Share

Bab 6

Penulis: Els Arrow
last update Tanggal publikasi: 2026-07-23 17:59:52

"Bisa di-d******d di PlayStore nggak?!" Jeritan batin Avena itu tidak sempat keluar dari tenggorokannya. Ia hanya bisa melotot kesal, menahan napas sampai wajahnya makin merah padam.

Sementara itu, sang nenek di atas ranjang justru terkekeh gembira, mengangguk-angguk puas mendengar jawaban sepihak dari cucu menantunya yang kelewat tanggap itu.

"Bagus, Rafsen. Nenek pegang janji kamu, ya," ujar Nenek dengan binar mata bahagia. "Avena ini emang suka canggung, tapi aslinya manut, kok, kalau diajari."

"Ya Tuhan, Nenek ... ini cucumu lagi dijual secara tidak langsung oleh beruang kutub, lho," batin Avena lagi tak sadar rahangnya menggeram.

Rafsen sama sekali tidak terpengaruh oleh tatapan membunuh yang dilayangkan Avena. Pria itu mengangguk sopan pada Nenek, lalu melirik jam di pergelangan tangannya. "Nenek istirahat dulu. Avena saya bawa pulang, kasihan dia capek habis ngajar di sekolah."

"Iya, iya, pulang sana. Cepat bikin cicit nenek sampai rumah nanti, jangan tunda lagi," goda Nenek riang.

Begitu pintu kamar VIP itu tertutup rapat, Avena langsung menyambar lengan kemeja Rafsen, menarik pria itu agak menjauh dari jangkauan suster yang lewat.

"Kamu tadi ngomong apa sama Nenek, hah?!" pekik Avena lirih, matanya hampir melompat keluar. "Mengusahakan secepatnya? Kamu gila, ya? Kita tidur aja dipembatasi guling setebal Tembok Cina, emangnya kamu mau bikin cicit dari jalur gaib?"

Rafsen menunduk, menatap tangan Avena yang meremas kemeja mahalnya hingga kusut. Ekspresinya? Masih lempeng seperti papan gilasan.

"Daripada Nenek banyak pikiran," jawab Rafsen singkat.

"Tapi jawabannya nggak gitu juga, Kulkas. Nanti kalau Nenek menagih hasil testpack minggu depan, aku harus jawab apa?" Avena mengacak rambutnya frustrasi, mengabaikan fakta bahwa mereka sedang berada di koridor rumah sakit.

Rafsen menghela napas pendek. Ia meraih pergelangan tangan Avena, melepaskan cengkeraman wanita itu dari kemejanya, lalu melangkah menuju pintu keluar. 

"Pulang. Nanti dibahas di rumah."

"Bentar. Motor matic-ku gimana?"

"Dibawa Pak Joko, dia tadi saya suruh ke sini naik taksi. Kamu naik mobil sama saya."

Sepanjang perjalanan pulang, mobil hitam itu diliputi keheningan, Avena sengaja membuang muka ke jendela sambil bersedekap dada, mengomel tanpa suara. Bibirnya komat-kamit merapalkan mantra sumpah serapah untuk suaminya.

Ketika mobil mereka berhenti di lampu merah sebuah persimpangan jalan besar, Avena yang melirik ke samping sontak matanya membelalak.

Tepat di samping mobil mereka, berhenti sebuah motor matic merah miliknya. Di atas motor itu, duduk Pak Joko dengan helm bogo pudar milik Avena yang kesempitan di kepalanya, ditambah tas ransel gambar Barbie milik Avena yang dicangklong di dada bidang Pak Joko.

Avena menurunkan kaca mobil spontan. "Pak Joko?!"

Pak Joko menoleh, lalu membuka kaca helmnya dengan susah payah. "Eh, Nyonya Avena. Ini saya disuruh Pak Rafsen bawa motor Nyonya pulang. Tapi ini tas Barbie-nya enggak muat di bagasi, Nyonya. Jadi, saya pakai aja, deh."

