로그인"Kamu gila , Rafsen? Aku lebih cantik darinya, latar belakangku jelas dan aku lebih lama kenal kamu. Aku bisa bantu kamu di kantor, dia bisa apa? Pasti bisanya cuma nyusahin!" jerit Clarissa, napasnya memburu tersulut amarah.
Rafsen tidak memandang Clarissa sama sekali, sepasang mata legamnya sejak tadi tertuju pada Avena, sembari kian mengencangkan tangannya di pinggang wanita itu. "Jaga ucapanmu. Satu kata lagi kamu merendahkan istri saya, saya tidak akan segan-segan memutuskan semua kontrak kerja kita." Clarissa terkesiap, melangkah mundur dengan pandangan tidak percaya. Selama bekerja di biro arsitektur milik Rafsen, ia belum pernah melihat pria sekaku beton itu mengeluarkan ancaman personal demi seorang wanita. Avena yang awalnya tegang, mendadak merasa di atas angin. Otaknya yang terbiasa menghadapi drama anak-anak TK langsung menyimpulkan satu hal, "Wah, suamiku lagi butuh partner sandiwara buat mengusir lalat, nih." Demi mensukseskan akting Rafsen, Avena sengaja menyandarkan kepalanya ke bahu kokoh Rafsen, lalu melemparkan senyuman paling manis ke arah Clarissa. "Iya, Mbak Clarissa. Jangan galak-galak, ah, nanti jantungan. Mbak harus sehat terus biar bisa melihat kemesraan kita," celetuk Avena dengan nada lembut. "Kamu—!" "Pak Joko, bawa dia keluar," titah Rafsen tanpa membiarkan Clarissa menyelesaikan makiannya. Entah sejak kapan, seorang pria paruh baya berseragam hitam sudah berdiri di dekat koridor. Pak Joko dengan sigap langsung menghadang Clarissa dan menuntunnya pergi secara tegas. Avena sebenarnya sempat memajukan badannya sedikit, berniat menahan Pak Joko. "Yailah, padahal seru, lumayan dapet tontonan pagi-pagi gratis," batinnya kecewa saat punggung Clarissa benar-benar menghilang di balik pintu utama. Begitu keadaan kembali sunyi, Rafsen langsung melepaskan rangkulannya di pinggang Avena. Kehilangan kehangatan itu membuat Avena berdeham canggung, ia melangkah menuju meja makan dan duduk di sana untuk menjauhkan diri dari suaminya. Matanya tertuju pada keranjang berisi buah apel di tengah meja. Avena mengambil sebilah pisau kecil dan mulai mengupas kulit buah tersebut, mencoba mengembalikan detak jantungnya ke ritme normal. "Jangan dipikirkan," ucap Rafsen, pria itu bersandar pada konter dapur, memperhatikan Avena yang tiba-tiba diam. "Clarissa hanya rekan kerja di kantor. Tidak lebih." Avena memotong apel itu menjadi dua bagian, lalu mendongak sambil terkekeh pelan. "Santai aja kali, aku tahu, kok. Lagian ngapain juga aku buang-buang waktu buat ribut atau cemburu? Kita, kan, nikah cuma main-main buat nyenengin kakek-nenek. Nggak ada cinta-cintaan di antara kita, jadi kamu mau punya seratus rekan kerja kayak gitu juga bukan urusanku." Avena mengatakan itu sambil diselingi tawa canda, murni karena menganggap pernikahan mereka memang sebatas formalitas saja. Namun, entah karena pencahayaan dapur yang mendadak berubah atau matanya yang salah lihat, rahang Rafsen tampak mengeras. Tatapan mata elang pria itu mendadak meredup, menciptakan jeda sunyi yang terasa sedikit menyesakkan selama beberapa detik. Rafsen tidak membantah ucapan Avena. Ia mengalihkan pandangan ke arah jendela taman, lalu