu mencari Mardani," jawab Hendrawan dengan suara parau ketakutan."Keluar!" teriak Surya penuh murka.Tanpa buang waktu, Hendrawan langsung berlari terbirit-birit keluar dari ruangan, menutup pintu rapat-rapat di belakangnya.Sury
Keesokan paginya, suasana di ruang tunggu Pengadilan Negeri Jakarta Pusat mendadak riuh. Para wartawan media hiburan dan bisnis berkumpul setelah mendapat bocoran bahwa sidang sengketa lahan proyek mal Hadiwinata Group akan memasuki agenda mediasi awal.Vera datang didampingi oleh tim hukum perusahaan dan Satria yang berdiri tegap di belakangnya. Wajah direktur muda itu tampak tenang, meski ada sedikit rasa penasaran tentang hasil temuan Satria kemarin sore.Di sisi seberang ruangan, pengacara kepercayaan keluarga Aryatama—Hendrawan—duduk bersama klien mereka, Mardani. Hendrawan tampak sangat percaya diri. Sambil merapikan jas mahalnya, dia tersenyum sinis ke arah Vera, seolah sudah di atas angin.Pintu ruang sidang utama terbuka. Hakim ketua memanggil kedua belah pihak untuk masuk dan duduk di kursi pesakitan."Baiklah, agenda hari ini adalah mendengarkan pokok perkara dan tanggapan awal dari pihak penggugat terkait sengketa lahan di tapak proyek Hadiwinata," buka hakim ketua dengan
Siang itu, matahari ibu kota bersinar terik. Satria memacu motor sportnya menuju sebuah kawasan perkampungan tua di pinggiran kota. Tempat itu dulunya adalah area perkebunan sebelum berubah menjadi zona pemukiman padat. Berdasarkan data singkat yang berhasil dilacak Bima, Mardani—pria yang mengaku sebagai ahli waris sah tanah proyek mal—pernah tinggal di wilayah tersebut sebelum merantau puluhan tahun lalu.Satria memarkir motornya di sebuah warung kopi kecil dekat balai warga. Dia memesan segelas es teh manis sambil mengobrol santai dengan pemilik warung, seorang pria paruh baya yang tampak sudah lama tinggal di sana."Permisi Pak, kalau kenal sama Pak Mardani yang rumahnya dekat bekas perkebunan dulu, kira-kira beliau sekarang tinggal di sebelah mana ya?" tanya Satria ramah sambil menyodorkan sebatang rokok kretek.Pria paruh baya itu menerima rokok tersebut, menyalakannya, lalu menghela napas panjang. "Mardani? Oh, si Dardan maksudnya? Wah, anak itu sudah lama sekali tidak kelihata
Dua hari berlalu dengan tenang. Proyek pembangunan mal Hadiwinata Group kembali berjalan normal tanpa ada gangguan apa pun. Satria bahkan sempat mengendurkan sedikit pengawasannya karena mengira kubu Aryatama sudah benar-benar mundur setelah tentara bayaran mereka kabur.Namun, ketenangan itu mendadak pecah pada Kamis pagi.Vera baru saja tiba di ruang kerjanya ketika Laras masuk dengan langkah terburu-buru dan napas tersengal-sengal. Wajah asisten pribadinya itu terlihat sangat pucat."Nona Vera... gawat Non!" seru Laras sambil meletakkan sebuah amplop cokelat tebal di atas meja kerja Vera.Vera mengerutkan kening, merasa tidak suka dengan nada panik di pagi hari. "Ada apa lagi Ras? Jangan bilang ada demo LSM palsu lagi.""Bukan demo Non. Ini jauh lebih buruk," jawab Laras dengan suara bergetar. "Petugas juru sita dari Pengadilan Negeri baru saja datang ke gerbang depan. Mereka menyerahkan surat panggilan resmi dan gugatan perdata untuk perusahaan kita."Kening Vera berkerut semakin
Berikut adalah Bab 381, menceritakan ketenangan palsu di kantor dan langkah tak terduga yang diambil oleh Surya Aryatama.Bab 381: Langkah Licik Sang KonglomeratHari itu, suasana di kantor Hadiwinata Group berjalan sangat produktif. Dua rapat penting bersama calon investor luar kota berhasil ditutup dengan kesepakatan kerja sama yang memuaskan. Vera tampak tersenyum lebar saat melangkah keluar dari ruang rapat bersama Laras."Wah, hari ini bener-bener hari keberuntungan kita Non! Semua investor setuju buat suntik dana tambahan," kata Laras antusias sambil merapikan dokumen di tangannya.Vera mengangguk setuju. "Iya Ras. Semuanya berkat kerja keras tim, dan tentu saja karena kita bisa melewati badai fitnah kemarin dengan bersih."Satria berdiri di sudut lorong dekat jendela kaca, mengawasi keadaan sekitar dengan tenang. Ponsel di sakunya sempat bergetar beberapa kali. Itu pesan singkat dari Bima yang mengabarkan kalau tim pembunuh bayaran Igor terlihat memesan tiket penerbangan pagi k







