Share

Bab 224

Author: QueenShe
last update Petsa ng paglalathala: 2026-06-23 18:46:02

“Mas, semalam Mbak Num tahu Mas dapat telepon dari Tante Ralin. Aku gak jadi nginep di apartemen soalnya dilarang datang sama Mbak Num. Ponselku semalam lowbat jadi baru ngasih tahu sekarang.”

Prana membaca deretan pesan dari Tiara di layar ponsel itu dengan tatapan lurus. Kepalanya yang sudah pening sejak subuh kini terasa makin berat. Diletakkannya benda pipih tersebut di atas meja kayu kafe dengan agak keras.

“Kenapa, Pran?” tanya Hendra. Pria itu menyesap kopi hitamnya perlahan, memperhatik
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 255

    “Kita langsung pulang ya, Mas.”Prana tak langsung menjawab. Matanya bergerak tajam ke tiga perempuan di dekat rak pajangan yang masih berbisik sambil sesekali mengangkat ponsel. Gerakan kikuk mereka merekam diam-diam membuat otot rahang Prana mengeras. Ia paham ketakutan yang mendadak melanda Shanum.Tanpa berkata apa-apa, Prana melepas topinya, memasangkannya di kepala Shanum, menarik bagian depan agak rendah untuk menyembunyikan wajah pucat dan memar di pipi wanita itu. Beberapa lembar uang diserahkan ke kasir, tanpa menunggu kembalian.“Mas...” bisik Shanum dari balik naungan topi.“Ayo pulang. Kita masak steak,” potong Prana lembut, menyambar dua kantong belanjaan sambil menggandeng erat tangan Shanum.Begitu keluar dari supermarket, Shanum terus menunduk menatap sepatunya sendiri. Suasana manis di antara rak sayur menguap, berganti sunyi mencekam. Langkah mereka bergema di sepanjang koridor mal. Sampai akhirnya Shanum tak bisa lagi menahan beban di dadanya.“Aku ternyata memang

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 254

    ‘MAMA’Prana menatap layar ponsel yang terus bergetar tanpa henti. Ibu jarinya menggantung di atas tombol hijau, ragu untuk menekan. Ia melirik Shanum, menangkap perubahan raut wajah wanitanya yang mendadak pias.“Aku angkat telepon sebentar di luar ya, sayang,” pamit Prana sambil mengecup singkat dahi Shanum. Menenangkan wajah gelisahnya.Shanum hanya mengangguk kaku. Membiarkan pria itu melangkah lebar menuju balkon apartemen. Pintu kaca geser dibuka, lalu ditutup kembali dengan rapat, menyisakan sekat transparan di antara mereka.Dari ruang tengah, Shanum berdiri mematung. Matanya tak lepas dari sosok Prana di balik kaca. Pria itu menempelkan ponsel ke telinga dengan satu tangan bebas bertumpu pada pagar pembatas balkon.Meskipun tak bisa mendengar satu patah kata pun yang diucapkan, Shanum bisa membaca situasi dari gerak-gerik tubuh Prana. Rahang pria itu mengeras. Sesekali ia mengusap rambutnya ke belakang dengan kasar, menunjukkan rasa kesal dan frustrasi yang tertahan.Prana le

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 253

    “Darimana, Mas?” tanya Shanum, berjalan mendekat sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil.Prana tersentak kecil melihat kedatangannya, lalu cepat mengubah ekspresi menjadi santai. Ia melepas jaket, meletakkannya begitu saja di sandaran kursi makan.“Ada urusan tadi dikit di luar,” jawab Prana pendek.“Urusan?” Shanum menaikkan alis, menatap penuh selidik. Jam dinding sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Sebelum mandi, ia melihat Prana masih main ponsel di rumah. “Urusan apa pagi-pagi begini?”Prana tak langsung menjawab. Ia melangkah lebar menghampiri Shanum, menariknya ke dalam pelukan erat—seperti baru pergi berhari-hari dan sangat merindukannya. Shanum tertegun sesaat, tapi membiarkan tangan Prana melingkari pinggangnya.“Mas, gak siap-siap ke rumah sakit? Jadwal kamu bentar lagi mulai, lho.”Prana mengecup puncak kepalanya yang masih agak basah. “Aku ambil cuti.”Shanum langsung melepaskan diri, mendongak dengan dahi berkerut. “Kenapa tiba-tiba ambil cuti. Pasi