berdeham pendek. "Pekerja di rumah ini tinggal di paviliun belakang," ujar Rafsen, mengalihkan topik pembicaraan. "Mereka mulai bekerja dari pagi sampai jam makan malam. Setelah itu, rumah ini akan sepi." Avena mengangguk-angguk paham sembari mengunyah potongan apelnya. "Oh, pantesan semalem sepi banget kayak kuburan." "Kamu nggak perlu mengerjakan tugas rumah, di sini statusmu adalah nyonya. Biar pekerja yang mengurus semuanya." "Wah ... asyik, dong? Kalau begitu aku bisa fokus rebahan sambil nonton kartun," sahut Avena riang. Fasilitas menjadi istri ternyata lumayan menguntungkan juga untuk dompet dan tenaganya. "Besok kamu mulai mengajar?" tanya Rafsen lagi. "Iya, liburku cuma tiga hari. Besok aku sudah harus mengajar, ketemu bocil-bocil lucu. Duh, kangen banget." "Gunakan mobil di garasi. Kuncinya ada di laci depan." Avena langsung menggelengkan kepalanya hingga beberapa helai rambutnya bergoyang. "Nggak, nggak mau. Aku nggak bisa nyetir mobil. Lagian jalanan ke TK tempatku mengajar itu sempit banget, banyak gang tikus. Aku naik motor matic-ku aja, kemarin juga disuruh bawa ke sini sama Nenek. Lebih lincah." Rafsen menatap Avena datar, lalu mengangguk pelan sekali. "Terserah kamu." Pria itu kemudian menegakkan tubuhnya, bersiap untuk kembali ke lantai atas. "Lusa jadwal saya kembali ke kantor. Kita mungkin akan mulai sibuk dengan urusan masing-masing setelah ini." Pria itu menghentikan langkahnya tepat di undakan tangga pertama, lalu menoleh sedikit ke belakang. "Tapi jangan sampai lupa dengan pernikahan ini. Meskipun kamu menganggapnya kepaksa." Setelah melemparkan kalimat yang terdengar agak ambigu itu, Rafsen melangkah naik, meninggalkan Avena sendirian di dapur yang luas. Avena menggaruk pelipisnya yang tidak gatal, menatap potongan apel di tangannya dengan dahi berkerut. "Maksud si kulkas itu apa, sih? Ya kali aku lupa kalau udah nikah, tiap bangun pagi, kan, muka lempeng dia yang pertama kali kelihatan." Keesokan harinya, rutinitas pagi Avena kembali normal. Setelah menyelesaikan sarapan kilat yang lagi-lagi dilewati tanpa obrolan dengan Rafsen, Avena bergegas memakai helmnya dan siap berangkat. Ia merindukan anak-anak TK kelas dolfin, sekaligus berniat mampir ke rumah sakit saat jam pulang nanti untuk menjenguk neneknya. Avena menuntun motor matic-nya yang berwarna merah itu keluar dari pagar besi yang tinggi. Di ambang pagar, ia sempat menoleh ke lantai dua, melihat jendela ruang kerja Rafsen yang tertutup rapat. "Dadaah, Kulkas Dua Pintu ... aku berangkat cari duit dulu buat beli kewarasan, ya," seru Avena berpamitan pada angin. Perjalanan menuju sekolah berlangsung lancar hingga Avena tiba di area gang sempit, sekitar lima ratus meter sebelum gerbang TK tempatnya bekerja. Jalanan ini terkenal padat karena menjadi akses utama para orang tua yang mengantarkan anak-anak mereka. Avena mengurangi kecepatan motornya saat melihat kerumunan ibu bapak di depan sebuah toko kelontong. Namun, perhatiannya mendadak teralih sepenuhnya oleh sebuah mobil sedan hitam mewah yang tampak sangat familier, sedang berusaha mundur di tengah gang yang super sempit itu. Mobil itu terjebak di antara gerobak bubur ayam