Share

Bab 7

Penulis: Els Arrow
last update Tanggal publikasi: 2026-07-23 18:20:28

"Ini gimana bangunnya? Pinggangku mau copot ini," rintih jerit Avena, matanya sudah berkaca-kaca menatap langit-langit kamar sambil memegangi pinggulnya yang berdenyut nyeri.

Rafsen menghela napas panjang. Pria itu menggelengkan kepala perlahan, melangkah mendekat, lalu tanpa basa-basi menyusupkan kedua lengan kokohnya ke bawah tubuh Avena. Sekali angkat, tubuh mungil guru TK itu langsung terangkat ke udara.

"Aduh, aduh ... pelan-pelan! Ini bukan karung beras," pekik Avena refleks mengalungkan tangannya ke leher Rafsen karena takut jatuh.

Rafsen membaringkan Avena kembali ke atas kasur dengan sangat hati-hati. "Makanya kalau bergerak itu pakai perhitungan, jangan sembarangan. Nanti kalau otakmu makin konslet, saya yang repot."

"Apa kamu bilang? Otak konslet?" Avena langsung meradang, dadanya kembang-kempis menahan emosi. Ia sudah siap melayangkan pukulan maut ke arah Rafsen, tapi begitu badannya bergerak sedikit saja, rasa nyeri menusuk dari pinggul bawahnya. "Aww! Aduh, aduh ... sakit banget."

Rafsen menatap istrinya tanpa ekspresi, kemudian berjalan menuju lemari kecil, mengambil kotak P3K, lalu kembali duduk di tepi kasur di samping Avena.

"Tengkurep," perintah Rafsen singkat.

Avena melotot curiga. "Ngapain?"

"Saya uurut pakai salep memar. Mau pinggangmu geser sampai besok pagi?" sahut Rafsen dingin.

Avena mengerucutkan bibirnya sebal, tapi karena rasa nyerinya makin menjadi-jadi, ia akhirnya menurut. Dengan gerakan sangat pelan dan diwarnai rintihan, Avena membalikkan tubuhnya menjadi tengkurap, menempelkan pipinya ke bantal. "Awas, ya, kalau makin sakit, aku aduin ke Nenek."

Rafsen tidak membalas ancaman itu. Tangannya bergerak mengambil tube salep khusus memar. Namun, ketika jemari Rafsen menyentuh pinggang bawah baju Avena dan bersiap mengangkatnya, Avena langsung menegang kaku.

"E-eh, mau ngapain?" Avena buru-buru menahan tangan Rafsen di pinggangnya, kepalanya menoleh ke belakang dengan mata membelalak. "I-ini kenapa kemeja aku disingkap? Kamu mau mesum, ya?"

"Salepnya harus kena kulit langsung, Avena. Bukan dioles di atas kain," jawab Rafsen datar. "Saya mau lihat seberapa parah memarnya."

"Nggak, nggak. Nanti kamu jelalatan. Kamu, kan, pria mesum yang tadi hampir nyium aku," tuduh Avena blak-blakan, wajahnya merona hebat sampai ke telinga.

Rafsen menghela napas pendek, matanya mengunci pandangan Avena. "Saya bersumpah demi Kakek di surga dan Nenek di rumah sakit, saya tidak akan jelalatan. Saya cuma mau ngobatin. Paham?"

Avena memiringkan kepala, meneliti rahang tegas dan mata jernih suaminya. Setelah tiga detik memastikan tidak ada raut licik di wajah beruang kutub itu, Avena mendengus pasrah. Ia kembali menyurukkan wajahnya ke bantal, memejamkan mata rapat-rapat. "Awas, ya, kalau bohong ... dosa tahu!"

"Iya," sahut Rafsen pendek.

Jemari dingin Rafsen mulai menaikkan kemeja Avena hingga ke batas punggung tengah, mengekspos kulit mulus bagian pinggangnya. Udara pendingin ruangan yang menerpa kulit telanjang itu membuat Avena sedikit merinding.