Avena sontak menepuk jidatnya. "Aduh Gusti, tas kesayanganku buat mengajar dipake Pak Joko yang berbadan kekar."

Lampu hijau menyala, mobil Rafsen melaju meninggalkan Pak Joko yang melambaikan tangan dadah-dadah dari atas motor merah. Avena menoleh perlahan ke arah Rafsen yang masih fokus menyetir.

"Kamu nggak kasihan sama Pak Joko bawa tas begitu?" tanya Avena pasrah.

"Tas kamu warna merah pudar. Senada sama helmnya," sahut Rafsen datar tanpa rasa bersalah.

Sesampainya di rumah, Avena langsung melesat masuk ke kamar utama. Rasa lelah habis mengajar hingga syok ditagih cicit membuat energinya terkuras habis. Ia melempar tubuhnya ke atas ranjang empuk tanpa memedulikan batas guling lagi.

Tak lama kemudian, Rafsen masuk setelah melepas jas dan melonggarkan dasinya. Pria itu berdiri di tepi ranjang, menatap Avena yang telentang seperti penyu terbalik.

"Mandi dulu," tegur Rafsen.

"Nanti. Aku lagi ngambek, jangan disuruh-suruh," semprot Avena, menutup wajahnya dengan bantal.

Dari balik bantal, Avena mendengar suara gemerisik kain dan langkah kaki mendekat. Tiba-tiba, bantal yang menutupi wajahnya ditarik perlahan. Wajah tampan Rafsen kini berada tepat di atasnya, hanya berjarak beberapa senti.

 Aroma wangi dari tubuh pria itu seketika memenuhi indra penciuman Avena.

Jantung Avena langsung berdegup maraton. "R-Rafsen? Kamu mau ngapain? Inget, ya, aku belum mandi masih bau, jangan macam-macam."

Rafsen menatap sepasang mata Avena dalam-dalam. Sepasang mata elangnya yang biasanya dingin, kali ini memancarkan pendar aneh yang membuat bulu kuduk Avena bergidik, bukan karena takut, tapi karena sensasi aneh yang menjalar ke dadanya.

Tangan besar Rafsen terangkat, jarinya yang dingin menyapu lembut dahi Avena, lalu turun mengusap pipinya yang memerah.

"Ucapan saya ke Nenek tadi, bukan sekadar formalitas."

Avena membeku total. "M-maksudnya?"

Rafsen memiringkan kepalanya sedikit, menatap bibir Avena yang sedikit terbuka karena terkejut. "Saya tidak pernah main-main dengan janji. Apalagi janji sama orang tua."

"T-tapi, kan, kita nikah tanpa cinta. Kamu sendiri yang bilang lusa mau fokus kantor, aku fokus ngajar," sahut Avena tergagap.

"Itu, kan, lusa," potong Rafsen pelan. Tangannya yang berada di pipi Avena kini merayap perlahan ke belakang leher wanita itu, menahannya agar tidak bisa melarikan diri. "Sekarang saya berubah pikiran."

Tok! Tok! Tok!

Belum sempat Avena memproses kalimat itu, pintu kamar tiba-tiba diketuk keras dari luar, membuat keduanya melongok kaget.

"Ekhem! Permisi, Pak Rafsen, Nyonya ... ini saya mau mengembalikan kunci motor sama tas Barbie-nya," ucap Pak Joko terdengar dari balik pintu.

Avena langsung mendorong dada bidang Rafsen dengan sekuat tenaga hingga pria itu terdorong mundur. Dengan kecepatan kilat, Avena menggulingkan tubuhnya ke samping hingga tak sengaja kembali jatuh mendarat telentang di lantai keras untuk kedua kalinya dalam dua hari berturut-turut.

BRUK!

"Aduuuh ... pinggangku!" jerit Avena kesakitan, memegangi pinggulnya sambil menatap langit-langit kamar dengan mata berkaca-kaca.

Rafsen berdiri kaku di tepi kasur, menatap istrinya yang tergeletak di lantai, lalu melirik ke arah pintu yang masih tertutup itu dan mungkin Pak Joko juga sudah pergi.

