INICIAR SESIÓNPagi ini setelah bangun, Avena sudah berkutat di dapur. Mengingat ia tumbuh besar tanpa orang tua dan hanya dirawat oleh sang nenek, urusan dapur sudah menjadi keahliannya sejak kecil.
Tangannya bergerak cekatan, sembari mengaduk masakan, matanya sesekali melirik layar ponsel. Neneknya masih berada di rumah sakit. Untungnya, Rafsen sudah menyewa perawat khusus untuk berjaga di sana selama dua puluh empat jam. Avena menghela napas panjang, mendadak rasa rindu mendera dadanya. Setelah sarapan ini selesai, ingin sekali rasanya pergi menjenguk ke rumah sakit. Tap! Tap! Tap! Suara langkah kaki membuat Avena sontak menegakkan tubuh. Rafsen turun dari tangga dengan rambut acak-acakan. Avena berdeham. "Pagi, ini aku masak nasi goreng sama telur ceplok. Dimakan aja kalau mau," ujar Avena sambil menyendokkan nasi ke atas piring dan menyuguhkannya di meja makan. Rafsen tidak bersuara. Pria itu menarik kursi, duduk, dan langsung menyendok nasi goreng tersebut ke dalam mulutnya. Avena memperhatikan dengan mata menyipit. Rafsen makan dengan lahap, menyuap sendok demi sendok tanpa jeda, tapi tidak ada satu patah kata pun yang keluar. Baik itu pujian ataupun kritikan, benar-benar nihil komentar. Avena yang pada dasarnya tidak bisa melihat keheningan berlama-lama, langsung menarik kursi di hadapan pria itu dan mulai mengoceh. "Oh, ya, Rafsen. Hari ini, tuh, hari terakhir liburku. Besok aku udah harus balik ngajar di TK. Kamu tahu nggak? Anak-anak di kelas dolfin itu kalau ditinggal sehari aja udah kayak melepas singa kelaparan di kandang. Kemarin aku dikabarin si Jojo baru aja belajar gigit meja—" Rafsen terus mengunyah. Matanya fokus pada piring, sama sekali tidak menoleh atau memberikan gestur bahwa ia sedang mendengarkan dongeng pagi Avena. Avena menghentikan kalimatnya di tengah jalan. Ia mendengus kesal, menatap pria di depannya dengan jengah. "Bagus, aku bicara panjang lebar, dia malah menganggapku seolah radio rusak!" gerutunya dalam hati. "Oke, silakan dinikmati nasi goreng hangatnya, aku pergi aja," ucap Avena ketus. Ia berdiri dengan cepat, sengaja menghentakkan kakinya keras-keras, lalu melangkah keluar menuju area taman samping rumah untuk mencari udara segar sekaligus mendinginkan kepala. "Dasar kulkas rusak! Beruang kutub! Untung aku masih berperi kemanusiaan, kalau nggak udah aku racun pakai garam satu kilo biar dia tahu rasa," omel Avena sepanjang jalan di taman. Ia berkacak pinggang, menatap tanaman-tanaman hijau yang tampak rimbun. "Nenek, cucumu ini menikah sama manusia atau patung semen, sih? Heran banget, hemat kosakata banget kayak bayar pajak per huruf." Sedang asyik-asyiknya mengomel, suara deru motor berhenti tepat di depan pagar besi rumah tua mereka sontak membuat mulutnya bungkam. Avena menoleh dan melihat sebuah ojek online, tetapi yang menarik perhatiannya adalah penumpang yang turun dari motor tersebut. Wanita itu melepas helm dengan anggun, lalu melangkah masuk melintasi halaman rumah dengan sepatu hak tingginya yang mengetuk-ngetuk paving. Avena dengan ramah langsung memasang senyum terbaiknya. Ia menduga wanita ini mungkin sepupu atau kerabat jauh Rafsen yang ingin berkunjung pasca-pernikahan. "Halo, selamat pagi. Ada yang bisa dibantu?" sapa Avena riang. Wanita cantik itu menghentikan langkahnya. Matanya bergerak perlahan, meneliti Avena dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan merendahkan yang sangat kentara. Sudut bibirnya terangkat, membentuk senyuman sinis. "Rafsen-nya ada di dalam?" tanya wanita itu dengan nada ketus, mengabaikan keramahan Avena. "Kamu baru, ya, di sini? Tolong bilang ke Rafsen, barang-barang yang kemarin tertinggal di kantor sudah saya bawakan sebagian. Dan ... oh, ya, habis ini tolong buatkan saya es kopi hitam, jangan pakai gula." Avena melongo. Otaknya butuh waktu beberapa detik untuk memproses kalimat barusan. "Maaf, Mbak ngira saya—" "Saya buru-buru. Minggir, jangan halangi saya mau masuk," potong wanita ketus, langsung melenggang melewati Avena begitu saja menuju pintu utama seolah-olah ia adalah pemilik rumah tersebut. Avena mengerjapkan mata, tangannya terkepal di udara. "Astaga, dia barusan mengira aku pembantu baru di rumah ini?" Rasa kesal Avena langsung naik ke ubun-ubun, tapi rasa penasarannya jauh lebih besar. Dengan langka mengendap-endap dan menahan geram, Avena mengikuti wanita itu dari belakang. Wanita angkuh itu melangkah lurus menuju arah dapur, sepertinya dia sudah sangat familier dengan tata letak rumah ini, entah kenapa membuat dada Avena terasa sedikit sesak oleh rasa tidak nyaman yang asing. Avena bersembunyi di balik pilar dekat ruang makan, mengintip dengan mata membelalak. Di sana, Rafsen tengah meletakkan piring kosongnya ke dalam wastafel. Begitu melihat Rafsen, wanita cantik itu langsung berseru manja, "Rafsen, kamu kenapa pindah ke rumah tua ini, sih? Susah banget dicarinya." Tanpa diduga, wanita itu langsung melangkah lebar dan merentangkan kedua tangannya, berniat memeluk tubuh Rafsen dari belakang. Avena di balik pilar menahan napas, tangannya meremas pinggiran tembok. "Kurang ajar, ternyata dia punya pacar. Main peluk-pelukan lagi!" gerutunya. Namun, sebelum lengan wanita itu sempat menyentuh kaus oblongnya, Rafsen berbalik dengan cepat. Kakinya mundur satu langkah, wajahnya berubah menjadi sangat dingin dan kaku. "Jaga jarakmu, Clarissa," ucap Rafsen tegas, penuh penekanan. "Jangan lancang di rumah saya." Wanita bernama Clarissa itu cemberut, menurunkan tangannya dengan kesal. "Raf, kamu kenapa, sih? Biasanya juga kita nggak sekaku ini di kantor. Lagian, rumah ini sepi banget, kamu sendirian, kan, di—" "Saya tidak sendiri," potong Rafsen cepat, dan entah bagaimana caranya, sepasang mata elang Rafsen tiba-tiba beralih lurus ke arah pilar tempat Avena bersembunyi. Matanya yang jernih seolah bisa menembus tembok. "Avena, keluar," panggil Rafsen. Avena tersentak, hampir saja menjatuhkan vas bunga kecil di dekat pilar. Dengan wajah memerah karena tertangkap basah sedang mengintip, ia terpaksa melangkah keluar dari tempat persembunyiannya sambil berpura-pura merapikan bajunya yang sedikit kusut. "Eh, iya, ini ... aku cuma mau ngambil lap meja," ujar Avena berdalih terbata-bata dengan tawa canggung. Clarissa berbalik, menatap Avena dengan dahi berkerut dalam. "Raf, dia ini pembantu barumu, kan? Kenapa nggak pakai seragam? Nggak profesional banget." Rafsen tidak membalas ucapan Clarissa. Pria itu justru melangkah mendekati Avena, lalu tangan kekarnya mendarat di pinggang wanita itu, menarik tubuh istrinya itu agar berdiri tepat di sampingnya. "Jaga ucapanmu," sahut Rafsen, suaranya menggaung tegas di dalam dapur. "Kenalkan, dia Avena. Istri saya." Clarissa seketika