MasukTerjebak selama lima tahun dalam pernikahan patriarki yang menyesakkan, Shanum tak lebih dari sekadar alat pemuas nafsu bagi suaminya yang egois menggunakan tubuhnya tanpa pernah peduli pada kepuasan atau rasa sakit istrinya. Hingga Prana—mantan kekasih masa kuliah yang kini menjadi dokter spesialis kesuburan muncul sebagai penyewa di lantai dua rumahnya. Haruskah aku menunjukkan caranya?” Jari Prana menekan titik paling sensitif Shanum. “Inilah yang seharusnya dilakukan suamimu sebelum menyentuhmu,” bisik Prana parau.
Lihat lebih banyak“Aah… aku udah gak tahan… Aahh Shanum…”
Tidak sampai tiga menit, erangan itu adalah tanda berakhirnya segalanya. Tanpa pemanasan, tanpa kecupan, apalagi usaha untuk memuaskan istrinya. “Sudah, Mas?” tanya Shanum getir. Fadil mencapai pelepasannya yang ia butuhkan, menyisakan kekosongan bagi Shanum. Ia berguling ke samping, memunggungi Shanum seakan-akan istrinya hanyalah benda mati yang baru saja selesai digunakan. Dalam hitungan detik, dengkur halusnya mulai terdengar. “Sudahlah. Memangnya mau kamu gimana lagi?” sahut Fadil ketus. Alih-alih merasakan lega, Shanum malah merasa gamang dan tidak nyaman, sisa dari sebuah 'kewajiban' yang baru saja ia tunaikan. Ada kebutuhan biologis yang menggantung dan tak pernah menemukan muaranya selama lima tahun pernikahan mereka. “Selalu saja begini,” gumam Shanum lirih, menatap hampa punggung suaminya yang sudah tertidur. “Abis selesai, langsung tidur. Gak peduli aku sudah sampai atau enggak.” Jemari Shanum meremas sprei di bawah jemarinya, mengingat sejak malam pertama pernikahan mereka hingga detik ini, ia tak pernah tahu rasanya “puas” di tangan suaminya. Hubungan intim bagi Fadil hanyalah jalan searah. Ia adalah penguasa, dan Shanum hanyalah pelayan yang harus selalu siap sedia. “Egois,” batinnya berteriak penuh rasa frustrasi. “Hanya aku yang harus melayani, gak pernah nanya apa aku mau!” Ironisnya, di balik balutan daster dan sikap santunnya, Shanum sebenarnya memiliki gairah yang membara. Tapi ia terlahir dari produk didikan patriarki yang kaku sejak kecil. Ia selalu teringat pesan ibunya dulu, “Tugas istri itu hanya menyenangkan suami, Shanum. Jangan banyak membantah, nanti kualat.” Sebuah doktrin yang mengajarkan bahwa ekspresi hasrat bagi seorang perempuan adalah aib yang tabu. “Tapi aku manusia, Bu,” gumamnya pedih. “Aku juga punya ingin merasakan nyaman.” Sebagai penganut paham yang sama. Di mata Fadil, Shanum tidak punya hak untuk menginginkan lebih, apalagi menuntut kepuasan yang setara. Ia mengunci rapat pintu kebebasan Shanum, menempatkan istrinya hanya sebagai pelayan ranjang yang patuh, mesin untuk melahirkan anak, dan pengurus rumah yang bisu. Shanum menghela napas panjang, mencoba mengusir rasa sesak yang menghimpit dadanya. Ia menyibak selimut perlahan, berusaha tidak menimbulkan suara. Tapi tetap saja gerakannya cukup untuk mengusik tidur pria di sampingnya. “Mau ke mana kamu?” tanya Fadil berat dan serak, terdengar penuh otoritas meski matanya masih terpejam. Gerakan Shanum tertahan di tepi ranjang. “Mau ke dapur, Mas. Haus, pengen minum.” Fadil mengubah posisinya, membuka mata sedikit hanya menatap tajam punggung istrinya yang terbalut lingerie sutra tipis dengan potongan dada rendah. Outer yang dikenakan Shanum pun tak membantu banyak. Bahannya transparan dan sangat pendek, memperlihatkan paha mulusnya yang terekspos jelas. “Sekalian bawain aku minum juga. Jangan lama-lama,” perintah Fadil, kembali memunggungi istrinya. “Iya, Mas,” jawab Shanum lirih. Kakinya melangkah keluar kamar. Tepat saat ia hendak menuangkan air ke gelas di dapur, suara bel pintu depan berdenting nyaring. Ting... tong... “Siapa pagi-pagi begini?” gumamnya