Avena yang masih telentang di lantai menatap Rafsen dengan pandangan merana. "Rafsen, tolong panggilkan ambulans. Kayaknya cicit Nenek gagal diproduksi gara-gara pinggang ibunya patah. Awww!"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Satu Atap dengan Pria Dingin    Bab 18. Makan Malam

    "Maksud kamu dipermalukan gimana, Raf?" Avena mengernyit, kepalanya dimiringkan sedikit dengan raut wajah bingung. "Lagian kita cuma makan malam biasa, kan? Emang mereka mau ngapain?"Rafsen memejamkan matanya sejenak, menahan helaan napas berat yang nyaris lolos dari bibirnya. Tingkat kepolosan istrinya ini kadang berada di taraf yang sangat menguji ketabahan hatinya."Dunia keluarga saya tidak sesederhana itu, Avena," sahut Rafsen dingin, melepaskan cengkeraman tangannya di bahu Avena. Pria itu merogoh ponsel dari saku celananya, menempelkannya ke telinga sembari melangkah menjauh. "Siapkan sepuluh gaun terbaik dari koleksi terbaru ke rumah saya. Sekarang."Tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut kepada Avena yang masih berdiri melongo di tengah ruang tamu, Rafsen langsung berbalik dan melangkah menaiki tangga menuju lantai dua. "Dih, kebiasaan banget, sih, ditanya baik-baik malah main kabur," gerutu Avena sengit, menghentakkan kakinya ke lantai.Ia memegangi dadanya yang berdesi

  • Satu Atap dengan Pria Dingin    Bab 17. Undangan Makan Malam

    "Nggak mau! Enak aja, mana bisa gitu?" sahut Avena cepat, kedua tangannya bersedekap di depan dada dengan bibir cemberut. "Kenapa tidak bisa?""Ya nggak bisalah." Avena turut memajukan wajahnya ke depan. "Satu, arah kantor Vantara Architect sama TK itu bertolak belakang, Raf. Kamu yang ada telat ke kantor tiap hari cuma gara-gara ngikutin rute aku. Dua, jam pulang aku itu nggak pasti. Kadang ada rapat guru, kadang nungguin bocil yang jemputannya terlambat. Masa kamu mau nungguin aku di depan pagar kayak satpam?""Saya CEO-nya. Tidak ada yang berani menegur jika saya datang terlambat," jawab Rafsen santai tanpa beban, menyesap kembali caramel macchiato-nya. "Dan soal jam pulang, saya bisa bekerja dari mana saja atau menyuruh sopir jika saya sedang ada rapat penting. Selesai masalah."Avena melotot, siap meluncurkan argumen ketiga. "Tapi Raf—""Tidak ada tapi-tapi, Avena," pangkas Rafsen, tidak bisa diganggu gugat. "Pilihanmu cuma dua, saya yang antar-jemput setiap hari, atau kamu kel

  • Satu Atap dengan Pria Dingin    Bab 16

    Pak Doni yang tadi membusungkan dada dan melontarkan rayuan kurang ajar kepada Avena, seketika ciut. Pria buncit itu melirik motor sport berharga ratusan juta rupiah, lalu beralih menatap postur tegap Rafsen yang menjulang tinggi, jauh melampaui tinggi badannya. Tanpa berani membuka suara atau melirik lagi, Pak Doni buru-buru menarik tangan anaknya dan kabur terbirit-birit menaiki motor matic-nya.Avena yang masih terpaku dalam dekapan lengan kokoh Rafsen mengerjap-ngerjap tak percaya. "Raf, kamu ngapain ke sini naik motor gede? Kamu kesurupan geng motor mana, hah?" tanyanya dengan nada heran.Rafsen sama sekali tidak menjawab pertanyaan konyol itu. Pria itu justru merapikan helai rambut Avena yang sedikit berantakan. "Ayo pulang," ulangnya lagi."Eh, tapi motor aku gimana? Masa ditinggal di sini?" protes Avena saat menyadari kendaraannya terbengkalai di pojok halaman sekolah."Biar nanti orangku yang ambil. Tinggalkan saja," sahut Rafsen datar. Ia membantu memakaikan helm di kepala