membelalakkan mata, wajah cantiknya berubah pucat lalu memerah padam. "I-Istri?! K-kamu bercanda, kan? Sejak kapan kamu deket sama perempuan lain, hah? Mana perempuannya modelan begini lagi." "Saya yang memilihnya, kamu nggak berhak menilai." Clarissa mulai mencak-mencak, menunjuk Avena dengan jari gemetar. Sementara itu, Avena sendiri tidak kalah syok. Ia berdiri mematung dengan mulut menganga, kepalanya mendongak menatap rahang tegas Rafsen yang berada sangat dekat di sampingnya. Otaknya tidak bisa berpikir, hanya menyisakan satu pertanyaan besar yang berputar-putar di kepalanya. "Tunggu, dia tadi bilang apa? Istri? Dan kenapa tangannya di pinggangku kencang banget, Tuhan? Ini aku harus pura-pura pingsan lagi atau gimana?!" batinnya panik."Maksud kamu dipermalukan gimana, Raf?" Avena mengernyit, kepalanya dimiringkan sedikit dengan raut wajah bingung. "Lagian kita cuma makan malam biasa, kan? Emang mereka mau ngapain?"Rafsen memejamkan matanya sejenak, menahan helaan napas berat yang nyaris lolos dari bibirnya. Tingkat kepolosan istrinya ini kadang berada di taraf yang sangat menguji ketabahan hatinya."Dunia keluarga saya tidak sesederhana itu, Avena," sahut Rafsen dingin, melepaskan cengkeraman tangannya di bahu Avena. Pria itu merogoh ponsel dari saku celananya, menempelkannya ke telinga sembari melangkah menjauh. "Siapkan sepuluh gaun terbaik dari koleksi terbaru ke rumah saya. Sekarang."Tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut kepada Avena yang masih berdiri melongo di tengah ruang tamu, Rafsen langsung berbalik dan melangkah menaiki tangga menuju lantai dua. "Dih, kebiasaan banget, sih, ditanya baik-baik malah main kabur," gerutu Avena sengit, menghentakkan kakinya ke lantai.Ia memegangi dadanya yang berdesi
"Nggak mau! Enak aja, mana bisa gitu?" sahut Avena cepat, kedua tangannya bersedekap di depan dada dengan bibir cemberut. "Kenapa tidak bisa?""Ya nggak bisalah." Avena turut memajukan wajahnya ke depan. "Satu, arah kantor Vantara Architect sama TK itu bertolak belakang, Raf. Kamu yang ada telat ke kantor tiap hari cuma gara-gara ngikutin rute aku. Dua, jam pulang aku itu nggak pasti. Kadang ada rapat guru, kadang nungguin bocil yang jemputannya terlambat. Masa kamu mau nungguin aku di depan pagar kayak satpam?""Saya CEO-nya. Tidak ada yang berani menegur jika saya datang terlambat," jawab Rafsen santai tanpa beban, menyesap kembali caramel macchiato-nya. "Dan soal jam pulang, saya bisa bekerja dari mana saja atau menyuruh sopir jika saya sedang ada rapat penting. Selesai masalah."Avena melotot, siap meluncurkan argumen ketiga. "Tapi Raf—""Tidak ada tapi-tapi, Avena," pangkas Rafsen, tidak bisa diganggu gugat. "Pilihanmu cuma dua, saya yang antar-jemput setiap hari, atau kamu kel
Pak Doni yang tadi membusungkan dada dan melontarkan rayuan kurang ajar kepada Avena, seketika ciut. Pria buncit itu melirik motor sport berharga ratusan juta rupiah, lalu beralih menatap postur tegap Rafsen yang menjulang tinggi, jauh melampaui tinggi badannya. Tanpa berani membuka suara atau melirik lagi, Pak Doni buru-buru menarik tangan anaknya dan kabur terbirit-birit menaiki motor matic-nya.Avena yang masih terpaku dalam dekapan lengan kokoh Rafsen mengerjap-ngerjap tak percaya. "Raf, kamu ngapain ke sini naik motor gede? Kamu kesurupan geng motor mana, hah?" tanyanya dengan nada heran.Rafsen sama sekali tidak menjawab pertanyaan konyol itu. Pria itu justru merapikan helai rambut Avena yang sedikit berantakan. "Ayo pulang," ulangnya lagi."Eh, tapi motor aku gimana? Masa ditinggal di sini?" protes Avena saat menyadari kendaraannya terbengkalai di pojok halaman sekolah."Biar nanti orangku yang ambil. Tinggalkan saja," sahut Rafsen datar. Ia membantu memakaikan helm di kepala
