로그인"Mundur, Pak! Mundur! Ini gang sempit, jam segini waktunya anak-anak masuk sekolah, malah nekat bawa mobil segede gaban ke sini!" teriak seorang bapak-bapak berkaus kutang dari atas motor bebeknya, tangannya mengacung-acung kesal ke arah kaca mobil tersebut.
"Iya, nih, bikin macet aja. Mana anak saya udah mau bel masuk lagi," sahut ibu-ibu di belakangnya yang sedang memegangi payung. Avena langsung turun, jantungnya berdisko menahan malu tingkat dewa. Ia memarkirkan motornya asal di pinggir jalan, lalu berlari kecil membelah kerumunan orang-orang yang mulai bersungut-sungut. Kepala Avena rasanya mau pecah. Bagaimana bisa pria jenius yang otaknya biasa merancang tata kota dan gedung bertingkat, mendadak kehilangan fungsi navigasi dasar sampai tersesat di gang senggol selebar dua meter ini? Avena mengetuk kaca mobil Rafsen dengan brutal. "Rafsen, buka! Kamu ngapain di sini, sih?" Rafsen menoleh perlahan, wajahnya tetap lempeng tanpa dosa. Pria itu menurunkan kaca mobilnya secara penuh. "Mau lihat tempat kerjamu," sahut Rafsen. Singkat, padat, dan sukses membuat tekanan darah Avena naik seketika ke ubun-ubun. "Mau lihat tempat kerjaku?!" Avena memekik, suaranya naik satu oktav sembari menunjuk-nunjuk gerobak bubur di samping spion mobil Rafsen. "Kemarin, kan, aku udah bilang jalan ke sini sempit, cuma muat motor. Di mana otakmu itu disimpan, hah? Harusnya tadi kalau mau ikut, tuh, naik motor, bukan bawa mobil begini." Sebelum Rafsen sempat merespons, beberapa ibu-ibu yang menggendong anak TK menyadari kehadiran Avena. Salah satu dari mereka langsung berseru, "Eh, Miss Avena? Miss kenal sama orang yang bikin macet ini? Tolong suruh mundur aja, Miss, kasihan ini anak-anak telat masuk." "Iya, Miss Avena. Suruh keluarin mobilnya, pusing saya dengar suara klakson," timpal yang lain. Avena membalikkan badan dengan senyum kaku, tangannya menyatu di depan dada sembari membungkuk berkali-kali. "Aduh, Ibu-ibu, Bapak-bapak, maaf, ya. Maaf banget atas ketidaknyamanannya. Ini, tuh, dia sebenarnya—" "Saya suaminya Miss Avena," potong Rafsen dari dalam mobil. Suaranya meninggi agar terdengar di antara riuh klakson. "Mohon maaf, saya baru pertama kali ke sini." Hening. Detik itu juga, suara klakson yang tadinya bersahut-sahutan mendadak senyap. Kerumunan orang tua murid langsung bungkam. Puluhan pasang mata beralih menatap Rafsen yang berwajah tampan bak model, lalu beralih menatap Avena yang hari ini memakai blouse batik dengan rambut yang dikuncir kuda asal-asalan. Avena membeku di tempat. Otaknya langsung blank. "D-dia ... dia bilang apa? Suami? Di depan seluruh wali murid tempatku mengajar?" batinnya syok. "Lho, Miss Avena udah nikah?" tanya seorang ibu-ibu dengan mata berbinar-binar penuh jiwa gosip. "Wah, diam-diam dapet spek pangeran ya, pantesan kemarin libur tiga hari." "Oh, pantesan mukanya mirip, memang jodoh. Ya sudah kalau suaminya Miss Avena, kami maafkan. Tapi tolong diurus, ya, Miss. Kami duluan ke sekolah." Satu per satu orang tua murid mulai membubarkan diri, memarkirkan motor mereka agak jauh dan memilih berjalan kaki. Mereka menyerahkan seluruh urusan kemacetan itu ke pundak Avena. Begitu kerumunan agak renggang, Avena langsung berbalik dan memasukkan setengah badannya ke dalam kaca mobil Rafsen, menatap suaminya dengan mata membelalak. "Kamu gila, ya? Kenapa pakai acara ngaku-ngaku suami segala di depan mereka? Aku ini belum siap status baruku ketahuan, Rafsen. Nanti kalau kepala sekolah tahu, terus aku diwawancara macam-macam gimana? Kalau mereka mikir yang enggak-enggak gimana?" Rafsen menatap Avena dengan mata elangnya yang jernih, kepalanya miring sedikit. "Memang salah?" tanya