heran. Pikirannya yang masih kacau dan setengah mengantuk membuatnya lupa diri. Tanpa mengganti pakaiannya yang sangat terbuka, ia melangkah menuju pintu depan. Ia hanya ingin tahu siapa yang bertamu di jam sepagi ini. Tanpa pikir panjang Shanum menarik daun pintu perlahan, dan detik itu juga, dunianya seakan berhenti berputar. Seluruh ototnya mendadak kaku. Seorang pria berdiri di sana. Sosok tegap dengan rahang tegas yang sangat ia kenali. Pria yang lima tahun lalu ia tinggalkan tanpa kata, , terkubur dalam luka masa lalu yang paling dalam. “Mas... Prana?” bisik Shanum, suaranya nyaris hilang. Di seberang pintu, Prana terpaku. Ia mematung dengan kunci di tangan dan tas di bahu juga dua koper besar disisinya. Matanya yang tajam melebar terkejut melihat sosok wanita di depannya. Semalam ia hanya dikirimi pesan oleh pemilik rumah kalau ia boleh datang pagi ini sebelum jam kerja. Tapi ia sama sekali tidak menyangka bahwa wanita yang membukakan pintu adalah Shanum, mantan kekasih. “Shanum,” panggil Prana yang juga berbisik. Pandangan Prana tak bisa berpaling. Ia terpana, menelan ludah saat matanya menyapu penampilan Shanum dengan lingeri tipis yang ia kenakan. Kain transparan itu tak mampu menyembunyikan lekuk tubuh Shanum, memperlihatkan paha putih yang terekspos dan belahan dada yang mengintip jelas di balik outer yang terbuka. “Shanum?” tanya Prana dipenuhi ketidakpercayaan. “Kenapa kamu ada di sini?” Prana mendadak menegang. Ia melihat Shanum bukan lagi sebagai kenangan, melainkan sebagai wanita dewasa yang tampak begitu menggoda sekaligus rapuh dalam balutan pakaian minim itu. “Mas Prana, kenapa...” Shanum tak sanggup melanjutkan kata-katanya. Sadar dari keterkejutan, tangan Shanum refleks merapatkan outer tipisnya, meskipun percuma, karena Prana sudah melihatnya. Kebingungan menyergap keduanya. Prana hanya tahu bahwa rumah yang ia sewa itu adalah milik Fadil. Ia tidak tahu kalau Shanum adalah istri dari pria yang menjadi rekan bisnis sekaligus temannya. “Shanum! Mana air minumnya? Lama sekali!” teriakan Fadil dari dalam kamar memecah suasana mencekam di ambang pintu, membuat wajah Shanum seketika pucat pasi."Mas!" tegur Shanum, memukul pelan bahu Prana. Wajahnya yang semula pucat mendadak merona kemerahan. "Situasi kayak gini aja masih aja kepikiran buat nakal!"Prana tersenyum kecil, memperlihatkan deretan giginya yang rapi. Godaan singkat itu berhasil mengalihkan sedikit mendung di wajah Shanum. Pria itu bangkit dari posisi berlututnya, meraih ponsel hitam dari saku celana, dan menekan beberapa digit nomor di layar.Shanum memperhatikan Prana yang kini menempelkan gawai ke telinga, menanti sambungan terhubung."Halo, Sus. Ini Dokter Prana," ucap Prana begitu panggilan di seberang sana diangkat."Saya masih di luar sekarang. Tolong pantau berkala kondisi jaminan kamar VIP Ibu Ralin, ya. Kalau ada lonjakan tensi atau dia terbangun dan mencari saya, langsung hubungi nomor saya."Prana mendengarkan jawaban dari sepersekian detik arahan perawat di seberang telepon."Iya, untuk Dokter Bobby di ICU juga tolong saya dikasih laporan berkala lewat pesan singkat. Saya akan kembali ke rumah sakit
“Udah selesai?”Suara itu menyadarkan Shanum yang sedari tadi melamun begitu keluar dari ruang ICU. Langkah kakinya sempat tertahan di ambang pintu kaca. Begitu mendongak, Prana sudah berdiri tegak di depannya, melemparkan senyum tipis yang menenangkan.Prana mengikis jarak di antara mereka, meraih pergelangan tangan Shanum dengan lembut. “Kita pulang dulu, yuk?”Shanum tak langsung menjawab. Matanya melirik ke arah ruang tunggu yang terletak beberapa meter di sebelah kanan. Di atas kursi panjang, Ani duduk tegak sambil melipat kedua tangan di dada. Sorot mata ibunya penuh dengan ancaman, seakan siap menerkam jika Shanum berani mengambil salah langkah.Shanum menarik pelan tangannya, mencoba memberi jarak agar tak memicu keributan baru di sana. “Mas kok di sini? Tante Ralin gimana?”“Mama lagi tidur, kondisinya udah aman,” jawab Prana. Pria itu kembali mendekat dan menaruh telapak tangannya di pinggang Shanum, menuntunnya berjalan menuju lorong lift.“Tapi, Mas...”“Aku mau antar kamu
