Share

BAB 9

last update publish date: 2026-02-06 23:46:50

"Satria, sudah bangun?"

Itu suara wanita. Bukan suara cempreng Kiki ataupun suara lembut Laras.

Suara ini terdengar alto, sedikit serak khas orang baru bangun tidur namun

tetap dominan.

Satria tersentak kaget hingga langsung duduk tegak di kasur. Dia

mengucek matanya yang masih lengket karena kotoran mata. Nyawanya belum

terkumpul sepenuhnya.

"I-iya! Sebentar!" seru Satria panik.

Dia melihat ke bawah ke arah tubuhnya sendiri. Untungnya dia masih

memakai celana jinsnya meski kaosnya yang sobek s
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Satria Idaman Wanita   BAB 305

    "Ampun! Iya, iya, aku ngaku salah! Nyerah!"Satria mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi sambil menyandarkan punggungnya ke ujung sofa. Napasnya terengah-engah. Rambutnya yang biasanya tersisir rapi kini sudah berantakan mirip sarang burung akibat serangan bantal bertubi-tubi dari Vera dan Kiki.Melihat pengawal tangguh itu akhirnya mengibarkan bendera putih, Vera menghentikan pukulannya. Bos cantik itu ikut terengah-engah. Wajahnya memerah, bukan cuma karena marah, tapi juga karena kelelahan menahan tawa.Kiki yang berdiri di sebelah kakaknya tampak sangat puas. Dia berkacak pinggang sambil menatap Satria dengan dagu terangkat."Makanya, Kak Satria jangan berani-berani meremehkan pesona Kiki dan Kak Vera. Sekali lagi berani lirik cewek lain di depan kita, bukan bantal lagi yang melayang, tapi panci dari dapur!" ancam Kiki dengan gaya sok galak yang malah terlihat lucu.Satria mengusap wajahnya lalu merapikan rambutnya asal-asalan. "Iya, Ki. Ampun deh. Tenaga kalian berdua kalau di

  • Satria Idaman Wanita   BAB 304

    Pagi itu cuaca Jakarta cukup cerah. Setelah malam yang panjang dan menegangkan di acara lelang, Vera memutuskan untuk bersantai di rumah mewahnya. Hari ini adalah hari libur, jadi tidak ada jadwal ke kantor.Di ruang keluarga yang luas, Satria sedang duduk santai di sofa sambil menonton acara televisi. Di meja ruang tamu, tampak Laras, sekretaris pribadi Vera yang rajin dan polos. Laras datang pagi-pagi sekali untuk merapikan berkas-berkas dokumen tanah yang baru dimenangkan semalam. Laras tampak sangat serius dengan kacamata bacanya, sesekali merapikan rambutnya yang diikat rapi.Tidak lama kemudian, Vera turun dari lantai dua. Bos cantik itu tampak sangat segar dengan pakaian kasual. Dia memakai kaus lengan pendek berwarna putih dan celana pendek selutut yang mengekspos kulit putih mulusnya."Pagi Satria. Pagi Laras," sapa Vera sambil berjalan menuju dapur untuk mengambil minum."Pagi Non," balas Satria dan Laras hampir bersamaan.Suasana tenang itu tiba-tiba pecah saat pintu depan

  • Satria Idaman Wanita   BAB 303

    Mobil SUV mewah yang dikendarai Satria menepi perlahan di pinggir jalan kawasan Sabang. Sebuah tenda terpal berwarna biru dengan spanduk bertuliskan 'Nasi Goreng Gila Mas Bro' terlihat ramai pengunjung. Asap harum dari bumbu yang ditumis mengepul tebal, langsung menggugah selera siapa saja yang lewat.Satria mematikan mesin mobil dan turun lebih dulu. Seperti biasa, dia berjalan memutar dan membukakan pintu penumpang untuk Vera.Begitu Vera melangkah keluar, hampir semua mata pengunjung warung tenda itu langsung tertuju pada mereka berdua. Bagaimana tidak heran, ada pria tampan dengan balutan tuksedo hitam rapi dan seorang wanita cantik bergaun malam merah marun yang sangat elegan, mendadak mampir ke warung nasi goreng kaki lima. Penampilan mereka berdua benar-benar kontras dengan suasana jalanan."Nona yakin mau makan di sini?" tanya Satria setengah berbisik sambil menatap sekeliling. "Orang-orang pada ngeliatin kita terus dari tadi."Vera malah tertawa pelan dan sama sekali tidak te