Tak berhenti di situ, jari-jari Rafsen yang berukuran besar dengan perlahan menurunkan batas celana kain yang dipakai Avena.

Avena menggigit bibirnya kuat-kuat, tangannya meremas seprai kasur hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa malu yang luar biasa menjalar ke seluruh tubuhnya saat merasakan hawa dingin menerpa area pinggul bawahnya.

"Benar, kan, memar biru."

Pria itu mengoleskan salep di telapak tangannya, lalu perlahan menempelkan telapak tangan hangatnya ke kulit pinggul Avena yang memar.

"Ssshh ... aduh. Pelan-pelan, sakit," rintih Avena, tubuhnya sedikit meliuk merasakan oleh nyeri dan sensasi aneh yang menyetrum sarafnya.

"Diam sebentar. Ini supaya memarnya nggak membeku," kata Rafsen.

Namun, area memar itu ternyata terletak agak terlalu rendah, tepat di batas atas tulang panggul yang tertutup underwear renda merah jambu milik Avena. Rafsen sempat terhenti sejenak. Tanpa peringatan lebih lanjut, jemari panjang Rafsen bergerak perlahan menyelusup, sedikit menggeser dan menurunkan pinggiran underwear tipis itu agar salep bisa menjangkau seluruh area kulit yang memar.

Sentuhan kulit ke kulit secara langsung di area sensitif itu seketika membuat napas Avena tertahan. Kulitnya yang mulus terasa kontras dengan telapak tangan Rafsen yang sedikit kasar dan hangat. Usapan memutar yang diberikan Rafsen awalnya terasa menyakitkan, tapi perlahan-lahan berubah menjadi pijatan lembut.

Avena yang tadinya merintih kesakitan, kini malah menahan napasnya sendiri. Sensasi hangat dari salep bercampur dengan getaran aneh dari sentuhan jemari Rafsen membuat dadanya bergemuruh hebat. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia takut Rafsen bisa mendengarnya.

"Masih sakit?" tanya Rafsen.

Usapan tangannya di pinggul Avena melambat, ibu jarinya diam-diam mengusap lembut garis pinggang halus wanita itu.

Avena tidak berani menjawab. Ia menyembunyikan wajahnya yang sudah membara di balik bantal, matanya merem-melek menahan desiran aneh yang menyerang seluruh kesadarannya. "Aduh, ini kenapa usapannya malah makin naik-turun begini, sih?"

Rafsen menunduk lebih dalam, embusan napas hangatnya kini terasa tepat di tengkuk Avena yang terbuka, membuat bulu kuduk istrinya itu berdiri sempurna.

Tangan Rafsen yang memegang pinggul Avena kini tidak lagi memijat memar, melainkan meremas pelan pinggang ramping istrinya.

"Avena," panggil Rafsen, suaranya pelan.

Avena mendongak sedikit dari bantal dengan mata berkaca-kaca dan napas yang agak memburu. "A-apa?"

"Memarnya sudah diolesi," ujar Rafsen datar. Namun, bukannya menarik tangannya kembali atau menaikkan celana Avena, pria itu justru makin memiringkan tubuhnya di atas Avena. Matanya menatap tajam ke arah bibir Avena yang agak terbuka. "Tapi janji saya sama Nenek tadi belum."

Avena membelalakkan mata, otaknya langsung loading darurat. "T-tunggu! Katanya kamu bersumpah cuma mau ngobatin?"

"Tadi itu waktu kamu sakit," sahut Rafsen santai, kini jemarinya justru makin erat mengunci pinggang Avena. "Sekarang, kan, sudah diobati. Berarti udah nggak sakit, kan? Apa kita bisa lanjut penuhi janji pada Nenek, Avena?

