تسجيل الدخول
"Kalau tahu menikah rasanya sesunyi ini, mendingan aku nikah sama manekin di toko baju. Minimal kalau manekin dipajang bisa ngasilin duit, nggak memancarkan aura dingin kayak di kutub utara."
Avena mengomel tanpa jeda, tangannya sibuk memijat pangkal hidung yang memerah akibat jepitan sanggul yang terlalu kencang. Gaun pengantin putih berpotongan sederhana, yang dipilihnya sendiri karena malas berdebat, terasa mencekik lelah yang sudah menumpuk sejak subuh. Lelaki di balik kemudi tidak menoleh sedikit pun ke kiri. Tangan kekarnya yang berbalut jas hitam terampil memutar setir, membawa mobil itu membelah jalanan kota. Rafsen hanya menarik napas pendek melalui hidung. "Turunkan suhunya," sahut Rafsen datar. "Suhu AC-nya? Ini udah paling rendah. Yang dingin itu bukan AC-nya, tapi kamu. Kamu tahu nggak, dari tadi di gedung KUA, kamu cuma ngomong ... saya terima nikahnya, terus blank. Sisanya kamu cuma angguk, geleng, angguk, geleng. Petugas KUA-nya sampai ngira kamu lagi latihan senam leher." Avena mendengus, melipat tangan di dada dengan bibir mengerucut. Rafsen menghentikan mobil tepat saat lampu merah menyala. Ia menoleh perlahan, menatap Avena dengan sepasang mata elangnya. "Mulutmu tidak lelah?" Avena terkesiap, sontak memalingkan wajah ke luar jendela sambil menggerutu pelan. "Sialan," umpatnya dalam hati. Pria berusia 33 tahun ini benar-benar tidak punya filter keramahan. Semua orang di luar sana mengira Rafsen adalah arsitek genius yang karismatik dan berwibawa, tapi bagi Avena yang sudah mengenalnya selama satu bulan ini, Rafsen hanyalah sebuah batu es berjalan yang kebetulan tahu cara mendesain bangunan. Avena menyandarkan kepalanya ke kaca mobil, membiarkan getaran mesin membawanya mundur ke kejadian empat minggu lalu. Kejadian absurd yang mengubah statusnya dari guru TK berjiwa bebas menjadi seorang istri dari pria kaku. Hari itu, bau obat-obatan menyeruak di kamar rumah sakit menemaninya berjaga di ICU. Sang nenek, satu-satunya keluarga yang ia miliki, terbaring lemah dengan selang oksigen menjalar di hidungnya. Wajah keriput itu menatap Avena dengan mata berkaca-kaca. "Sebelum Nenek meninggal, Ven, Nenek cuma ingin lihat kamu nikah, punya keluarga. Ada yang jagain kamu. Nenek nggak bisa tenang kalau kamu sendirian di dunia ini," kata nenek dengan suara parau. Avena langsung panik. "Nenek ngomong apa, sih? Nenek bakal sembuh. Lagian zaman sekarang mana ada yang nikah buru-buru kayak kejar setoran gitu?" Namun, penolakan Avena runtuh ketika keesokan harinya, seorang pria tua lain datang menjenguk. Beliau adalah Kakek Arga, sahabat karib neneknya sejak zaman berambut hitam hingga memutih. Kakek Arga datang tidak sendirian, melainkan menyeret cucu laki-lakinya yang berwajah sekaku tembok beton, Rafsen. Di sanalah wasiat gila itu terungkap. Puluhan tahun lalu, saat bermain kartu di beranda rumah, kedua orang tua itu membuat janji konyol. "Kalau cucu kita sama-sama belum menikah saat usia tiga puluh, jodohkan saja." Semua orang menganggap itu lelucon usang. Sampai akhirnya, kondisi kesehatan kedua sesepuh itu menurun bersamaan, dan janji lama itu berubah menjadi perintah suci yang mutlak. Rafsen yang sehari-hari sibuk mengurus biro arsitekturnya dan malas mencari pasangan hidup, akhirnya