Rafsen datar. "Faktanya begitu." "Ya salah, lah. Di dunia ini ada yang namanya privasi. Lagian, tujuan kamu ke sini, tuh, mau ngapain, sih, sebenarnya? Mau pamer mobil atau mau bikin aku jantungan pagi-pagi?" Avena mengomel tanpa jeda, tangannya bergerak heboh mengekspresikan kekesalannya sampai-sampai jarinya hampir mencolok hidung Rafsen. "Mau memastikan kamu aman," jawab Rafsen pendek. Matanya melirik ke arah luar. "Tapi sepertinya saya yang tidak aman." Avena menghela napas berat, menepuk jidatnya sendiri dengan frustrasi. Berdebat dengan Rafsen di pagi hari ternyata jauh lebih menguras energi daripada menjinakkan dua puluh anak TK yang sedang memperebutkan mainan. Akhirnya, dengan sisa-sisa kesabaran yang makin menipis, Avena terpaksa bertindak sebagai juru parkir darurat. Dia berdiri di depan mobil, memberikan aba-aba heboh dengan tangan yang mengayun-ayun ke kanan dan ke kiri agar mobil Rafsen bisa mundur perlahan menjauhi gang. Butuh waktu hampir sepuluh menit yang penuh dengan keringat dan rasa malu, sampai akhirnya mobil sedan hitam itu berhasil keluar ke jalan raya yang lebih luas. Avena berjalan menghampiri mobil Rafsen lagi sambil mengelap keringat di dahinya dengan lengan blouse. "Udah, sekarang kamu langsung pergi ke mana, kek, terserah. Jangan balik lagi ke gang ini pakai mobil, paham?" ujar Avena ketus. Rafsen hanya menatap diam, lalu mengangguk sekali. Tanpa sepatah kata pun, ia menaikkan kaca mobilnya dan melaju pergi, meninggalkan Avena yang mendengus kesal sembari berjalan kembali untuk mengambil motor matic-nya yang terparkir di pojokan. Kehebohan di gang TK pagi itu ternyata berbuntut panjang. Sepanjang hari, Avena tidak bisa mengajar dengan tenang. Setiap kali ia berpapasan dengan guru lain atau orang tua murid saat jam pulang sekolah, mereka pasti melemparkan senyuman dan bisikan-bisikan yang membuat telinga Avena panas. Statusnya sebagai istri dari pria kaya mendadak menjadi topik hangat di grup W******p paguyuban kelas. Sesuai rencananya, setelah jam sekolah usai, Avena langsung mengendarai motornya menuju rumah sakit untuk menjenguk sang nenek. Sepanjang jalan, ia berharap kehadiran neneknya bisa menjadi tempat pelampiasan kekesalannya pada Rafsen. Namun, begitu Avena melangkah masuk ke dalam kamar rawat VIP tempat neneknya dirawat, langkah kakinya sontak terhenti di ambang pintu. Di dalam ruangan, neneknya tidak lagi terbaring lemah. Sang nenek justru sedang duduk bersandar di ranjang rumah sakit dengan wajah yang tampak jauh lebih segar dan ceria dari biasanya. Dan yang membuat jantung Avena mencelos adalah sosok pria yang duduk di kursi sebelah ranjang. Rafsen ada di sana. Pria itu masih mengenakan kemeja tadi, sedang mengupas buah pir dengan gerakan tangan yang sangat hati-hati. "Eh, cucu Nenek yang cantik sudah datang," sapa sang nenek dengan suara yang terdengar jauh lebih bertenaga. "Sini, Ven. Ini suamimu dari pagi sudah di sini menemani Nenek. Dia bahkan bawa dokter spesialis terbaik untuk memeriksa Nenek lagi." Avena berkedip beberapa kali, menatap Rafsen yang kini meletakkan pisau kupasnya lalu menoleh ke arahnya dengan tatapan datar seperti biasa, sulit ditebak. "Kamu sejak kapan di sini?" tanya Avena terbata-bata, rasa kesal yang ia bawa dari sekolah mendadak menguap begitu melihat senyuman bahagia di wajah neneknya. "Sejak tadi," jawab Rafsen singkat. Ia berdiri, merapikan kemejanya, lalu berjalan mendekati Avena. Sebelum Avena sempat menghindar, Rafsen mengulurkan tangannya, merapikan beberapa helai rambut Avena yang berantakan di dekat telinga akibat memakai helm. "Nenek bilang dia merindukanmu," ucap Rafsen, terdengar begitu hangat di telinga