dan jemuran warga. Kaca mobil bagian pengemudi terbuka setengah, menampilkan rahang tegas seorang pria yang tampak sangat stres menghadapi klakson bersahut-sahutan dari para pengendara motor di belakangnya. Avena membelalakkan mata, refleks mengerem motornya hingga berdecit. "Lho? Itu, kan, mobil si beruang kutub?" gumam Avena melongo. "Ngapain dia nyasar ke gang senggol begini pagi-pagi?""Maksud kamu dipermalukan gimana, Raf?" Avena mengernyit, kepalanya dimiringkan sedikit dengan raut wajah bingung. "Lagian kita cuma makan malam biasa, kan? Emang mereka mau ngapain?"Rafsen memejamkan matanya sejenak, menahan helaan napas berat yang nyaris lolos dari bibirnya. Tingkat kepolosan istrinya ini kadang berada di taraf yang sangat menguji ketabahan hatinya."Dunia keluarga saya tidak sesederhana itu, Avena," sahut Rafsen dingin, melepaskan cengkeraman tangannya di bahu Avena. Pria itu merogoh ponsel dari saku celananya, menempelkannya ke telinga sembari melangkah menjauh. "Siapkan sepuluh gaun terbaik dari koleksi terbaru ke rumah saya. Sekarang."Tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut kepada Avena yang masih berdiri melongo di tengah ruang tamu, Rafsen langsung berbalik dan melangkah menaiki tangga menuju lantai dua. "Dih, kebiasaan banget, sih, ditanya baik-baik malah main kabur," gerutu Avena sengit, menghentakkan kakinya ke lantai.Ia memegangi dadanya yang berdesi
"Nggak mau! Enak aja, mana bisa gitu?" sahut Avena cepat, kedua tangannya bersedekap di depan dada dengan bibir cemberut. "Kenapa tidak bisa?""Ya nggak bisalah." Avena turut memajukan wajahnya ke depan. "Satu, arah kantor Vantara Architect sama TK itu bertolak belakang, Raf. Kamu yang ada telat ke kantor tiap hari cuma gara-gara ngikutin rute aku. Dua, jam pulang aku itu nggak pasti. Kadang ada rapat guru, kadang nungguin bocil yang jemputannya terlambat. Masa kamu mau nungguin aku di depan pagar kayak satpam?""Saya CEO-nya. Tidak ada yang berani menegur jika saya datang terlambat," jawab Rafsen santai tanpa beban, menyesap kembali caramel macchiato-nya. "Dan soal jam pulang, saya bisa bekerja dari mana saja atau menyuruh sopir jika saya sedang ada rapat penting. Selesai masalah."Avena melotot, siap meluncurkan argumen ketiga. "Tapi Raf—""Tidak ada tapi-tapi, Avena," pangkas Rafsen, tidak bisa diganggu gugat. "Pilihanmu cuma dua, saya yang antar-jemput setiap hari, atau kamu kel
Pak Doni yang tadi membusungkan dada dan melontarkan rayuan kurang ajar kepada Avena, seketika ciut. Pria buncit itu melirik motor sport berharga ratusan juta rupiah, lalu beralih menatap postur tegap Rafsen yang menjulang tinggi, jauh melampaui tinggi badannya. Tanpa berani membuka suara atau melirik lagi, Pak Doni buru-buru menarik tangan anaknya dan kabur terbirit-birit menaiki motor matic-nya.Avena yang masih terpaku dalam dekapan lengan kokoh Rafsen mengerjap-ngerjap tak percaya. "Raf, kamu ngapain ke sini naik motor gede? Kamu kesurupan geng motor mana, hah?" tanyanya dengan nada heran.Rafsen sama sekali tidak menjawab pertanyaan konyol itu. Pria itu justru merapikan helai rambut Avena yang sedikit berantakan. "Ayo pulang," ulangnya lagi."Eh, tapi motor aku gimana? Masa ditinggal di sini?" protes Avena saat menyadari kendaraannya terbengkalai di pojok halaman sekolah."Biar nanti orangku yang ambil. Tinggalkan saja," sahut Rafsen datar. Ia membantu memakaikan helm di kepala