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 252

    “Nikah?” ulang Shanum lirih. Matanya berkedip beberapa kali, seperti berusaha memastikan dirinya benar-benar sudah bangun. “Mas... aku gak salah dengar?”“Enggak,” ulang Prana, kali ini dengan artikulasi jauh lebih jelas dan tegas. “Begitu putusan banding dari Pengadilan Tinggi keluar, kita menikah. Aku gak mau nunggu lebih lama lagi.”“Mas, kamu gila?” Shanum langsung bangkit duduk. “Sidang banding aja belum dimulai! Status hukumku masih menggantung. Di luar masih membicarakan kita. Kalau kita menikah sekarang, itu sama saja membenarkan kalau kita berhubungan sebelum aku bercerai.”“Biar saja mereka menuduh apa pun,” sahut Prana, tak bergeming dari posisinya. “Toh... memang kenyataannya aku mau kamu jauh sebelum kejadian ini.”“Mas...” Suara Shanum terdengar sedikit ketakutan dan panik.“Kalau kita menikah, aku punya hak hukum penuh untuk melindungimu. Siapa pun gak akan punya celah lagi buat mengganggumu. Kita pindah dari sini.”Shanum menggeleng-gelengkan kepala, merasa dunia di se

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 251

    Shanum tersentak bangun. Napasnya memburu, dada naik turun cepat seperti baru saja berlari sangat jauh. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Refleks, kedua tangannya meraba wajah, leher, lalu turun ke perutnya sendiri—memastikan semua bagian tubuhnya masih utuh.Beberapa detik ia hanya terpaku, berusaha membedakan mana mimpi dan mana kenyataan. Di pinggangnya melingkar lengan Prana yang tertidur di belakangnya, memeluknya dari samping dengan napas pelan dan teratur.Ia memejamkan mata sebentar, mengingat rentetan kejadian kemarin—kedatangan Kartika, video yang diambil Mega, hingga pesan Tiara yang mengabarkan semuanya sudah tersebar luas.“Astaga...” gumamnya lirih dengan tubuh menegang, sadar apa yang terjadi sebelumnya bukan mimpi.Shanum memegang punggung tangan Prana yang menempel di perutnya, mengangkat lengan itu perlahan agar tak mengejutkan sang dokter. Kakinya bergeser menuju tepi ranjang. Namun begitu telapak kakinya menyentuh lantai marmer yang dingin, dekapan di pin

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 250

    Prana tak bergerak sedikit pun. Dibiarkannya Shanum menangis dalam pelukannya selama yang wanita itu butuhkan. Tangis yang semula pecah keras perlahan berubah menjadi isakan kecil.“Maaf... maafkan aku,” bisik Prana.Napas Shanum yang tadi memburu mulai tenang, meski sesekali masih tersendat. Jari-jarinya tetap mencengkeram erat kemeja Prana. Entah sudah berapa lama mereka berada dalam posisi itu, hingga akhirnya tubuh Shanum perlahan melemas.Kepalanya bersandar di dada Prana, kedua matanya terpejam kelelahan. Bahkan setelah tertidur, alisnya masih berkerut. Sesekali bibir pucat itu bergerak pelan.“Jangan...”Prana langsung menunduk, mendekatkan telinganya ke mulut Shanum.“...jangan pukul aku...”Kalimat lirih itu nyaris tak terdengar. Tapi cukup membuat dada Prana seperti diremas sesuatu yang tak kasatmata. Tangannya yang semula mengusap punggung Shanum berhenti sesaat.“Ada aku, sayang... gak ada yang bisa mukul kamu lagi,” bisik Prana.Pelan-pelan diangkatnya tubuh Shanum, dibar

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 93

    “Tiara belum bicara sama Fadil apa belum ya?” bisik Shanum cemas, duduk di ruang tengah sendiri.Ponsel di dalam tas Shanum menjerit tanpa henti. Getarannya terasa hingga ke permukaan sofa, menciptakan bunyi dengung yang sangat mengganggu keheningan apartemen. Nama Fadil berkedip di sana, bagai ter

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 92

    Shanum melangkah pelan, matanya waspada menyapu ke arah jendela kamar orang tuanya yang sudah gelap. Hanya tiga meter dari pagar rumah, sebuah mobil SUV berwarna hitam terparkir dengan mesin mati dan lampu padam.Begitu Shanum mendekat, pintu penumpang terbuka dari dalam. Tanpa menunggu sedetik pun

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 91

    “Jadwal praktekku udah selesai. Sekarang aku di klinik, mau pulang. Jarak dari klinik kesana cuma lima menit. Aku jemput kesana ya,” seru Prana dari seberang telepon.Mata Shanum membelalak. “Jangan, Mas! Gila ya? Di sini ada Ibu, ada Tiara, dan Ayah baru saja memperingatku soal kamu. Kalau mereka

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 90

    Prana menutup pintu ruang kerjanya dengan langkah yang terasa lebih berat dari biasanya. Hari ini jadwalnya padat luar biasa. Dua operasi caesar, satu konsultasi fertilitas, dan diakhiri dengan pasien kontrol rutin yang antriannya mengular hingga ke koridor.Ia menghempaskan tubuhnya ke kursi. Tan

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status