Avena. "Jadi, saya temani dulu." Avena terpaku, mendengar samar detak jantungnya yang tidak karuan. Di balik sikap kaku dan irit bicaranya, pria ini diam-diam melakukan hal sebesar ini untuk keluarganya. "Ven, Nenek senang sekali melihat kalian berdua akur begini," seloroh sang nenek dari atas ranjang, memandangi mereka dengan mata berkaca-kaca penuh haru. "Nenek jadi punya satu permintaan lagi." Avena menoleh cepat ke arah neneknya, mendadak firasatnya merasa tidak enak. "Permintaan apa, Nek?" Neneknya tersenyum misterius, lalu melirik ke arah perut Avena yang masih rata. "Nenek ingin cepat-cepat menimang cicit dari kalian berdua. Biar masa tua nenek makin ramai." Uhuk! Avena hampir saja tersedak ludahnya sendiri mendengar ucapan sang nenek. Ia menoleh ke arah Rafsen dengan wajah yang sudah semerah tomat matang, berharap pria itu akan memberikan jawaban mengalihkan pembicaraan seperti biasanya. Namun, Rafsen justru tetap berdiri tegak di sampingnya. Pria itu menatap teduh sang nenek, lalu menjawab dengan tenang, tetapi sukses membuat dunia Avena runtuh seketika. "Baik, Nek. Kami akan mengusahakannya secepatnya." Avena membelalakkan mata selebar-lebarnya, menatap Rafsen dengan pandangan horor sekaligus syok yang luar biasa. "Mengusahakannya? Di mana letak mengusahakan kalau tidur aja pakai pembatas? Didownload gitu anaknya?" racaunya dalam hati, frustasi."Maksud kamu dipermalukan gimana, Raf?" Avena mengernyit, kepalanya dimiringkan sedikit dengan raut wajah bingung. "Lagian kita cuma makan malam biasa, kan? Emang mereka mau ngapain?"Rafsen memejamkan matanya sejenak, menahan helaan napas berat yang nyaris lolos dari bibirnya. Tingkat kepolosan istrinya ini kadang berada di taraf yang sangat menguji ketabahan hatinya."Dunia keluarga saya tidak sesederhana itu, Avena," sahut Rafsen dingin, melepaskan cengkeraman tangannya di bahu Avena. Pria itu merogoh ponsel dari saku celananya, menempelkannya ke telinga sembari melangkah menjauh. "Siapkan sepuluh gaun terbaik dari koleksi terbaru ke rumah saya. Sekarang."Tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut kepada Avena yang masih berdiri melongo di tengah ruang tamu, Rafsen langsung berbalik dan melangkah menaiki tangga menuju lantai dua. "Dih, kebiasaan banget, sih, ditanya baik-baik malah main kabur," gerutu Avena sengit, menghentakkan kakinya ke lantai.Ia memegangi dadanya yang berdesi
"Nggak mau! Enak aja, mana bisa gitu?" sahut Avena cepat, kedua tangannya bersedekap di depan dada dengan bibir cemberut. "Kenapa tidak bisa?""Ya nggak bisalah." Avena turut memajukan wajahnya ke depan. "Satu, arah kantor Vantara Architect sama TK itu bertolak belakang, Raf. Kamu yang ada telat ke kantor tiap hari cuma gara-gara ngikutin rute aku. Dua, jam pulang aku itu nggak pasti. Kadang ada rapat guru, kadang nungguin bocil yang jemputannya terlambat. Masa kamu mau nungguin aku di depan pagar kayak satpam?""Saya CEO-nya. Tidak ada yang berani menegur jika saya datang terlambat," jawab Rafsen santai tanpa beban, menyesap kembali caramel macchiato-nya. "Dan soal jam pulang, saya bisa bekerja dari mana saja atau menyuruh sopir jika saya sedang ada rapat penting. Selesai masalah."Avena melotot, siap meluncurkan argumen ketiga. "Tapi Raf—""Tidak ada tapi-tapi, Avena," pangkas Rafsen, tidak bisa diganggu gugat. "Pilihanmu cuma dua, saya yang antar-jemput setiap hari, atau kamu kel