"Lho?! Logika macam apa itu?!" jerit Avena histeris.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Satu Atap dengan Pria Dingin    Bab 18. Makan Malam

    "Maksud kamu dipermalukan gimana, Raf?" Avena mengernyit, kepalanya dimiringkan sedikit dengan raut wajah bingung. "Lagian kita cuma makan malam biasa, kan? Emang mereka mau ngapain?"Rafsen memejamkan matanya sejenak, menahan helaan napas berat yang nyaris lolos dari bibirnya. Tingkat kepolosan istrinya ini kadang berada di taraf yang sangat menguji ketabahan hatinya."Dunia keluarga saya tidak sesederhana itu, Avena," sahut Rafsen dingin, melepaskan cengkeraman tangannya di bahu Avena. Pria itu merogoh ponsel dari saku celananya, menempelkannya ke telinga sembari melangkah menjauh. "Siapkan sepuluh gaun terbaik dari koleksi terbaru ke rumah saya. Sekarang."Tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut kepada Avena yang masih berdiri melongo di tengah ruang tamu, Rafsen langsung berbalik dan melangkah menaiki tangga menuju lantai dua. "Dih, kebiasaan banget, sih, ditanya baik-baik malah main kabur," gerutu Avena sengit, menghentakkan kakinya ke lantai.Ia memegangi dadanya yang berdesi

  • Satu Atap dengan Pria Dingin    Bab 17. Undangan Makan Malam

    "Nggak mau! Enak aja, mana bisa gitu?" sahut Avena cepat, kedua tangannya bersedekap di depan dada dengan bibir cemberut. "Kenapa tidak bisa?""Ya nggak bisalah." Avena turut memajukan wajahnya ke depan. "Satu, arah kantor Vantara Architect sama TK itu bertolak belakang, Raf. Kamu yang ada telat ke kantor tiap hari cuma gara-gara ngikutin rute aku. Dua, jam pulang aku itu nggak pasti. Kadang ada rapat guru, kadang nungguin bocil yang jemputannya terlambat. Masa kamu mau nungguin aku di depan pagar kayak satpam?""Saya CEO-nya. Tidak ada yang berani menegur jika saya datang terlambat," jawab Rafsen santai tanpa beban, menyesap kembali caramel macchiato-nya. "Dan soal jam pulang, saya bisa bekerja dari mana saja atau menyuruh sopir jika saya sedang ada rapat penting. Selesai masalah."Avena melotot, siap meluncurkan argumen ketiga. "Tapi Raf—""Tidak ada tapi-tapi, Avena," pangkas Rafsen, tidak bisa diganggu gugat. "Pilihanmu cuma dua, saya yang antar-jemput setiap hari, atau kamu kel

  • Satu Atap dengan Pria Dingin    Bab 16

    Pak Doni yang tadi membusungkan dada dan melontarkan rayuan kurang ajar kepada Avena, seketika ciut. Pria buncit itu melirik motor sport berharga ratusan juta rupiah, lalu beralih menatap postur tegap Rafsen yang menjulang tinggi, jauh melampaui tinggi badannya. Tanpa berani membuka suara atau melirik lagi, Pak Doni buru-buru menarik tangan anaknya dan kabur terbirit-birit menaiki motor matic-nya.Avena yang masih terpaku dalam dekapan lengan kokoh Rafsen mengerjap-ngerjap tak percaya. "Raf, kamu ngapain ke sini naik motor gede? Kamu kesurupan geng motor mana, hah?" tanyanya dengan nada heran.Rafsen sama sekali tidak menjawab pertanyaan konyol itu. Pria itu justru merapikan helai rambut Avena yang sedikit berantakan. "Ayo pulang," ulangnya lagi."Eh, tapi motor aku gimana? Masa ditinggal di sini?" protes Avena saat menyadari kendaraannya terbengkalai di pojok halaman sekolah."Biar nanti orangku yang ambil. Tinggalkan saja," sahut Rafsen datar. Ia membantu memakaikan helm di kepala