Avena akhirnya berusaha menekan rasa cemas yang berkecamuk di dadanya. Mengajar anak-anak TK memang membutuhkan fokus ekstra, dan tidak adil rasanya jika ia melimpahkan kepeningan masalah dokumen jebakan Rafsen kepada bocah-bocah polos yang tidak berdosa ini.Ia berlutut di sebelah kursi Kenzo, memamerkan senyum termanisnya meski matanya masih agak berkaca-kaca karena efek melamun tadi."Kenzo, helikopter warna pink itu keren banget, lho," ujar Avena dengan nada ceria. "Kamu tahu gak? Helikopter pink itu armada rahasia tim penyelamat Barbie dan Spider-Man kalau lagi ada kemacetan parah di langit."Mata Kenzo di balik kacamata Spider-Man-nya seketika membelalak berbinar-binar. "SERIUSAN, MISS?""Seratus persen serius." Avena mengacungkan dua jempolnya. "Makanya, warnai yang rapi. Jangan sampai baling-balingnya keluar garis, nanti helikopternya oleng pas terbang.""Siap, Miss Avena!" pekik Kenzo penuh semangat, langsung menghantam kertas gambar dengan krayon warna tanpa ampun.Avena ter
Pagi harinya, Rafsen sudah rapi dengan kemeja kerja dan jas hitam yang tersampir di lengan. Sebelum berangkat, ia sempat mengusap dahi Avena yang masih cemberut di tepi kasur.Avena sebenarnya masih sangat khawatir. Namun, hari ini ia juga harus kembali mengajar di TK karena murid-murid kecilnya sudah memborbardir ponselnya dengan pesan suara rindu. Lagi pula, Avena memilih percaya, otak milik suaminya pasti bisa memproses sinyal bahaya yang sudah ia bisikkan semalam.Pukul sembilan pagi, di meja ruang rapat utama Vantara Architect sudah tertata rapi berkas tebal dokumen kerja sama proyek BSD.Dion duduk di seberang meja dengan wajah tenang, meski gestur tangannya yang terus meremas pulpen membocorkan kegelisahannya. Di samping Dion, berdiri Clarissa dengan seragam kerjanya dan tersenyum manis."Raf, ini draf finalnya," ujar Dion seraya mengulas senyum ramah. "Gue sama Clarissa udah review ulang semalam sampai subuh. Pihak holdin
Jantung Avena serasa melompat keluar dari dadanya. Ia membeku, menatap layar ponsel Rafsen yang kini sudah kembali gelap dengan napas tertahan. Jarinya gemetar di bawah selimut, cengkeramannya pada kain sutra piyamanya mengerat."Astaga, Clarissa bener chat kayak gitu?" batin Avena, otaknya yang biasa menyerap ratusan episode drakor genre suspense-thriller kini bekerja keras menyimpulkan pesan tadi. "Pelimpahan utang? Bangkrut dalam hitungan hari ... eum, Clarissa sama Dion jangan-jangan kerjasama mau jebak Rafsen!"Belum sempat Avena menguasai rasa syoknya, layar ponsel Rafsen kembali menyala singkat.Clarissa[This message was deleted.]"Ditarik, pesannya dihapus. Kan ...!" Avena nyaris memekik, untungnya ia berhasil membekap mulutnya sendiri. "Gila, ini pasti ada konspirasi. Dia pasti sadar salah kirim, harusnya dikirim ke Dion malah ke Rafsen, makanya panik dan langsung hapus. Tapi telat, Mbak ... istrinya inu udah baca." Sudut matanya melirik ke pintu kamar mandi. Suara kran ai