Pak Doni yang tadi membusungkan dada dan melontarkan rayuan kurang ajar kepada Avena, seketika ciut. Pria buncit itu melirik motor sport berharga ratusan juta rupiah, lalu beralih menatap postur tegap Rafsen yang menjulang tinggi, jauh melampaui tinggi badannya. Tanpa berani membuka suara atau melirik lagi, Pak Doni buru-buru menarik tangan anaknya dan kabur terbirit-birit menaiki motor matic-nya.Avena yang masih terpaku dalam dekapan lengan kokoh Rafsen mengerjap-ngerjap tak percaya. "Raf, kamu ngapain ke sini naik motor gede? Kamu kesurupan geng motor mana, hah?" tanyanya dengan nada heran.Rafsen sama sekali tidak menjawab pertanyaan konyol itu. Pria itu justru merapikan helai rambut Avena yang sedikit berantakan. "Ayo pulang," ulangnya lagi."Eh, tapi motor aku gimana? Masa ditinggal di sini?" protes Avena saat menyadari kendaraannya terbengkalai di pojok halaman sekolah."Biar nanti orangku yang ambil. Tinggalkan saja," sahut Rafsen datar. Ia membantu memakaikan helm di kepala
Avena akhirnya berusaha menekan rasa cemas yang berkecamuk di dadanya. Mengajar anak-anak TK memang membutuhkan fokus ekstra, dan tidak adil rasanya jika ia melimpahkan kepeningan masalah dokumen jebakan Rafsen kepada bocah-bocah polos yang tidak berdosa ini.Ia berlutut di sebelah kursi Kenzo, memamerkan senyum termanisnya meski matanya masih agak berkaca-kaca karena efek melamun tadi."Kenzo, helikopter warna pink itu keren banget, lho," ujar Avena dengan nada ceria. "Kamu tahu gak? Helikopter pink itu armada rahasia tim penyelamat Barbie dan Spider-Man kalau lagi ada kemacetan parah di langit."Mata Kenzo di balik kacamata Spider-Man-nya seketika membelalak berbinar-binar. "SERIUSAN, MISS?""Seratus persen serius." Avena mengacungkan dua jempolnya. "Makanya, warnai yang rapi. Jangan sampai baling-balingnya keluar garis, nanti helikopternya oleng pas terbang.""Siap, Miss Avena!" pekik Kenzo penuh semangat, langsung menghantam kertas gambar dengan krayon warna tanpa ampun.Avena ter
Pagi harinya, Rafsen sudah rapi dengan kemeja kerja dan jas hitam yang tersampir di lengan. Sebelum berangkat, ia sempat mengusap dahi Avena yang masih cemberut di tepi kasur.Avena sebenarnya masih sangat khawatir. Namun, hari ini ia juga harus kembali mengajar di TK karena murid-murid kecilnya sudah memborbardir ponselnya dengan pesan suara rindu. Lagi pula, Avena memilih percaya, otak milik suaminya pasti bisa memproses sinyal bahaya yang sudah ia bisikkan semalam.Pukul sembilan pagi, di meja ruang rapat utama Vantara Architect sudah tertata rapi berkas tebal dokumen kerja sama proyek BSD.Dion duduk di seberang meja dengan wajah tenang, meski gestur tangannya yang terus meremas pulpen membocorkan kegelisahannya. Di samping Dion, berdiri Clarissa dengan seragam kerjanya dan tersenyum manis."Raf, ini draf finalnya," ujar Dion seraya mengulas senyum ramah. "Gue sama Clarissa udah review ulang semalam sampai subuh. Pihak holdin
Jantung Avena serasa melompat keluar dari dadanya. Ia membeku, menatap layar ponsel Rafsen yang kini sudah kembali gelap dengan napas tertahan. Jarinya gemetar di bawah selimut, cengkeramannya pada kain sutra piyamanya mengerat."Astaga, Clarissa bener chat kayak gitu?" batin Avena, otaknya yang biasa menyerap ratusan episode drakor genre suspense-thriller kini bekerja keras menyimpulkan pesan tadi. "Pelimpahan utang? Bangkrut dalam hitungan hari ... eum, Clarissa sama Dion jangan-jangan kerjasama mau jebak Rafsen!"Belum sempat Avena menguasai rasa syoknya, layar ponsel Rafsen kembali menyala singkat.Clarissa[This message was deleted.]"Ditarik, pesannya dihapus. Kan ...!" Avena nyaris memekik, untungnya ia berhasil membekap mulutnya sendiri. "Gila, ini pasti ada konspirasi. Dia pasti sadar salah kirim, harusnya dikirim ke Dion malah ke Rafsen, makanya panik dan langsung hapus. Tapi telat, Mbak ... istrinya inu udah baca." Sudut matanya melirik ke pintu kamar mandi. Suara kran ai