setuju demi menyenangkan sisa usia kakeknya. Sementara Avena, demi senyuman terakhir sang nenek, terpaksa menelan bulat-bulat idealismenya tentang cinta sejati. Mereka sepakat menikah, murni karena rasa hormat dan kasih sayang terdalam pada dua orang tua agar bisa tersenyum lega di sisa usia masing-masing. Klakson mobil di belakang mengejutkan Avena, membuyarkan lamunannya. Lampu sudah hijau. Rafsen kembali melajukan mobil. Suasana kembali hening, menciptakan hawa canggung yang membuat Avena meremas gaunnya. "Kita akan tinggal di apartemenmu yang di pusat kota itu?" tanya Avena lirih, mencoba mencairkan keheningan. "Tidak," jawab Rafsen singkat. "Kenapa? Maksudku, sebagai direktur perusahaan arsitektur ternama, bukannya tinggal di pusat kota lebih praktis? Kenapa harus rumah tua peninggalan Kakek Arga?" Rafsen tidak langsung menjawab. Ia membelokkan mobil memasuki sebuah kawasan residensial lama yang dipenuhi pohon-pohon beringin besar dan rumah-rumah berarsitektur kolonial. Mobil mereka berhenti di depan sebuah pagar besi hitam yang tinggi, menjulang kokoh memagari sebuah hunian tua. Rumah itu besar, berstruktur beton kokoh dan terdapat sentuhan modern pada jendela-jendela kaca besar dan pencahayaan lampu yang dipasang di beberapa sudut. Sebuah rumah tua modern yang artistik, sekaligus sedikit menyeramkan bagi mata Avena yang biasa melihat dekorasi warna-warni ramah anak di TK tempatnya mengajar. "Apartemen itu hanya dijadikan kantor, kamu bebas mau main ke sana," ucap pria itu tanpa menoleh. "Sementara rumah ini punya jiwa. Kakek ingin rumahnya tetap dirawat. Dan sekarang, ini rumahmu juga." Avena tertegun. Itu adalah kalimat terpanjang yang keluar dari mulut Rafsen sepanjang hari ini. Avena bisa merasakan bahwa bagi Rafsen, menjaga rumah ini adalah caranya menghormati sang kakek, sama seperti dirinya yang rela memakai cincin di jari manisnya demi sang nenek. Rafsen turun dari mobil terlebih dahulu, memutari kap, lalu membukakan pintu untuk Avena. Bukannya memberikan uluran tangan romantis, Rafsen justru menyodorkan sebuah kunci besar berbahan kuningan. "Pegang ini, jangan sampai hilang. Aku malas memanggil tukang kunci," ucap Rafsen, merusak momen hangat yang baru saja sempat terlintas di kepala Avena. Avena mendengus kasar, merebut kunci itu dengan kesal hingga gaun pengantinnya tersangkut di pintu mobil. "Aww! Tuh, kan! Belum apa-apa rumah ini udah mau memakan gaunku," tutur Avena heboh sambil berusaha melepaskan kain brokat yang tersangkut. Rafsen berdiri kaku di sampingnya, memperhatikan kehebohan istrinya dengan wajah datar tanpa ekspresi. Alih-alih membantu, dia justru menarik kain itu dengan satu sentakan kuat hingga terlepas, menyisakan sedikit benang yang terurai. "Masuk," kata Rafsen sembari melangkah mendahului Avena yang masih melongo menatap ujung gaunnya yang rusak. "Rafsen! Kamu bener-bener nggak punya perasaan, ya. Ini sewa, tahu nggak? Kalau didenda gimana?" teriak Avena, melangkah cepat menyusul suaminya dengan kaki menghentak-hentak. Pintu utama kayu jati besar terbuka, seketika bayangan mereka berdua nampak memanjang di lantai marmer. Avena berdiri di tengah ruang tamu, memandangi langit-langit rumah yang tinggi. Di sinilah mereka sekarang. Dua orang asing yang terikat