  • Satu Atap dengan Pria Dingin    Bab 15

    Avena akhirnya berusaha menekan rasa cemas yang berkecamuk di dadanya. Mengajar anak-anak TK memang membutuhkan fokus ekstra, dan tidak adil rasanya jika ia melimpahkan kepeningan masalah dokumen jebakan Rafsen kepada bocah-bocah polos yang tidak berdosa ini.Ia berlutut di sebelah kursi Kenzo, memamerkan senyum termanisnya meski matanya masih agak berkaca-kaca karena efek melamun tadi."Kenzo, helikopter warna pink itu keren banget, lho," ujar Avena dengan nada ceria. "Kamu tahu gak? Helikopter pink itu armada rahasia tim penyelamat Barbie dan Spider-Man kalau lagi ada kemacetan parah di langit."Mata Kenzo di balik kacamata Spider-Man-nya seketika membelalak berbinar-binar. "SERIUSAN, MISS?""Seratus persen serius." Avena mengacungkan dua jempolnya. "Makanya, warnai yang rapi. Jangan sampai baling-balingnya keluar garis, nanti helikopternya oleng pas terbang.""Siap, Miss Avena!" pekik Kenzo penuh semangat, langsung menghantam kertas gambar dengan krayon warna tanpa ampun.Avena ter

  • Satu Atap dengan Pria Dingin    Bab 14

    Pagi harinya, Rafsen sudah rapi dengan kemeja kerja dan jas hitam yang tersampir di lengan. Sebelum berangkat, ia sempat mengusap dahi Avena yang masih cemberut di tepi kasur.Avena sebenarnya masih sangat khawatir. Namun, hari ini ia juga harus kembali mengajar di TK karena murid-murid kecilnya sudah memborbardir ponselnya dengan pesan suara rindu. Lagi pula, Avena memilih percaya, otak milik suaminya pasti bisa memproses sinyal bahaya yang sudah ia bisikkan semalam.Pukul sembilan pagi, di meja ruang rapat utama Vantara Architect sudah tertata rapi berkas tebal dokumen kerja sama proyek BSD.Dion duduk di seberang meja dengan wajah tenang, meski gestur tangannya yang terus meremas pulpen membocorkan kegelisahannya. Di samping Dion, berdiri Clarissa dengan seragam kerjanya dan tersenyum manis."Raf, ini draf finalnya," ujar Dion seraya mengulas senyum ramah. "Gue sama Clarissa udah review ulang semalam sampai subuh. Pihak holdin

  • Satu Atap dengan Pria Dingin    Bab 13. Nasihat Istri

    Jantung Avena serasa melompat keluar dari dadanya. Ia membeku, menatap layar ponsel Rafsen yang kini sudah kembali gelap dengan napas tertahan. Jarinya gemetar di bawah selimut, cengkeramannya pada kain sutra piyamanya mengerat."Astaga, Clarissa bener chat kayak gitu?" batin Avena, otaknya yang biasa menyerap ratusan episode drakor genre suspense-thriller kini bekerja keras menyimpulkan pesan tadi. "Pelimpahan utang? Bangkrut dalam hitungan hari ... eum, Clarissa sama Dion jangan-jangan kerjasama mau jebak Rafsen!"Belum sempat Avena menguasai rasa syoknya, layar ponsel Rafsen kembali menyala singkat.Clarissa[This message was deleted.]"Ditarik, pesannya dihapus. Kan ...!" Avena nyaris memekik, untungnya ia berhasil membekap mulutnya sendiri. "Gila, ini pasti ada konspirasi. Dia pasti sadar salah kirim, harusnya dikirim ke Dion malah ke Rafsen, makanya panik dan langsung hapus. Tapi telat, Mbak ... istrinya inu udah baca." Sudut matanya melirik ke pintu kamar mandi. Suara kran ai

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status