Avena akhirnya berusaha menekan rasa cemas yang berkecamuk di dadanya. Mengajar anak-anak TK memang membutuhkan fokus ekstra, dan tidak adil rasanya jika ia melimpahkan kepeningan masalah dokumen jebakan Rafsen kepada bocah-bocah polos yang tidak berdosa ini.Ia berlutut di sebelah kursi Kenzo, memamerkan senyum termanisnya meski matanya masih agak berkaca-kaca karena efek melamun tadi."Kenzo, helikopter warna pink itu keren banget, lho," ujar Avena dengan nada ceria. "Kamu tahu gak? Helikopter pink itu armada rahasia tim penyelamat Barbie dan Spider-Man kalau lagi ada kemacetan parah di langit."Mata Kenzo di balik kacamata Spider-Man-nya seketika membelalak berbinar-binar. "SERIUSAN, MISS?""Seratus persen serius." Avena mengacungkan dua jempolnya. "Makanya, warnai yang rapi. Jangan sampai baling-balingnya keluar garis, nanti helikopternya oleng pas terbang.""Siap, Miss Avena!" pekik Kenzo penuh semangat, langsung menghantam kertas gambar dengan krayon warna tanpa ampun.Avena ter
Pagi harinya, Rafsen sudah rapi dengan kemeja kerja dan jas hitam yang tersampir di lengan. Sebelum berangkat, ia sempat mengusap dahi Avena yang masih cemberut di tepi kasur.Avena sebenarnya masih sangat khawatir. Namun, hari ini ia juga harus kembali mengajar di TK karena murid-murid kecilnya sudah memborbardir ponselnya dengan pesan suara rindu. Lagi pula, Avena memilih percaya, otak milik suaminya pasti bisa memproses sinyal bahaya yang sudah ia bisikkan semalam.Pukul sembilan pagi, di meja ruang rapat utama Vantara Architect sudah tertata rapi berkas tebal dokumen kerja sama proyek BSD.Dion duduk di seberang meja dengan wajah tenang, meski gestur tangannya yang terus meremas pulpen membocorkan kegelisahannya. Di samping Dion, berdiri Clarissa dengan seragam kerjanya dan tersenyum manis."Raf, ini draf finalnya," ujar Dion seraya mengulas senyum ramah. "Gue sama Clarissa udah review ulang semalam sampai subuh. Pihak holdin
Jantung Avena serasa melompat keluar dari dadanya. Ia membeku, menatap layar ponsel Rafsen yang kini sudah kembali gelap dengan napas tertahan. Jarinya gemetar di bawah selimut, cengkeramannya pada kain sutra piyamanya mengerat."Astaga, Clarissa bener chat kayak gitu?" batin Avena, otaknya yang biasa menyerap ratusan episode drakor genre suspense-thriller kini bekerja keras menyimpulkan pesan tadi. "Pelimpahan utang? Bangkrut dalam hitungan hari ... eum, Clarissa sama Dion jangan-jangan kerjasama mau jebak Rafsen!"Belum sempat Avena menguasai rasa syoknya, layar ponsel Rafsen kembali menyala singkat.Clarissa[This message was deleted.]"Ditarik, pesannya dihapus. Kan ...!" Avena nyaris memekik, untungnya ia berhasil membekap mulutnya sendiri. "Gila, ini pasti ada konspirasi. Dia pasti sadar salah kirim, harusnya dikirim ke Dion malah ke Rafsen, makanya panik dan langsung hapus. Tapi telat, Mbak ... istrinya inu udah baca." Sudut matanya melirik ke pintu kamar mandi. Suara kran ai