  • Satria Idaman Wanita   BAB 302

    Panitia acara butuh waktu sekitar lima belas menit untuk menenangkan suasana. Setelah polisi datang dan mengamankan si pelayan palsu, acara lelang akhirnya kembali dilanjutkan. Para tamu undangan mulai duduk di tempat masing-masing meski sesekali masih terdengar bisik-bisik tegang di antara mereka.Di atas panggung, pembawa acara berdeham pelan di depan mikrofon untuk memusatkan perhatian."Baiklah hadirin sekalian, mari kita lanjutkan acara malam ini. Barang terakhir yang akan dilelang adalah aset properti yang sangat bernilai tinggi," ucap pembawa acara dengan nada kembali semangat. "Sertifikat hak milik lahan komersial seluas dua hektar di kawasan berkembang Jakarta Timur. Lahan ini sangat strategis untuk proyek pembangunan megaproyek."Vera langsung membenarkan posisi duduknya. Mata indahnya berbinar menatap layar proyektor yang menampilkan foto lahan dari udara."Ini dia yang aku tunggu," bisik Vera pelan kepada Satria.Satria menaikkan sebelah alisnya. "Cuma lahan kosong Non?"V

  • Satria Idaman Wanita   BAB 301

    Mata Satria terus mengunci pergerakan pelayan pria itu tanpa berkedip. Jarak antara pelayan tersebut dengan kursi Natasha kini hanya tinggal tiga langkah. Tangan kanan pelayan itu perlahan mulai terlepas dari bawah nampan perak yang dia bawa. Ada kilatan logam tajam yang memantulkan cahaya lampu ballroom.Itu pisau lipat taktis.Tanpa membuang waktu sedetik pun, Satria melompat dari kursinya. Gerakannya sangat cepat, membuat Vera yang duduk di sebelahnya sampai terkesiap kaget.Di depan sana, pelayan itu menjatuhkan nampan minumannya ke lantai dan langsung mengayunkan pisau tajamnya tepat ke arah leher belakang Natasha. Natasha yang sedang asyik menertawakan kemenangannya sama sekali tidak menyadari ancaman mematikan yang sudah berjarak hitungan sentimeter dari kulitnya.Prang!Suara pecahan gelas dari nampan yang jatuh berpadu dengan suara benturan keras.Tepat sebelum ujung pisau itu menyentuh leher Natasha, tangan kokoh Satria sudah mencengkeram erat pergelangan tangan si pelayan.

  • Satria Idaman Wanita   BAB 300

    Lampu utama ballroom mulai diredupkan. Sorot lampu kini terpusat pada sebuah panggung megah di depan. Seorang pembawa acara berpakaian rapi naik ke atas panggung dan membuka malam dana tersebut dengan pidato singkat.Vera duduk dengan anggun di kursinya. Satria duduk di sebelahnya dengan postur santai tapi matanya terus menyapu ke seluruh penjuru ruangan. Meja mereka berada di deretan tengah, posisi yang sangat strategis untuk mengamati meja VIP di depan sana. Di salah satu kursi VIP itu, Natasha duduk dengan dagu terangkat bangga."Nona sepertinya santai banget," bisik Satria pelan sambil mencondongkan badannya sedikit ke arah Vera. "Sudah ada incaran barang yang mau dibeli malam ini?"Vera menutupi bibirnya dengan ujung gelas sampanye lalu tersenyum tipis. "Ada satu barang yang memang aku butuhkan. Tapi sebelum barang itu keluar, kita harus main-main sedikit dengan Nona Sombong di depan sana."Satria tertawa pelan. Dia langsung paham maksud bos cantiknya ini.Lelang pun dimulai. Beb

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status