janji mati orang lain, siap tinggal dalam satu atap yang sama. Avena menoleh ke arah Rafsen yang sedang melepas jas hitamnya, menyisakan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku. "Tapi kita tidur di kamar terpisah, kan?" tanya Avena memastikan, mendadak merasa gugup. Rafsen berhenti bergerak, menatap Avena dari balik bahunya dengan senyum samar yang hampir tak terlihat. "Kamar di rumah ini cuma satu yang sudah dibersihkan," jawab Rafsen. "Kalau kamu mau tidur di sofa ruang tamu yang berdebu itu bersama hantu kakekku, silakan." Avena membelalakkan mata. "Rafseeeen!""Maksud kamu dipermalukan gimana, Raf?" Avena mengernyit, kepalanya dimiringkan sedikit dengan raut wajah bingung. "Lagian kita cuma makan malam biasa, kan? Emang mereka mau ngapain?"Rafsen memejamkan matanya sejenak, menahan helaan napas berat yang nyaris lolos dari bibirnya. Tingkat kepolosan istrinya ini kadang berada di taraf yang sangat menguji ketabahan hatinya."Dunia keluarga saya tidak sesederhana itu, Avena," sahut Rafsen dingin, melepaskan cengkeraman tangannya di bahu Avena. Pria itu merogoh ponsel dari saku celananya, menempelkannya ke telinga sembari melangkah menjauh. "Siapkan sepuluh gaun terbaik dari koleksi terbaru ke rumah saya. Sekarang."Tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut kepada Avena yang masih berdiri melongo di tengah ruang tamu, Rafsen langsung berbalik dan melangkah menaiki tangga menuju lantai dua. "Dih, kebiasaan banget, sih, ditanya baik-baik malah main kabur," gerutu Avena sengit, menghentakkan kakinya ke lantai.Ia memegangi dadanya yang berdesi
"Nggak mau! Enak aja, mana bisa gitu?" sahut Avena cepat, kedua tangannya bersedekap di depan dada dengan bibir cemberut. "Kenapa tidak bisa?""Ya nggak bisalah." Avena turut memajukan wajahnya ke depan. "Satu, arah kantor Vantara Architect sama TK itu bertolak belakang, Raf. Kamu yang ada telat ke kantor tiap hari cuma gara-gara ngikutin rute aku. Dua, jam pulang aku itu nggak pasti. Kadang ada rapat guru, kadang nungguin bocil yang jemputannya terlambat. Masa kamu mau nungguin aku di depan pagar kayak satpam?""Saya CEO-nya. Tidak ada yang berani menegur jika saya datang terlambat," jawab Rafsen santai tanpa beban, menyesap kembali caramel macchiato-nya. "Dan soal jam pulang, saya bisa bekerja dari mana saja atau menyuruh sopir jika saya sedang ada rapat penting. Selesai masalah."Avena melotot, siap meluncurkan argumen ketiga. "Tapi Raf—""Tidak ada tapi-tapi, Avena," pangkas Rafsen, tidak bisa diganggu gugat. "Pilihanmu cuma dua, saya yang antar-jemput setiap hari, atau kamu kel
Pak Doni yang tadi membusungkan dada dan melontarkan rayuan kurang ajar kepada Avena, seketika ciut. Pria buncit itu melirik motor sport berharga ratusan juta rupiah, lalu beralih menatap postur tegap Rafsen yang menjulang tinggi, jauh melampaui tinggi badannya. Tanpa berani membuka suara atau melirik lagi, Pak Doni buru-buru menarik tangan anaknya dan kabur terbirit-birit menaiki motor matic-nya.Avena yang masih terpaku dalam dekapan lengan kokoh Rafsen mengerjap-ngerjap tak percaya. "Raf, kamu ngapain ke sini naik motor gede? Kamu kesurupan geng motor mana, hah?" tanyanya dengan nada heran.Rafsen sama sekali tidak menjawab pertanyaan konyol itu. Pria itu justru merapikan helai rambut Avena yang sedikit berantakan. "Ayo pulang," ulangnya lagi."Eh, tapi motor aku gimana? Masa ditinggal di sini?" protes Avena saat menyadari kendaraannya terbengkalai di pojok halaman sekolah."Biar nanti orangku yang ambil. Tinggalkan saja," sahut Rafsen datar. Ia membantu memakaikan helm di kepala