“Jangan bicara macam-macam pada Ayahmu,” bisik Ani tajam, menyambar pergelangan tangan Shanum tepat sebelum langkah kaki putrinya melewati batas pintu.Shanum menatap jari-jari ibunya yang mencengkeram lengannya. Tanpa suara, ia menarik paksa tangannya hingga terlepas dari kekangan Ani. Tak ada niat di hatinya untuk membalas ancaman itu. Tatapannya lurus mengarah pada pintu kaca ruang ICU yang bergeser setengah terbuka.Perawat di ambang pintu memberikan isyarat dengan lambaian tangan pendek. “Silakan, Mbak. Jangan terlalu lama. Kondisi pasien masih sangat lemah dan butuh ketenangan.”Shanum mengangguk cepat. Langkah kakinya terasa begitu berat menapak lantai steril, melewati sensor pintu yang menutup otomatis di belakangnya.Di atas brankar besi, Bobby terbaring, jauh lebih pucat dan ringkih. Jarum infus tertancap di punggung tangannya, sementara mesin monitor jantung di samping tempat tidur terus mengeluarkan bunyi.“Ayah…” panggil Shanum lirih, mengikis jarak hingga berdiri di sisi
“Mbak, kenapa sih harus berantem lagi sama Ibu disini?” tegur Tiara memecah kesunyian. Matanya menatap wajah Shanum yang sembab.“Aku cuma nanya soal ayah kandung aku, Ra,” jawab Shanum pendek, pandangannya beralih menatap ubin lantai.Tiara langsung terdiam. Mulutnya yang tadi terbuka hendak melayangkan protes seketika terkatup rapat. Sorot matanya berubah canggung dan serba salah.“Tapi kan bisa nanya nanti pas udah di rumah, Mbak,” ucap Tiara kemudian. Suaranya melunak, tak ada lagi nada ketus seperti saat menghadapi ibunya tadi.“Aku udah gak bisa pulang kesana, Ra,” sahut Shanum datar.“Mbak...”Tiara menatap kakaknya dengan pandangan sedih, tahu betul kalau rumah mereka tak lagi menjadi tempat yang aman dan nyaman untuk Shanum. Keduanya terdiam dengan perbincangan yang menggantung, sibuk dengan pikiran masing-masing sampai derap langkah kaki yang tergesa memecah kecanggangan itu.Ani kembali dengan wajah gusar, mendatangi tempat mereka berdiri dengan napas memburu. Tampaknya ada
“Buat apa kamu ke sana?” tanya Prana, terdengar tak menyukai Shanum mendatangi rumah orang tuanya. Dahinya berkerut dalam, garis-garis ketegangan di wajahnya yang lelah kembali tercetak jelas. “Ada apa Ayahmu memanggil? Kenapa mendadak sekali?”Shanum menatap gelas di hadapannya, agak ragu untuk me
“Keluyuran terus gak bilang-bilang,” sindir Fadil tanpa menoleh.Shanum langsung menangkap sosok Fadil yang sedang duduk santai di sofa panjang sembari menonton televisi, begitu dirinya memasuki rumah.Fadil hanya melirik Shanum sekilas melalui sudut matanya, lalu kembali memfokuskan perhatian pada
Begitu Shanum dan Prana melangkah masuk, atmosfer ruangan kerja Hendra. Pengacara ternama itu berdiri dari kursi kebesarannya, merapikan kemeja slim-fitnya, lalu menyambut mereka dengan cengiran lebar yang terasa terlalu ceria untuk sebuah rencana perceraian.“Wah, Shanum! Lama gak ketemu, makin ca
“Bangun, Sayang.”Prana tak menggunakan guncangan kasar atau teriakan untuk membangunkan wanita di sampingnya. Ia hanya mengusap pipi Shanum dengan punggung jarinya—sebuah sentuhan yang ternyata jauh lebih efektif daripada bunyi alarm mana pun.Sinar lampu tidur yang masih menyala membuat pandangan


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Peringkat
Ulasan-ulasanLebih banyak