  • Satu Atap dengan Pria Dingin    Bab 15

    Avena akhirnya berusaha menekan rasa cemas yang berkecamuk di dadanya. Mengajar anak-anak TK memang membutuhkan fokus ekstra, dan tidak adil rasanya jika ia melimpahkan kepeningan masalah dokumen jebakan Rafsen kepada bocah-bocah polos yang tidak berdosa ini.Ia berlutut di sebelah kursi Kenzo, memamerkan senyum termanisnya meski matanya masih agak berkaca-kaca karena efek melamun tadi."Kenzo, helikopter warna pink itu keren banget, lho," ujar Avena dengan nada ceria. "Kamu tahu gak? Helikopter pink itu armada rahasia tim penyelamat Barbie dan Spider-Man kalau lagi ada kemacetan parah di langit."Mata Kenzo di balik kacamata Spider-Man-nya seketika membelalak berbinar-binar. "SERIUSAN, MISS?""Seratus persen serius." Avena mengacungkan dua jempolnya. "Makanya, warnai yang rapi. Jangan sampai baling-balingnya keluar garis, nanti helikopternya oleng pas terbang.""Siap, Miss Avena!" pekik Kenzo penuh semangat, langsung menghantam kertas gambar dengan krayon warna tanpa ampun.Avena ter

  • Satu Atap dengan Pria Dingin    Bab 14

    Pagi harinya, Rafsen sudah rapi dengan kemeja kerja dan jas hitam yang tersampir di lengan. Sebelum berangkat, ia sempat mengusap dahi Avena yang masih cemberut di tepi kasur.Avena sebenarnya masih sangat khawatir. Namun, hari ini ia juga harus kembali mengajar di TK karena murid-murid kecilnya sudah memborbardir ponselnya dengan pesan suara rindu. Lagi pula, Avena memilih percaya, otak milik suaminya pasti bisa memproses sinyal bahaya yang sudah ia bisikkan semalam.Pukul sembilan pagi, di meja ruang rapat utama Vantara Architect sudah tertata rapi berkas tebal dokumen kerja sama proyek BSD.Dion duduk di seberang meja dengan wajah tenang, meski gestur tangannya yang terus meremas pulpen membocorkan kegelisahannya. Di samping Dion, berdiri Clarissa dengan seragam kerjanya dan tersenyum manis."Raf, ini draf finalnya," ujar Dion seraya mengulas senyum ramah. "Gue sama Clarissa udah review ulang semalam sampai subuh. Pihak holdin

  • Satu Atap dengan Pria Dingin    Bab 13. Nasihat Istri

    Jantung Avena serasa melompat keluar dari dadanya. Ia membeku, menatap layar ponsel Rafsen yang kini sudah kembali gelap dengan napas tertahan. Jarinya gemetar di bawah selimut, cengkeramannya pada kain sutra piyamanya mengerat."Astaga, Clarissa bener chat kayak gitu?" batin Avena, otaknya yang biasa menyerap ratusan episode drakor genre suspense-thriller kini bekerja keras menyimpulkan pesan tadi. "Pelimpahan utang? Bangkrut dalam hitungan hari ... eum, Clarissa sama Dion jangan-jangan kerjasama mau jebak Rafsen!"Belum sempat Avena menguasai rasa syoknya, layar ponsel Rafsen kembali menyala singkat.Clarissa[This message was deleted.]"Ditarik, pesannya dihapus. Kan ...!" Avena nyaris memekik, untungnya ia berhasil membekap mulutnya sendiri. "Gila, ini pasti ada konspirasi. Dia pasti sadar salah kirim, harusnya dikirim ke Dion malah ke Rafsen, makanya panik dan langsung hapus. Tapi telat, Mbak ... istrinya inu udah baca." Sudut matanya melirik ke pintu kamar mandi. Suara kran ai

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status