Avena akhirnya berusaha menekan rasa cemas yang berkecamuk di dadanya. Mengajar anak-anak TK memang membutuhkan fokus ekstra, dan tidak adil rasanya jika ia melimpahkan kepeningan masalah dokumen jebakan Rafsen kepada bocah-bocah polos yang tidak berdosa ini.Ia berlutut di sebelah kursi Kenzo, memamerkan senyum termanisnya meski matanya masih agak berkaca-kaca karena efek melamun tadi."Kenzo, helikopter warna pink itu keren banget, lho," ujar Avena dengan nada ceria. "Kamu tahu gak? Helikopter pink itu armada rahasia tim penyelamat Barbie dan Spider-Man kalau lagi ada kemacetan parah di langit."Mata Kenzo di balik kacamata Spider-Man-nya seketika membelalak berbinar-binar. "SERIUSAN, MISS?""Seratus persen serius." Avena mengacungkan dua jempolnya. "Makanya, warnai yang rapi. Jangan sampai baling-balingnya keluar garis, nanti helikopternya oleng pas terbang.""Siap, Miss Avena!" pekik Kenzo penuh semangat, langsung menghantam kertas gambar dengan krayon warna tanpa ampun.Avena ter
Pagi harinya, Rafsen sudah rapi dengan kemeja kerja dan jas hitam yang tersampir di lengan. Sebelum berangkat, ia sempat mengusap dahi Avena yang masih cemberut di tepi kasur.Avena sebenarnya masih sangat khawatir. Namun, hari ini ia juga harus kembali mengajar di TK karena murid-murid kecilnya sudah memborbardir ponselnya dengan pesan suara rindu. Lagi pula, Avena memilih percaya, otak milik suaminya pasti bisa memproses sinyal bahaya yang sudah ia bisikkan semalam.Pukul sembilan pagi, di meja ruang rapat utama Vantara Architect sudah tertata rapi berkas tebal dokumen kerja sama proyek BSD.Dion duduk di seberang meja dengan wajah tenang, meski gestur tangannya yang terus meremas pulpen membocorkan kegelisahannya. Di samping Dion, berdiri Clarissa dengan seragam kerjanya dan tersenyum manis."Raf, ini draf finalnya," ujar Dion seraya mengulas senyum ramah. "Gue sama Clarissa udah review ulang semalam sampai subuh. Pihak holdin
Jantung Avena serasa melompat keluar dari dadanya. Ia membeku, menatap layar ponsel Rafsen yang kini sudah kembali gelap dengan napas tertahan. Jarinya gemetar di bawah selimut, cengkeramannya pada kain sutra piyamanya mengerat."Astaga, Clarissa bener chat kayak gitu?" batin Avena, otaknya yang biasa menyerap ratusan episode drakor genre suspense-thriller kini bekerja keras menyimpulkan pesan tadi. "Pelimpahan utang? Bangkrut dalam hitungan hari ... eum, Clarissa sama Dion jangan-jangan kerjasama mau jebak Rafsen!"Belum sempat Avena menguasai rasa syoknya, layar ponsel Rafsen kembali menyala singkat.Clarissa[This message was deleted.]"Ditarik, pesannya dihapus. Kan ...!" Avena nyaris memekik, untungnya ia berhasil membekap mulutnya sendiri. "Gila, ini pasti ada konspirasi. Dia pasti sadar salah kirim, harusnya dikirim ke Dion malah ke Rafsen, makanya panik dan langsung hapus. Tapi telat, Mbak ... istrinya inu udah baca." Sudut matanya melirik ke pintu kamar mandi. Suara kran ai







